
Gubuk nyonya Hao
Pagi itu di kediaman nyonya Hao, tampak suasana hangat seperti biasa.
Tuan Hao yang menjemur beberapa tanaman obat.
Shon dan Lee menyiapkan kayu bakar. Dan pangeran Kai yang terlihat sudah membaik sedang meregangkan otot - otot nya yang terasa kaku.
Sementara nyonya Hao dan Lin sibuk memasak di dapur.
Tak berapa lama pangeran Han datang dengan beberapa orang pengawal nya.
"O'... Han. Kenapa kau datang membawa banyak orang ke rumah ku. Apakah nyawamu juga dalam bahaya seperti Kai, sampai - sampai ke rumah ku saja kau harus di kawal banyak orang seperti itu?" tanya Lin yang melihat kedatangan pangeran Han.
"Selamat pagi Nyonya Hao, Tuan Hao". Sapa singkat pangeran Han tanpa mempedulikan pertanyaan Lin.
Lin merasa di cuekin pun melengos. Cemberut.
"Saya datang menjemput Lin untuk menghadiri undangan ibunda Ratu" ucap pangeran Han meminta ijin pada Nyonya dan Tuan Hao.
Mendengar itu Lin memutar bola mata nya cepat ke arah pangeran Han.
Kai cukup terkejut. Lee dan Shon menyimak dengan baik.
"Jadi, aku benar - benar diundang Yang Mulia Ratu?". Ucap Lin tak percaya.
"Diundang di istana. Pasti banyak makanan enak. Juga jika aku bersikap baik, pasti akan dapat banyak uang dari Yang Mulia Ratu. Kalau dapat uang banyak aku bisa menggunakan nya membayar tabib hebat untuk mengeluarkan batu merah terkutuk di dadaku. Kemudian aku bisa beli banyak daging untuk acara pernikahan ku dengan Than". Batin Lin sambil memutar bola mata nya kesana kemari.
"Lihat lah, dia mulai berpikir gila lagi". Beo Lee yang tau apa yang Lin pikirkan.
Shon tertawa geli.
"Ke istana?.. Undangan apa yang membuat Yang Mulia Ratu mengundang Lin?". Batin pangeran Kai sambil menggaruk dagunya yang tak gatal.
"Baiklah, aku akan ikut". Ucap Lin cepat.
"Aku juga, aku juga akan pulang ke istana". Ucap pangeran Kai tiba - tiba menyela.
Pangeran Han kesal.
***
__ADS_1
Istana Ratu Ghore
Lin memasuki istana Ratu Ghore. Lin yang mengenakan sutra berwarna merah muda, dengan rambut di ikat ala - ala nona bangsawan. Membuat Lin terlihat sangat cantik. Kecantikan nya berhasil membuat para dayang istana Ratu yang melihat nya membicarakan kesempurnaan paras nya.
Lin memberi salam dan di sambut hangat Ratu Ghore.
"Jadi, kau kah Lin?". Tanya Yang Mulia Ratu mengawali obrolan santai nya.
Lin yang didampingi pangeran Han tersenyum hangat.
"Kau terlihat lebih cantik dari apa yang Han gambarkan!". Imbuh sang Ratu memuji Lin.
"Yang Mulia Ratu terlalu melebihkan". Ucap Lin merendah.
Tak berapa lama. Putri Ming yang mendengar Ratu mengundang seorang wanita desa pun segera bergegas ke istana Ratu Ghore.
"Oh, Ming kau datang...?". Ucap sang Ratu yang terkejut akan kedatangan Putry Ming.
Putri Ming menatap tajam Lin. Lin yang menyadari arti tatapan Putri Ming pun membalas balik sikap tak bersahabat Putri Ming.
"Perempuan rendah seperti mu ingin merebut Han dari ku. Jangan mimpi". Batin Putri Ming yang menatap Lin penuh benci.
"Ah, iya Yang Mulia Ratu. Hamba mendengar Yang Mulia Ratu mengadakan jamuan makan untuk seseorang yang spesial hari ini. Jadi ini kah orang itu?". Ucap Putri Ming manis sambil menatap Lin benci.
Lin tak acuh. Seolah tak peduli dengan keberadaan Putri Ming. Pangeran Han yang melihat sikap Lin tertawa geli.
Putri Ming kesal. Ratu menyadari adanya ketidak cocokkan antara kedua nya pun berusaha mencairkan suasana.
"Ah, baiklah Ming. Duduklah mari makan bersama. Lebih ramai lebih bagus bukan". Ucap sang Ratu.
Putri Ming duduk berhadapan dengan Lin. Di hadapan sang Ratu, Putri Ming pura - pura baik terhadap Lin. Lin tetap cuek dan tak mempedulikan keberadaan Putri Ming.
***
Saat di halaman istana arah jalan pulang. Lin yang lebih dulu meninggalkan istana Ratu ternyata di kejar Putri Ming. Putri Ming berjalan cepat menghampiri Lin.
Putri Ming menarik kasar bahu Lin. Lin terkejut dan berbalik.
"PAAAK..." suara tamparan yang cukup keras mendarat di pipi chubby Lin.
__ADS_1
Mata Lin membulat penuh amarah.
"Heh, perempuan desa. Tidak kah kau memiliki cermin untuk menilai diri mu itu.
Kau pikir kau cantik lantas merayu Han dengan wajah mu yang buruk itu. Tak usah lah kau bermimpi mendapatkan Han". Ucap Putri Ming ketus.
Sambil menyentuh pipi nya yang kena tampar. Lin tak bergeming. Matanya merah padam. Tatapan nya tajam memandang Putri Ming. Nafas nya menderu. Lin benar - benar naik darah.
Putri Ming yang melihat Lin seperti kesurupan pun ketakutan. Tubuhnya merinding. Bulu kuduk nya berdiri.
Mata Lin berubah warna, Aura nya iblis menguasai nya. Sedikit demi sedikit rambut Lin berubah merah. Putry Ming membeku.
"ib... Ib.. Iblis..." Gumam Putri Ming melihat perubahan Lin yang menakutkan.
Dalam kondisi yang hampir membuat Lin berubah menjadi Iblis merah. Tiba - tiba pangeran Han datang melerai pertengkaran kedua gadis itu.
"Yaak, Ming. Apa yang kau lakukan?". Tanya pangeran Han yang datang dari belakang tubuh Lin. Sehingga tak mengetahui wujud Lin yang hampir berubah.
Putri Ming yang menyadari kedatangan pangeran Han pun merasa terselamat kan. Tapi tak berapa lama Putry Ming dengan licik nya berkata :
"Han Lihatlah.. Lin itu iblis. Dia bukan manusia. Lihat wajahnya yang begitu menyeramkan" ucap Putry Ming sambil meraih lengan pangeran Han dan menunjuk - nunjuk wajah Lin.
Pangeran Han yang membelakangi Lin pun memutar tubuhnya menghadap Lin.
Mata pangeran Han membelalak sempurna. Wajahnya merah padam. Alangkah terkejut nya pangeran Han melihat kondisi Lin.
Dengan cepat pangeran Han meraih wajah Lin.
"Lin, kau tak apa. Siapa yang melakukan ini padamu. Katakan?". Gumam pangeran Han sambil mengusap pipi chubby Lin yang bengkak memerah.
Yaa... Lin mereda jiwa iblis nya tepat waktu sebelum pangeran Han melihat nya. Alih alih melihat wujud iblis nya justru pangeran Han malah melihat hasil tamparan Putri Ming, yang sukses membuat pangeran Han marah terhadap besar terhadap putri Ming.
Lin pura - pura menangis sakit.
"Kau keterlaluan Ming, kali ini aku tak akan menutup mata untuk apa yang kau lakukan pada Lin. Pergi dan jangan pernah muncul di hadapan ku lagi". Ucap pangeran Han tegas.
Kemudian pangeran Han berlalu bersama Lin.
Putri Ming menambah satu poin ke kebencian pangeran Han padanya. Putri Ming semakin membenci Lin.
"Kau akan membayar apa yang kudapat hari ini". Gumam Putri Ming dalam hati sambil menatap tajam Lin penuh benci.
__ADS_1