Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Pesisir Pantai


__ADS_3

Ketiganya tertidur beriringan dengan embusan semilir angin pantai yang begitu kencang di malam hari. Suhu dingin yang menerpa tidak membuat ketiganya kedinginan apalagi masuk angin. Tubuh Ucup yang berasal dari mutiara inti semesta dengan sendirinya menyesuaikan suhu udara dan membuat kedua gadis begitu nyaman berada di dekatnya.


Pagi hari pun tiba, Ucup terbangun dengan perasaan segar yang memenuhi paginya. Ketika matanya terbuka, pemandangan pesisir pantai pada pagi hari setelah matahari terbit menyapanya dengan keindahan yang menakjubkan.


Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai dengan warna hangat, menciptakan bayangan yang memainkan permainan dengan pasir yang masih lembap. Ombak yang lembut menggulung dengan ritme yang menenangkan, seperti lagu alam yang membangunkannya dari tidur.


Ucup merasa bahwa pagi ini adalah awal yang sempurna untuk petualangannya yang penuh tantangan, dan dia menghirup udara laut yang segar dengan perasaan penuh semangat dan kegembiraan.


Ditatapnya kedua gadis yang masih terlelap dalam tidurnya, Ucup kemudian mengecup lembut kening keduanya secara bergantian. Xue Xie membuka mata merasakan sentuhan lembut dari Ucup. Bibirnya melebar menampilkan senyuman yang begitu anggun. Sementara Berlian menggeliat tidak ingin terlepas dari tubuh Ucup. Ia semakin merapatkan tubuhnya, dan tanpa sengaja, satu tangannya menggenggam monster yang tertidur, meremasnya lalu mengusapnya dengan lembut.


Ucup terbelalak melihatnya dan Xue Xie pun langsung melirik ke arah bawah Ucup. Keduanya lalu saling menatap. 


“Ja … jangan salahkan aku!” kata Ucup sedikit gugup. Ia menatap Xue Xie dengan perasaan yang serba salah.


“Kamu memang tidak salah, tapi mengapa tidak segera menariknya?” Xue Xie menatap Ucup dengan tajam.


“Aku takut membangunkannya,” sanggah Ucup.


“Kamu takut membangunkannya atau sengaja membiarkannya sampai monstermu itu terbangun?” kembali Xue Xie menanyakannya.


Suara dari keributan keduanya membuat Berlian terbangun. Ia yang merasakan tangannya menyentuh sang monster langsung menariknya sambil terkekeh. Ucup dan Xue Xie menautkan alis, meliriknya dengan heran.


“Kak Ucup, aku tadi bermimpi menangkap ikan, lalu aku mengelusnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, tapi pas aku bangun, kenapa ikannya berubah jadi imut begini?” kata Berlian yang tanpa malu langsung menyingkap kain yang menutupi ikan imut.


“Wah, ikannya besar!” seru Berlian lalu mencengkramnya dengan begitu gemas.


Xue Xie yang memperhatikannya langsung terjatuh tak sadarkan diri. Sementara Ucup hanya tertawa geli melihat tingkah Berlian yang mempermainkan monsternya.


“Adik Lian, lepaskan ikannya! Kasihan, nanti ikannya pusing,” kata Ucup seraya menarik tangan Berlian yang menggenggam erat sang monster.


“Kak Ucup, kenapa ikannya tidak punya mata?” tanya Berlian yang sedari tadi terus memperhatikannya.


“Ikan ini ajaib, tanpa mata pun tidak akan tersesat memasuki gua,” jawab Ucup sambil menahan geli.


Berlian lalu melepaskannya kembali dan langsung menutupnya dengan kain. Ucup tersipu melihatnya. 

__ADS_1


Ucup bangkit berdiri dan memperhatikan sekelilingnya, melihat pohon-pohon yang tumbuh di tepi pantai. Namun ia bingung pada tahapan untuk membuat perahu. 


“Jangan bingung! Aku akan memandumu membuatnya,” kata Pangeran Xiao Li Dan memahami kecemasan Ucup.


Ucup tampak lega, lalu dengan panduan dari Pangeran Xiao Li Dan, Ucup pun mulai membuatnya.


Ucup mengamati sekitarnya untuk memilih pohon-pohon yang akan dimanfaatkannya sebagai bahan pembuatan perahu. Dia kemudian mengangkat tangannya, dan dengan kekuatannya yang menguasai elemen kayu, dia mulai mengeluarkan energi yang diambilnya dari alam di sekitarnya.


Pohon-pohon di sekitarnya merespons dengan ajaib. Cabang-cabang pohon melentur dan bergerak sesuai dengan keinginan Ucup. Dalam sekejap, cabang-cabang itu mulai membentuk kerangka perahu yang kuat. Ucup mengarahkan setiap gerakan dengan cermat, memastikan bahwa perahu yang dia buat akan mampu menghadapi tantangan samudera yang ganas.


Dengan cermat dan penuh kesabaran serta keuletannya, Ucup melanjutkan untuk mengisi kerangka perahu dengan papan-papan yang telah dibentuknya dari pohon-pohon yang dipilihnya. 


Setiap papan ditempatkan dengan presisi, menciptakan struktur yang kokoh dan tahan air. Ketika perahu selesai, matahari telah menenggelamkan sinarnya di ufuk barat, dan Ucup tahu bahwa dia telah menciptakan alat transportasi yang akan membantunya melintasi samudera yang luas.


“Brother Xiao, apakah kita bisa langsung berlayar?” tanya Ucup mulai tidak sabar.


“Tidak sekarang. Tunggu sampai angin berubah arah,” tolak Pangeran Xiao Li Dan.


“Hem! Aku kan bisa mengaturnya. Mengapa kita harus menunggu besok?” 


“Baiklah, kita tunggu saja sampai besok pagi.” Ucup tampak begitu malas karena harus menunggu. 


Namun, tak lama kemudian, ia tersenyum. Ia melirik ke arah Berlian dan Xue Xie yang sedang berdiri di tepian perahu.


“Adik Lian! Adik Xue Xie!” panggil Ucup sedikit berteriak.


Keduanya menoleh dengan tatapan penuh tanya.


Ucup melompat ke atas perahu lalu menarik tangan keduanya, berjalan ke ujung perahu.


“Kita akan berangkat besok pagi,” kata Ucup memberi tahu keduanya, “tapi kita bisa menikmati keindahan alam dari sini.”


Xue Xie dan Berlian mengikuti arah telunjuk Ucup ke arah terbenamnya matahari. Keduanya begitu takjub memandang alam yang begitu damai. Di langit, bintang-bintang bersinar dengan gemerlap, menciptakan tampilan yang indah dan tak terlupakan. Suara ombak yang lembut dan angin malam yang menerpa wajah ketiganya membawa pada suasana terhubung dengan alam semesta. 


“Kak Ucup!” Xue Xie memanggilnya dengan lembut.

__ADS_1


“Iya,” balas Ucup menolehnya.


“Aku tidak pernah mengalami masa yang begitu indah seperti saat ini. Aku takut hal ini tidak bisa kita rasakan lagi,” ucapnya lirih.


“Jika yang kamu takutkan adalah tidak bisa melihat keindahan alam, kamu hanya harus membuka mata untuk melihatnya sesuka hatimu. Namun, jika yang kamu takutkan adalah tidak lagi bisa bersama, maka yang kamu takutkan adalah kehilangan.”


Ucup mendongakkan kepalanya menatap langit hitam yang dipenuhi bintang-bintang. Ia lalu mengembuskan napasnya dan kembali pada posisi semula, menatap Xue Xie dengan tatapannya yang teduh.


“Tentunya kamu tahu ada awal dan akhir, ada siang dan malam, ada pertemuan dan perpisahan, ada kelahiran dan kematian, dan seterusnya. Akan tetapi, bukan semua itu yang harus kita persoalkan. Yang sekarang harus kita pikirkan adalah keberadaan kita di dalamnya. Bermaknakah diri kita? Tentunya kita menginginkannya, bukan? Maka buatlah diri kita sebagai pribadi yang bermakna.” 


Xue Xie terdiam merenungkannya. Pandangannya beralih ke arah lautan luas, menikmati kembali keindahannya walaupun dalam keadaan gelap. Di sisi lainnya, Berlian tampak menahan rasa lapar, wajahnya sedikit pucat. Ucup yang meliriknya sampai mengernyitkan wajah.


“Mengapa harus menahannya jika kamu lapar, Adik Lian?” tegur Ucup lalu menarik tangannya memasuki ruang dalam perahu yang ukurannya hanya cukup ditempati mereka bertiga.


“Duduklah dulu! Aku akan mencari ikan untuk kita makan,” kata Ucup yang langsung berlalu pergi meninggalkannya.


“Xue Xie, jaga berlian!” kata Ucup sedikit berteriak.


Xue Xie yang masih berdiri di ujung perahu langsung mengangguk dan berjalan memasuki kamar.


Tak lama kemudian, Ucup kembali dengan membawa seekor ikan besar lalu menggantungnya di atas dinding kayu.


“Sabar ya, Adik Lian. Aku akan meracik bumbu sebelum membakarnya,” kata Ucup yang kemudian diangguki oleh Berlian.


Ucup menoleh ke arah Xue Xie lalu memintanya untuk membantunya dalam meracik bumbu. Dikeluarkannya beberapa bahan yang identik dengan bahan yang diketahui Ucup dari dunia asalnya. Ucup juga mengeluarkan tungku api yang biasa dipakainya dalam meracik obat beserta wajan yang dibuatnya dari logam pedang sewaktu berlatih lima elemen.


“Kamu haluskan sepuluh cabai merah, empat siung bawang putih, dan lima siung bawang merah, lalu tumis hingga matang. Jangan lupa juga untuk menambahkan sedikit garam,” kata Ucup memandunya.


Xue Xie terdiam dengan mimik wajah yang begitu malu.


“A-aku tidak bisa masak,” balas Xue Xie sambil menundukkan wajahnya.


Ucup mengangkat dagu Xue Xie dan menatapnya dengan tatapan lembut, lalu berkata, “Tidak masalah, aku akan membantumu.”


Xue Xie mengangguk lalu mengikuti semua yang dikatakan oleh Ucup. Beberapa waktu kemudian, ikan pun matang dan ketiganya makan dengan begitu lahapnya sebelum pada akhirnya mereka tertidur dalam kondisi perut yang kenyang.

__ADS_1


__ADS_2