Pendekar Pedang Somplak

Pendekar Pedang Somplak
Jasad Utuh Pendekar Pedang


__ADS_3

Seakan menemui jalan buntu, Ketua Sein Khan An menutup kedua matanya untuk mencari alternatif lain dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi Sekte Serigala Iblis.


Tak lama berselang, di area luar pertemuan, terdengar keributan dari beberapa anggota sekte yang memaksa masuk ke dalam area pertemuan. Mereka mendesak para penjaga untuk memberikan jalan kepada mereka memasuki area pertemuan. 


Semua orang yang berada di area pertemuan langsung menoleh ke arah keributan yang sedang terjadi. Tanpa terkecuali sang ketua sekte yang begitu geram melihatnya.


“Biarkan saja mereka masuk!” pekik lantang Ketua Sekte memerintahkan.


Para penjaga langsung membuka jalan kepada beberapa anggota sekte yang bergegas memasuki area pertemuan. Mereka pun berjalan dengan begitu tergesa-gesa. Terukir raut kecemasan di wajah mereka begitu menatap sang ketua. 


“Salam hormat, Ketua,” ucap serentak beberapa anggota sekte sambil membungkuk.


Ketua Sein Khan An menatap mereka dengan heran. “Apa yang terjadi dengan kalian?”


Mereka kemudian saling melirik satu dengan yang lainnya, lalu memutuskan menunjuk pria berkuncir untuk mewakili.


 “Upaya kami untuk menangkap tiga singa yang mendiami Restoran Bunga Persik di Kota Luyan digagalkan oleh seorang pemuda yang disinyalir sebagai tuan dari ketiga singa itu. Bahkan, Tetua Sein Da Wa dan lima anggota lainnya harus kehilangan nyawa dengan hanya sekali pukul dari si pemuda,” beber seorang pria berkuncir.


“Dasar tidak berguna!” dengus sang ketua sangat geram mendengarnya, “lalu mengapa kalian malah lari meninggalkannya? Bukankah kalian juga membawa banyak serigala untuk menangkapnya?”


“Ma-maafkan kami, Ketua!” kata pria berkuncir memohon.


“Pergilah, dan jangan kembali sampai kalian berhasil menangkap ketiga singa dan juga pemuda itu! timpal sang ketua mengusirnya.


Baru saja beberapa anggota sekte keluar meninggalkan area pertemuan, dua orang anggota lainnya melangkah masuk dengan raut wajah bahagia lalu mengepalkan kedua tangan menjura di hadapan sang ketua.


“Hormat, Ketua. Kami menemukan keberadaan keluarga Kekaisaran Zhao bersama dengan rombongannya berjalan ke wilayah selatan perbatasan. Mohon, Ketua memberikan kami bantuan tenaga untuk menangkap mereka,” ungkap seorang pria paruh baya mengabarkan.


“Ha-ha-ha! Akhirnya kita mendapatkan solusi. Terima kasih, Saudara Sein Yawa atas informasi yang membahagiakan ini,” balas Ketua Sein Khan An yang langsung melirik seorang pria tua dan memintanya untuk melangkah maju.


“Tetua Sein Dok, aku serahkan tugas ini kepadamu,” ujar Ketua Sein Khan An memberikan perintah.


“Terima kasih, Ketua, hamba laksanakan,” balas Tetua Sein Dok menerima perintah.

__ADS_1


Kembali ke Kota Luyan di Kekaisaran Xiao. Ucup berdiri di dekat jendela yang menghadap ke arah luar restoran. Ia terlihat begitu tenang memperhatikan area luar restoran yang sangat sunyi tanpa adanya kehidupan.


“Sudah tiga hari kita menunggu kedatangan mereka, namun masih belum muncul juga satu pun bayangannya. Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan kita ke Istana Kekaisaran Xiao. Bagaimana menurut kalian?” tanya Ucup tanpa menoleh.


“Aku sudah ingin meninggalkan tempat ini dari hari kemarin. Ayo kita berangkat!” kata Xue Xie tidak sabar.


“Hamba ikut saja, Yang Mulia,” sambung Bing Shi menyetujuinya.


Ucup membalikkan badan lalu mengangkat tubuh Berlian dan mendudukkannya di atas pundaknya.


“Baiklah, ayo kita pergi!” kata Ucup yang langsung berjalan ke arah pintu depan restoran.


Dalam perjalanan di Kota Luyan, Ucup berbagi tugas dengan Xue Xie dan Bing Shi yang dibantu oleh anak istrinya. Seperti biasanya, Ucup mengalirkan energi semesta untuk menumbuhkan pepohonan di tanah kering dan merekonstruksi berbagai bangunan yang dianggap penting menurut informasi dari Pangeran Xiao Li Dan.


Sementara Xue Xie bertugas mencari barang-barang berharga yang bisa ditemukan dan menyimpannya di dalam cincin spasial. Lalu, Bing Shi dan keluarganya bertugas untuk mengumpulkan tulang belulang dan menguburkan ataupun membakarnya.


“Yang Mulia, kami menemukan dua jasad yang masih utuh,” ungkap Bing Shi melaporkan temuannya.


Bing Shi mengangguk lalu membawanya ke arah tumpukkan puing-puing reruntuhan sebuah bangunan. Sesampainya di lokasi yang ditunjuk oleh Bing Shi, terlihat dua jasad yang saling berpelukan dengan tombak yang tertancap tepat di punggung seorang pria yang menutupi jasad seorang wanita di bawahnya. 


Garis muncul di antara kedua alis Ucup yang terus memperhatikan keberadaan energi yang menyelimuti kedua jasad di depannya. Ia lalu mencabut tombak dan membalikkan tubuh si pria.


“Lord Ucup, keduanya merupakan sepasang pendekar Pedang Langit. Wajar saja tubuh keduanya awet. Meskipun tanpa jiwa, kedua tubuh mereka yang terlindungi api suci akan terus terjaga dari apa pun,” beber Pangeran Xiao Li Dan memberitahukannya.


“Terkecuali tombak itu!” balas Ucup.


“Bukan … bukan tombak itu yang membunuhnya, tetapi yang menggunakannya,” timpal Pangeran Xiao Li Dan.


"Berarti yang membunuh keduanya memiliki kekuatan yang lebih tinggi," pikir Ucup.


Dengan kemampuannya, Ucup menarik energi murni api suci yang melindungi tubuh kedua pendekar sehingga jasad kedua pendekar bisa bersatu dengan tanah, dilanjutkan dengan mengambil kedua cincin spasial dari jasad kedua pasangan pendekar Pedang Langit.


Ucup kemudian membuat lubang tanah dan menguburkan keduanya dalam satu lubang yang sama, dilanjutkan dengan mengukir sebuah batu nisan dengan nama “Sepasang Pedang Langit”.

__ADS_1


Selesai mengubur keduanya, Ucup langsung memindai kedua cincin spasial milik sepasang pendekar yang dikuburnya. Di dalamnya banyak ditemukan berbagai kitab dari Sekte Pedang Langit dan beberapa batang emas-perak termasuk berbagai pil alkemis.


“Semoga saja masih ada orang-orang Sekte Pedang Langit yang selamat. Semua peninggalan dari keduanya akan aku kembalikan kepada penerusnya,” gumam Ucup.


“Brother Xiao, di mana lokasi Sekte Pedang Langit?” tanya Ucup merasa tertarik dengan sekte dari kedua pendekar.


“Lokasinya berada di Lembah Pedang. Akan tetapi, aku tidak tahu pasti berada di wilayah mana Lembah Pedang itu,” jawab pangeran Xiao Li Dan.


“Mengapa kamu tidak mengetahuinya?” lanjut tanya Ucup menjadi heran karenanya.


“Sekte Pedang Langit begitu tertutup. Tidak ada yang bisa memastikan tepatnya lokasi sekte selain orang-orang sektenya sendiri.”


“Apa mereka tidak pernah mengatakan di mana lokasinya?”


“Mereka hanya mengatakan lokasinya di Lembah Pedang. Hanya itu saja informasi dari orang-orang sekte setiap kali mereka ditanya.”


Ucup terdiam tidak mau meneruskan perbincangannya. Ia kembali melanjutkan langkah bersama Bing Shi sambil memindai reruntuhan di sekitarnya.


“Yang Mulia, seribu tombak dari samping kanan Yang Mulia, aku merasakan ada seorang manusia yang berlari cepat ke arah kota,” kata Long An mengabarkan.


“Terima kasih, Long An. Apakah orang itu menuju ke arah kita?” balas Ucup mempertanyakan.


“Tidak, Yang Mulia. Tetapi sebaiknya Yang Mulia yang mendatanginya,” jawab Long An.


“Susi!” teriak Ucup sambil melambaikan tangan ke arah Xue Xie yang berada jauh dari posisinya.


Xue Xie berlari menghampirinya. 


“Ada seseorang yang harus kita temui,” kata Ucup yang langsung berbelok ke arah kanan tubuhnya.


Beberapa langkah Ucup berjalan, terlihat seorang gadis berlumuran darah di sekujur tubuhnya terus berlari sambil tergopoh ke arahnya.


“Bukankah dia salah seorang putri dari Kekaisaran Zhao?” 

__ADS_1


__ADS_2