
Berada di ambang pintu restoran, Ucup berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di dada bersama Bing Shi di sampingnya. Tak lama kemudian, lebih dari 20 orang berpakaian hitam dan puluhan ekor serigala berjalan cepat ke arah restoran.
“Selamat datang di Restoran Bunga Persik, Tuan-Tuan,” sapa Ucup menyambut mereka dengan ramah.
“Cih, kau bukanlah pemilik restoran! Siapa kau sebenarnya?” balas seorang pria tua.
“Ucapanmu seperti orang yang tak pernah mengenyam bangku sekolah … aku memang bukan pemilik restoran ini, namun aku yang mendirikan kembali restoran ini. Apakah ada yang salah, Tuan Mata Ngantuk?”
Pria tua mendengus geram mendengarnya. Terpancar sorot mata membunuh menatap pemuda yang bertingkah sombong di depannya.
“Ha-ha, kupikir dirimu seorang cultivator, ternyata, kau hanyalah pemuda tanpa kultivasi. Beraninya kau berkata sombong di hadapanku!”
Sring!
Pria tua menarik pedang dari sarungnya, lalu menjulurkannya ke depan.
“Hadapilah kematianmu!” ujarnya lalu berkelebat menyerang Ucup.
“Hiat!”
Pedang mengayun cepat secara diagonal ke tubuh sang pemuda yang langsung menahannya dengan dua jari. Ucup menyeringai lalu menghantamkan tinjunya tepat ke wajah si pria tua.
Bugh!
Energi dari tinju Ucup menembus kepala pria tua dan langsung melesak menembus lima kepala pria lainnya yang berdiri sejajar dengan si pria tua. Hasilnya, enam kepala hancur dan mereka mati seketika dari satu tinjuan yang dilayangkan Ucup.
“Mudah sekali membunuh kalian, membosankan!” dengus Ucup begitu kecewa melihatnya.
“Bing Shi, serang mereka!” imbuh Ucup memberikan perintah.
Groar!
Bing Shi menggeram lalu melompat menyerang para cultivator yang sedang gugup melihat teman-temannya mati dengan begitu mudah. Mereka berlompatan menghindari terkaman singa es. Di sekitarnya, kawanan serigala membentuk formasi bundar mengelilingi Bing Shi yang menggaruk-garuk tanah mewaspadai kawanan serigala yang mengepungnya.
Perputaran gerak langkah kawanan serigala semakin cepat dan semakin mendekati Bing Shi yang memfokuskan diri untuk menghindari serangan tiba-tiba dari kawanan serigala. Sejurus kemudian, beberapa serigala berlompatan menyerang secara bergantian. Bing Shi melompat menghindari serangan yang datang ke arahnya. Akan tetapi, serangan cepat kawanan serigala sangat sulit untuk ditebaknya.
Pola serangan yang dilancarkan kawanan serigala sangat teratur dan mematikan. Bing Shi berusaha menghindarinya dengan gerakan cepat terus melompat dan sesekali mencakar tubuh serigala yang melewatinya. Sialnya, tidak sekalipun ia bisa melukai kawanan serigala yang terlihat seperti bayangan ketika melewatinya.
Bing Shi mulai terjepit oleh kawanan serigala yang terus menyerangnya. Di ambang pintu, Ucup terus menyaksikan pertarungan para beasts monster dengan begitu serius. Saking seriusnya, Ucup melupakan para cultivator yang telah melarikan diri.
“Yang Mulia, bolehkah aku membantu singa es menghadapi kawanan serigala?” pinta Long An yang ikut menyaksikan dari alam jiwa.
__ADS_1
“Tidak sekarang!” tegas Ucup menolaknya, “Bing Shi terlalu lama tidak menghadapi pertarungan. Kita harus memberikannya waktu untuk mengembalikan kemampuan bertarungnya.”
“Baik, Yang Mulia, aku mengerti,” timpal Long An.
Seiring waktu, pertarungan menjadi tidak seimbang. Bing Shi terlihat begitu kewalahan menghadapi serangan dari kawanan serigala. Banyak luka yang didapatkannya, bahkan, Bing Shi harus bertarung dengan sebelah mata yang tertutup karena luka yang didapatkan.
Ucup terlihat tegang menyaksikannya. Ia ingin membantu tetapi tidak ingin menggunakan energi semestanya.
“Brother Xiao, apakah energi semesta bisa aku segel?” tanya Ucup.
“Bisa saja. Bukankah kamu sudah mengetahuinya?” jawab Pangeran Xiao Li Dan disertai tanya.
“Aku lupa,” balas Ucup terkekeh.
Groar!
Terdengar suara meraung dari dalam restoran, Bei Bing dan Nian Qing keluar dari dalam restoran untuk melihat pertarungan Bing shi. Ucup melirik keduanya yang berdiri cemas.
“Nyonya Bei Bing, apakah kamu mau membantunya?” tanya Ucup menawarkan.
Groar!
Tanpa aba-aba, Bei Bing langsung berlari ke arah kawanan serigala. Akan tetapi, tak hanya Bei Bing yang berlari untuk membantu suaminya, singa kecil Nian Qing pun berlari mengikuti ibunya menyerang kawanan serigala.
Tak disangka, serangan Bei Bing dan Nian Qing sangat brutal. Kawanan serigala langsung merubah pola serangan memberikan jalan masuk untuk Bei Bing dan Nian Qing ke dalam lingkaran formasi.
“Mengapa kalian ikut bertarung?” tanya Bing Shi mencemaskan keberadaan anak-istrinya yang kini berada di kedua sisinya.
“Yang Mulia mengizinkan,” jawab Bei Bing cepat.
Bing Shi langsung melirik anaknya Nian Qing.
“Qing’er, masih ingat dengan apa yang aku ajarkan?” tanya Bing Shi.
Groar!
“Bersiaplah, kita harus merusak formasi serigala!” ujar Bing Shi kepada keduanya.
Wuzz!
Tiba-tiba saja, kawanan serigala menyerang ketiganya dengan serentak.
__ADS_1
Duar!
Bing Shi dan Bei Bing terpelanting jauh menyisakan Nian Qing sendiri di tengah formasi kawanan serigala. Ucup yang menyaksikannya langsung berdiri.
“Aku tidak tahu kalau kawanan serigala begitu pintar,” gumamnya.
“Long An, bantu mereka!” imbuh Ucup.
Wuzz!
Naga api melesak cepat menyerang kawanan serigala yang terkejut melihat naga besar tiba-tiba sudah ada di dekatnya dan langsung menerkam mereka dengan sangat brutal.
Lolongan melengking dari kawanan serigala terdengar memilukan. Satu per satu tubuh serigala dibabat habis oleh terkaman cakar dan rahang naga api hingga menyisakan tubuh hancur yang berserakan di tanah. Setelahnya, Long An langsung menghilang kembali memasuki alam jiwa.
Bing Shi dan Bei Bing berlari ke arah Nian Qing yang mematung menyaksikan kematian dari kawanan serigala di sekelilingnya. Ketiganya berjalan menghampiri Ucup yang berdiri menunggunya.
“Maafkan aku yang menyusahkan kalian semua,” kata Ucup lirih.
Bing Shi menggelengkan kepala menatap sayu Ucup di depannya.
“Kamilah yang harus meminta maaf. Maafkan kami, Yang Mulia,” balas Bing Shi merasa malu karena gagal menyelesaikan pertarungan.
Ucup tersenyum simpul menanggapinya, lalu menjentikkan jari ke tubuh Bing Shi. Seketika, semua luka di tubuh Bing Shi berangsur pulih dengan sendirinya.
“Terima kasih, Yang Mulia,” kata Bing Shi setelah melihat semua lukanya sembuh.
“Terima kasih kembali. Ayo masuk!” balas Ucup.
Di dalam, Xue Xie yang menggendong Berlian di punggungnya, berlari menapaki anak tangga dengan raut wajah yang kesal menghampiri Ucup.
“Kamu kenapa?” tanya Ucup begitu heran melihatnya.
Xue Xie mendengus kesal. Wajahnya tampak merah karena geram mengetahui sang pemuda tidak menghabisi semua cultivator yang datang menyerang.
“Tuan Muda, mengapa membiarkan para bajingan itu melarikan diri? Mereka semua para bajingan dari Sekte Serigala Iblis yang harus dimusnahkan!” Xue Xie balik bertanya.
Ucup menyeringai lalu menjawab, “Aku sengaja membiarkannya supaya mereka kembali membawa banyak orang ke sini.”
Xue Xie mengangguk sambil cengengesan baru memahami maksud perkataan Ucup, meskipun sebenarnya Ucup hanya beralasan semata.
“Aku ingin menghabisi mereka semua,” kata Xue Xie bertekad.
__ADS_1