
Kesal tak ditanggapi oleh pemuda di bawahnya, Dewa Tampan bersama kedua temannya menarik pedang dari cincin spasial dan melayang turun dengan amarah yang tersulut. Ucup menyeringai dan dengan cepat dia bergerak menghindari tebasan cepat dari ketiga dewa palsu yang menyerangnya.
“Kau hanyalah seorang pendekar yang tak berkultivasi, namun kau memiliki kecepatan yang luar biasa. Siapa sebenarnya kau ini?”
Sang pemuda tersenyum simpul seraya menggenggam kedua tangan di belakang punggungnya. Tak ada kata yang terlontar dari bibirnya. Ia terus saja mengulum senyum tanpa mau menjawab, hingga membuat sang pria tinggi besar itu menggeram menahan amarah.
“Kau seperti mayat yang tak dapat menjawab tanya. Maka, jadilah mayat agar aku tak harus menunggu jawabanmu,” kecam Dewa Tampan yang tak mampu lagi menahan amarah.
“Habisi pemuda sombong itu!” titahnya dengan tegas.
Kedua temannya langsung berkelebat menyerang Ucup dengan tebasan pedang. Ketika keduanya belum mencapai posisi yang membahayakan dirinya, Ucup sudah lebih dulu menghilang dari posisinya. Dengan demikian, ayunan pedang yang dilancarkan oleh keduanya hanya mampu menebas udara kosong.
“Sial, dia begitu cepat!” gerutu si wanita tikus darat.
“Waspadalah dan jangan lengah!” sahut si pria mata satu mengingatkannya.
Ucup kembali terlihat dalam jarak lima tombak dari kedua dewa palsu. Ia masih berdiri tenang dengan menggenggam kedua tangan di punggungnya, seolah tidak ada serangan yang terjadi sebelumnya.
Kedua dewa palsu itu kembali ke posisi awal bersama Dewa Tampan. Kini, mereka berdiri berbaris dalam satu baris lurus. Keringat meresap ke seluruh tubuh mereka, membuat pakaian mereka menempel erat pada tubuh. Suara napas mereka yang berbaur mengungkapkan ketegangan yang dirasakan. Mereka sadar pemuda yang dihadapinya bukanlah lawan sembarangan.
__ADS_1
Dengan gerakan anggun dan santai, Ucup mengibaskan lengan jubahnya. Dia kemudian mengangkat wajahnya, memandang langit, seolah-olah dia sedang menikmati pemandangan yang indah. Meskipun yang terlihat hanyalah gumpalan awan mendung yang tak kunjung menurunkan hujan.
Saat dia mengangkat kepala, terlihat sinar berkelebat, dan tiba-tiba ada bayangan seseorang yang menyerangnya, orang itu tak lain adalah si Dewa Tampan yang menjadi orang pertama yang melakukan serangan berikutnya. Pada saat yang bersamaan, dua temannya yang lain datang dari dua arah yang berbeda. Namun, Ucup tetap tenang, tidak bergerak, dan hampir tidak terlihat oleh mata manusia biasa.
Tiba-tiba, kedua tangannya mulai bergerak dalam gerakan yang menakjubkan. Gerakan itu sangat aneh dan luar biasa, begitu cepat dan cekatan, dan dalam sekejap saja, bayangan pedang yang berdesing ke tubuhnya mampu dihindarinya dengan sangat baik, bahkan dari ketiga ayunan pedang yang datang bersamaan dari tiga arah yang berbeda.
Setelah itu, Ucup membentuk dua bilah pedang energi dengan memanfaatkan elemen angin yang diserap dari alam sekitarnya. Bibirnya terangkat menyeringai melihat ketiga dewa yang akan kembali menyerangnya.
Wuzz!
Ketiga dewa berkelebat menyerang sang pemuda. Kali ini Ucup tidak menghindarinya, ia menahannya dengan pedang energi yang tergenggam di kedua tangannya.
Trang!
Sret!
Satu tebasan berhasil memenggal leher si wanita tikus darat hingga kepalanya terjatuh menggelinding di tanah.
Tindakan itu berlangsung sangat cepat dan selesai dalam sekejap mata. Ucup terlihat tetap santai dengan tangan yang kembali tergenggam di belakang, dan kepalanya tetap terangkat. Napasnya teratur, seolah-olah sepanjang waktu dia hanya memandang langit dan tidak pernah terganggu oleh apa pun atau siapa pun di sekitarnya.
__ADS_1
Sekarang hanya ada dua orang tersisa, keduanya berdiri seperti patung. Sorot mata mereka yang redup tampak seperti titik cahaya kunang-kunang yang semakin memudar. Sisa cahaya mereka hampir padam, dan terasa betapa besar rasa ketakutan, dendam, dan kebencian yang ada di hati mereka.
Dengan pandangan yang dingin dan tanpa ekspresi, Ucup memperhatikan dua orang di depannya. Wajahnya tidak mencerminkan kepuasan atau kegembiraan atas kemenangan; dia seolah-olah merasa layak menerima anugerah kemenangan dari hasil pertempuran.
Kedua pria itu saling menatap sejenak. Pria yang sebelumnya memiliki mata satu yang tajam dan garang kini terlihat ragu. Begitu pun dengan Dewa Tampan yang kini mulai kehilangan kesombongannya.
Dari awal hingga saat ini, Ucup belum pernah mengeluarkan sepatah kata pun, tetapi sorot mata dan ekspresi wajahnya mencerminkan siapa Ucup sesungguhnya. Ucup memang sudah meyakini hasil akhir dari pertempuran yang sengit ini. Sikap dingin dan penampilannya yang menakutkan juga memancarkan kewibawaan yang tak tertandingi oleh siapa pun.
Hampir tanpa disadari oleh semua orang, perlahan-lahan, kedua dewa itu mulai mundur. Ini adalah reaksi alami dari rasa takut. Mereka mungkin tidak pernah membayangkan bahwa hidup biasa yang telah mereka nikmati selama ini dengan segala kemenangannya akan lenyap begitu saja.
Ucup bergerak dengan tenang di tengah ilalang. Pandangannya tertuju pada ilalang yang terkena cipratan darah. Batang-batang ilalang masih bergerak turun-naik terpapar embusan angin, menari-nari dengan malu-malu. Awan-awan hitam bergulung-gulung di langit, menambahkan sentuhan seram pada suasana di sekitarnya.
Dengan perlahan, Ucup mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan. Kemudian, tiba-tiba, dia berseru keras, seolah-olah datang dari jarak yang sangat jauh, "Perang adu nyawa telah usai; sisa yang hidup adalah bangkai; kematian mana lagi yang harus dimulai?"
Diam-diam, kedua dewa merasa gemetar, dan tanpa sadar mereka bertatapan sejenak. Dengan lembut, Ucup kembali mengalihkan pandangannya ke tebing bukit yang menyisakan darah kering yang membekas, dan dia berbicara dengan pelan, "Setiap waktu terjadi kematian, entah di mana pun itu. Bagaikan udara di sekitar, kematian selalu mengintai di belakang kepala kita. Seringkali ia menciptakan kesedihan tiada tara. Ia hadir dan melenyapkan semua tawa di wajah. Bagaimanapun menyakitkannya, kematian tetaplah sesuatu yang alami. Tak ada yang bisa mencegahnya. Kita bisa saja berupaya lari darinya. Namun hanya soal waktu, sebelum kematian merengkuh kita ke dalam pelukannya, bagaimanapun caranya."
Dengan tatapan mata yang jernih dan tajam, Ucup melihat keduanya secara bergantian. Ia pun melanjutkan kata-katanya, "Mengingkari kematian berarti menentang alam. Dan itu adalah upaya yang sia-sia. Tak menerima kematian sebagai fakta kehidupan adalah bagian dari delusi yang tak berguna. Jika itu yang terjadi, kita hidup dalam mimpi tiada akhir yang menyiksa jiwa."
Sayangnya, dalam situasi seperti ini, kedua dewa itu tidak terlalu tertarik mendengarkan kata-kata berbentuk syair dan filsafat dari Ucup. Tanpa disadari, mereka terus mundur, dan tiga mata mereka tidak berani berkedip saat melihatnya.
__ADS_1
“Kau manusia berdarah dingin …, kau sangat kejam!” geram Dewa Tampan terdengar parau.
Ucup menjawab, “Kaubilang aku kejam!? Lalu bagaimana dengan semua penduduk desa yang kalian bunuh? Dan bagaimana juga dengan orang-orang yang kalian jadikan tumbal di Danau Darah …? Sekarang siapa yang harusnya kausebut kejam itu? Katakan padaku!”