
Hanna dan Bram telah sampai di tempat les sekolah Dafa, Dafa sedang duduk sendirian menunggu mereka berdua.
"Ayah, Tante cantik..." Dafa berlari kearahnya dia langsung memeluk Hanna. Bram heran setelah ada Hanna, Dafa tak pernah memeluk dirinya.
"Sayang, kenapa Tante yang dipeluk? Ayah dibiarkan saja, nih!" ucapnya pura-pura iri.
"Dafa mau nya Tante cantik, kalau sama ayah sudah bosan," Bram mengacak-acak rambut Dafa dengan gemas.
"Ya sudah, sekarang kita pulang, yuk. Atau kamu mau jalan-jalan dulu?"
"Em, Dafa mau jalan-jalan dulu, ayah. Dafa mau ajak Tante cantik,"
"Kemana, sayang?" tanya Hanna.
"Kemana saja deh, Tante."
"Baik, ayah akan mengajakmu makan di restoran,"
"Horeee..." Dafa dengan girangnya meloncat-loncat dengan semangat.
Bram kembali mengemudi mobilnya menuju tempat tujuan. Di sepanjang jalan, Dafa menggenggam tangan Hanna. Bahkan ia tak melepaskannya sama sekali, Hanna merasa sedih melihat Dafa yang seperti merindukan kasih sayang seorang ibu.
Setelah sampai, Hanna menggendong Dafa menuju masuk ke dalam restoran.
"Hanna, biar aku saja yang gendong. Nanti kamu berat,"
"Tak apa-apa, Mas. Aku kuat, kok."
"Tapi nanti kamu pegal, sini biar aku saja," titahnya.
"Tidak apa-apa, Mas. Dafa nya juga mau sama aku,"
"Ya sudah kalau gitu," Bram pasrah pada Hanna yang tetap pada pendiriannya.
"Kita duduk di ujung sana, ya. Biar bisa lihat pemandangan," Hanna pun mengangguk, lalu ia berjalan ke tempat duduk yang di maksud oleh Bram. Mereka bertiga memesan makanan seafood yang sudah disediakan di sana.
"Hanna, maaf aku sudah merepotkanmu,"
"Apa maksudmu, Mas. Aku tidak merepotkanmu, aku sedang bekerja jadi bawahan kamu," kata Hanna. Sedangkan Dafa sangat lahap dengan makanannya.
Di sisi lain ada yang sedang memantaunya, ia menatap tak suka pada mereka bertiga. Rasa marah dan kecewa bercampur dalam dirinya, dia lah Revan yang sedang berada di restoran itu.
Revan berjalan menghampiri mereka, hatinya marah pada Hanna yang sedang bersama pria.
__ADS_1
Brakkk...
Revan menggebrak meja yang ditempati oleh Hanna dan juga Bram, seketika mereka bertiga terkejut dengan Revan yang tiba-tiba.
"Mas Revan?" ucap Hanna.
"Jadi selama ini kau juga telah mengkhianatiku?"
"Apa maksudmu, Mas?"
"Jangan berpura-pura padaku, Hanna. Ternyata kau mengkhianati aku dengan pria ini," tunjuknya pada Bram.
"Aku tidak mengkhianatimu, aku hanya sebagai pekerja dia. Dia bos ku," Revan geram pada Hanna, ia tak bisa menahan amarahnya. Tiba-tiba tangan Revan mencengkram dagu Hanna dengan kuat sehingga Hanna merasakan sakit.
Bram tak hanya diam, ia tak terima melihat Hanna yang diperlakukan seperti itu.
"Lepaskan dia!" geramnya, Bram mencengkram kerah baju Revan.
"Apa maksudmu? Kau jangan ikut campur urusanku!"
"Ck, dia baby sitter anakku, aku berhak membantunya," Revan melepaskan cengkeramannya, lalu ia menarik kerah baju Bram.
"Kau pria yang sudah merebut istriku?" tegasnya dengan tatapan tajam.
Sementara Dafa ketakutan melihat ayahnya yang sedang berkelahi dengan orang lain, Hanna langsung memeluk Dafa dan menenangkannya.
"Pergi dari sini, Revan. Kita sudah tak ada hubungan lagi."
Revan menatap sinis pada Hanna.
"Berani kau mengusirku, ternyata kau tak sebaik yang aku kira, Hanna."
"Terserah, kau mau bilang apa, Mas!" Kemudian Hanna menarik tangan Bram dan juga Dafa, ia ingin membawa mereka untuk pergi dari hadapan Revan.
"Hanna, aku tak akan membuatmu bahagia dengan orang lain!" teriaknya tanpa rasa malu, banyak orang yang memeperhatikan dirinya.
Hana menangis setelah keluar dari restoran, ia tak menyangka Revan jadi sekejam itu.
"Hanna, kau tak apa-apa?" tanya Bram, ia melihat Hanna yang sedang menangis.
"Aku tak apa-apa, Mas. Lebih baik kita pulang saja,"
"Baiklah," Dafa yang masih kecil pun merasakan hatinya sakit melihat tangisan Hanna.
__ADS_1
"Tante jangan nangis, Dafa tak tega melihat Tante nangis," celotehnya. Hanna langsung menghapus air matanya, ia tak mau membuat Dafa sedih.
"Tante tidak nangis kok, sayang. Tante baik-baik saja,"
"Tapi kenapa om tadi jahat sama Tante,"
"Dia gak jahat, kok. Dia hanya salah paham sama Tante," Dafa mengangguk mengerti, walaupun yang ia lihat tidak sesuai dengan penjelasan Hanna.
Sarah datang ke kediaman ibu Rohanah, ia akan memberitahu tentang kehamilannya pada keluarga Revan. Sarah yakin pada dirinya sendiri, ia akan diterima oleh Bu Rohanah karena ia telah mengandung cucunya.
Bu Rohanah yang melihat kedatangan Sarah, seketika ia geram.
"Siang, Bu."
"Ngapain kamu ke rumah saya! Ada perlu apa kamu?"
Sarah langsung bersujud di hadapan Bu Rohanah dengan memasang wajah sedihnya.
"Maafkan aku, Bu. Sebenarnya aku tak berniat datang ke sini. Tapi ini menyangkut hubunganku dengan kak Revan, aku terpaksa datang ke sini."
"Kau bukan menantuku, Sarah. Untuk apa kau datang ke sini?"
"Aku hanya ingin memberitahu ibu, aku..." Sarah belum menjelaskan, namun Bu Rohanah sudah lebih dulu menyelanya.
"Untuk apa kau menjelaskan kepada saya lagi? Kau tak perlu menjelaskan apapun, karena semuanya sudah jelas!"
"Maaf, Bu, tapi kali ini penting. Tolong beri aku waktu sebentar untuk menjelaskannya. Aku sedang mengandung anak kak Revan, Bu. Aku sedang mengandung cucumu." Bu Rohanah terkejut dengan penjelasan Sarah. Ia tak menyangka Sarah akan mengandung anak dari Revan, Bu Rohanah mengira perselingkuhan mereka di sampai sejauh itu. Namun, ternyata apa yang ia kira itu salah.
"Astaga, apa yang sudah kalian lakukan? Hingga kau mengandung anak Revan!"
"Kami sering melakukan hubungan terlarang, dan inilah bukti cinta kami, Bu. Tolong restui hubunganku dengan kak Revan, aku sedang mengandung anaknya Bu," Air mata Bu Rohanah mengalir deras, ia tak menyangka anaknya sering melakukan hal itu. Bu Rohanah merasakan apa yang menantunya rasakan. Sakit hati, kecewa, dan marah menjadi satu.
"Aku tak menginginkan anak haram itu!" tegasnya.
"Tolong, Bu. Maafkan kesalahan saya, bayi yang ada di kandunganku tidak bersalah. Dia cucu ibu, bukanlah ibu menginginkan seorang cucu?"
"Ya, saya memang menginginkan seorang cucu, tapi bukan dari kamu!" bentaknya lagi.
"Baiklah, kalau ibu tak menginginkan anak yang ada di kandunganku. Maka aku akan menggugurkannya, Mas Revan menyuruhku untuk menggugurkan juga. Kalau begitu aku permisi, aku tak akan datang ke sini lagi. Terima kasih atas waktunya." Kemudian Sarah pergi dari hadapan Hanna. Namun, Bu Rohanah menghentikan langkahnya.
"Jangan gugurkan anak itu," ucapnya.
Seketika Sarah tersenyum bahagia mendengar penuturan ibu Revan. Akhirnya ia bisa mendapatkan hati Bu Rohanah untuk menerimanya sebagai menantu.
__ADS_1
...----------------...