
Berlian mendengus pelan dengan ekspresi tumpul. Menurutnya semua yang dikatakan oleh Ucup hanyalah sekadar menakuti dirinya. Lagi pula, dia sudah terbiasa mendengar perkataan Ucup yang aneh. Begitu pun dengan Jane yang mulai memahami kata-kata aneh yang dilontarkan Ucup.
Ucup kemudian melirik ke arah Bing Shi dan ketiga monster imut, ia lalu berujar, “Bing Shi, Hong, Lan, dan Huang, kirim tanda kedatangan kita di kota ini supaya Feng Ying dapat menemukan kita.”
“Baik, Yang Mulia,” sahut Bing Shi yang langsung bergegas pergi.
Setelahnya, Ucup kembali melirik kedua gadis dan berkata, “Posisikan diri kalian layaknya seorang ratu kerajaan!”
Ucup memutar badannya lalu mendorong pintu kayu yang tertutup rapat. Ketika Ucup melangkah masuk ke dalam penginapan, seluruh mata menatap padanya dengan sinis, sebagai orang asing yang baru saja tiba di kota yang dipenuhi aura mistis ini. Namun, Ucup tak membiarkan hal itu menghentikannya. Dengan langkah percaya diri, ia melambaikan tangan seperti seorang raja yang mengunjungi rakyatnya secara langsung.
“Rakyatku yang pucat!” serunya dengan suara lantang, “terima kasih telah menyambut kami dengan begitu dingin …. Aku datang dari benua seberang bersama kedua ratu hanya untuk menikmati seblak pedas yang terkenal di kota ini.”
Ucup tersenyum lebar sambil mengusap-usap pelan dagunya yang licin. Sinisnya tatapan dari semua orang dimanfaatkan Ucup dengan memindai kekuatan semua orang yang menatapnya. Ucup terperangah menemukan bahwa semua orang hanyalah tubuh tanpa jiwa.
“Siapa pemilik tempat ini?” tanya Ucup seraya memutar pandangannya menatap satu per satu orang-orang yang berdiri menatapnya.
Tidak ada satu pun yang menjawabnya dengan kata, mereka semua menjawabnya dengan desisan sinis dan tatapan penuh kebencian yang menyala. Suasana tampak begitu menegangkan, namun tak lama kemudian, terdengar suara tepuk tangan yang menggema. Seorang wanita cantik bergaun merah yang tubuhnya aduhai begitu montok melangkah dari kejauhan.
Langkahnya yang anggun menarik perhatian semua orang saat ia mendekati Ucup, dengan menampilkan seutas senyum yang terukir dari bibir merahnya yang memikat siapa pun yang memandangnya.
"Selamat datang, Tuan Tampan dan kedua gundiknya yang lumayan cantik tapi terlihat tidak bisa memuaskan," ucapnya sambil merayu dengan nada manis yang menggoda. "Aku adalah pemilik penginapan ini, dan aku merasa terhormat melayanimu, Tuan Tampan." Tatapannya begitu memikat, seolah-olah menghipnotis Ucup dengan pesona tak terhindarkan.
Pemilik penginapan terus merayu Ucup dengan menggigiti bibirnya yang tipis. Ucup dengan tenang menatapnya, lalu dengan tersenyum penuh pesona sendiri, ia berkata, "Terima kasih atas tawaran Nyonya yang menggairahkan dan terlihat sudah turun mesin ….Aku harus mengingatkan Nyonya bahwa aku adalah seorang pria pemilik monster besar yang sangat disukai para wanita, namun sayangnya tidak semua wanita dapat merasakan keperkasaan monsterku ini.”
Ucup melirik sesuatu yang menyembul dari balik kain celananya, hingga membuat mata si pemilik penginapan mengikuti arah pandangan sang pemuda.
“Sialan, monster itu begitu besar …, ah, aku tak tahan ingin menggenggamnya!” gumam si pemilik penginapan yang tak henti-hentinya menelan paksa salivanya; kedua matanya terus memperhatikan bentuk monster yang tersembunyi di balik kain.
“Apakah ada kamar kosong untuk kami bertiga?” tanya Ucup, “kami bertiga ingin mandi air hangat bersama-sama dalam satu ember besar.”
Kedengarannya seperti kelakar, tapi mimik wajah Ucup menunjukkan bahwa ia benar-benar berbicara serius.
Pemilik penginapan, dengan tatapan nanar dan senyuman menggoda berkata, “Aku akan memberikanmu kamar yang istimewa, namun harganya tidak murah ….”
“Katakan saja, Nyonya!” kata Ucup cepat.
“Lima koin emas,” sahut si pemilik penginapan. “Sebelum aku memberikan kuncinya, bolehkah aku mengenalmu?”
__ADS_1
“Lumayan mahal untuk harga sewa sebuah kamar, tapi aku harap kamar yang Nyonya tawarkan bisa sepadan dengan harganya …, dan untuk namaku, Nyonya bisa memanggilku ‘Lord Ucup’.”
“Namamu unik dan terdengar menggemaskan, Lord Ucup,” timpal si pemilik penginapan lalu merapatkan tubuhnya dan berbisik, “setelah dirimu selesai dengan kedua gundikmu itu, datanglah ke kamarku!”
Ucup menyeringai dan mengangguk. Sang pemilik penginapan kemudian memerintahkan bawahannya untuk mengantar Ucup dan kedua gadis menuju kamar di lantai atas.
“Kalian bersihkan diri lalu beristirahatlah! Aku akan turun untuk mencari informasi tentang kota ini,” ujar Ucup kepada keduanya.
“Bohong!” hardik Berlian, “bilang saja kalau Kakak mau memamerkan ikan kepada Nyonya pemilik penginapan.”
“Tenang saja, Sayang, ikan ini hanya menguji kejernihan air kolam.”
“Menyebalkan!” Berlian mengerucutkan bibirnya.
Ucup langsung menutupi kamar dengan array pelindung lalu keluar meninggalkan keduanya.
Berjalan di koridor penginapan, Ucup sudah ditunggu si pemilik penginapan yang mengangkat sebelah kakinya pada dinding kamar hingga terlihat kulit kakinya yang putih dan sangat mendebarkan hati.
“Cepatlah, Sayang!” kata si pemilik penginapan dengan tatapan yang menggoda.
“Kau bocah yang membuat darahku berdesir cepat,” desis si pemilik penginapan sambil mengelus lembut monster Ucup.
“Apa Nyonya menyukainya?” tanya Ucup.
“Aku sangat menyukainya, tapi jangan panggil aku ‘Nyonya’. Percaya atau tidak, aku masih seorang gadis yang lembut dan baik hati. Jadi, panggil saja aku ‘Bella’,” protes si nyonya dengan menyebutkan nama.
“Aku akan memanggilmu dengan nama ‘Pai Su Chen’ karena dirimu adalah siluman ular.”
Tiba-tiba saja tangan Ucup mencekik leher si nyonya dengan keras hingga membuat wujud asli wanita itu terlihat dengan sendirinya. Dari wujudnya, ia adalah siluman ular api dengan tubuh yang panjang, membelit dalam lingkaran memenuhi ruang kamar.
Tubuhnya berkilau dalam sinar remang-remang api yang menyala-nyala, menciptakan bayangan-bayangan merah yang menggeliat di dinding kamar. Kulitnya bersisik, dan setiap sisiknya mengilat seolah-olah diberi lapisan minyak yang memantulkan cahaya. Warna merah menyala mendominasi sisik-sisiknya, memberinya tampilan yang mengancam dan memikat sekaligus.
Matanya seperti dua intan merah menyala, menyiratkan kecerdasan dan keangkuhan. Lidahnya yang bermata api menggeliat keluar dari mulutnya dengan gerakan yang cepat dan lincah, seolah-olah selalu siap untuk melahap mangsanya. Tubuhnya kokoh dan berotot, memancarkan kekuatan yang mengagumkan sebagai predator alam. Dalam bentuk ular api ini, pemilik penginapan tidak lagi menampilkan pesona manusianya; sekarang ia adalah kekuatan alam yang memesona namun mematikan.
Sayangnya di hadapan Ucup, ia hanya seekor ular yang terkungkung dalam cengkraman pemilik energi semesta.
“Katakan padaku, mengapa semua penduduk kota menjadi makhluk tanpa jiwa?” tegas Ucup memintanya.
__ADS_1
Ular yang dicengkramnya hanya mendesis dengan lidah yang menjulur keluar masuk dari mulutnya.
“Baiklah, kau sepertinya ingin mati di tanganku.” Ucup semakin mengeratkan cengkramannya yang membuat kedua mata ular berubah menjadi putih.
“Lord Ucup, lepaskan!” Pangeran Xiao Li Dan memintanya.
“Kenapa aku harus melepaskannya?” tanya Ucup, heran.
“Siluman itu tak mungkin menjawab dalam wujud aslinya.”
“Baiklah.” Ucup langsung melepaskan cengkramannya.
Tak lama kemudian, ular merah itu berubah kembali ke wujud manusia dan ia terbatuk-batuk seraya memegang lehernya.
“Kau … siapa kau sebenarnya …? Mengapa kau menyakitiku?” ucap si nyonya dengan terbata-bata.
“Aku tidak akan menjawab sampai kau menjawab pertanyaanku tadi,” timpal Ucup dengan tatapan dingin.
Siluman ular membalas tatapan Ucup dengan dingin pula, berusaha memindai kekuatan yang dimilikinya, namun tak kunjung ia menemukannya.
“Pemuda ini bukanlah seorang cultivator, mengapa aliran energinya begitu mematikan? Hampir saja aku mati jika dia tidak melepaskan cengkramannya,” gumam batinnya penuh tanya.
“Cepatlah katakan …, karena tidak ada kesempatan kedua untukmu terbebas dari kematian!” pinta Ucup dengan sedikit ancaman.
Sang siluman menyeringai sinis menanggapinya. Dikatakan atau tidak dikatakan mungkin menjadi akhir kehidupannya. Ia kemudian mengerahkan energi api membentuk sebuah pedang merah yang dikelilingi oleh api yang menyala pada bilahnya.
Wuzz!
Tiba-tiba saja sekujur tubuh si nyonya membeku terlapisi es. Ucup lalu menjentikkan jari mencairkan lapisan es di wajah si nyonya.
“Semakin kau berusaha mencairkan lapisan es dengan energi apimu, maka semakin dingin dan tebal es yang melapisimu, namun membiarkannya pun akan membuat tubuhmu membeku lalu hancur berkeping-keping. Sekarang, nikmatilah kematianmu, Nyonya Ella!”
Setelah mengatakannya, Ucup membaringkan tubuhnya di atas dipan empuk sang pemilik penginapan.
“Namaku Bella bukan Ella. Jangan memanggilku begitu! Sekarang lepaskan aku! Aku akan mengatakan semuanya padamu,” balas si nyonya mulai takut dengan nasibnya.
“Masih ada waktu sampai matahari terbenam sebelum tubuhmu hancur. Jadi, katakan saja secepatnya, Ella, Ella, eh, eh, under my umbrella!” timpal Ucup yang kedua matanya terpejam, menikmati empuknya dipan kayu berlapis kain sutra.
__ADS_1