
Yuna hanya tersenyum bahagia menyaksikan kejadian itu. ia berharap agar Astha benar benar melupakan Tamara.
tanpa mereka sadar mereka sudah ada di dalam bandara."ayo cepat" berjalan sambil menggenggam tangan Carissa."tunggu aku bisa berjalan sendiri" menepis tangan Astha.
"astaga kau itu benar bodoh ya" .
" kenapa memangnya" .
terdengar sampai jarak yang cukup signifikan bagi Alan dan Yuna."semoga kau menemukan wanita yang baik untukmu." ucap Alan pelan sambil tersenyum bahagia
Yuna yang mengamati Alan hanya diam dan ikut mengembangkan senyuman di bibirnya.namun sesaat kemudian Alan tertunduk dan murung.yuna tau apa yang Alan cemaskan tentang kedua orang yang ada di hadapan mereka.
Yuna benar benar tau Carissa yang secara tidak sengaja dipertemukan oleh Astha. kini ia perlahan lahan bisa menggantikan sosok Tamara di dalam kehidupan Astha. namun apa daya semua itu terbatas oleh selembar kontrak.
didalam pesawat."kemari kau". perintah Astha membuat semua orang menoleh kepadanya."ah bukan kau. Carissa itu benar namamu kan". "kemari dan duduk di depanku".
__ADS_1
"tidak mau". lalu Astha menunjukkan ponselnya."kau lihat ini siapa yang menelfon" . "baiklah aku ke sana".ucap Carissa dengan berat hati.
"halo bibi" baru saja Carissa memulai."sayang apa kau tidak apa apa?. apa bibi perlu menyusul mu atau mungkin mengabari orang tuamu?". "bibi tenanglah aku sudah merasa baikan lagipula ada Astha bersamaku".
ucapan Carissa secara tidak langsung membuat Astha tersipu malu, dan secara tidak sadar terukir senyum bibirnya."Astha ini" sembari menyodorkan ponsel Astha.
"ya bibi". "Astha dengarkan bibi jaga Carissa baik baik dan besok pagi bibi akan menyusul mu". ucap bibi menghardik. "baik bibi" jawab Astha tenang. kemudian bibi menutup telfonnya.
setelahnya keadaan di dalam pesawat pun hening. kemudian mata mereka pun perlahan lahan mulai terpejam.
"tuan,tuan nyonya tidak sadarkan diri" ucap Yuna."kenapa" tanya Astha yang setengah sadar. "nyonya tidak sadarkan diri" tegas kembali oleh Yuna.
"apa. bagaimana bisa" kemudian Astha segera mengecek keadaan Carissa."Carissa, Carissa, Carissa".
"apa dia harus membusuk disini" sentak Astha.
__ADS_1
"tidak tuan kita akan segera mendarat dan sudah ada mobil yang menunggu kita di bandara." jelas Alan."baiklah setelah ini langsung ke rumah sakit, aku tidak mau kondisinya memburuk" titah Astha.
sesampainya di bandara.
tanpa pikir panjang Astha pun langsung membopong tubuh Carissa. ia setengah berlari."tuan sebelah sini" ucap Yuna yang berjalan mendahului Astha untuk menunjukkan arah mobil.
"pak jalan, kita ke rumah sakit. cepat." titah Astha begitu menaiki mobil. mobil melaju cepat. Alan dan Yuna berada di mobil kedua yang mengikuti mobil Astha dan Carissa.
kali ini Carissa benar benar tidak sadarkan diri. tubuh Carissa masih di dekap erat oleh Astha. sesekali Astha berusaha membangun Carissa,dan ia terus berusaha.
"Carissa buka matamu ayo, ayolah" sembari mengelus pipi Carissa. Carissa masih tetap tidak sadarkan diri
"pak masuk lewat jalur VVIP, aku tidak mau pelayanan yang lama di rumah sakit ku sendiri." titah Astha saat mobil memasuki gerbang rumah sakit."baik tuan"
di dalam mobil Alan dan Yuna."Alan sepertinya tuan muda kita sudah mulai berjalan kembali." sambil tersenyum melihat Alan.
__ADS_1
"ya semoga yang kau lihat itu benar dan abadi" balas Alan singkat namun penuh harapan.