Pengantin Kaisar Ular

Pengantin Kaisar Ular
Episode 18


__ADS_3

Rumah Nyonya Hao



"Kau sudah merasa lebih baik kah?" tanya Shon yang melihat pangeran Kai sudah bangun dari tempat tidur nya.


"Hm.." jawab pangeran Kai.


"Minumlah" ucap Shon sambil menyodorkan ramuan obat.


"Em.. Aku tak melihat Lin sejak pagi tadi" tanaya pangeran Kai yang tak melihat batang hidung Lin.


"Ah, dia pergi menemui suami nya katanya" jawab Shon datar.


Pangeran Kai yang mendengar itu sontak menyemburkan ramuan obat yang hendak di minumnya.


Shon kaget. Shon yang mengerti pangeran Kai terkejut dengan ucapan nya pun segera beralat jawaban nya.


"Aaaaa, bukan itu maksudku. Kau tau lah Lin itu tak begitu normal. Dia kadang menyebut kelinci hutan sebagai kekasih nya dan kini dia mengatakan padaku Ular besar dalam hutan terlarang adalah suaminya" jelas Shon sambil tertawa geli mengingat pola pikir adik nya satu itu.


"Selamat siang Nyonya Hao" sapa pangeran Han yang baru saja datang. Dan terdengar oleh Shon dan Kai.


Lee muncul.


"Yaaak, kau wajah mu terlihat merona. Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?" tanya Lee penasaran.


Pangeran Han tersenyum.


"Ibuku mengundang Lin ke istana, apa Lin ada?" tanya pangeran Han tanpa basa basi.


Shon dan pangeran Kai keluar dari kamar pangeran Kai. Lee dan Shon saling tatap.


Nyonya Hao pun memandang pangeran Han tak mengerti.


"Ada apa Yang Mulia Ratu memanggil Lin" tanya Shon penasaran.


"Aaaa, tidak ada sesuatu yang buruk. Hanya ibuku mendengar aku memiliki seorang teman di luar istana. Ibuku ingin bertemu dengan teman ku itu"


"Tak mungkin lah ku katakan ibuku ingin melihat calon menantu nya". Gumam pangeran Han dalam hati.


"owh, tapi kenapa hanya Lin. Bukankah aku juga teman mu?" tanya Lee penasaran.


Pangeran Han salah tingkah. Tak berapa pangeran Han yang melihat Pangeran Kai terluka pun mengalihkan topik pembicaraan.


"Yaak, Kai. Kau disini rupanya. Kau terluka?" pangeran Kai pura - pura tak tahu.


"Hm, aku terluka saat berlatih pedang" jawab pangeran Kai menutupi kejadian sesungguhnya.


"Tapi, dari tadi aku tak melihat Lin. Apakah dia sedang tidur?" pangeran Han kembali mencari keberadaan Lin yang tak tampak di pelupuk matanya.


"Tak usah mencarinya lagi dia sedang menemui suaminya!" ucap pangeran Kai ketus.


"HAH..." pangeran Han terkejut bukan main.

__ADS_1


***


Kerajaan ular


Ruang makan,


"Jadi... Mereka orang tuamu mu?" tanya Lin yang sudah duduk di dekat Than. Sambil melirik Raja dan Ratu ular yang tadi adu mulut dengan nya.


"Hm..." jawab singkat Than sambil mengangguk halus.


"Hiiisss.." dengus Lin sambil menutup matanya dan mengunci bibir nya. Ekspresi Lin penuh sesal.


Lin tertekan. Lin mulai berasumsi konyol lagi.


"Melihat ekspresi kedua mertua ku, sepertinya hubungan ku dengan Than terancam punah. Aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat" batin Lin sambil manggut - manggut.


Suasana meja makan itu begitu tenang.


"Em... Maaf Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu.


Sikap saya tadi.. Anuu... Ituu... Bukan maksud saya tak sopan. Saya hanya ingin melindungi suami saya. Saya tulus mencintai nya. Tolong jangan pisah kan kami. Sekali lagi maafkan saya. Yang Mulia Raja Yang Mulia Ratu". Ucap Lin panjang lebar cepat dan tanpa rem sambil membungkuk hormat.


Mendengar celoteh Lin, Raja dan Ratu serta Paman Than menghentikan aksi mereka di meja makan. Mereka bertiga saling pandang.


Than dan Thyu yang mendengar ucapan konyol Lin pun tak kalah terkejut.


"Lin bodoh... Kau meminta maaf di saat yang tak tepat. Peraturan meja makan bangsa kami tak memperbolehkan bercakap-cakap apalagi bercengkrama. Dan kau malah mengoceh tanpa nafas. Matilah kau Lin. Ayah ibuku pasti memakan mu hidup - hidup" gumam Thyu dalam hati.


"Aduh, istri ku sangat bodoh. Kenapa aku bisa mencintai perempuan yang lahir dengan setengah otak ini" batin Than penuh sesal.


Diluar dugaan.


"Haaaa.... Haaaa... Haaa...".


Tiba - tiba gelak tawa keras ketiga petinggi kerajaan ular itu memecah hening.


Lin bingung. Than dan Thyu saling pandang.


"Yaak.. Than istrimu sangat lucu. Ibu menyukai nya" gumam Ibunda Than sang Ratu ular masih tertawa kecil.


Raja dan paman Than pun melanjutkan aksi makan mereka.


Detik kemudian..


"Emm.. Ibu bolehkan aku bertanya?" ucap Lin yang terlihat penasaran akan sesuatu.


"Kau memanggil ku apa?" tanya sang Ratu yang terkejut Lin memanggilnya Ibu.


Lin menatap mata sang Ratu.


"Bukan kah kau Ibu dari suamiku. Tentu saja kau ibuku juga" jawab Lin polos.


"Haa.. Haa.. Haa... Lihat lah dia memang menantu ku. Tingkah nya selalu membuat ku Tertawa" ucap sang Ratu bangga.

__ADS_1


"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan anak ku?" tanya sang Ratu.


"Siapa aku? kenapa aku bisa melihat wujud Ular kalian bahkan mengerti apa yang kalian bicarakan. Kata suamiku kau memiliki jawaban nya ibu?" tanya Lin polos.


"Kau terus menyebut Than "suamiku".. "suamiku".. Dan "suamiku".. Tapi kau bahkan tak mengerti status seorang istri "suamimu" itu. Kau benar - benar polos anak ku" ucap sang Ratu kagum.


"Kapan kau dilahirkan?" tanya sang Ratu kemudian.


"16 tahun lalu, malam saat hujan lebat bercampur angin kuat yang merobohkan beberapa pohon di sekitar rumahku" jawab Lin lugu.


"O'... Bukankah malam itu juga malam dimana Than lahir ucap Thyu kaget yang tau mereka dilahirkan dimalam yang sama.


Than dan Lin saling pandang.


"Ah, aku mengerti. Jadi itu alasan kau memiliki mata yang sama dengan keluarga kerajaan kami. Mata yang hanya dimiliki keturunan langsung atau istri keturunan itu sendiri" gumam Thyu mengerti keadaan.


"Aku tak mengerti?" tiba-tiba Lin menyahut sambil pasang tampang bodoh nya.


"Yaaak, Than istri mu sangat bodoh. Untung dia cantik. Kalau tidak meski dia istri yang ditakdirkan Langit untuk mu aku akan memakan nya hidup - hidup" Oceh Thyu kesal.


"Aaaah... Jadi kami memang sepasang" ucap Lin sambil menatap Than.


"Kalau begitu, apakah aku juga setengah Ular seperti kalian" tanya Lin penasaran.


"Tidak anakku, kau hanyalah manusia kau tak seperti kami. Kau hanya memiliki sedikit takdir istimewa menjadi Ratu putraku. Dan keistimewaan itu hanya di berikan pada mereka yang memang memiliki takdir langit. Kami bangsa Abadi pun tak mengetahui takdir yang sudah disiapkan langit. Matamu adalah bukti keistimewaan mu yang bisa hidup di dua alam. Alam manusia mu dan Alam kami, alam bangsa Ular abadi" jelas


sang ratu.


Lin tak mengerti tapi pura - pura mengerti.


"Benar - benar rumit hidup ku" gumam Lin sambil menggaruk dagu nya yang tak gatal.


***


Di ruang lain setelah makan.


Tampak Raja dan Ratu serta Paman Than sedang membicarakan hal yang serius.


"Aku tak berbohong dia memang istri Than yang di takdir kan langit" ucap Ratu membela diri karena disalahkan tak berkata jujur tentang "Siapa Lin".


"Bagaimana dengan kutukan mata iblis itu?"gumam paman Than mengingatkan mata Lin.


"Anak itu sangat polos dan lugu dia juga terlihat lemah. Kurasa untuk saat ini mutiara iblis ular merah yang bersarang di tubuh nya tak kan membahayakan bangsa kita" ucap sang Raja berpendapat.


"Benar. Mudah - mudahan saja Than bisa menguasai Lin sebelum iblis dalam tubuh Lin yang menguasai Lin terlebih dahulu. Aku sungguh tak ingin tragedi ratusan tahun lalu terulang kembali.


Biar bagaimana pun Ular merah itu tetap lah adikku. Dia menjadi iblis karena ku" jelas sang Ratu sedih mengingat tragedi pembunuhan adik perempuan nya yang menjadi iblis karena dendam tak mendapat cinta sang Raja.


Disisi lain ruang itu sepasang telinga tak sengaja mendengarkan pembicaraan para petinggi kerajaan itu.


"Kutukan" gumam Lin lirih, yang mendengar cerita singkat Raja dan Ratu.


\=================================

__ADS_1


happy reading all 🌷


__ADS_2