
Setelah kepergian sang gadis bergaun hitam, Ucup langsung berkelebat ke area kosong bekas Hutan Serigala untuk menghampiri Bing Shi dan kawanan serigala yang telah terbebas dari lapisan es yang mencair.
“Yang Mulia,” ucap Bing Shi menyambutnya.
“Sudah hangatkah dirimu, Bing Shi?” tanya Ucup.
“Sudah dari tadi, Yang Mulia," jawab Bing Shi.
"Lalu, apa yang membuatmu melamun?" sambung tanya Ucup memperhatikannya.
"Aku sedang membayangkan bagaimana hutan ini bisa menjadi area kosong seperti saat ini dalam semalam? Tapi aku tahu, pasti semua ini Yang Mulia yang melakukannya. Kemampuan Yang Mulia sangat hebat,” ujar Bing Shi memujinya.
“Tak perlu berkata seperti itu, Bing Shi,” kata Ucup, “aku ingin kau membantuku menebar serbuk kehidupan di seluruh area kosong.”
Ucup mengeluarkan gumpalan serbuk dari cincin spasial dan langsung memberikannya kepada Bing Shi.
Setelah itu, Ucup kembali berkelebat menghampiri Long An yang masih terkapar merasakan sakit di tubuhnya. Ucup kemudian melemparkan sebuah pil ke mulut sang naga. Tak lama kemudian, Long An kembali pulih.
“Terima kasih, Yang Mulia,” ucapnya setelah bisa menggerakkan kembali tubuhnya.
Ucup tersenyum simpul mendengarnya lalu berkata, “Kembalilah ke alam jiwa!”
Long An mengangguk lalu menghilang dari tempatnya. Ucup tersenyum simpul menatap area kosong di kejauhan. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menunggu Bing Shi menyelesaikan tugasnya. Ucup kemudian duduk dalam posisi lotus untuk mempelajari kembali kitab pedang yang diwariskan oleh Lin Fing.
Hening, begitulah suasana di tempat Ucup duduk bersila di atas hamparan rumput hijau yang tak beraturan. Embusan angin menderu kencang menerpanya, melambaikan pakaian dan rambut panjang sang pemuda yang begitu tenang raut wajahnya.
Siang pun berganti malam, embusan angin semakin kencang bertiup menerpa alam. Ucup membuka matanya merasakan keberadaan sang singa tengah berjalan ke arahnya. Sinar matanya memancarkan kehangatan yang menyelimuti dinginnya udara malam.
“Tidak sampai sehari kau sudah menyelesaikan tugasmu,” kata Ucup memecah hening.
“Kawanan serigala membantu tugasku, Yang Mulia.” Bing tampak sedikit malu mengatakannya.
“Ah, itu bagus! Maafkan aku yang telah merepotkanmu, Bing Shi.”
__ADS_1
“Suatu kehormatan untuk hamba bisa melayani Yang Mulia.”
“Angin berembus sangat kencang beberapa hari ini.” Ucup menyipitkan mata menahan laju angin yang menerpanya.
“Sepertinya musim semi akan berganti. Sudah waktunya aku harus melanjutkan perjalanan ke wilayah lainnya. Ayo!” imbuh Ucup dengan semangat.
“Izinkan punggung hamba menjadi penopang Yang Mulia,” kata Bing Shi lalu berputar membelakangi.
Ucup memahaminya dan langsung menaiki punggung sang singa.
“Kita akan berjalan ke mana, Yang Mulia?” tanya Bing Shi.
“Ke utara, Lord Ucup. Kita pergi ke wilayah Kekaisaran Zhao. Di sana lebih dekat untuk bisa menyebrangi samudera menuju benua lainnya,” ujar Pangeran Xiao Li Dan mengarahkan.
“Baik, Brother,” balas Ucup lalu meminta Bing Shi ke arah utara seperti yang dikatakan oleh Pangeran Xiao Li Dan.
"Brother Xiao, bukankah di wilayah Utara merupakan wilayah dari Aliansi Bintang Utara?” tanya Ucup.
“Iya, tapi sekarang sepertinya sudah diambil alih oleh alam,” ucap Pangeran menduganya, “kita akan mengetahuinya setelah menjejakkan kaki di sana.”
Ketika memasuki wilayah terluar Kekaisaran Xiao dan juga Kekaisaran Fei, Bing Shi melangkah dengan langkah waspada. Perasaan getir merasuki sanubarinya, mengingat kenangan pahit pada masa peperangan waktu itu.
“Mengapa dirimu begitu cemas?” tanya Ucup.
“Tempat ini membuatku mengingat getirnya perang kala itu, Yang Mulia,” ungkap Bing Shi lalu menceritakan masa lalunya untuk mengurangi kecemasan yang bersemayam di dalam dirinya.
Ucup dengan serius mendengarkan ceritanya hingga ia tahu alasan tidak ada satu pun kerajaan dan kekaisaran yang menjadikan wilayah terluar ini masuk ke dalam teritori wilayah yang dikuasai.
Semakin dalam memasuki area terluar, Ucup merasakan hadirnya kekuatan mistis yang menerpa dirinya seperti embusan dingin yang menusuk sanubari.
Wilayah ini dipenuhi oleh tanaman abadi yang tumbuh subur dan menjalar seperti liukan ular-ular besar yang melilit.
Di tempat-tempat yang tersembunyi, sinar keemasan muncul dari sela-sela pepohonan, mengungkapkan kehadiran makhluk-makhluk gaib yang mengawasi dengan sorot mata yang tajam. Suara aneh dan samar terdengar di antara embusan angin, berbisik lirih.
__ADS_1
Ketika malam semakin larut, cahaya bintang melingkupi langit, memberikan sorotan misterius pada tanaman abadi yang menjulang. Suasana terasa semakin angker dengan keheningan yang hanya sesekali terpotong oleh suara desiran angin yang tak beraturan.
Ucup merasakan getaran mistis yang menembus tulang belulangnya. Dia tahu bahwa wilayah terluar ini adalah saksi bisu dari peperangan tak berkesudahan di masa lalu.
Saat langkah telah sampai di ujung wilayah terluar, suara-suara yang tidak jelas mulai memenuhi udara. Sinar-sinar aneh dan bercahaya berkelebat di kejauhan, seolah-olah saling beradu satu dengan lainnya.
Ucup terus memperhatikan sisa-sisa reruntuhan dari bekas peradaban sebuah kota suatu kerajaan. Sekilas ia melihat bayangan-bayangan yang bergerak di antara puing-puing reruntuhan. Wujud bayangan tampak kabur namun memancarkan aura yang menakutkan.
Saat keseimbangan antara dunia nyata dan dunia roh semakin tipis, Ucup merasakan dirinya terhubung dengan alam semesta yang lebih dalam.
Tanpa terasa sudah berhari-hari Ucup dan Bing Shi menjajaki wilayah yang dulunya merupakan tujuh kerajaan yang terkenal dengan nama Aliansi Bintang Utara. Tidak ada kehidupan yang ditemukan keduanya selama perjalanan.
“Lord Ucup, sehari lagi kita akan sampai di wilayah Kekaisaran Zhao. Area luas di depan kita dulunya adalah sebuah gunung yang menjadi portal keluar masuk alam dewa dan alam fana,” ujar Pangeran Xiao Li Dan memberitahukannya.
“Ya, aku pernah membacanya pada bab hukum alam semesta. Namun bukan sejarahnya yang ingin aku ketahui, tetapi suatu hal aneh yang aku rasakan berada di sana. Tidakkah dirimu merasakannya juga, Brother Xiao?” balas Ucup sambil menjulurkan jari telunjuknya ke arah bekas gunung yang disebut oleh Pangeran Xiao Li Dan.
“Aku tidak merasakan keanehan apa pun dalam jangkauanku. Sepertinya hanya bisa dirasakan oleh dirimu saja,” timpal Pangeran setelah mencoba memindainya.
Memasuki area lembah yang berdekatan dengan area luas di atasnya, suara-suara aneh mulai terdengar nyaring dan sangat memekakkan telinga. Bing Shi tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan memuntahkan seteguk darah.
“Bing Shi, ada apa denganmu?” tanya Ucup sambil mengusapi kepala sang singa.
“Tekanannya sangat mengintimidasi dan begitu menyakitkan. Hamba tidak kuat menahannya,” kata Bing Shi yang kembali memuntahkan darah.
Ucup mengerutkan kening tidak merasakan adanya gelombang aura yang memancar di sekitarnya.
“Aneh, mengapa aku tidak merasakannya? Bukankah sebelumnya aku bisa merasakannya?” gumam Ucup begitu penasaran.
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada beast monsternya, Ucup langsung melompat dari punggung Bing Shi, lalu memasukkannya ke alam jiwa.
“Lord Ucup, berhati-hatilah! Kita belum tahu bahaya apa yang mengintai kita,” ujar Pangeran Xiao Li Dan mengingatkannya.
“Brother, apakah kita memasuki dunia sihir?” tanya Ucup teringat akan pelajaran dari hukum semesta.
__ADS_1
Degh!
Pangeran Xiao Li Dan tertegun mendengarnya.