Pengantin Kaisar Ular

Pengantin Kaisar Ular
Episode 10


__ADS_3

Gubuk nyonya Hao


Ibu Lin tak berhenti menangis.


Dia begitu khawatir pada Lin...


Sudah dua hari anak gadis nya itu menghilang.... Shon dan Lee belom juga kembali membawa hasil.


Kondisi nyonya Hao memburuk, hal itu menambah miris keadaan keluarga Hao.


Disisi lain ... Lee dan Shon masih setia menyisir hutan. Berharap Lin muncul dengan selamat...


Sementara Han memutus kan kembali ke istana dan membawa beberapa pasukan nya untuk ikut mencari Lin.


Kai dan pengawal pribadi nya pun tak kalah sibuk, mereka ikut menyisir hutan namun di arah yang berbeda dengan Lee.


Lee, Shon, Kai, Han, dan berapa pasukan istana yang mendapat perintah pencarian Lin pun mengubak- ubak isi dalam Hutan, tapi hasil tetap nihil.


***


Disuatu tempat di sisi Hutan.


"warna mata mu mirip Ular besar itu" ucap Lin yang masih menatap wajah pria pucat itu.


Pria pucat itu hanya diam dan menatap balik Lin.


"siapa sebenarnya gadis kecil ini, dia bisa melihat wujud Ular ku, mendengar ku berbicara bahkan mengerti apa yang ku kata kan. Padahal aku tak melakukan perjanjian kontrak apa pun dengan nya" pikir keras si pria pucat yang ternyata adalah wujud manusia dari Ular besar tadi.


"kok pria tampan ini dari tadi diam saja jangan - jangan dia bisu".. Lin berbicara dalam hati.


Lin terus menatap pria pucat itu. Kemudian


Lin melangkah maju mendekati pria pucat itu sambil menepuk salah satu bahu pria itu.


"kau tak perlu malu padaku tak apa jika kau tak bisa bicara, kau pake bahasa isyarat saja. Aku pandai mengerti kok" ucap Lin terang - terangan memvonis pria itu seenak nya.


"kurang ajar... Dia mengira aku bisu hanya karena aku dari tadi tak merespon celoteh nya yang seenak udel itu" marah pria itu dalam hati.


"sabaar... Sabar.... Kau makin berulah akan ku makan habis kau.." batin si pria ular itu.


Tapi imajinasi nya tentang memakan Lin terhenti sesaat setelah pria itu mengingat apa yang Lin katakan saat dia masih dalam wujud ular dan mengancam nya.


"sebelum kau memakan ku, lebih dulu kau ku jadikan sate ular panggang "


Begitulah kurang lebih nya jawaban Lin kala itu.


"yaak... Apa - apaan kau ini... Aku tak membalas ucapan mu karena aku malas meladeni mu" kata pria ular itu.


"omoo... " kau berbicara. Lin yang kaget mendadak mundur ke belakang dan tak sengaja kaki nya tergelincir kerikil.


Eng ing eng.... Gerak cepat pria ular itu meraih pinggang Lin agar tak terjatuh..


Rambut putih ubannya yang tergerai ditiup angin.


Mata putih bersinar dengan warna kulit putih pucatnya membuat pria di hadapan Lin terlihat seperti malaikat dengan ketampanan melangit.


"Lin yang memang sangat menyukai pria tampan pun seolah tak ingin menyia- nyiakan kesempatan.

__ADS_1


Diraih nya wajah halus pria di hadapan nya yang masih memegangi pinggang kecilnya.


"Sempurnaaa.... " gumam Lin yang tiba -tiba memonyongkan bibir mungil itu.


Lin mulai dengan imajinasi nya seolah pria tampan di depan nya itu pangeran impian nya.


Pria pucat yang mengerti isi otak mesum Lin langsung melepaskan tangan nya dan sedikit mendorong tubuh Lin agar menjauhi nya.


"akh..." Lin terbanting ringan ke tanah.


"yaak.... Kau tak niat membantu ku tapi tak perlu juga kau membanting ku" ucap Lin kesal.


Pria pucat itu tak menanggapi celoteh Lin. Pria itu hanya terpaku menatap Lin yang tampak seperti orang bodoh.


Cukup lama Lin tak beranjak dari duduk nya.


Dilihat nya Lin yang masih terduduk memegangi kaki nya sambil tertunduk.


"eoma.... Appa... Kakak.." gumam Lin Lirih yang tanpa sadar meneteskan air mata nya.


Pria yang sedari tadi hanya diam saja sambil memperhatikan Lin pun merasa bersalah.


"cengeng sekali.." cetus pria pucat itu.


Lin tak bergeming..


Terdengar tangisan Lin makin sedih.


Pria pucat itu kemudian mendekati Lin sambil mengusap air mata Lin yang membasahi pipi gembulnya.


Entah kenapa hati pria itu ikut sakit saat melihat Lin menangis sedih.


"aku rindu eoma appa dan kakak ku" jawab Lin dengan wajah sendu nya.


"kaki ku sakit" ucap Lin lagi sambil menunjukan pergelangan kaki nya yang membiru.


"owh pantas dia menangis di saat sakit begini pasti ibu lah yang paling dirindukan" batin pria itu.


Diangkat nya tubuh kecil Lin... Ditaroh nya tubuh mungil itu di sebuah batu datar.


"tunggulah aku akan mencari obat untu mu..".


perintah pria pucat itu kemudian meninggalkan Lin.


Lin tertidur pulas... Wajah cantik nya tak mampu menutupi kesedihan. Saat tidur pun kedua alis nya beradu seolah dalam mimpinya hal buruk terjadi.


Pria pucat itu megoles kan dedaunan yang sudah di tumbuk nya ke kaki Lin yang sedang tidur.


Lin yang merasa ada yang menyentuh nya pun membuka mata nya.


"kau sudah kembali...?" tanya lirih Lin.


"hmmm" jawab singkat pria pucat itu masih dengan aksi nya mengoleskan ramuan.


"makan lah dan akan ku antar kau pulang" ucap pria pucat itu.


Mata Lin berbinar.

__ADS_1


"benar kah.. Kau akan mengantar ku pulang?".


"hmm..." jawab pria pucat itu malas.


Lin langsung meloncat memeluk ke arah pria pucat itu.


"aku menyukai mu... Aku sangat menyukai mu.." ucap Girang Lin yang masih memeluk pria pucat itu...


Pria pucat itu tersenyum simpul.


Entah kenapa perbuatan Lin membuat hati nya bahagia...


Dan membuat hati nya sakit saat Lin terluka.


"siapa nama mu...?" tanya Lin sambil memakan buah hutan yang di beri pria pucat itu.


"Than, Xuye Than... !" jawab pria pucat itu.


" owh Syei Than" tiru Lin dengan nada Datar.


"yaak... "Xuye" yaaa "Xuye"... Bukan "Syei" jelas Than naik darah.


"iya iya Syeiiiiii Than... " ejek Lin yang masih asik mengunyah buah di mulut nya.


"ah terserah kau lah..." cetus Than dengan kesal nya.


***


Saat di perjalan pulang.


"Than, aku tak tau kenapa kau ada dalam goa itu. Rumah mu kah itu? tanya Lin penasaran.


"emm..." jawab Than singkat.


"dimana eoma dan appa mu? tanya Lin lagi.


"ada" jawab Than lagi - lagi singkat.


"berapa umur mu than...?" Lin penasaran, Than terlihat sangat menawan dengan ketampanan melangit mengalahkan Kai dan Han.


"yang jelas lebih tua dari mu, (bahkan dari ibu mu dan nenek mu dan nenek mu lagi nenek nya nenek mu)" jawab Than sambil sebagian kalimat di ucap dalam hati.


"Oya..." tapi wajah mu tak terlihat lebih tua dari ku.." beo Lin...


"dan warna mata mu juga rambut mu, kenapa begitu. Apa kau sakit parah..?" lagi lagi Lin memvonis seenak nya.


Than kesal dengan Celoteh Lin yang seenak nya. Than tak niat menjawab.


"aakh... Than... Kaki ku sakit" rintih Lin sambil memegang kaki nya.


"Bisakah kau memapah ku" pinta Lin.


"huhft... " dengus kesal Than yang kemudian mengangkat tubuh Lin ala "bridal - style".



bersambuung...

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


happy reading all 🌷


__ADS_2