Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati

Pembunuh Bayaran Sang Bucin Sejati
Tembakan


__ADS_3

“Uuuugh!” Raka meringis kesakitan sambil memegang bahu kirinya yang terserempet peluru dari pistol magnum yang ditembakan oleh seseorang yang memakai penutup wajah.


“Mas!” teriak Alina panik, tapi langsung dipeluk oleh Raka dan langsung tertelungkup ke permukaan lantai serentak


Intuisi Raka yang tajam merasakan ada bahaya yang lagi yang akan datang. Benar saja suara tembakan terdengar beberapa kali menembus jendela rumah Abel yang tepat berada di ruang tamu.


DOR! PRANG!


Lai-lagi Raka terserempet peluru, kali ini punggungnya yang kena. tetapi demi melindungi Alina, dia sama sekali tidak berteriak dan merasakan sakit, malah tersenyum lebar ke arah wajah Alina yang ketakutan.


Raka mendongakan kepalanya sedikit untuk melihat situasi di luar. Tampak seseorang yang memakai penutup wajah berwarna hitam dan juga baju serba hitam sedang mengganti magazine peluru.


Raka menaruh telunjuk kanannya ke bibir untuk memberi isyarat pada Alina agar jangan berteriak. Setelah itu Raka mengambil pecahan kaca yang bagak lebar dan melompat ke depan sambil melemparkan pecahan kaca tersebut.


JLEB!


“Aaaaakh!” Sosok yang baru saja selesai mengganti magazine pelurunya itu memekik keras. Tangan kanan yang sedang memegang pistol berjenis magnum tersebut terkena pecahan kaca yang dilemparkan oleh Raka.


Pria berponi miring ke kanan itu berguling keluar ruang tamu, lalu melompat harimau untuk menerjang sang sosok penjahat.


Kepala Raka berhasil menghantam dada sang penjahat hingga berguling beberapa kali bagai bola sepak dan menghantam dinding pagar rumah Abel.


Raka mengambil pistol tersebut dan rasa haus membunuhnya kembali merasuki jiwa Raka.


Alina melihat Raka menodongkan pistol ke arah penjahat itu langsung bereaksi dan berlari cepat ke arah Raka untuk menghentikannya.


DOR!


Pelatuk pistol berhasil ditarik oleh Raka, tapi tangannya diarahkan ke atas oleh tangan Alina.

__ADS_1


Gadis mungil nan seksi itu langsung memeluk Raka dari belakang, “Mas, jangan membunuh dia. aku mohon. Serahkan saja pada pihak yang berwajib,” lirih Alina dan membuat jiwa membunuh Raka padam serta hatinya kembali tenang.”


Abel datang membawa balok kayu, dia sedari tadi mau masuk ke rumahnya. Tapi melihat sang penjahat membawa pistol, Abel bersembunyi di balik tiang listrik beserta beberapa tetangga laki-lakinya.


“Serbu!” teriak Abel bersama beberapa tetangga lakinya yang berjumlah sangat banyak. Lalu langsung memukuli penjahat itu, hingga babak belur dan pingsan.


Pandangan mata Raka perlahan buram, dia kehabisan banyak darah dan lunglai jatuh ke belakang di pelukan Alina.


Akan tetapi, tubuh Alina yang mungil itu tak kuat menahan tubuh Raka yang terlalu berat. Pada akhirnya tubuh Raka menimpa Alina.


“Tolong! Mas Raka pingsan, tolong!” teriak Alina memanggil semua orang yang sedang asyik memukuli penjahat.


Abel bergegas berlari ke arah Alina yang tak bisa bangkit tertimpa tubuh Raka. setelah sampai langsung menari tubuh Raka dan memapahnya.


“Eh, bonjot! Kamu itu kalau pingsan juga tahu saja bagian yang enak-enak. Dasar!” Abel menoyor kepala Raka, lalu membawa tubuhnya ke mobil Fortuner miliknya untuk segera dibawa ke rumah sakit terdekat. “Mang Parmin, ayo bawa mobilnya, cepat! … Dan itu Mang Kadot telepon Mang Lisi, aduh polisi maksudnya …. Ah, sial gara-gara kamu ini jot, lidahku jadi keseleo.”


Gerbang rumah Abel dibuka dan mobil Fortuner berangkat dengan kecepatan cukup tinggi. Alina pun mengekor di belakang dengan membawa mobil McLaren GTR. Sedangkan pembunuh bayaran yang disuruh oleh Daniel untuk mengikuti dan menyakiti Alina diurus oleh para warga.


***


Keesokan paginya, Rumah Sakit Mitra Plumbon, Widasari, Indramayu.


Sosok perempuan berbaju seksi dan sangat ketat keluar dari mobil Toyota Vellfire dengan membuka kacamatanya. Rambutnya yang lurus dikibarkan dengan harum wangi yang sangat semerbak.


Kemudian melangkahkan kakinya menuju lobi rumah sakit untuk bertanya pada resepsionis rumah sakit, “Sus, ada pasien yang bernama Raka?” tanya Monica dengan raut wajah jutek.”


“Sebentar, Nona.” Suster itu mengotak-atik papan ketik komputernya untuk mencari nama Raka yang disebutkan oleh Monica. “Maaf Nona, sepertinya tidak ada.”


Ya jelas tidak ada. Sebab Abel mendaftarkan nama Raka dengan nama Bonjot. Hal ini sering dia lakukan saat masih bersama Raka menjadi pendukung pembunuh bayaran, untuk mengelabui setiap orang atau organisasi yang mengejar Raka. Dengan trik seperti itu baik Raka dan Abel selalu selamat dari musuh-musuhnya.

__ADS_1


“Tolol!” Monica membalikan badan, lalu menampar kedua anak buahnya yang mengiring di sisi kiri dan kanannya. “Mengawasi Raka saja kalian tidak becus!”


Akan tetapi saat Monica marah-marah, dia melihat Alina sedang membeli minuman di Alfamart samping rumah sakit.


Dia langsung meninggalkan kedua anak buahnya dan berjalan cepat ke arah Alina yang baru saja keluar dari minimarket itu.


"Alina!" panggil Monica pada Alina dan gadis mungil itu langsung mengarahkan wajahnya pada Monica.


Namun Alina hanya tahu wajah tapi tidak tahu nama Monica, sebab waktu di event Economy Outlook 2026 di Nine Thamrin Tower, Alina belum berkenalan dengan Monica.


"Maaf, Nona siapa ya? Kok tau namaku?" tunjuk Alina pada Monica, lalu menunjuk pada dirinya sendiri dengan perasaan bingung dan mengingat-ingat wajah Monica. “Oh, ya. Kita pernah bertemu di Nine Thamrin Tower ya?”


“Ya, namaku Monica Verlgrand. Tunangannya Gibran Rakabumi,” jawab Monica sambil menyodorkan tangannya pada Alina untuk berkenalan dan dia sengaja melakukan hal itu agar Alina tidak lagi berharap pada Raka.


Alina menjatuhkan plastik berisi minuman dengan hati yang sangat sakit mendengar penuturan Monica.


“Kenapa Alina?” tanya Monica pura-pura khawatir melihat Alina sudah menjatuhkan bulir-bulir bening di kedua pipinya.


“A-alina Maharani.” Alina menyambut tangan Monica untuk berjabat tangan. “Maaf, mataku perih sepertinya banyak debu disini. Jadi aku menangis hehehe ….”


Alina berpura-pura tertawa sambil menyeka bulir-bulir bening di sudut kelopak matanya. Lalu mengambil plastik besar berisikan botol air minum itu dan pergi meninggalkan Monica dengan perasaan hati yang sangat sakit.


Air mata itu terus mengalir, walaupun sudah di seka berkali-kali. Alina menuju basement parkir rumah sakit dan masuk ke dalam mobilnya. Lalu memeluk setir mobil, mengunci semua pintu mobil dan menyetel lagu In The End milik band Linkin Park sekeras mungkin.


Alina lalu berteriak sambil memukul-mukul setir, “Kenapa mas Raka kau membohongiku? Kenapa mas? Kata mas Vincent kau selalu menungguku selama tiga tahun ini, mana buktinya mas!”


Kalau Raka melampiaskan rasa frustasinya dengan meminum anggur merah. Maka Alina meminum Tebs yang baru saja dibelinya sebanyak 12 botol.


Alina terus meminum botol per botol Tebs hingga tak sadar telah habis 12 botol. Akhirnya setelah terus berteriak sambil meminum Tebs, Alina kelelahan dan tertidur di dalam mobil sambil memeluk setir mobil

__ADS_1


__ADS_2