Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Hutan Serigala


__ADS_3

Ucup masih mengingatnya dengan jelas siapa sosok gadis yang berlari ke arahnya. Seorang gadis yang tak lain adalah Putri Ling Xi yang selalu bersama dengan Putri Zhao Ning. 


Putri Ling Xi terlihat begitu kepayahan dengan banyak luka sabetan senjata tajam di sekujur tubuhnya. Ucup menatapnya dengan penuh iba. Tak ingin membuat sang putri terus menderita, Ucup berkelebat mendekatinya.


“Nona, apa yang terjadi?” tanya Ucup begitu iba melihatnya.


“Ka-kami diserang,” ucap sang putri terdengar parau.


Tak lama setelah mengucapkannya, sang putri langsung terhuyung jatuh tak sadarkan diri. Dengan reaksi cepat, Ucup menopang tubuh sang putri, namun, posisi sang putri yang terjatuh ke depan membuat Ucup tak sengaja menyentuh dadanya.


“Empuk,” kata Ucup kemudian merebahkan tubuh sang putri di atas tanah.  


Ucup kemudian mengalirkan energi semesta ke tubuh sang putri. Seketika, luka-luka menganga di sekujur tubuh sang putri langsung pulih dengan sendirinya. 


"Mbak … bangun, Mbak!" kata Ucup sambil menepuk wajah sang putri.


Gadis itu pun mengerjap tersadar dari pingsannya. Matanya terbelalak tidak percaya mendapati dirinya baik-baik saja tanpa ada luka sedikit pun yang sebelumnya memenuhi sekujur tubuhnya. Ia lalu bangkit dan langsung berlutut di depan Ucup.


“Tuan Muda, bisakah Tuan Muda menolong kami?” pinta Putri Ling Xi.


Ucup tersenyum dan berkata, "Pastinya aku akan membantu. Di mana lokasinya?”


“Di hutan perbatasan. Kami disergap oleh ratusan penjahat berpakaian hitam dengan ukiran serigala tercetak di bagian punggungnya,” jelas Putri Ling Xi.


Ucup sedikit mengangguk memahaminya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Xue Xie.


“Kamu belum mengajari Berlian perihal apa pun. Maka dari itu, aku akan menarikmu ke alam jiwa, di sana kamu bisa mengajarkan banyak hal kepada Berlian,” kata Ucup.


"Baik, Tuan Muda,” sahut Xue Xie memahaminya.


Ucup menarik Xue Xie dan Berlian memasuki alam jiwanya. Setelahnya, ia memanggil Long An keluar. Tak lama kemudian, Long An muncul di hadapan Ucup dan langsung merendahkan tubuhnya.


“Yang Mulia, naiklah!” kata Long An memintanya.


"Ayo kita berangkat sekarang!' Ucup menaiki punggung sang naga diikuti oleh Putri Ling Xi dan Bing Shi beserta keluarganya.


Long An membawa mereka terbang ke atas awan melintasi hutan menuju lokasi kejadian di perbatasan. Sesampainya di lokasi, Long An tidak langsung mendarat, ia mengedarkan pandangan memindai lokasi kejadian. Akan tetapi, tidak ada satu pun orang-orang dari Kekaisaran Zhao yang dilihatnya. Begitu pun dengan Ucup yang terus mengawasi area. 

__ADS_1


“Tidak ada jasad yang ditinggalkan, mungkinkah para penjahat itu menculiknya?” gumam Ucup menerkanya.


“Long An, bisakah kau menelusuri jejak mereka?” tanya Ucup.


“Yang Mulia, biar hamba saja. Kami terbiasa melakukan perburuan,” potong Bing Shi mengajukan diri.


“Baiklah, ayo kita turun sekarang!” balas Ucup menyetujuinya.


Setelah berada di bawah, Long An kembali memasuki alam jiwa, sementara Ucup mengikuti langkah Bing Shi dan keluarganya menelusuri jejak langkah yang ditinggalkan para penculik keluarga kekaisaran.


Lebih dari seminggu waktu yang ditempuh untuk menelusuri jejak dari para penculik. Ucup dan Bing Shi telah sampai di pinggiran Hutan Serigala.


“Bing Shi, berhenti sebentar! Aku merasakan keberadaan mereka di dalam hutan ini,” kata Ucup lalu memindai kembali area hutan di depannya.


“Jumlah mereka sangat banyak, berhati-hatilah!” imbuhnya mengingatkan.


Ucup berjalan memimpin ke dalam hutan. Namun, baru beberapa langkah ia memasuki hutan, lebih dari sepuluh orang berkelebat mengadangnya. 


“Siapa kalian?” tegur seorang pria berwajah sangar mengacungkan pedang ke arah Ucup.


Belum sempat Ucup menjawab, belasan orang yang mengadangnya langsung menyerang dengan tiba-tiba. Namun, Bing Shi dan istrinya bereaksi cepat memblokir serangan yang datang dengan cakarnya mematahkan bilah pedang orang-orang sekte.


Tak lama berselang, ratusan anggota sekte datang dengan membawa banyak serigala berputar mengelilingi area pertarungan. 


“Sepertinya aku tidak bisa berdiam diri di sini,” pikir Ucup lalu melirik Putri Ling Xi di sampingnya.


“Aku harus mengambil pedangku, bisakah Nona membantuku untuk mengambilnya?” tanya Ucup.


“Bagaimana caranya, Tuan Muda?” tanya balik sang putri.


Ucup tersenyum dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kemudian merangkul pinggang langsing sang putri lalu memagut bibir imut sang putri dengan begitu lembut.  Terkejut dicium oleh pemuda tampan yang disukainya, Putri Ling Xi langsung membalas pagutan mengikuti ritme yang teratur dari bibir sang pemuda. 


Ucup merapatkan tubuhnya dengan sang putri untuk meningkatkan hasratnya. Sang putri terbawa suasana mengikuti permainan Ucup dengan sendirinya. Akan tetapi, sang monster masih belum bangun juga. Ucup sedikit kesal lalu menuntun tangan sang putri untuk menyentuhnya. 


Krauk!


“Wadaw, kenapa kau menggigitku!?” tegur Ucup yang spontan melepaskan pagutannya.

__ADS_1


Putri Ling Xi tersentak melihat Ucup menatap kesal pada dirinya, lalu ia pun berkata, “Maafkan aku, Tuan Muda, aku terkejut menyentuh punyamu.”


“Tidak apa-apa, aku yang salah, maafkan aku. Pedangku berada di monsterku, aku harus membuatnya bangun untuk bisa menarik pedang,” balas Ucup lirih.


Entah setan mana yang merasuki diri sang putri. Ia begitu cepat memahami maksud ucapan Ucup kepadanya. Ia pun seloroh menyodorkan bibir mencium rakus bibir sang pemuda dan memandu tangan sang pemuda untuk menyentuh bagian berharga miliknya. Sontak saja hal itu membuat sang monster terbangun dari tidurnya hingga sang putri terdorong mundur terkena monster jahanam dan langsung melepaskan pagutannya.


Ucup tersenyum lalu secepatnya menarik energi pedang dari monsternya.


“Nian Qing, jaga sang putri untukku!” pinta Ucup.


Groar! Nian Qing meraung menanggapinya. 


“Somplak, ayo kita habisi mereka semua!” kata Ucup langsung berkelebat menyerang gerombolan sekte yang mengelilinginya.


Duar! Duar! Duar!


Ucup terus menebaskan pedangnya ke tubuh orang-orang sekte yang langsung meledak menjadi kabut darah di setiap kali bilah pedang si somplak mengenainya.


“Yuhuu, ini menyenangkan!” seru Ucup menikmati pertarungannya.


Melihat anggota sekte mati tanpa perlawanan, beberapa orang sekte langsung mewaspadai serangan yang dilayangkan oleh pemuda yang menyerang mereka secara brutal.


“Hati-hati terkena tebasan pedangnya! Kita harus berpikir cermat untuk menghindarinya,” ujar seorang pria bertubuh pendek yang mengamati pertarungan dari kejauhan.


Satu per satu anggota sekte melebarkan jarak dari jangkauan tebasan sang pemuda. Ucup menyeringai sinis memperhatikan orang-orang sekte yang terus menghindarinya. Ia kemudian menghentikan aksi dengan meletakkan pedang di pundaknya.


“Kalian semua pengecut!” kata Ucup mengejek, “kadieu sia kabehan, dicagcag sia ku aing!” (sini kalian semua, aku cincang kalian)


“Cuih!” Mereka semua melemparkan saliva membalas perkataan yang dilontarkan Ucup.


Setelahnya, semua anggota Sekte Serigala Iblis membentuk formasi serangan dengan pola yang memiliki banyak sudut dan membentuk empat kelompok mengelilingi Ucup dari empat arah mata angin.


“Ha-ha! Formasi yang menarik. Kalian semua tidak tahu kalau aku juga jago memakai formasi 4-3-3 dengan gaya main gegenpressing. Akan aku tunjukkan kepada kalian semua,” kata Ucup.


Raut wajah mengernyit ditunjukkan oleh semua anggota sekte yang mendengar ucapan ngelantur sang pemuda.


“Pemuda ini selalu berkata aneh. Kita semua jangan langsung menyerangnya, kita tunggu sampai dia melakukan serangan!” ujar pria berwajah lancip mengingatkan.

__ADS_1


Semua anggota sekte mengangguk setuju. Sementara itu, Ucup terlihat masih memikirkan sesuatu di benaknya. Biarpun begitu, kedua matanya masih fokus mengamati pola gerakan dari anggota sekte di sekelilingnya.


“Sial, ini bukan permainan konsol. Aku tidak bisa menerapkan pola 4-3-3 sendirian,” pikir Ucup merasa bodoh, “tahu begini, aku jadi menyesal tidak pernah main epep.”


__ADS_2