
Ucup terlihat begitu malas melihat tingkah keempat gadis yang lebay di depannya. Namun tak dapat dipungkiri, dirinya pun mengagumi kecantikan para gadis yang terlihat seperti aktris papan tulis.
"Ada apa? Mengapa kalian menghalangi jalanku, Nona-Nona?" tanya Ucup seraya tersenyum lembut.
Berbinar sorot mata keempatnya dan semakin merah pula wajahnya melihat senyuman yang terukir begitu sempurna dari sang pemuda.
"Kau … kau sangat tampan. Eh, maksudku kau mengintip kami, jadi harus kami hukum!" jawab gadis bergaun hijau yang wajahnya mirip Lisa Blackcurrant. Ia menjadi gadis pertama yang tersadar dari lamunan.
"Siapa juga yang mengintip kalian? Aku hanya lewat saja, bahkan tidak sekalipun aku melihat kalian mandi," kilah Ucup lalu kembali meneruskan langkahnya.
"Kalau kau tidak mengintip kami, bagaimana kau bisa tahu kami sedang mandi?" tanya seorang gadis kembar.
Degh!
Tertegun Ucup mendengarnya, ia kemudian mempercepat langkah meninggalkan para gadis. Keempat gadis saling tatap dan berniat untuk melakukan sesuatu. Setelah keempatnya mengangguk dengan seringai dingin, mereka kemudian mengejar Ucup lalu menarik tangan sang pemuda dan mencengkeramnya dengan begitu kuat.
"Kalian mau apa?" dengus Ucup sedikit kesal.
"Kami mau menghukummu," sahut si rambut pirang dengan tatapannya yang manja.
"Cepatlah katakan! Kalian mau menghukumku seperti apa?" Ucup menampilkan wajah kesal, namun dalam hatinya ia begitu gembira. Menerka apa yang akan dilakukan para gadis kepadanya. Tentunya Ucup membayangkan hal-hal yang menyenangkan.
Setelah ditunggu, para gadis tidak juga membuka suara. Tiba-tiba Ucup dijatuhkan dalam posisi terlentang oleh kedua gadis kembar, dan pakaiannya langsung dilucuti secara paksa oleh kedua gadis lainnya.
"Wah, lihat itu!" seru si gadis pirang yang bola matanya hampir keluar menatap sang monster yang menjuntai seperti belalai gajah dewasa.
Ketiga gadis lainnya menelan saliva begitu melihat monster besar nan menggemaskan milik Ucup.
"Besarnya!" seru keempat gadis dengan tatapan gemas.
"Hei, apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" Ucup pura-pura berontak dengan terus menggeliat agar terbebas dari kungkungan para gadis.
"Diam …! Terima saja hukumanmu!" bentak seorang gadis bergaun merah.
"Tolong ya, Mbak-Mbak. Laki-laki itu dijaga, bukan dirusak!" Ucup kembali menggeliat untuk melepaskan diri, namun tiba-tiba saja mulutnya ditampar dua balon putih yang begitu indah.
"Mbak, jangan, Mbak! Tolong …!" racau Ucup sambil menggeleng-gelengkan wajahnya dari sokongan balon putih.
"Tolong jangan berhenti! Tolong …!" imbuhnya berteriak.
"Jangan rewel!" bentak seorang gadis kembar dengan menyodorkan boba miliknya tepat di mulut Ucup.
"Mantap!" seru Ucup dalam hati.
Tak ayal, Ucup langsung menyambutnya seperti bayi di pangkuan sang bunda. Matanya berkedip-kedip merasakan geli di monsternya yang sedang digilir oleh ketiga gadis.
__ADS_1
Ada yang menciumnya, ada yang mengelusnya, dan bahkan ada pula yang menyentil kepalanya karena gemas. Perlakuan demikian membuat Ucup menggelinjang tak karuan.
"Semoga kau baik-baik saja, Somplak," kata Ucup dalam hati.
Kedua tangan Ucup yang tertindih, kini terbebas. Dengan nalurinya sebagai lelaki, kedua tangan itu merayap mencari sesuatu yang menyenangkan.
"Eh, eh, nakal ya," ucap si gadis bergaun hitam langsung memandu tangan Ucup ke arah balonnya yang membusung indah. Sementara satu tangan Ucup lainnya malah asyik mengorek sumur, entah sumur siapa yang dikorek, Ucup tak sempat melihatnya.
“Ah … tanganmu pintar sekali … aduh!” lenguh sang gadis bergaun hitam sambil menjambak rambut sang pemuda.
Oh, ternyata orang yang sama.
Suara napas yang memburu dan racau kesenangan memenuhi udara, menambah syahdu alunan gemercik aliran sungai. Sayangnya, kesenangan itu harus terhenti tatkala suara ringkik kuda terdengar nyaring menghampiri.
"Woi, hentikan!" pekik seorang wanita muda di atas kuda. Ia terlihat begitu geram bercampur penasaran.
Sontak saja para gadis terperanjat mendengarnya, keempatnya berdiri dengan wajah tertunduk lesu seraya membenarkan gaun yang terlanjur kusut, sedangkan Ucup masih terlentang dalam kondisi tanpa busana dengan monster yang masih berdiri tegak menantang semua gadis yang tak berhenti menatapnya.
Semua mata mencelat melihat ukuran taknormal sang monster yang begitu besar, panjang, dan pastinya sangat menggemaskan. Ucup tampak bingung memperhatikan orang-orang yang semuanya itu wanita sedang menatap adik monsternya. Ia kemudian bergegas memakai kembali pakaiannya dan berdiri seperti orang aneh, sibuk menutupi monster yang berontak ingin melepaskan diri.
"Ikat kedua tangan pemuda itu lalu naikkan ke atas kuda! Aku yakin, Ratu Kegelapan yang cantik jelita akan menyukainya," perintah tegas dari seorang wanita berzirah hitam.
Wanita itu terlihat berbeda dari yang lainnya. Usianya berkisar 30 tahun; memiliki wajah yang keibuan, namun cerewet dan begitu tegas pembawaannya. Ucup menatapnya dengan kagum dan terukir senyuman manis dari bibirnya.
“Galak betul,” gumam Ucup yang langsung mengerucutkan bibir.
Setelah kedua tangan Ucup diikat dari belakang punggungnya, dua orang prajurit langsung menaikkannya ke atas kuda.
"Woi, tempatkan dia di atas kudaku!" pintanya sambil melambaikan tangan.
“Baik, Ketua,” sahut keduanya serentak.
Ucup tercengang mendengarnya lalu bergumam, “Asem! Firasatku tidak enak.”
Dua orang prajurit menarik Ucup turun dari kuda lalu mendorongnya ke arah kuda yang ditumpangi oleh sang ketua tersebut. Keduanya kemudian menaikkan Ucup ke belakang punggung sang ketua.
"Aw!" jerit sang ketua yang punggungnya tersodok monster Ucup.
Ia kemudian melompat turun dari kuda dan kembali naik dengan mendorong Ucup lebih ke depan. Berhubung badan Ucup lebih tinggi dari dirinya, si ketua meminta Ucup duduk dengan posisi membungkuk.
Dalam perjalanan, Ucup begitu tidak nyaman, bulu-bulu kuda terus masuk ke dalam hidungnya hingga membuatnya bersin-bersin. Sang ketua terus tersenyum melihatnya di setiap kali Ucup bersin. Kesal karena tidak nyaman, Ucup menarik udara di sekitarnya lalu memusatkannya di dalam perut. Tak lama kemudian, ia mengejan.
Broot!
Plak!
__ADS_1
“Waduh! Keras sekali tanganmu memukulku, Nyonya!” ringis Ucup setelah punggungnya dipukul keras.
“Sekali lagi kaubuang angin, aku tusuk dengan pedangku!” ancam si ketua yang merah padam wajahnya menerima semerbak wangi kemboja.
“Berbaliklah, tapi jangan macam-macam denganku!” imbuh si ketua memintanya.
“Mau macam-macam bagaimana, Nyonya? Kedua tanganku terikat begini,” balas Ucup memelas.
Sang ketua acuh tak acuh mendengarnya, ia kemudian meminta anak buahnya untuk berjalan mendahuluinya. Setelah itu, ia menghentikan laju kuda dan mundur ke belakang memberi ruang kepada Ucup untuk berbalik.
Kini posisi Ucup berhadapan dengan si ketua. Tak ayal, keduanya menjadi serba salah.
“Nyonya, bagaimana kalau kita duduk saling membelakangi?” cetus Ucup menawarkan solusi.
“Tidak, nanti kamu melompat dari kuda,” sahut si ketua menolaknya.
“Posisiku menghalangi pandanganmu, Nyonya.”
“Miringkan saja kepalamu.”
Ucup mendengus kesal, namun ia menurutinya saja dengan memiringkan kepalanya. Sambil tersenyum, si ketua melajukan kembali kudanya. Entah apa yang dipikirkan si ketua? Dengan posisi saling berhadapan di atas kuda, tentunya membuat keduanya berguncang saling merapatkan badan. Monster Ucup pun menjadi korbannya, terus terimpit menabrak perut si ketua.
“Sudah kukatakan jangan kurang ajar padaku!” gertak si ketua sambil memelototkan mata.
“Siapa yang kurang ajar? Dari tadi aku diam!” balas Ucup tak terima disalahkan.
“Jangan mengelak! Lihat saja monstermu itu, kenapa dia sampai berdiri tegak dan terus menekan perutku?”
“Bukan salahku …! Salah Nyonya yang memintaku duduk begini.”
“Kau …!”
“Apa?”
“Keluarkan monstermu dan posisikan di bawahku!”
“Nyonya mau menindihnya?”
“Ya, lakukan saja.”
“Jangan bodoh, Nyonya! Bagaimana bisa aku mengeluarkannya dengan tangan terikat begini?”
Si ketua tampak memikirkan sesuatu … ia kemudian membelokkan arah kuda ke rerimbunan semak belukar. Ucup mengerutkan kening melihat arah yang berbeda dengan para prajurit. Terlihat dari tidak adanya bekas tapak kuda di tanah.
“Nyonya, kita mau ke mana?” tanya Ucup mulai curiga.
__ADS_1