
Sekitar seribu tombak dari Hutan Serigala, Ucup meminta Long An menghentikan laju terbangnya. Terlihat olehnya, Hutan Serigala begitu pekat warnanya di kegelapan malam yang hanya mengandalkan cahaya bintang sebagai penerang alam.
Pekik nyaring dari suara burung gagak menggema di udara, bercampur dengan suara lolongan serigala yang membuat suasana malam begitu mencekam.
“Lord Ucup, apa rencanamu?” tanya Pangeran Xiao Li Dan.
“Aku ingin menutup hutan dengan segel formasi, tapi aku bingung bagaimana melakukannya? Sementara aku tidak diizinkan melepas segel energiku,” jawab Ucup.
“Kamu tidak perlu melakukannya jika hanya bertujuan untuk membinasakan burung-burung itu.”
“Apa kamu memiliki rencana, Brother?”
“Ya. Kita manfaatkan saja tubuhmu yang sekarang terlihat seperti tubuh manusia lainnya, itu akan membuatmu menjadi target gerombolan burung gagak. Dengan begitu, aku ingin dirimu menjadi magnet untuk menarik perhatian burung-burung gagak itu dan pisahkan setengahnya keluar dari Hutan Serigala ke area kosong. Akan lebih baik lagi jika lebih dari setengah populasi burung gagak yang mengejarmu.”
“Aku tahu maksudmu, Brother. Idemu adalah membuka ruang untuk kawanan serigala melancarkan serangan.”
“Betul.”
“Baik, aku setuju dengan rencanamu.”
Setelah memahami rencana yang disampaikan oleh Pangeran Xiao Li Dan, Ucup meminta Long An menjaga area langit untuk membakar burung-burung gagak yang beterbangan, dan Bing Shi ditugaskan untuk bergerilya di area batas Hutan Serigala. Sementara Ucup akan memasuki Hutan Serigala untuk menjalankan rencananya.
Setelah mengaturnya, Ucup dan Bing Shi melompat dari punggung Long An. Keduanya lalu berkelebat ke arah Hutan Serigala.
Sampai di pinggiran hutan, Ucup melirik Bing Shi dan berkata, “Berputarlah cepat di batas terluar hutan dan habisi semua gagak yang menyerangmu!”
Bing Shi mengangguk memahaminya. Ia kemudian berkelebat di area terluar hutan. Ratusan gagak yang melihat keberadaan Bing Shi langsung membentuk kelompok dan mengejarnya. Ucup menyeringai dingin lalu memasuki area hutan.
Ia memindai kondisi hutan lalu memikirkan kembali rencana yang sebelumnya sudah disepakati.
“Brother Xiao, aku memiliki rencana lain,” kata Ucup.
“Katakanlah!” balas sang pangeran ingin mengetahuinya.
“Aku ingin membakar hutan.”
“Itu akan membuat burung gagak beterbangan. Apa kamu yakin?”
“Aku yakin karena ada Long An yang akan membakar burung-burung yang mencoba kabur dari hutan.”
“Kamu jangan impulsif! Jumlah burung sebanyak hutan ini. Long An tidak akan bisa membakar semuanya. Pikirkan juga nasib kawanan serigala yang akan menjadi korban!”
Kembali Ucup memikirkannya, terutama pada dampak buruk yang akan terjadi seandainya dia membakar hutan yang begitu luas.
“Bagaimana kalau aku membekukan hutan ini?” Ucup menawarkan alternatif lainnya.
“Kalau itu aku setuju, tapi kamu harus secepatnya membunuh semua burung gagak dalam waktu singkat,” kata Pangeran Xiao Li Dan menyetujuinya.
“Tidak masalah, aku bisa berlari memutari hutan ini dalam beberapa helaan napas, tapi masalahku adalah aku membutuhkan sumber air untuk membekukan hutan. Kamu tahu sendiri kalau aku hanya bisa mengandalkan sumber daya alam untuk menciptakannya.”
“Udara malam itu lembap dan memiliki kandungan air yang cukup untuk membekukannya.”
__ADS_1
“Ha-ha! mengapa aku tidak memikirkannya? Baiklah, Brother, aku akan mencobanya.”
Dengan semangat yang tinggi, Ucup mulai menggerakkan kedua tangan untuk merubah suhu udara ke titik beku. Beberapa saat kemudian, suhu udara makin dingin dan partikel-partikel air mulai terbentuk melapisi pepohonan lalu membeku dengan sendirinya menciptakan lapisan es.
“Berhasil!” seru Ucup melihat hutan terlapisi oleh lapisan es.
“Sial!” imbuh Ucup mengeluh tiba-tiba.
“Kenapa, Lord Ucup? Ada masalah apa?” tanya Pangeran Xiao Li Dan keheranan.
“Aku butuh seseorang untuk membangunkan adik monsterku,” jawab Ucup yang tak berpikir panjang langsung menarik Xue Xie keluar dari alam jiwa.
Baru saja Xue Xie keluar, tubuhnya langsung membeku dilapisi es. Ucup terbelalak melihatnya dan langsung memasukkannya kembali ke alam jiwa. Setelahnya ia menarik Berlian keluar dari alam jiwa untuk menggantikan Xue Xie.
Berbeda dengan Xue Xie, tubuh Berlian yang berasal dari es murni tidak membeku. Namun Ucup bingung untuk memintanya membangunkan adik monsternya. Berlian mengerutkan kening menatap Ucup yang gelisah.
“Kak Ucup, ada apa membawaku keluar?” tanya Berlian.
Merah padam wajah Ucup menatap Berlian yang begitu polos. Namun kondisinya sangat mendesak dan harus secepatnya diselesaikan. Ucup merangkul pundak Berlian dan langsung memagut bibir tipis sang gadis tanpa memintanya dulu.
Berlian tersentak mendapat sosoran bibir Ucup yang mendarat di bibirnya lalu bergerak membukanya dengan sedikit kasar. Tidak ada penolakan dari Berlian, ia membiarkan Ucup terus memagut bibir tipisnya yang merah. Mengetahui sang gadis tidak bereraksi membalasnya, Ucup langsung melepaskan pagutannya. Ia menatap Berlian dengan sorot mata yang dipenuhi perasaan bersalah.
“Lian’er, maafkan aku!” kata Ucup lirih.
“Kenapa Kakak meminta maaf? Aku hanya terkejut mendapat ciuman tiba-tiba dari Kakak. Ini adalah ciuman pertama yang aku rasakan seumur hidupku. Kakak tidak salah,” kata Berlian tidak mempermasalahkannya.
“Seharusnya aku bertanya dulu pa ….”
Ucup tidak tinggal diam, ia merapatkan tubuhnya dengan Berlian agar sang monster bisa terbangun. Ajaib, tidak membutuhkan waktu lama, sang monster langsung berdiri dengan tegak hingga membuat tubuh Berlian terdorong mundur. Tak ingin membuang waktu lagi, Ucup langsung menarik energi pedangnya.
“Terima kasih, Lian’er,” kata Ucup.
Berlian mengangguk seraya tersenyum lembut lalu berkata, “Nanti lagi ya, Kak!”
Ucup terperangah, bulu romanya berdiri setelah mendengar langsung penuturan dari bibir sang gadis. Ia pun mengangguk lalu memasukkan kembali sang gadis ke alam jiwanya.
“Lord Ucup, lapisan es tidak akan bertahan lama. Cepatlah!” ujar Pangeran Xiao Li Dan mengingatkannya.
“Asiaaap!”
“Tarian monster laknat!” ucapnya menyebut jurusnya.
Wuzz!
Ucup berkelebat membentuk gumpalan kabut menerobos lapisan es sambil mengayunkan pedangnya menebas ribuan burung gagak yang membeku. Bahkan, Ucup juga membabat habis pohon-pohon yang dilaluinya.
Gemuruh keras seperti guntur terdengar dari bertumbangannya pohon-pohon besar yang dibabat habis oleh Ucup beserta dengan hancurnya burung-burung gagak yang membeku.
Ucup terlihat seperti pisau blender yang berputar, menghancurkan setiap lapisan es menjadi serbuk yang menumpuk. Meskipun yang dilakukannya sangat mengerikan, kawanan serigala dan Bing Shi yang membeku tidak menjadi korban dari keganasan jurusnya.
Long An yang menyaksikan kehancuran hutan di bawahnya begitu tegang dan bergidik ngeri.
__ADS_1
“Kemampuan Yang Mulia begitu mengerikan,” ucapnya.
Beberapa waktu kemudian, Ucup berdiri tegak di atas gunung es besar yang diciptakannya. Long An yang melihat Ucup berdiri di puncak gunung es langsung turun menghampiri.
“Yang Mulia, bagaimana keadaan Bing Shi? Yang Mulia tidak membunuhnya, kan?” kata Long An begitu khawatir.
“Tentu tidak! Dia masih membeku bersama kawanan serigala. Kita tunggu saja sampai matahari mencairkan gunung es!” balas Ucup yang kemudian melompat ke punggung Long An.
“Baik, Yang Mulia,” timpal Long An langsung melaju memutari gunung es.
“Lord Ucup, teknik pedangmu sungguh mengerikan. Apakah itu jurus yang diwariskan Iblis Kegelapan padamu?” tanya Pangeran Xiao Li Dan penasaran.
“Betul, itu jurus pedang yang aku pelajari dari buku pedang yang diwariskan kepadaku,” jawab Ucup mengiyakan.
“Jurusmu tidak pernah aku dengar. Andai saja aku tahu ada jurus pedang semengerikan itu, aku pasti akan mengejarnya dan menjadi legenda di dunia persilatan alam fana,” ujar Pangeran Xiao Li Dan membayangkannya.
“Ha-ha-ha! Sebenarnya jurus itu tidak memiliki nama. Aku sendiri yang memberikannya,” kekeh Ucup menjelaskan.
Ucup teringat kembali pelatihannya bersama Dewi Kehidupan alih-alih mengingat pelatihan pedang bersama Iblis Kegelapan.
“Semenjak berlatih menguasai lima elemen bersama guruku si cantik Nura, aku jadi lebih memahami hukum ruang dan waktu,” kata Ucup menambahkan.
“Pantas saja dalam satu ayunan pedang, beberapa pohon langsung hancur. Sungguh, ini di luar pemahaman siapa pun. Bahkan, aku yakin para dewa pun akan butuh waktu lama untuk memahaminya. Kamu sangat genius, Lord Ucup,” balas Pangeran memujinya.
“Ha-ha-ha! Aku tidak genius, Brother. Siapa pun akan bisa memahaminya jika dibekali hukum semesta dan hukum ruang-waktu. Ditambah pula dengan gemblengan langsung dari sang legenda pedang. Ya hasilnya seperti aku ini,” kata Ucup menjelaskan.
...****************...
Pagi hari pun tiba dengan kehangatan sinar mentari yang menyinari alam. Gunung es yang menjulang tinggi pun mulai meleleh cepat karenanya.
“Gunung es ini mengingatkanku pada es serut yang biasa aku beli di sekolah,” kata Ucup yang kini dalam posisi telungkup di atas punggung sang naga.
Tiba-tiba saja gunung es bergetar sangat keras seperti akan meledak. Melihat keanehan yang terjadi membuat Ucup langsung berdiri mengamatinya dan bertanya, "Ada apa?"
Duar!
Gunung es meledak melemparkan jutaan partikel es ke udara. Ucup dan Long An yang tidak sempat memperkirakan harus terlempar jauh terdorong energi dari ledakan gunung es tersebut.
Ucup kembali bangkit dari tempatnya terjatuh, namun tidak demikian dengan sang naga yang tubuhnya penuh luka terkena ribuan partikel es yang merusak sebagian besar sisiknya.
"Long An!" teriak Ucup langsung berkelebat menghampirinya.
Duar!
Tiba-tiba saja lesatan energi mengenai Ucup dan kembali melemparkannya.
Ucup kembali bangkit dan langsung mendongak ke langit, mencari sosok yang telah menyerangnya.
Degh!
Ucup terdiam membisu setelah melihat sosok gadis cantik bergaun hitam yang dipenuhi aura kematian berdiri melayang di atasnya.
__ADS_1