
Pedang yang rusak menjadi saksi bisu kelamnya sang empunya pedang yang menggunakannya untuk membunuh para wanita yang tergoda rayuan maut si pemilik pedang nan rupawan.
“Kau berpikir miris pada korban pedang yang aku ceritakan kepadamu, tetapi kau tidak mengetahui bagaimana pedang itu diciptakan dan diperebutkan oleh semua cultivator di alam semesta ini,” ujar Lin Fing.
Ucup melirik sang guru dengan penuh keingintahuan.
“Di alam semesta ini ada dua pedang terkuat yang bertentangan, namun sejatinya saling melengkapi, seperti siang dan malam. Para cultivator menyebutnya Pedang Yin dan Yang. Yang pertama adalah pedang yang kini menjadi bagian dirimu, yaitu, Wuming Jian, dan yang kedua adalah Huimie Yuzhou,” ungkap Lin Fing menceritakannya secara singkat.
Ucup merasa belum puas dan terasa janggal dengan pedang yang dimilikinya. Ia kemudian berkata, “Maaf, Guru. Kalau memang Wuming Jian itu kuat, mengapa bisa rusak?”
“Pertanyaan yang bagus, Bocah. Perlu kau ketahui, setiap pedang hebat memiliki jiwa di dalamnya. Untuk bisa merusaknya, kau harus melukai jiwa pedang dengan melukai jiwa pemiliknya,” jelas Lin Fing menjawabnya.
“Jadi, setiap kali membunuh wanita, Guru akan menikam jiwa sendiri. Bukankah itu upaya bunuh diri?” sambung tanya Ucup menyimpulkan.
“Ya, dan sayangnya, aku tidak pernah mati.”
Ucup begitu serius menatap gurunya yang hanya fokus menjawab pada pokok pertanyaan yang dilontarkannya.
“Lalu, bagaimana Guru bisa menjadi bagian dari pilar semesta?” Ucup kembali bertanya.
“Karena aku adalah kegelapan semesta,” jawab Lin Fing, singkat.
“Tu-tunggu! Jadi, Guru bukanlah seorang dewa?” Ucup baru menyadarinya.
“Betul. Akulah satu-satunya iblis yang menjadi bagian dari pilar semesta.”
Timbullah berbagai pertanyaan di benak Ucup setelah mengetahui jati diri gurunya. Akan tetapi, ia teringat pada hal yang pernah dipelajarinya. Ia pun berucap, “Ah, banyak yang ingin kutanyakan, tetapi aku penasaran dengan satu hal ….”
“Katakan saja!”
“Dalam sejarah bangsa iblis yang kupelajari dari hukum semesta, hanya ada dua nama yang paling berpengaruh dan berkuasa, yaitu Yuangu Mowang dan Tang Xie Jingga. Aku tidak melihat ada nama Guru di dalamnya. Itu berarti, tidak ada satu pun dari bangsa iblis yang mengenal Guru. Mengapa bisa begitu?”
“Sederhana saja, aku membunuh semua iblis yang mengenaliku. Apakah di dalam sejarah disebutkan siapa yang membunuh para guru dari kedua nama iblis tadi?”
Ucup melebarkan mata teringat akan sejarah bangsa iblis yang tidak semuanya terangkum jelas. Meskipun demikian, beberapa kejanggalan telah ditemukan jawabannya.
“Sudah cukup! Aku ingin kau memikirkan cara untuk menarik pedangmu itu,” ujar Lin Fing memintanya.
“Aku sudah mencobanya, Guru, namun terus saja aku gagal,” balas Ucup kembali tertunduk lesu.
“Kau merepotkan saja. Baiklah, aku akan membuat tiruan wanita dari pikiranmu,” sambung Lin Fing lalu menyentuh kening Ucup untuk memindainya.
Ucup tersenyum lega mendapatkan solusi. Ia diam saja membiarkan sang guru memindai isi pikirannya.
“Banyak sekali wanita di dalam pikiranmu, Bocah! Wanita mana yang kauinginkan?”
“Terserah Guru saja,” jawab Ucup.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya terbentuk dari energi yang dialirkan oleh Lin Fing. Ucup melebarkan mata tidak percaya menatap sosok yang berdiri di dekatnya.
“Guru!” teriak Ucup sambil menutup mata.
“Kenapa, Bocah? Kau tidak menyukainya?” tanya Lin Fing, heran.
__ADS_1
“Itu ibuku, tolong ganti yang lain! Aku tidak ingin menjadi anak durhaka,” jawab Ucup.
“Baiklah, aku akan menggantinya,” timpal Lin Fing.
Berikutnya, muncul sosok wanita muda yang begitu cantik dengan pakaian yang minim.
“Buka matamu, Bocah! Aku sudah menggantinya.”
Ucup membuka matanya lalu melihat sosok wanita yang membuatnya mengernyitkan wajah.
“Kenapa, salah lagi?” tanya Lin Fing.
“Itu sih i-nya tiga. Ganti yang lain saja, Guru.” Ucup menolaknya.
Lin Fing kembali memilih wanita yang ada di dalam pikiran Ucup. Setelah menimbang pilihannya, Lin Fing membentuk sosok gadis muda yang terlihat cantik dan menggemaskan.
“Ya ampun, kenapa adikku? Sekalian saja tanteku atau nenekku,” gerutu Ucup.
“Baik, ini yang terakhir. Jangan memintaku menggantinya lagi!” Lin Fing mulai kesal selalu disalahkan Ucup.
Ucup mengangguk lalu terlihat olehnya sosok wanita yang sangat cantik dengan pakaian yang begitu ketat.
“Wow, selera Guru bagus juga! Sudah lama aku membayangkan janda samping rumahku. Andai saja ibuku tidak melarangku mendekatinya, aku ingin sekali bisa mendapatkannya.” Ucup tak henti-hentinya menatap sang wanita yang begitu menggodanya.
Seketika, adik monsternya menggeliat terbangun dari tidurnya.
“Tarik pedangmu sekarang!” pinta Lin Fing.
Ucup mengerjap lalu menarik energi pedang dari adik monsternya. Di sisi lain, sosok wanita berbadan sintal langsung menghilang dengan sendirinya. Ucup kini fokus pada pelatihannya dalam mempelajari ilmu pedang.
“Tentu, Guru,” sahut Ucup.
Lin Fing mulai memperagakan beberapa teknik dasar dalam memainkan pedang. Mulai dari teknik menusuk, menebas, memotong, memblokir, dan memutar pedang dengan begitu piawainya. Terlihat gerakannya begitu cepat, terukur, dan bertenaga.
Ucup terus mengamatinya dengan serius tanpa ada satu gerakan pun yang luput dari pengamatannya. Ia bahkan tidak ingin berkedip ketika melihatnya.
“Sungguh, guruku seorang ahli pedang!” Ucup begitu mengagumi semua pergerakan yang ditunjukkan oleh gurunya.
Wuzz!
Di luar dugaan Ucup, ujung pedang itu hanya tinggal seujung jari dari keningnya. Dia mengerutkan kening pada titik tajam pedang yang terletak di antara alisnya.
Lin Fing menarik kembali pedangnya lalu melemparkan sebuah kerikil ke udara.
Sret!
Kerikil kecil terbelah menjadi potongan-potongan kecil yang berserekan.
“Bisakah kau menghitung berapa kali aku menebasnya?” tanya Lin Fing.
“Aku bahkan tidak melihat Guru menebasnya,” jawab Ucup dengan jujur.
“Seratus lima belas kali,” timpal Lin Fing mengungkapkannya.
__ADS_1
“Hah!”
Ucup tampak tidak percaya mendengarnya. Ia lalu mengumpulkan potongan kerikil seraya menghitungnya.
“Ba-bagaimana mungkin ini benar?” gumam Ucup yang telah mengumpulkan lebih dari seratus potongan kerikil di lantai batu.
“Itulah tujuanmu. Kau harus bisa melakukannya sama seperti yang kutunjukkan,” kata Lin Fing.
Ucup langsung menelan salivanya dengan kasar mendengar ucapan yang disampaikan gurunya.
“Apa Guru sedang bercanda?” Ucup berdiri dan menatap wajah sang guru yang begitu serius.
“Apa aku terlihat sedang bercanda?” tanya balik Lin Fing.
“Maaf, Guru!” jawab Ucup lirih.
“Lihat batu seukuran kepalamu di sana!” Lin Fing menunjuk ke arah batu di sisi kiri Ucup.
“Iya, Guru,” sahut Ucup melihatnya.
“Lakukan gerakan menusuk seribu kali ke titik yang sama dengan pola yang berubah-ubah!”
Ucup mengangguk lalu berjalan ke arah batu yang ditunjuk oleh Lin Fing. Setelah berada di depan batu, Ucup langsung menggerakan tangan menancapkan ujung pedang ke tengah batu.
“Pakai intuisimu sendiri untuk menciptakan berbagai pola tusukan ke titik yang sama, lalu amatilah efek dari setiap pola yang kauciptakan!”
Dengan konsentrasi penuh, Ucup terus menusuk ke arah titik yang telah dibuatnya. Namun, setelah hanya beberapa tusukan, batu yang ditargetkan itu hancur. Ucup langsung mencari batu lain untuk terus berlatih.
Ucup telah mengulanginya lebih dari seribu kali. Dari teknik ini, ia mendapatkan banyak pengetahuan tentang variasi dan efek yang dihasilkan dari berbagai pola yang ia ciptakan.
Setelahnya, ia berlanjut pada teknik lainnya, yaitu teknik menebas, teknik memotong, teknik menangkis, teknik peraduan gesekan pedang, dan teknik putaran.
Seiring berjalannya waktu, Ucup mulai mahir menggunakan pedang. Lin Fing yang mengajarinya tampak begitu puas, terlihat dari sorot matanya yang memancarkan kebahagiaan melihat murid tunggalnya itu mampu mempelajari semua teknik yang diajarkannya.
“Bagaimana dengan perkembangan diriku, Guru?” tanya Ucup setelah menyelesaikan teknik terakhir.
“Progresnya cukup baik, … sekarang aku ingin tahu, berapa tebasan yang bisa kaudapatkan?” jawab Lin Fing mengujinya.
Lin Fing mengambil sebuah batu kerikil lalu melemparkannya ke udara. Ucup yang melihatnya langsung bereaksi dengan mengayunkan pedang.
Sret!
Dengan cepat, Ucup menebas kerikil yang jatuh di depannya. Ia lalu mengumpulkan potongan-potongan kerikil seraya menghitungnya.
“Dua puluh tiga, Guru,” kata Ucup memberi tahu.
“Cukup baik. Sekarang gunakan waktumu untuk beristirahat! Setelahnya, kita akan melanjutkan pada pertarungan tangan kosong,” ujar Lin Fing lalu berjalan meninggalkannya.
“Baik, Guru,” sahut Ucup sambil menganggukkan kepala.
Senyum muncul di bibirnya, mengungkapkan kepuasan atas pencapaiannya selama latihan. Ucup kemudian menutup matanya dalam posisi lotus.
Beberapa waktu kemudian, Ucup kembali melanjutkan latihannya. Berbagai metode, ritme, dan intensitas yang tinggi dijalankannya dengan baik dan selalu membuat gurunya terpuaskan pada hasil yang didapatkannya.
__ADS_1
Kini, Ucup telah siap untuk kembali ke alam fana dengan bekal yang cukup untuk mengarungi kerasnya dunia cultivator tanpa harus ketergantungan dari energi semesta yang dimilikinya.