
Bella merengut dengan tatapannya yang sinis. Ia begitu geram karena tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan semuanya kepada Ucup.
“Sialan! Mengapa aku bisa selengah ini?” sesalnya.
Ia terus menyesali diri seraya kedua matanya terus bergerak memperhatikan sang pemuda yang mulai terlelap dalam tidurnya. Dipandanginya wajah pemuda itu dengan begitu lekat hingga tak sadar bibirnya tersenyum dengan wajah bersemu merah. Ia begitu mengagumi ketampanan Ucup.
“Tampannya dirimu, Lord Ucup,” puji Bella yang terpaku menatap wajah Ucup.
Tak lama setelah itu, Bella segera menarik pandangan dan melemparkannya ke arah lain, namun yang didapatkannya lebih menarik dari sekadar wajah tampan. Bola matanya melebar dan darahnya berdesir cepat melihat sesuatu yang menyembul dari celana sang pemuda.
“Mon … monster itu,” gumamnya pelan. Bella menelan paksa salivanya.
“Lord Ucup,” desis Bella.
Perlahan wajahnya ditengadahkan lalu memandang penuh harap pada pemuda yang menggeliat terbangun mendengar suaranya.
“Cepatlah ceritakan semuanya!” balas Ucup seraya mengangkat badan dan duduk di tepian dipan.
“Sebelum aku menceritakannya, bolehkah aku meminta satu hal padamu?” pinta Bella dengan tatapan manja.
“Apa?” tanya Ucup ketus.
“Aku ingin melihat monstermu,” ungkap Bella sedikit malu-malu lalu menekuk wajah.
Ucup menghela napas dan kedua matanya menatap tajam sang nyonya yang kembali gemetar tubuhnya. Hawa dingin dari lapisan es yang menyelimuti tubuh wanita itu seakan berganti menjadi panas ketika melihat tatapan sang pemuda.
Ucup menundukkan kepala melirik adik monsternya yang tertidur lalu berseru, “Tong, ada yang ingin melihatmu tuh!”
Seakan memahami yang dikatakan Ucup, sang monster berkedut kegirangan. Padahal sebenarnya Ucup sendiri yang menggoyang-goyangkannya. Segera Ucup mengangkat kembali kepalanya menatap Bella yang sedari tadi merasa panas dingin melihat monster yang bergoyang-goyang.
“Nyonya, adik monsterku protes, katanya, ‘sentuh aku, pegang aku!’ Bagaimana, Nyonya? Apa Nyonya ingin menyentuhnya juga?” Ucup mengatakannya dengan serius.
“Betulkah adik monstermu ingin disentuh olehku?” tanya Bella yang semakin gemas ingin menggenggamnya.
Ucup mengangguk sambil mengusap-usap adik monsternya yang kembali bergoyang-goyang di balik kain.
“Baiklah, aku akan menceritakan tentang kota ini, tapi benar ya … aku bisa menyentuhnya,” kata Bella yang begitu semangat ingin bermain dengan sang monster.
Ucup tersenyum simpul menanggapinya. Lalu, dengan semangat yang menggebu, Bella mulai menceritakannya.
Dari penuturannya, Kota Tiankong didirikan oleh seorang jenderal yang menjadi kaki-tangan Ratu Iblis Xin Li Wei sebagai salah satu lokasi pembinaan sekte kegelapan di bawah komando bangsa Iblis. Akan tetapi, ketika bencana alam terjadi pada masa silam, wilayah Alexandria menjadi lokasi suaka orang-orang yang datang dari berbagai benua sebagai upaya menyelamatkan diri dari kehancuran. Seiring waktu, para pencari suaka menelusuri semua wilayah Alexandria hingga sampai ke Kota Tiankong. Melihat suasana kota yang hening, sebagian besar dari mereka memutuskan untuk tinggal di dalamnya.
Kendatipun begitu, kehadiran mereka bukannya tidak diketahui oleh bangsa Iblis, justru hal itu dimanfaatkan oleh bangsa Iblis melalui jenderal besarnya yang langsung mengubah fungsi kota menjadi pusat sihir dengan menjadikan orang-orang yang datang ke kota sebagai tumbal. Meskipun seiring waktunya terjadi banyak perlawanan yang berlangsung hingga saat ini, Kota Tiankong tetap berdiri menjadi kota sihir yang dipenuhi makhluk-makhluk tanpa jiwa.
“Cukup menarik,” kata Ucup berkomentar, “namun terasa janggal.”
Ucup kemudian berjalan mendekati sang nyonya yang begitu gemetar melihat tajamnya pandangan sang pemuda.
__ADS_1
“A-aku tidak membohongimu,” ujar sang nyonya semakin pucat wajahnya.
“Katakan kepadaku siapa pemimpin kota ini? Apakah dia jenderal yang kausebutkan tadi?” tanya Ucup sambil mencondongkan wajahnya mendekati wajah sang nyonya yang begitu gugup berada dekat dengan Ucup.
“Bu … bukan! Tapi seorang ratu kegelapan yang tidak bisa didekati oleh siapa pun kecuali para iblis. Aku harap kau tidak berpikir untuk bertemu dengannya,” ujar Bella berusaha menahan Ucup. Kali ini Bella menunjukkan kegelisahannya.
“Mengapa?” Ucup semakin penasaran dengan sosoknya.
“Karena kau akan menjadi manusia tanpa jiwa,” kata Bella, lirih. Ia tidak ingin sang pemuda mengalami nasib sama dengan penduduk kota.
“Ini lebih menarik dari ceritamu tadi. Di mana dia sekarang?”
“Lembah Kematian, di arah timur gerbang kota.”
“Baiklah, karena aku menjanjikan satu hal padamu, sekarang kau boleh memegang adik monsterku.” Ucup menyodorkannya dengan menggoyang-goyangkan sang monster hingga beradu dengan lapisan es.
Bella menggeram keras. Ia kesal melihat Ucup yang dianggapnya hanya mempermainkannya. Maka, ia pun berkata dengan nada kesal, “Kau ini bodoh atau bagaimana? Lihatlah, aku dalam posisi terperangkap es begini! Bagaimana bisa aku memegangnya?”
Ucup tertawa melihat mimik wajah Bella yang menggemaskan. “Tinggal dicairkan saja dengan energi api yang kaumiliki. Apa susahnya?”
“Katamu lapisan es akan menebal kalau aku berusaha mencairkannya,” balas Bella, cepat.
“Aku hanya tidak ingin mengeluarkan energiku untuk melapisinya kembali,” kata Ucup yang kembali terkekeh melihatnya.
Terdengar suara gemeretak dari gigi geraham sang nyonya yang menahan kesal dipermainkan oleh Ucup.
“Begitulah,” sahut Ucup yang kini terlihat malas meladeninya.
“Dasar pembohong!” sentak Bella.
“Kapan lagi aku bisa membohongi seorang iblis?” Lagi dan lagi Ucup terbahak-bahak menertawakannya.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Bella langsung mengalirkan energi api mencairkan lapisan es yang menyelimuti tubuhnya. Setelah itu, Bella langsung berjongkok dan kedua tangannya melorotkan kain yang membungkus sang monster lalu ….
Hap!
“Eh, eh, main lahap saja.” Ucup tersentak mendapati perlakuan sang nyonya yang tidak memberi aba-aba apa pun.
“Aduh, duh, enak!” Ucup merasakan geli yang nyaman ketika juluran lidah ular meliliti tubuh sang monster. Geli yang merambati pembuluh darahnya.
“Ya terus, terus. Balas kiri, ya, ya begitu. Priit! Priit!” racau Ucup mulai tak terkendali.
“Kau ini berisik sekali,” gerutu Bella yang terpaksa melepaskan lilitannya.
“Aku baru kali ini merasakan lilitan lidah ular. Lanjutkan, Nyonya!” sergahnya disertai permintaan tanpa menatap sang nyonya.
“Berbaringlah, biar aku benamkan tubuh si monster terkutuk itu!”
__ADS_1
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Ucup menurutinya dengan merebahkan tubuhnya di lantai yang basah. Keduanya saling tatap dan tersenyum kecil syarat makna.
Sejurus kemudian, Ucup merasakan aliran darahnya berpacu cepat ketika sang monster mulai menerobos masuk secara perlahan. Ditatapnya wajah Bella dengan lekat dan Ucup mengerutkan keningnya merasa aneh dengan ekspresi sang siluman ular api di atasnya. Bola mata tertarik ke atas hingga menyembunyikan lingkaran hitam; tarikan napas yang berat; serta mulut yang menganga sejenak, terkatup kemudian.
"Kenapa Nyonya megap-megap seperti ikan tanpa air?" tanya Ucup penasaran.
Bella nanap dengan sorot mata yang tajam dan urat-urat di wajahnya menonjol keluar. “Apa kau tidak pernah melihat wajah wanita yang sedang memadu kasih?" dengusnya begitu geram.
“Aku malah sering menontonnya,” balas Ucup, datar.
“Lalu, apa kau pernah melakukannya sebelum bersamaku?” imbuh tanya Bella.
"Aku pernah melakukannya dengan seorang iblis sepertimu, dan orang itu langsung mati," jawab Ucup disertai seringainya yang dingin.
"Dia pasti mati keenakan.” Bella salah menafsirkan maksud Ucup.
"Ya, dan kau selanjutnya." Ucup nyengir dengan tatapan yang masih sulit ditebak oleh Bella yang berada di atasnya.
"Sudah cukup, aku ingin fokus menikmatinya!" Bella kembali melanjutkan kesenangannya. Namun kali ini, ia mempercepat ritme permainan, walaupun tidak sepenuhnya tubuh sang monster memasuki dirinya, hal itu cukup membawanya menikmati keindahan yang semu.
“Jangan terlalu cepat, santai saja!” kata Ucup menyarankan.
“Diamlah dan rasakan sensasinya!” Bella mengabaikan saran Ucup. Ia terus fokus menikmati pergumulan fisik yang menguras energi.
Lama-lama, ritme permainan mulai menurun dan akhirnya terhenti. Kendatipun demikian, bukan berarti permainan telah usai. Bella merasa heran dengan sang pemuda yang tidak terdengar suaranya. Ia memandang Ucup dengan tatapan menyelidik lalu bertanya, “Mengapa kau diam saja?”
Ucup mendengus pelan, lalu menjawab dengan ketus, “Kau yang minta!"
"Ya tidak begitu juga. Memangnya kau tidak bisa melenguh?"
"Embek! Embek!" Ucup menirukan suara kambing dengan nyaring.
Sontak saja hal itu membuat Bella tertawa-tawa sambil mencubit kedua pipi sang pemuda di bawahnya dengan begitu gemas. Setelah tawanya reda, ia berkata, “Tukar posisi, aku capek!”
Ucup kemudian mendorong tubuh sang nyonya hingga kini posisi keduanya terbalik. Keduanya kembali saling tatap dan tersenyum lembut. Sang monster kembali menyeruak masuk mengisi tempatnya.
“Nyonya …,” panggil Ucup di tengah dengus napasnya yang berat.
“Ada apa, Lord Ucup?” tanya Bella seraya mencubit kedua pipi sang pemuda dengan gemas.
“Terima kasih dan selamat tinggal!” Ucup memacu laju monsternya dengan cepat hingga membuat tubuh Bella menggeliat tak karuan menahan rasa yang akan menjadi akhir hidupnya.
Energi semesta berputar-putar di titik pusat tubuh Ucup membentuk pusaran energi yang terus melaju sampai keluar dari mulut sang monster dan menerobos masuk ke dalam tubuh si nyonya ular api.
Duar!
Tubuh si nyonya api hancur melebur menjadi kabut darah yang memenuhi ruang kamar. Untung saja Ucup telah lebih dulu memasang perisai pelindung yang mampu meredam gelombang energi.
__ADS_1