Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Putri Xiao Lani


__ADS_3

Kembali ke istana Kekaisaran Xiao, Ucup tampak begitu serius mendengarkan cerita yang diungkapkan oleh Pangeran Xiao Li Dan tentang berpencarnya keluarga Kekaisaran Xiao ke berbagai wilayah di alam fana.


Keputusan itu mereka sepakati demi menjaga eksistensi keluarga dari kepunahan. Berpencarnya keluarga kekaisaran bersama dengan para bangsawan ke segala arah mata angin dengan harapan salah satu dari mereka bisa selamat dan membangun kembali kekaisaran setelah berakhirnya masa perang.


Namun sangat disayangkan, belum ada satu pun petunjuk keberadaan keluarga Xiao beserta keluarga bangsawan yang ditemukan. Walau sangat tipis peluangnya, Pangeran Xiao Li Dan masih optimis keluarganya akan selamat hingga saat ini. Ditambah pula dengan tidak ditemukannya jasad dari anggota keluarga kekaisaran yang identitasnya diketahui oleh Pangeran Xiao Li Dan, menjadikan peluangnya semakin besar.


“Brother Xiao, ke mana lagi selanjutnya?” tanya Ucup di sela cerita yang masih diceritakan Pangeran Xiao Li Dan.


“Aku akan membawamu ke tempat-tempat penting kekaisaran. Pergilah ke arah selatan istana, di sana kediamanku berada!” kata Pangeran Xiao Li Dan memberikan petunjuk.


Ucup cengengesan mendengarnya seraya menggaruk bagian belakang kepalanya.


“Kamu kenapa, Lord Ucup?” tanya Pangeran Xiao Li Dan merasa heran.


“Kaukira aku ini kompas? Mana aku tahu arah selatan istana ini di mana?” tanya balik Ucup sedikit kesal.


“Oh, kamu tidak tahu …, arah selatan ada di bawahmu, Lord Ucup,” ucap Pangeran, datar.


“Jangan bercanda! Aku sedot ubun-ubun di kepalamu, baru tahu rasa!” Ucup mulai kesal dibuatnya.


“Aku tidak punya ubun-ubun, aku hanyalah jiwa yang terperangkap dalam kesendirian yang begitu dalam, tanpa seberkas cahaya untuk meredakan gelapnya rindu. Pilu, merasuk kalbu,” ujar Pangeran Xiao Li Dan begitu sendu.


“Kau hanyalah jiwa yang memaksa diri merangkai kalimat cinta. Dalam frasa dan klausa kata yang tak tertata. Lihai menyembunyikan rasa, namun kaku dalam sapa. Kau mau tapi malu, akhirnya ragu menyampaikan rindu yang tak tahu malu. Dungu!” balas Ucup.


“Sialan kau! Pergi sana ke arah kananmu!” timpal Pangeran setelah kalah berkata-kata.


Ucup melangkah mengikuti petunjuk dari Pangeran Xiao Li Dan ke arah selatan istana. Begitu sampai, ia berkata, “Oh, ini kamarmu, Brother Xiao. Hem, cukup luas untuk ukuran kediaman seorang pangeran.”


Tidak ada sahutan dari Pangeran Xiao Li Dan, Ucup beralih memperhatikan bagian kamar yang seluruhnya dipenuhi ornamen berwarna keemasan dengan ukiran naga yang terpatri indah melapisi dinding.


“Konsep desain yang estetik,” puji Ucup, “Seandainya saja ini kamarku, akan aku ubah menjadi studio musik dan mini bar. Tentunya akan ada layar besar untuk menonton bo ….”


Ucup tidak melanjutkan kalimatnya, karena ia yakin akan ada yang melanjutkannya. Sementara itu, Pangeran Xiao Li Dan hanya bisa terdiam tidak memahami maksud perkataan Ucup yang terdengar asing. 

__ADS_1


“Lord Ucup, berbaringlah di ranjang, rentangkan kedua tanganmu ke belakang, lalu temukan tuas dan tariklah secara bersamaan,” ujar Pangeran Xiao Li Dan menginstruksikannya.


Ucup sedikit heran mendengarnya, namun ia manut saja mengikuti instruksi yang diberikan oleh Pangeran Xiao Li Dan. Seketika ranjang yang ditempatinya terbalik. Ia kemudian melompat ke dasar lantai. Matanya berotasi memperhatikan sekelilingnya. 


“Banyak sekali barangmu, Brother Xiao! Apa ada yang mau kamu ambil, Brother?” tanya Ucup merasa takjub melihat banyak barang yang tersimpan di ruang rahasia pribadi sang pangeran.


“Tidak ada yang berguna untukku. Kamu bisa mengambil semuanya untuk keperluanmu dan juga untuk orang-orang yang mungkin bisa kamu temukan nantinya. Salah satunya, keluarga Kekaisaran Zhao,” jawab pangeran Xiao Li Dan.


Ucup senang mendengarnya, ia kemudian memasukkan seluruh barang milik Pangeran Xiao Li Dan ke alam jiwanya. Xue Xie dan Berlian yang melihat barang-barang beterbangan langsung mengumpulkan semuanya.


“Sepertinya cukup. Ke mana lagi tempat yang akan kita tuju?” tanya Ucup.


“Setelah seluruhnya diambil, lalu kamu bilang itu cukup?!” Pangeran Xiao Li Dan terperangah.


“Memangnya kenapa? Salah!?” tanya Ucup.


“Tidak apa-apa, tenang saja,” jawab Pangeran Xiao Li Dan tidak ingin berdebat dengannya, “masih ada tiga tempat lagi yang mesti dikunjungi, yaitu ruang penimbunan harta, ruang senjata dan kamar adikku, Xiao Lani.”


“Kamu akan mengetahuinya nanti. Bergegaslah!” kata Pangeran memintanya.


Ucup mengangguk, lalu bergegas keluar dari ruang rahasia pribadi Pangeran Xiao Li Dan. Tak lama kemudian, ia sudah berada di ruang senjata. Namun, ia terkejut melihat ruangan tampak kosong tanpa ada senjata yang tersisa. Ia pun meninggalkan ruangan dan berjalan menuju ruang penimbunan harta. Lagi-lagi tidak ada yang tersisa di ruang penimbunan harta. Tak ingin menunda lagi, Ucup melangkahkan kaki ke arah kediaman sang putri.


Setibanya di depan pintu kamar yang berdebu dan tertutup rapat. Ucup merasakan adanya tanda kehidupan di dalamnya. 


Krak!


Ucup mendorongnya. Begitu daun pintu terbuka ke dalam, Ucup langsung mengedarkan pandangan mencari keberadaan seseorang di dalamnya. Namun, ruangan itu tampak kosong tanpa terlihat adanya kehidupan sama sekali.


“Aneh, tanda kehidupan dapat aku rasakan dengan jelas, namun mengapa tidak ada apa pun di kamar ini?” gumamnya bertanya-tanya.


Semakin penasaran Ucup dibuatnya. Ia terus melangkah semakin dalam di kamar yang begitu luas.


“Baru kali ini aku melihat ada kamar yang begitu luas. Di tempat asalku, kamar ini sudah menjadi kontrakan sembilan pintu,” ujarnya berkomentar.

__ADS_1


Ucup terus memeriksa setiap sudut kamar hingga dua kali putaran. Tidak ada yang bisa ditemukannya selain debu yang melapisi seluruh bagian kamar. Ia lalu berbalik pergi meninggalkan kamar. Namun, baru saja satu kakinya menapak di luar pintu, muncul seekor kupu-kupu bercorak indah dengan warna kuning keemasan terbang melewati dirinya. Ucup berbalik kembali untuk melihatnya dengan lekat.


“Hah, mengapa kupu-kupu ini seperti sedang menangis?” Ucup merasa heran sendiri melihatnya.


“Dia adikku, Lord Ucup,” kata Pangeran Xiao Li Dan memberi tahu.


“Adikmu kupu-kupu?” tanya Ucup sekenanya.


“Ulurkan tangan kananmu ke depan dan kamu akan mengetahuinya!”  


Ucup mengikuti perkataan dari Pangeran Xiao Li Dan dengan mengulurkan tangan kanannya. Tak lama kemudian, kupu-kupu yang terbang itu hinggap di telapak tangan Ucup. Energi semesta mengalir dengan sendirinya ke badan kupu-kupu dan membuatnya semakin membesar dengan cepat sampai terlihat kulit tubuh kupu-kupu terkelupas dengan sendirinya.


Ucup melebarkan mata tatkala ia melihat seorang gadis bertubuh polos berada di dalam tubuh kupu-kupu. Dengan sigap, ia menarik sang gadis keluar dari dalam tubuh kupu-kupu. 


“Brother, di mana biasanya adikmu menyimpan pakaiannya?” tanya Ucup tak nyaman melihatnya.


Pangeran Xiao Li Dan tidak langsung menanggapinya, ia masih terus memperhatikan adiknya dengan perasaan sedih bercampur haru melihatnya.


“Lord Ucup, aku minta kamu menjaga adikku dengan penuh kasih sayang,” ujar Pangeran Xiao Li Dan penuh harap.


“Adikmu sangat cantik, Brother. Tanpa kamu memintanya pun, aku pasti akan menjaganya dengan baik. Sekarang katakan di mana pakaian adikmu sebelum adik monsterku berontak?” balas Ucup mulai kesal.


“Semua pakaiannya tersimpan di lemari samping tempat tidurnya. Ambilkan dan pakaikanlah! Untuk hal itu, aku tidak akan menyalahkanmu. Akan tetapi, sebelum kamu mengenakan pakaian di tubuh adikku, di balik tirai ada bak tempat adikku membersihkan diri. Mandikan adikku, lalu pakaikan pakaiannya!” ujar Pangeran Xiao Li Dan menjawabnya.


Ucup terperangah mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari ucapan Pangeran Xiao Li Dan.


“Yakin, aku yang memandikannya?” tanya Ucup memastikan.


Pangeran Xiao Li Dan baru tersadar dirinya salah berucap, ia kemudian berkata, “Jangan lakukan itu. Aku tidak rela adikku dinodai olehmu. Mintalah Xue Xie untuk melakukannya.” 


“Oh, jadi selain diriku, siapa pun boleh menodainya. Begitukah maksudmu, Brother?” kata Ucup menanggapi.


Kesal juga Pangeran Xiao Li Dan mendengarnya. Ingin sekali rasanya ia menyumpal mulut teman misinya itu. Namun, ia memilih diam tidak menanggapinya.

__ADS_1


__ADS_2