
Revan kembali mencari Hanna, ia bertanya kepada setiap orang dengan menunjukan foto Hanna. Namun, semua orang tidak mengenalinya bahkan mereka tidak pernah melihat Hanna.
Revan tak tahu harus mencarinya kemana lagi, ia sudah datang ke rumah peninggalan orang tua Hanna tapi ia tak menemukannya di sana.
"Hanna kau di mana?" ucapnya, sambil memukul setir. Ia merasa bodoh telah membuat istrinya pergi.
Sudah setengah hari Revan mencari Hanna, tetap tidak menemukan Hanna. Ia sudah lelah mencarinya, ia pasrah jika ibunya akan marah.
"Revan, kau sudah pulang? Di mana Hanna, apa kau sudah menemukannya?" tanya Bu Rohanah, Revan menunduk lesu. Ia tak tahu harus berbicara apa untuk menjelaskannya.
"Jawab Ibu, Revan! Apa kau menemukan Hanna di mana?"
"Tidak, Bu. Maafkan aku, aku sudah mencarinya ke mana pun. Tadi aku tidak menemukan Hanna."
"Kau benar-benar keterlaluan, Revan. Ibu kecewa padamu."
"Maafkan Revan, Bu."
"Percuma kau meminta maaf pada Ibu, semuanya sudah terjadi. Ibu benar-benar kecewa, kalau pun Hanna kembali ke sini, Ibu tak akan pernah memintanya untuk kembali padamu. Ibu malu memiliki anak seperti kamu!" teriak Bu Rohanah, kemudian Bu Rohanah pergi meninggalkan rumah Revan untuk segera pulang.
Revan berulang kali meminta maaf pada Ibunya. Namun, ia malah mendapat amarah dari sang Ibu.
Sarah baru saja pulang dari apotik, ia membeli tespack untuk dirinya sendiri. Sebelumnya Sarah curhat pada teman kuliahnya, ia bertanya tentang kepalanya sering pusing dan sering mual. Temannya menyarankan untuk membeli tespack, mungkin saja ia sedang hamil walaupun sering meminum obat pencegah kehamilan.
"Semoga saja aku tidak hamil, kak Revan belum menikahiku. Bagaimana mungkin aku harus mengandung benihnya."
__ADS_1
Sarah mulai membuka tespack dan memakainya, lalu ia menunggu sekitar 3 menit untuk hasil yang akan ia lihat.
"Semoga tidak hamil," harapnya.
Sarah mulai melihat hasil dari tespack tersebut, ia langsung menutup mulutnya tak percaya.
"Garis dua?"
"Aku hamil,"
"Tidak, tidak!" teriaknya, Sarah frustasi melihat hasilnya. Ia tak menyangka bisa secepat itu untuk mengandung benih dari Revan. Padahal ia tak pernah telat untuk meminum obat pil KB, tapi entah kenapa ia harus mengalami kehamilan.
Revan masuk ke kamar Sarah, ia mendengar teriakan Sarah dari luar. Revan khawatir takut Sarah melakukan hal yang tidak baik.
"Sarah, kau kenapa?"
"Kak, Revan?"
"Kau kenapa berteriak?"
"Maaf, kak," lirihnya.
Kemudian Sarah memberikan benda di tangannya pada Revan.
"Ini apa?"
__ADS_1
"Kakak lihat saja!"
Revan menatap benda itu, lalu ia bergantian menatap Sarah.
"Kau hamil?"
"Iya, kak. Aku hamil mengandung anakmu." seketika Revan memijat pelipisnya, ia tidak berharap Sarah akan hamil. Karena membuatnya semakin berada diambang masalah.
"Kenapa kau bisa hamil, Sarah. Aku sudah menyuruhmu untuk mengkonsumsi pil KB."
"Aku juga gak tahu kenapa aku bisa hamil, kak."
"Argh... Kau membuatku pusing, Sarah. Kenapa kau harus mengandung anakku di saat aku sedang ada masalah?"
"Ini semua gara-gara kakak, kakak yang sering meminta aku untuk melayanimu. Jadi kakak harus tanggung jawab dengan kehamilanku. Aku ingin kak Revan segera menikahiku,"
"Tidak, Sarah. Apa kau gila. Urusanku bersama Hanna belum selesai!" kesalnya.
"Tapi walaupun begitu, kakak tetap bisa menikahiku. Apa susahnya tinggal menceraikan kak Hanna."
Revan tak suka pada Sarah yang mengatur hidupnya, ia tidak berniat menceraikan Hanna. Ia masih mencintai Hanna.
"Pokoknya kak Revan harus menikahiku, kalau tidak aku akan melaporkanmu."
"Sarah! Apa kau mengancamku, hah? Beraninya kau berbicara seperti itu padaku?"
__ADS_1
Sarah tak peduli dengan Revan, ia tetap akan menuntut Revan untuk segera menikahinya. Bagaimana pun ia wanita gadis yang belum menikah, ia tak mau orang lain menghinanya.
...----------------...