Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Berlian Rekber


__ADS_3

Ucup menarik napas lalu mengembuskannya secara perlahan. Setelahnya, ia menoleh ke arah Xue Xie yang terlihat tampak imut memandangnya.


“Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu,” jawab Ucup tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya.


Ucup terus melangkah menyusuri lorong. Semakin jauh semakin berpacu pula jantungnya, namun ia terus saja mengabaikan apa yang dirasakannya. Tepat berada di ujung lorong yang buntu dengan dinding besar di depannya, ia merasakan dengan sangat jelas tanda kehidupan yang berada di balik dinding. Ia kemudian meletakkan telapak tangan kanannya di dinding, lalu mengalirkan energi semesta.


Seketika, retakan terbentuk di permukaan dinding dan terus melebar hingga merobohkan dinding tebal. Setelah dinding terbuka, suhu dingin langsung menerobos keluar dengan sangat cepat.


Wuzz!


Suhu yang sangat dingin mengubah udara menjadi lapisan es yang terbentuk di sekeliling dinding, terus menyebar makin meluas. Tak ayal, seorang gadis yang berdiri di belakang Ucup langsung membeku diselimuti lapisan es di sekujur tubuhnya.


Ucup yang tubuhnya terbentuk dari mutiara inti semesta tidak terpengaruh oleh udara dingin yang ekstrim di sekitarnya. Ia berjalan memasuki ruangan yang dilapisi dinding es tebal tanpa mengetahui apa yang terjadi dengan Xue Xie di belakangnya. Perlahan, hawa panas keluar dari tubuhnya yang secara alami mencairkan gumpalan es di sekitarnya.


Pandangannya tertuju pada seorang gadis kecil yang tidak tertutupi sehelai pun kain di tubuhnya yang kurus kerempeng.


Si gadis kecil yang menangkupkan kedua tangan di lututnya itu terlihat begitu memilukan, tulang di tubuhnya tampak menonjol keluar, seolah tubuhnya hanya berisi kulit tanpa daging yang menyelimutinya. Secara perawakan, gadis kecil itu terlihat berusia sekitar sepuluh tahun, meskipun usia sebenarnya jauh melebihi usia dari tampilannya.


Ucup kemudian mengambil selembar kain tebal dari cincin spasialnya dan langsung menyelimuti tubuh gadis itu, lalu memeluknya dengan erat. Begitu pun hawa dingin di sekitarnya yang kini berganti menjadi begitu hangat, sehangat pelukan Ucup pada si gadis kecil.


Ucup merasakan jiwa si gadis kecil itu terhubung dengannya, mengikatnya dengan begitu kuat, layaknya ikatan seorang kakak dengan sang adik ataupun seperti ikatan seorang ibu dengan anaknya.


Tak lama berselang, kelopak mata gadis kecil itu terbuka dan tubuhnya sedikit menggeliat, memberikan tanda bahwa dirinya baik-baik saja. Ucup merenggangkan pelukannya seraya menatap sorot mata si gadis kecil yang dipeluknya.


Kedua tatapan mata saling terhubung dengan sendirinya. Tanpa sadar Ucup mengikuti nalurinya mencium lembut kening si gadis kecil.


Keajaiban pun terjadi, energi kehidupan dari tubuh Ucup mengalir lembut memasuki tubuh gadis kecil itu. Tubuh yang sebelumnya begitu kurus perlahan berisi, bola mata semesta keluar dengan sendirinya di kening Ucup yang kemudian menyinari wajah tirus si gadis kecil.


Mata si gadis kecil menutup kembali karena silau yang terpancar dari sinar semesta. Tak lama berselang, bintik kecil muncul dengan sendirinya membentuk sebuah kristal yang terapit di antara alis sang gadis belia, berkilau, merespon sinar yang terpancar dari bola semesta di kening Ucup.


“Es Abadi!” seru Pangeran Xiao Li Dan ikut memperhatikannya.

__ADS_1


Ucup mengerjap sedikit mengingat kembali apa yang pernah dipelajarinya dari hukum semesta.


“Apa kamu yakin, Brother Xiao?” tanya Ucup.


“Ya, aku sangat yakin. Kamu bisa merasakan sendiri auranya. Sungguh, kamu beruntung, gadis itu bukan bagian dari keempat wanita yang akan menjadi istrimu nanti. Kalau memang dia jodohmu, dia akan bisa memberikanmu keturunan,” ujar Pangeran Xiao Li Dan. 


“Itu terlalu berlebihan, Brother Xiao. Aku tidak ingin memikirkan hal itu.” Ucup mencoba menampiknya.


“Itu hanya soal waktu, Lord Ucup,” balas Pangeran Xiao Li Dan.


“Entahlah, aku hanya merasa terhubung dengan gadis kecil ini. Sebaiknya kita tak perlu membahas apakah dia jodohku atau bukan. Mungkin kita akan mengetahuinya di saat dia dewasa nanti. Biarkan saja dia menentukan jalan hidupnya sendiri. Biarpun begitu, aku tidak bisa menyangkal kebahagiaan yang kurasakan sekarang. Sejujurnya, aku belum pernah merasa seperti saat ini.” 


Pangeran Xiao Li Dan sedikit malu mendengarnya. Ia terdiam tidak bisa mengatakan apa pun lagi setelahnya. Apa yang dikatakan oleh Ucup memanglah benar.


Ucup sendiri terus memeluk si gadis kecil sambil membelai wajahnya dengan begitu lembut penuh kasih sayang, hingga terdengar suara seseorang yang membuatnya teringat telah melupakan keberadaannya.


“Tuan Muda, siapa gadis kecil itu?” Xue Xie bertanya untuk kedua kalinya.


Xue Xie menunduk karena malu telah menanyakan hal yang salah, namun ia penasaran dengan sosok anak kecil yang berada dalam dekapan Ucup. Ia lalu mengangkat kembali wajahnya memperhatikan sang gadis belia yang sedari tadi terus menatapnya.


“Maaf, Tuan Muda, aku penasaran bagaimana dia bisa berada di sini? Bukankah restoran ini telah runtuh di masa perang?” tanya Xue Xie memikirkannya.


“Jangan terlalu membebani pikiranmu dengan memikirkannya," kata Ucup menasihati.


Xue Xie mengangguk, namun ia terus memikirkannya dalam diam. 


“Anak ini seharusnya sudah berumur lebih dari seratus tahun jika dihitung dari akhir peperangan. Aku masih penasaran bagaimana dia bisa berada di sini? Ah, aku pusing memikirkannya!” pikir Xue Xie begitu rumit.


Gadis kecil tersenyum memperhatikan Xue Xie yang masih termenung dalam lamunannya. Seketika, Xue Xie tersadar menatap balik si gadis kecil yang terus menatapnya.


“Kenapa anak ini begitu cantik? Bahkan, kecantikannya seperti seorang dewi. Semoga saja Tuan Muda tidak jatuh hati pada anak ini, semoga juga Tuan Muda hanya menganggap anak ini sebagai adiknya. Ah, mengapa pula aku harus cemburu pada anak kecil?” imbuhnya dalam pikiran.

__ADS_1


Xue Xie sedikit memaksakan senyum kepada si gadis kecil.


"Siapa namamu, Cantik?” tanyanya.


Gadis kecil hanya diam tidak memahami apa yang diucapkan oleh wanita dewasa di depannya.


“Namanya Berlian Rekber,” potong Ucup langsung memberikan nama kepada gadis kecil tanpa direncanakannya.


“Aku ingin kamu membantunya belajar berbicara, menulis, membaca, dan apa pun yang bisa kamu ajarkan kepadanya,” sambung Ucup meminta.


“Baik, Tuan Muda, aku akan mengajari banyak hal pada adik kecilku ini,” sahut Xue Xie menyanggupi.


“Ayo kita kembali!” ajak Ucup lalu menggenggam jemari tangan Xue Xie.


Sekembalinya Ucup keluar dari ruang bawah tanah Restoran Bunga Persik, Bing Shi beserta anak dan istrinya berjalan menghampiri. Ketiganya begitu takjub melihat sosok anak kecil berkulit putih yang terlihat begitu cantik di usianya yang masih belia. Namun tatapan kagum dari ketiganya langsung berubah seketika, tampak ada kekhawatiran yang tersirat dari ketiganya. Hal itu terbaca oleh Ucup yang dari tadi terus memandangi ketiganya.


“Ada apa, Bing Shi? Katakan saja!” kata Ucup.


“Yang Mulia, beberapa waktu lalu ada tiga orang berpakaian hitam memasuki restoran ini. Gelagatnya sangat mencurigakan, mereka terlihat begitu tergesa-gesa,” ungkap Bing Shi.


“Di mana mereka sekarang?” sambung tanya Ucup.


“Aku tidak tahu, Yang Mulia. Mereka langsung pergi meninggalkan restoran begitu aku menghampirinya,” jawab Bing Shi.


“Aku yakin mereka akan kembali ke sini, kita harus menyambutnya,” kata Ucup dengan seringainya yang dingin.


“Sepertinya mereka sudah tiba,” kata Long An memberi tahu.


“Terima kasih, Long An,” balas Ucup yang kemudian melirik Xue Xie di sampingnya.


“Bawa Berlian ke ruangan atas! Aku harus menyambut tamu,” kata Ucup seraya menyerahkan Berlian kepada Xue Xie.

__ADS_1


“Bing Shi, ayo kita sambut tamu kita!” Ucup melangkah ke arah pintu keluar diikuti oleh Bing Shi.


__ADS_2