
Sedikit demi sedikit, Ucup mulai bisa menggeser kakinya. Namun, ia masih kesulitan untuk mengangkatnya walau hanya sedikit. Biarpun begitu, Ucup terus mencobanya lagi dan lagi tanpa kenal kata menyerah.
Setelah mencobanya berkali-kali, Ucup mulai memetik hasilnya. Ia berhasil memindahkan kakinya dengan sedikit mengangkatnya. Kini ia bisa berjalan sedikit lebih cepat daripada sebelumnya yang hanya bisa menggesernya saja. Makin lama, langkah kakinya makin cepat. Ucup mulai terlihat seperti sedang berjalan secara normal. Ia terus mempercepat langkahnya berjalan menapaki bebatuan yang panas.
Pada akhirnya, Ucup mulai bisa berlari dengan menahan beban yang dipikulnya. Dari kejauhan, Lin Fing terus mengamatinya dengan saksama seorang murid yang menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan.
“Bocah ini, meskipun kurang berbakat, namun ia memiliki daya juang yang sangat baik,” puji Lin Fing terus memperhatikannya.
Ucup terlihat seperti martir yang berlarian menghancurkan lantai berbatu yang dilaluinya. Langkah kakinya begitu cepat menunjukan bahwa beban berat yang dipikulnya tidak begitu membebani dirinya.
“Melompatlah setingginya di setiap seratus langkah kau berlari!” pinta Lin Fing.
“Baik, Guru,” sahut Ucup.
“Satu … dua … tiga ….” Ucup terus berlari seraya menghitungnya.
Pada hitungan ke seratus, Ucup melompat setinggi yang ia bisa. Namun, lompatannya masih begitu rendah, Ucup terlihat kecewa. Ia kembali berlari seraya menghitungnya. Tepat pada hitungan ke-99, Ucup memusatkan tenaga di kedua kakinya. Ia kembali melompat dengan tinggi.
Bugh! Krak!
“Berhasil!” seru Ucup setelah melampaui jarak lompatan yang pertama.
Ia kembali berlari dengan langkah lebih cepat untuk dapat secepat mungkin melakukan lompatan yang ketiga dan seterusnya. Seperti sebelumnya, seiring berjalannya waktu, Ucup semakin mahir melakukannya. Saat ini, lebih dari 50 lompatan berhasil ia selesaikan. Ucup terus melanjutkannya sampai sang guru memintanya untuk berhenti.
“Dia memang pandai,” kata Lin Fing kembali memujinya.
Setelah merasa cukup puas dengan apa yang dilihatnya, Lin Fing menggerakkan lengan mengirimkan satu aliran energi yang langsung menembus cepat menghancurkan batu yang diangkat oleh Ucup.
Duar!
Ucup terpelanting keras bergulingan di bebatuan. Tak ayal, Ucup sangat kesal dengan perlakuan gurunya itu.
“Guru, mengapa menyerangku?” protes Ucup yang kemudian bangkit berdiri.
“Sudah cukup … sekarang, bermeditasilah, kosongkan pikiran dan rasakanlah energi di sekitarmu! Ingatlah, apa pun yang terjadi, jangan pernah membuka mata atau kau akan gagal pada tahap ini! ” balas Lin Fing memintanya.
“Baik, Guru,” timpal Ucup memahaminya.
Memasuki tahap selanjutnya, yaitu disiplin mental. Lin Fing mulai mengujinya dengan berbagai gangguan yang merasuki pikiran, jiwa, dan hati Ucup secara bertahap melalui berbagai visualisasi kondisi yang disematkan ke dalamnya.
__ADS_1
Dimulai dari uji konsentrasi yang membuat Ucup harus mampu mengamati keadaan di sekitarnya, kemudian Ucup harus melewati ujian yang memaksanya harus tetap tenang dalam menghadapi setiap provokasi yang datang kepadanya. Setelah itu, ia diuji dengan kehilangan orang yang dicintainya, dan diakhiri dengan ujian yang memaksanya harus rela berkorban.
Lambat laun, Ucup mulai terlihat gelisah. Ekspresi wajahnya terus berubah-ubah, kadang mengerut dan terkadang datar, namun tidak terlihat sekalipun dia menampakkan wajah ceria selama ujian mentalnya. Berkali-kali ia menggeram dan mendesis ketika mendapati ujian yang menghantam psikisnya. Meskipun demikian, Ucup tidak pernah gentar menghadapinya ataupun menyerah di tengah ujian. Ia terus bertahan apa pun kondisinya.
Setelah semua disiplin mental dijalani Ucup dengan baik, Lin Fing langsung menepuk bahu Ucup untuk membangunkannya. Seketika, Ucup membuka matanya dan mengembuskan napas dengan lembut.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Lin Fing.
“Aku baik-baik saja, Guru,” jawab Ucup.
“Kau boleh beristirahat sejenak,” ucap Lin Fing memberikan waktu jeda.
“Terima kasih, Guru, tetapi aku tidak ingin menunda waktu,” timpal Ucup menolaknya.
“Baiklah, karena sekarang kau memiliki pondasi yang cukup untuk menjalani pertarungan, aku akan melatihmu ilmu pedang.”
“Siap, Guru … ta-tapi, bolehkah aku meminjam pedangmu?”
“Tidak boleh! Kau memiliki pedangmu sendiri,” tegas Lin Fing menolaknya.
“Bagaimana caranya aku bisa mengambil pedang?” Ucup dipusingkan dengan pedang yang memiliki cara aneh untuk mengambilnya.
“Bolehkah aku tidak menggunakan pedang?” Ucup mencoba menawarnya.
“Selama kau belum bisa mengambil pedangmu, selama itu juga aku akan menunggumu,” balas Lin Fing langsung berbalik pergi meninggalkan Ucup.
“Ah, sial! Aku baru saja mengalami halusinasi dan mimpi buruk. Bagaimana mungkin aku bisa membayangkan hal itu?” keluh Ucup sambil terus memperhatikan punggung gurunya yang menjauh.
Tak ada pilihan baginya selain mencoba untuk membayangkan hal-hal kotor demi mengambil pedang yang bersemayam di monsternya.
"Aduh, aku pusing! Siapa yang harus aku bayangkan?" Ucup menggaruk-garuk kepalanya.
Kesal karena tidak memiliki sosok yang bisa dijadikannya sebagai bahan untuk membangkitkan nalurinya, Ucup berdiri dari tempatnya lalu berjalan ke arah gurunya yang tengah berdiri dengan menggenggam sebilah pedang.
"Kau masih belum bisa mengambil pedangmu?" tanya Lin Fing tanpa menolehnya.
"Maaf, Guru," sahut Ucup tertunduk lesu di belakang sang guru.
"Aku bisa saja membantumu dengan membuat replika dari gadis yang kubayangkan, hanya saja tidak ada yang bisa kubayangkan saat ini," ujar Lin Fing mengungkapkan.
__ADS_1
"Apakah Guru tidak memiliki hasrat kepada lawan jenis?"
Lin Fing berbalik menatap muridnya dengan sorot mata yang sukar diartikan. Terlihat dari sorot matanya tersimpan sejarah panjang dan penuh misteri di dalamnya.
"Sepertinya kau harus tahu kisah di balik pedangmu itu.” Lin Fing berjalan pelan seraya menangkupkan kedua tangan di belakang punggungnya.
Ucup tertarik mendengarnya, ia berjalan mengekori sang guru dengan penuh rasa ingin tahu di balik kisah pedangnya. Namun, sampai jauh keduanya berjalan, Lin Fing masih belum juga menceritakannya.
“Guru!” panggil Ucup.
“Ya,” sahut Lin Fing.
“Kalau Guru tidak ingin mengatakannya, sebaiknya disimpan saja untuk Guru sendiri,” kata Ucup memahaminya.
“Tidak masalah, aku akan menceritakannya kepadamu.” Lin Fing menghentikan langkahnya, lalu mulai menceritakan kisah yang selama ini ia simpan dengan baik.
Berawal dari sakit hatinya diselingkuhi sang istri yang ternyata didukung oleh kedua mertuanya. Lin Fing akhirnya memilih untuk pergi meninggalkannya. Ia mencoba untuk memulai hidup baru di tempat yang jauh dari tempat tinggal sebelumnya. Pada awalnya ia begitu bahagia dengan kehidupan barunya hingga ia menemukan seorang wanita dan menikahinya. Lagi-lagi ia mendapati istrinya selingkuh dan berakhir dengan perceraian. Ia pun memutuskan untuk tidak pernah menikah lagi.
Akan tetapi, rasa sakit hati yang didapatkannya berubah menjadi kebencian mendalam yang terpatri di relung hatinya. Lin Fing berubah menjadi sosok yang kejam terhadap para wanita. Memanfaatkan kepandaian dalam malih rupa dan merupakan seorang pendekar pedang paling tersohor di masanya. Lin Fing tak pernah gagal dalam memikat hati para wanita. Meskipun demikian, yang menjadi mangsanya adalah para wanita yang bersuami.
Dalam aksinya, ia akan menggoda sang wanita untuk berpaling dari suaminya. Setelah mendapatkan kesenangan, Lin Fing mengakhirinya dengan merusak tubuh sang wanita hingga tak dapat dikenali siapa pun.
Beruntung bagi wanita yang memiliki kesetiaan yang kuat pada suaminya, namun di sepanjang kisah yang diceritakan oleh Lin Fing. Tidak ada satu pun wanita yang menolak dirinya.
“Ah, aku tidak ingin melanjutkannya!” ucap Lin Fing mengakhiri cerita.
“Guru, boleh aku bertanya satu hal?” kata Ucup memintanya.
“Katakanlah!”
“Mengapa pedangnya rusak? Guru belum menceritakannya kepadaku,” tanya Ucup yang sedari tadi tidak mendapatkan ceritanya.
“Setiap kali aku membunuh wanita, aku akan membuat satu tanda di bilah pedang. Kau jangan pernah menghitungnya!”
“Mengapa?”
“Kurang kerjaan.”
“Ha-ha-ha-ha!” Ucup tertawa keras di samping gurunya. Namun bukan untuk menertawakan hal lucu, ia menertawakan dirinya yang harus menanggung karma dari sang pemilik pedang.
__ADS_1