
selepas berkeliling di hutan yang disebut hutan kematian,terlihat sepasang bayang bayang mulai tampak mereka berjalan dengan santai karena tak memiliki tujuan,bahkan Dominggo tak ingin melanjutkan hidupnya yang sepertinya nasib benar benar mempermainkan nya.
Dominggo duduk di bawah pohon rindang,
"sudah sekian lama kita berjalan namun ujung hutan ini tak kita temukan" kata Dominggo kepada si yeti seolah yeti itu adalah manusia yang bisa si ajak ngobrol.
yeti tercicit seolah mengerti dan memang inilah alasannya hutan ini adalah hutan kematian karena siapapun yang masuk ke dalam tak akan pernah kembali dan dianggap sudah mati juga.
tiba tiba sebuah suara terdengar sedang berteriak ketakutan dari arah yang tak terlalu jauh dari Dominggo.
Reflek berdiri karena kaget Dominggo langsung menuju lokasi asal suara tersebut.
dari jauh terlihat seorang wanita muda sedang di kerumuni 4 serigala putih yang siap untuk menerkam.
"apa yang harus kuperbuat.." gumam Dominggo karena dia merasa takut saat melihat ukuran serigala itu yang tak normal seperti biasanya.
tiba tiba yeti bergerak dengan kecepatan ekstrim,menendang serigala yang paling dekat dengan wanita itu dan langsung menarik wanita tersebut sambil melompat tinggi seolah mereka terbang.
Dominggo ternganga melihat kejadian tersebut.
"siluman...." sambil teriak Dominggo balik kanan dan lari dengan sekuat tenaganya dmenjauhi yeti yang sedang membawa wanita tadi.
__ADS_1
dan tanpa sadar dia melihat kecepatannya bahkan lebih mengerikan karena dia tak tau ada apa dengan tubuhnya,karena kagum saat melihat dirinya bisa berlari dengan kecepatan ekstrim juga tiba tiba...
"gubrakkkk...., ngeekkkkk,brasssshhhhh....."
"aduhhhhh" kata dominggo saat dia menabrak sebuah pohon yang lumayan besar.
"siapa yang membuat je..." katakata Dominggo terhenti saat melihat pohon yang dia tabrak ternyata roboh di depannya.
"a,aaapaaa yang terjadi" kata Dominggo yang kaget.
tiba tiba yeti meloncat kedepan Dominggo dan seorang wanita yang di tolongnya tadi menambah rasa kaget Dominggo serta reflek mengayunkan tangannya memukul si Yeti.
bak memukul dingding malah si Dominggo yang merasakan tangannya kram hampir patah saat itu.
seolah tak terima melihat tingkah Dominggo dengan pukulan tangan kanan dari Yeti tepat mengenai wajah dominggo.
"baammm" suara pukulan itu sungguh nyaring dan dominggo terpental tak percaya mendapat balasan dari Yeti yang hanya se ekor monyet.
"kamu knapa memukulku?" teriak Dominggo sambil memegang wajahnya yang bengkak.
seolah tak acuh Yeti duduk sambil menjulurkan lidahnya mengejek Dominggo.
__ADS_1
Dominggo kemudian merespon dengan teriak...
"kurang ajar dasar monyet sialan" sambil kemudian mengejar yeti.
"hei hei sampai kapan kalian tak menganggap ku ada" kata wanita yang di tolong si yeti.
kaget Dominggo kemudian berhenti karena dia mencoba mengendalikan dirinya yang begitu bingung karena tak bisa mencerna situasi yang di alaminya.
Dominggo mendekat,
"namaku Dominggo" sambil mengulurkan tangannya karena akhirnya ada juga manusia yang bisa diajak ngobrol.
wanita itu lalu menjabat tangan dominggo sambil mengucapkan namanya.
"sarahh," katanya kepada Dominggo.
Dominggo tersipu melihat kecantikan wanita tersebut sampai sampai air liurnya tak terasa mengalir dari sudut bibirnya.
Sarah tersipu malu karena di pandangi oleh Dominggo sampai ngiler.
"sampai kapan kau memegang tangan gadis itu?" , Dominggo dan Sarah reflek melepaskan tangannya.
__ADS_1
"siapa yang ngomong barusan" kata Dominggo hampir meloncat karena kaget.
selain mereka tak ada lagi manusia di hutan tersebut.