
Perasaan bahagia menyelimuti hati semuanya, terutama Ucup yang perjalanan misinya kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Ucup menoleh ke arah Feng Ying dengan tatapannya yang lembut lalu berkata, “Aku tadi datang untuk menempati rumahmu, maafkan aku, Feng Ying!”
“Tidak masalah, Lord Ucup. Aku hanya mengikuti naluriku untuk menjaganya, namun apabila Lord Ucup ingin menempatinya, dengan senang hati aku mempersilakannya,” sahut Feng Ying memaklumi.
“Ha-ha! Kau terlalu bermurah hati …. Apakah kau mengetahui di mana lokasi penduduk terdekat dari sini? Aku yakin di daratan ini masih ada kehidupan yang bisa kutemui,” kata Ucup meyakini.
Feng Ying mengedarkan pandangannya ke arah tebing di sekitarnya. Ia terlihat sedang mengingat sesuatu. Tak lama kemudian, Feng Ying kembali fokus menatap Ucup di depannya.
“Tidak ada seorang pun manusia yang tinggal di sekitar hutan ini setelah bencana alam besar yang terjadi pada masa silam. Meskipun bencana alam tidak sepenuhnya menghancurkan rumah para penduduk, namun tidak ada satu pun yang selamat dari bencana itu,” ujar Feng Ying menjelaskan.
Ucup sedikit kecewa mendengarnya, tapi ia tidak berkecil hati. Energi kehidupan di tempatnya sangat melimpah dan itu yang meyakininya untuk menemukan kehidupan lainnya di suatu hari nanti.
“Katamu tidak sepenuhnya rumah para penduduk hancur! Bisakah kau mengantarku ke sana?” pinta Ucup.
“Tentu, Lord Ucup. Silakan naik ke punggungku!”
Dengan begitu semangat,Ucup dan Berlian bergegas menaiki punggung Feng Ying yang kemudian diikuti oleh ketiga monster imut yang melesat turun dari langit.
Tak butuh waktu lama bagi Feng Ying untuk sampai di lokasi bekas penduduk. Ucup dan Berlian langsung saja melompat dari punggung sang rajawali lalu memasuki sebuah rumah yang bangunannya masih utuh namun sangat kotor dan dipenuhi oleh rumput liar di sekitarnya.
“Kak Ucup, ruangannya luas!” seru Berlian.
“Iya, tapi bantu aku untuk membersihkannya!” balas Ucup yang sedari tadi terus memperhatikan setiap sudut ruangan di sekelilingnya.
“Baik, Kak, ayo!”
Keduanya kemudian bahu membahu membersihkan seluruh penjuru rumah hingga layak untuk ditempati. Peluh keringat membasahi keduanya yang terkagum melihat hasilnya.
Selesai membersihkan seisi rumah, Berlian dan Ucup merebahkan badan di atas dipan kayu yang sudah usang. Keduanya tersenyum menatap langit-langit kamar.
"Kak Ucup," panggil Berlian.
"Hem!" balas Ucup.
"Dari kami berempat, siapa yang Kak Ucup cintai?" Berlian menoleh menatap Ucup di sampingnya.
"Pertanyaan macam apa itu, Berlian?"
"Ah, Kakak, ditanya malah balik tanya!" Berlian memalingkan kembali wajahnya menatap langit-langit.
"Aku sudah memiliki kekasih di duniaku, namun di sini aku tidak tahu ke mana hatiku berlabuh."
"Mengapa begitu?" Berlian kembali menolehkan kepala menatap Ucup. Ia begitu antusias ingin mengetahuinya.
"Di sini semua wanita sangat cantik, bahkan seorang iblis dan beast monster sekalipun begitu cantik. Aku jadi sadar satu hal ...."
"Apa itu, Kak?"
__ADS_1
"Jatuh cinta pada wanita cantik itu ilusi dan tak pernah ada puasnya."
"Oh, begitu! Lalu, bagaimana denganku?"
Ucup terdiam sejenak, pandangannya masih tertuju pada langit-langit kayu di atasnya. Tak lama kemudian, ia pun berkata, "Sejak pertama bertemu denganmu, hatiku langsung terhubung."
"Maksudnya?"
"Tanya sekali lagi, aku bungkam mulutmu!"
"Bukannya dijawab, malah mengancam." Berlian tampak begitu kesal.
Ucup menyeringai lalu membalikkan badan menindih tubuh Berlian.
"Kak, Kakak mau apa?" Berlian terperangah melihat Ucup sudah berada di atas tubuhnya.
"Aku mau membungkam mulutmu, Nona," balas Ucup lalu mendaratkan bibirnya mengecup bibir Berlian.
Tidak ada penolakan dari Berlian, Ucup melanjutkan aksinya dengan membuka celah bibir ranum sang gadis.
Berlian begitu menikmati aksi yang dilakukan oleh Ucup. Kedua tangannya melingkari leher Ucup dan menekannya semakin rapat.
Kedua insan saling menjelajah keindahan surgawi, jemari yang terus bergerak mencari titik-titik kesenangan, peluh yang terus mengalir membasahi jengkal demi jengkal lekukan tubuh, menyingkap semua yang menutupinya.
"Kak, ikannya membesar," lirih Berlian yang jemari lentiknya bermain-main di tubuh ikan tanpa sisik.
"Kakak, aduh, pelan-pelan, Kak!" ringis Berlian ketika sesuatu yang berharga miliknya terperangkap kasar oleh Ucup.
"Iya," kata Ucup, "bobanya aja ya."
"Boba‽ Boba itu apa, Kak?"
Krauk!
"Aduh, Kakak!"
Ucup menggigit gemas boba Berlian. Hal itu membuat Berlian mendongak sambil menggigit bibir.
"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Ucup setelah puas memainkan boba.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat wajah Berlian langsung merona, jantungnya berdetak kencang, perasaannya melayang.
"A … aku mencintaimu dari pertama kali aku menatapmu di ruangan yang gelap itu." Berlian langsung memeluk Ucup, menangis haru ketika perasaan yang terpendam terbalas oleh perasaan yang sama dari pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Tapi, Kak …,” ucapnya terhenti, Berlian tampak ragu untuk mengatakannya.
“Katakan saja, Sayang!” Ucup menempelkan jari telunjuknya di hidung Berlian.
__ADS_1
“Aku tidak mau egois untuk memiliki Kakak sendiri. Kakak boleh mencintai siapa pun yang Kakak suka, asal Kakak tidak pernah meninggalkanku dan menyakiti hati siapa pun."
Mendengarnya, Ucup tersenyum simpul lalu membawanya keluar rumah untuk menikmati angin yang berembus lirih menerpa keduanya. Berlian melingkarkan tangannya di pinggang Ucup yang kemudian membalasnya dengan merangkul pundak Berlian.
"Kak, langitnya indah, kita duduk di sana aja yuk!" pinta Berlian sambil menunjuk ke arah batu besar.
Angin berembus semakin kencang, membuat Berlian semakin mendekapkan tubuhnya ke pelukan Ucup. Ucup mengusap lembut rambut dan pipi Berlian, Berlian yang manja semakin larut dalam belaian lembut jari Ucup.
Matanya terpejam menikmati setiap belaian lembut dari jari Ucup yang berputar di kulit halus Berlian.
“Apa kamu tahu dalam kondisi seperti ini, aku selalu ingin mendengar bisikan terindah?” kata Ucup.
“Apa itu, Kak?” tanya Berlian penasaran.
“Coba kamu bisikkan kata yang aku ucapkan!”
Berlian mengangguk lalu mendekatkan telinganya ke mulut Ucup.
“Sayang, lagi yuk!” bisik Ucup lalu memagut daun telinga sang gadis.
“Ih, Kakak nakal.” Berlian memukul gemas dada Ucup.
“Coba bisikkan yang tadi!”
Berlian merengut memajukan bibirnya, lalu mendekat ke telinga Ucup dan berbisik, “Sayang, mau ikan!”
Ucup terkekeh pelan mendengarnya. Ia kemudian menangkup kedua pipi Berlian dan mengecup lembut bibir mungil sang kekasih. Semakin lama semakin intens pergumulan cinta keduanya yang disaksikan oleh gemerlap bintang-bintang dan nyanyian dedaunan yang tertiup angin.
Keduanya bermandikan peluh saling menautkan hasrat yang terus menggebu. Sekian lama keduanya beradu dalam pergumulan surgawi, Berlian menarik wajah melepaskan tautan.
“Kak, ikannya mau masuk,” ucap Berlian dengan mimik muka yang begitu menggemaskan dan suara yang memacu adrenalin.
Ucup sedikit khawatir untuk melakukannya, namun dorongan besar dalam dirinya tidak dapat ditahan lagi. Dengan sedikit keyakinan, Ucup secara perlahan mendorong adik monsternya memasuki portal surgawi.
Berlian meringis kesakitan ketika merasakan sesuatu yang besar memasukinya. Ucup yang melihatnya tersenyum mencoba untuk meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tiba-tiba saja gelombang energi hangat menyeruak memasuki tubuh Berlian. Hal itu membuatnya merasa nyaman ketika sang monster menerobos memasukinya.
Bles!
Sang monster pun sepenuhnya masuk ke tubuh Berlian. Gelombang energi terpancar dari tubuh keduanya membentuk spiral cahaya lembut yang begitu hangat. Kesenangan keduanya berlanjut dalam posisi yang berubah-ubah.
Boom!
Tiba-tiba saja terdengar ledakan terendap di dalam tubuh Berlian yang membuat keduanya membelalak saling menatap. Beberapa saat kemudian, keluar cairan hitam dari tubuh Berlian, menandakan dirinya baru saja menerobos tingkat kultivasi ke ranah selanjutnya. Bau yang menyengat dari cairan hitam membuat Ucup ingin menarik monsternya yang terbenam.
“Lord Ucup, biarkan saja! Teruskan aksimu sampai fondasi kultivasi Berlian terbentuk kokoh!” kata Pangeran Xiao Li Dan memintanya.
Setelah fondasinya stabil, Berlian langsung bermeditasi untuk menstabilkan energi di dalam dantiannya. Sementara Ucup membuat array formasi untuk melindungi keduanya dari gangguan. Ucup kemudian ikut bermeditasi, keduanya berkultivasi tanpa sehelai benang yang menutupi.
__ADS_1