Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Aksi Berlian


__ADS_3

Akan tetapi, ketiga pria itu tak mengindahkannya sekalipun. Mereka masih terpaku menatap kecantikan sang gadis walau terus diprovokasi. Berlian yang merasa diabaikan hanya mendengus pelan sambil melingkarkan kedua tangan di dadanya. Lama-lama ia jengah juga melihat ketiga pria itu hanya menatapnya dengan tatapan seperti tak pernah melihat gadis cantik.


“Apa kalian akan terus berdiri seperti itu dengan saliva yang terus menetes keluar dari bibir kalian?” tanya Berlian dengan suara yang ditinggikan.


Terperanjat ketiga lelaki dari amnesia singkatnya. Mereka kemudian saling menatap dengan kebingungan. Perihal kuda tertotok bahkan tak diingatnya lagi. Lalu, seorang pria brewok berjalan dua langkah mendekati sang gadis.


“Dari pakaian yang kau kenakan, sepertinya dirimu berasal dari Benua Matahari. Ada urusan apa Nona datang jauh-jauh ke Alexandria?” tanya si pria brewok dengan santun.


“Bukan urusanmu,” ketus Berlian.


“Kau begitu ramah, Nona. Bagaimana kalau Nona ikut bersama kami?” tawar si brewok sambil mengedipkan sebelah matanya.


Berlian tersenyum sinis. Alisnya terangkat dan pandangannya merendahkan.


“Pasti rumah kalian jelek. Bagaimana kalau kalian yang ikut denganku?” balik tawar Berlian yang kemudian menggigit bibir dan menatap manja ketiga lelaki di depannya.


“Memangnya kau mau membawa kami ke mana?” Si brewok mulai menggodanya.


“Pastinya aku akan membawa kalian ke tempat yang penuh kehangatan. Di sana tempat yang cocok untuk kalian …. Bagaimana?” 


“Kami sungguh penasaran. Di mana tempat itu? Jangan bilang kau akan membawa kami ke Benua Matahari, itu sangat jauh,” tukas si pria kurus ikut nimbrung.


“Tentu saja aku tidak akan membawa kalian ke tempat yang jauh. Aku ingin membawa kalian ke tempat yang mudah dijangkau.”


Semakin penasaran ketiga pria dibuatnya. Si brewok mengerutkan kening mencoba untuk menebak tempat yang ditawarkan oleh sang gadis.


“Bisakah Nona sebutkan nama tempat itu? Mungkin kami bisa mengusulkan tempat yang lebih hangat dari yang Nona ketahui,” ucap si brewok memintanya.


Berlian terkekeh pelan sambil menutupi mulut. Ia lalu berkata, “Kalian semua sepertinya sudah sangat mengenali tempat itu …, hem! Kalau tidak salah namanya itu ….” Berlian menatap serius ketiga pria yang begitu tidak sabar untuk mendengarnya.


“Neraka. Ya, itu namanya,” imbuh Berlian.


“Bajingan, kau mempermainkan kami!” geram si brewok langsung menarik pedang dari sarungnya.


“Eh, siapa yang mempermainkan kalian?” Berlian kembali terkekeh pelan.


Si brewok dan kedua temannya tidak tahan lagi mendengar ocehan sang gadis. Kali ini mereka tidak lagi peduli akan kecantikan sang gadis. Bagi mereka, gadis di depannya tak ubah seperti iblis betina yang harus dihabisi. Mereka lalu melompat dengan mengayunkan pedang. Berlian hanya tertawa-tawa saja melihatnya. Ia tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Begitu ketiga penyerangnya mendekat, Berlian menggeser sebelah kaki, memiringkan tubuh, dan tiba-tiba saja tangannya berayun cepat memukul wajah ketiganya.

__ADS_1


Dug! Dug! Dug!


“Aah!”


Ketiga tubuh pria terpelanting ke belakang, namun tak lama kemudian ketiganya bangkit dengan kemarahan yang membara. 


Si brewok merasakan asin di mulutnya yang mengeluarkan darah. 


“Cuih!” Si brewok memuntahkan darah. Tampak dua gigi depannya patah setelah terkena pukulan.


Tak ingin dipermalukan oleh seorang gadis, ketiganya kembali menderu kencang menyerang sang gadis yang masih berdiri di tempatnya.


“Cih, masih berani rupanya!” ketus Berlian sambil menyeringai.


Kali ini Berlian tidak menunggu datangnya serangan. Ia memicingkan mata ke arah pria kurus yang terdekat dari posisinya. 


Wuzz!


Berlian berkelebat dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata. Gerakannya sangat eksplosif dan begitu mematikan. Tiba-tiba saja ketiga pria sudah jatuh bergulingan di atas tanah. Si brewok yang sebelumnya mengalami patah gigi, sekarang ia merasakan tulang hidungnya yang patah. Di sisi lainnya, si pria tirus merasakan sesak napas setelah dadanya terkena tendangan keras. Sementara pria satunya lagi sedang meraung keras sambil bergulingan di tanah. Terlihat tangan kirinya terkulai lemah. Tampaknya ia mengalami patah tulang di tangan kirinya itu.


“Lemah!” cibir Berlian mengejek ketiganya.


“Pergilah dan jangan lagi menculik seorang gadis!” usir Berlian kepada ketiganya yang hanya bisa menatap dengan penuh rasa dendam.


“Nona, Alexandria bukan tempat yang ramah untuk orang-orang yang berasal dari Benua Matahari. Tunggulah pembalasan kami!” ancam si brewok yang kembali memuntahkan darah setelah mengatakannya.


“Dih, ngancam! Tidak malu tuh sama janggut,” ejek Berlian.


Si brewok dan kedua temannya sekilas melemparkan pandangan sengit sebelum menaiki kuda. Begitu ketiganya menarik tali kekang, kudanya masih dalam keadaan tertotok. Mereka pun menoleh ke arah Berlian dengan mimik wajah memelas, memintanya untuk melepaskan totokan di kuda ketiganya.


Berlian tertawa melihatnya, ia lalu mengangkat tangan kanan memberi isyarat kepada Ucup untuk melepaskan totokan. Tak lama kemudian, kuda-kuda yang ditunggangi ketiga pria itu berjingkat. Lalu, mereka pun pergi meninggalkan hutan.


Berlian menggeleng-gelengkan kepalanya dan tak lama setelah itu, ia langsung merebahkan tubuh sang gadis di tanah.  Tiba-tiba saja Ucup sudah berada di dekatnya.


“Andai tidak ada dirimu, mungkin gadis ini terlihat cantik,” gumam Ucup setelah memperhatikan si gadis yang kedua matanya terkatup.


Berlian mendongak lalu menarik tangan Ucup untuk duduk di sampingnya. 

__ADS_1


“Kak, bagaimana aksiku tadi?” tanya Berlian meminta penilaian.


“Sedikit terkejut melihatmu bisa memprovokasi mereka. Apakah Xue Xie yang mengajarimu?” kata Ucup menyelidik.


“Aku justru belajar dari Kakak,” timpal Berlian seraya menyandarkan kepalanya di bahu Ucup.


“Hem!” Ucup mendengus lirih menanggapinya.


Sambil menunggu sang gadis yang pingsan kembali siuman, Ucup dan Berlian merebahkan tubuh di atas dedaunan kering menatap pepohonan tinggi nan rimbun daunnya.


“Sepertinya akan memakan waktu beberapa hari lagi keluar dari hutan ini. Sebaiknya kita istirahat sambil menunggu gadis itu terbangun,” kata Ucup.


“Tidak masalah, Kak,” timpal Berlian yang sekarang menyandarkan kepalanya di dada Ucup.


Beberapa waktu kemudian, kedua mata si gadis yang terkatup akhirnya terbuka. Ia terpinga-pinga menatap batang pohon yang menjulang tinggi di atasnya. Tercenung mengingat kembali kejadian yang menimpanya. Tak lama kemudian, matanya membuntang, dan sesuatu yang hangat membasahi pipinya.


“Jangan!” jerit si gadis.


“Jangan membunuh keluargaku!” jeritnya lagi. 


Si gadis menjerit histeris di tengah hutan. Tubuhnya berguncang, pikirannya jauh menerawang pada kejadian yang telah dialaminya. Melihat kondisinya, Ucup langsung mengalirkan energi semesta ke punggung si gadis. Hawa dingin menjalari seluruh tubuh dan berhasil membuat si gadis menjadi tenang.


“Kakak tidak perlu takut, ada kami yang membantu Kakak,” ucap Berlian mencoba menenangkannya.


Suara Berlian yang sangat lembut dan tatapan penuh kasih sayang membuat si gadis merasa nyaman. Ia pun mengangguk dengan seutas senyum terbentuk dari bibirnya.


“Siapa namamu, Kakak? Bagaimana bisa Kakak sampai dikejar oleh tiga penjahat tadi?” tanya Berlian ingin mengetahuinya.


Si gadis tidak menjawabnya, ia kembali menangis mengingat kejadian yang menimpanya. Ucup menggelengkan kepala meminta Berlian untuk tidak mempertanyakannya. Berlian mengangguk lalu mendekap si gadis untuk menenangkannya. 


“Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud untuk membuat Kakak kembali bersedih,” ucap Berlian dengan tulus.


“Namaku Jane Bussarakham,” kata si gadis menyebutkan nama.


“Aku Berlian dan ini Ucup, kakakku,” sahut Berlian memperkenalkan diri.


Ucup mengerutkan kening mendengar nama yang tidak asing didengarnya, ia kemudian bertanya, “Namamu seperti nama orang Thailand. Apakah kau berasal dari sana?” 

__ADS_1


“Thailand! Aku tidak mengenal nama itu. Aku aslinya berasal dari Benua Matahari tepatnya di Pegunungan Selatan wilayah Kekaisaran Zhao. Keluargaku telah bermigrasi ke sini sejak satu abad yang lalu,” ungkap Jane menjelaskan.


__ADS_2