Pengkhianatan Suami Dan Adikku.

Pengkhianatan Suami Dan Adikku.
Episode 19


__ADS_3

Sebagai baby sitter di rumah Bram, ia tak hanya mengurus Dafa. Tapi ia juga sering melakukan pekerjaan rumah, dan hari ini ia ingin memasak untuk sarapan pagi.


Bram sudah memberitahu Hanna untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Namun Hanna tetap melakukannya, karena ia sudah terbiasa. Bram tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menyetujui keinginan Hanna.


"Selamat pagi," sapa Bram yang baru saja turun, ia melihat Hanna sedang menyiapkan sarapan paginya.


"Pagi, Mas. Silakan sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor,"


"Kau yang memasak ini semua?" Hanna tersenyum mengangguk.


"Hanna, aku sudah bilang padamu. Kau tak perlu melakukan semua ini, aku hanya menyuruhmu untuk jadi baby sitter Dafa," ujarnya.


"Iya, Mas. Tapi aku sudah biasa dengan semua ini, jadi aku ingin melakukannya. Kau tak perlu membayar mahal untuk ini, aku ikhlas membantumu,"


"Hanna di sini sudah ada bibi Serly, dia yang mengerjakan semuanya." Bram mulai kesal pada Hanna.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya ingin membantu bi Serly,"


"Baiklah, terserah kamu mau melakukan apa. Tapi aku tidak mau jika kamu sampai melupakan Dafa hanya karena pekerjaan lain."


"Tenang saja, Mas. Aku bisa membagi waktu Kalau begitu silakan sarapan dulu, aku akan menemui Dafa."


Kemudian Hanna berjalan menaiki tangga untuk membangunkan Dafa yang masih tidur. Hanna masuk ke kamarnya Dafa, ia melihat Dafa yang sangat nyenyak sekali dengan tidurnya.


Cup... Ia pun mengecup kening dan pipi Dafa dengan gemas, Hanna sangat menyayangi Dafa walaupun bukan anak kandungnya.


"Sayang, bangun," bisiknya pada telinga Dafa. Dafa yang terganggu dari tidurnya, ia langsung bangun dan menatap Hanna dengan senyuman.


"Ini sudah siang ya, Tante?"


"Sekarang baru jam setengah 7 sayang, kamu harus bangun lalu mandi. Kamu harus sekolah,"


"Baik, Tante. Aku mau mandi bersama Tante, gak mau sama bibi Serly," celotehnya yang sangat menggemaskan membuat Hanna ingin mencubitnya.


"Iya, sayang. Kamu mandi sama Tante ya,"


Setelah selesai, mereka berdua turun kebawah untuk sarapan pagi bersama.


"Ayah..." teriak Dafa dari atas tangga.


"Hati-hati sayang, nanti jatuh," ujar Hanna khawatir.


Dafa langsung memeluk Bram, setiap bangun pagi Dafa selalu memeluknya. Namun kali ini Bram tidak membangunkan Dafa seperti biasanya karena sudah ada Hanna.

__ADS_1


"Wah makanannya banyak sekali, ayah."


"Iya, ini buatan Tante cantikmu itu," ujarnya.


Hanna melihat sarapan Bram yang masih utuh, ia sedikit kecewa pada Bram yang tidak mencicipi sarapannya sama sekali.


"Mas, kau tidak sarapan?"


"Aku mau sarapan, aku menunggu kalian." Hanna lega mendengar jawaban Bram, ia mengira Bram tidak menyukai masakannya, namun ternyata Bram sedang menunggunya dan juga Dafa.


"Kenapa tidak sarapan duluan, Mas. Ini kan udah siang. Nanti kamu kesiangan," Bram tersenyum pada Hanna.


"Kau tak tahu aku ini siapa?"


"Memangnya siapa?"


"Aku ini direktur perusahaan, tentu saja sesuka hati mau berangkat kapan?" ucapnya dengan menyombongkan diri.


"Ck, sombong sekali!" Dafa menatap Hanna dan Bram bergantian, melihat mereka berdua yang masih banyak bicara.


"Ayah, Tante, kenapa kalian kaya anak kecil?" ucapnya dengan polos.


"Ah tidak apa-apa, sayang. Kalau gitu ayo sarapan dulu, nanti kamu kesiangan."


Bram dan juga Dafa mulai mencicipi sarapannya, Hanna sempat deg-degan ia takut sarapannya tak sesuai dengan lidah mereka.


"Kenapa ini enak sekali," ucap Bram dalam hatinya, ia kembali menyuapkan pada mulutnya hingga habis.


"Tante, aku mau lagi," celoteh Dafa.


"Sini, sayang. Biar Tante ambilkan lagi, ya." Hanna mengambilkan nasi untuk Dafa, sedangkan Bram juga menginginkannya lagi. Ia ketagihan dengan sarapan buatan Hanna.


"Mas, mau aku ambilkan lagi?" Bram langsung menggelengkan kepalanya, ia berpura-pura sudah kenyang padahal perutnya masih ingin sarapan.


"Ayah, kok sarapannya sudah? Padahal masakan Tante cantik enak loh,"


Apa yang dikatakan Dafa memang benar, biasanya Dafa tak pernah sarapan sebanyak itu. Tapi setelah Hanna yang memasaknya, tiba-tiba Dafa nambah porsi makannya. Bram sangat bahagia melihat Dafa sarapan dengan lahap.


"Hanna, aku akan berangkat ke kantor sekarang. Dafa akan pergi bersamaku, nanti setelah pulang sekolah kamu harus menjemput Dafa ke sekolah."


"Baik, Mas."


"Aku juga sudah menyuruh pak Aceng untuk mengantarmu nanti,"

__ADS_1


"Iya, Mas."


Hanna mengantarkan Bram dan Dafa sampai luar, ia tidak lupa memberi semangat pada Dafa agar anak itu tetap ceria.


"Semangat sekolahnya ya, sayang. Biar kamu jadi anak pintar,"


"Baik, Tante cantik. Selama Tante ada di sini, aku akan semangat." Bram tersenyum melihat kelakuan mereka berdua yang sangat menggemaskan. Rasanya Bram ingin menjadikan Hanna satu-satunya.


"Aku berangkat dulu,"


"Hati-hati di jalan, Mas," ucapnya dengan melambaikan tangan.


Setelah kepergian Bram, Hanna kembali masuk untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Walaupun sudah ada bi Serly, ia tetap mengerjakannya.


Revan mengirimkan pesan pada Hanna, bahwa dirinya akan menikah dengan Sarah. Revan sudah berencana akan menikahi Sarah secepat mungkin. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Hanna jika ia telah menikahi adiknya.


Revan tersenyum menyeringai setelah mengirimkan pesan pada Hanna dengan foto undangan pernikahan mereka.


"Aku tahu, kau pasti akan sakit hati melihat kebahagiaanku sekarang."


Hanna yang merasakan ponselnya bergetar, ia langsung mengambil dari sakunya. Lalu ia membuka pesan dari nomor yang tak dikenal. Seketika hati Hanna shock melihatnya, ia tak menyangka Revan akan secepat itu menikahi Sarah. Ia memang sudah mengikhlaskan pada mereka berdua, namun sakit hatinya belum hilang. Bayangan Revan dan Sarah masih terngiang-ngiang dalam ingatannya.


"Secepat ini kalian akan menikah," lirihnya. Hanna merasa sedih, namun ia mencoba untuk merelakannya. Ia ingat apa yang dikatakan Bram padanya.


"Semoga kalian bahagia,"


Bram yang baru saja sampai kantor, ia langsung memeriksa cctv rumahnya yang tersambung pada layar laptopnya. Ia bisa melihat cara kerja bawahannya, bahkan di setiap sudut ruangan ia memang cctv.


Tak sengaja Bram melihat Hanna yang sedang duduk sendirian, Bram semakin menatap layar didepannya.


"Sedang apa dia?"


Bram terus memantau kegiatan Hanna, namun sudah setengah jam Hanna masih duduk di sana sendirian.


"Ada apa lagi dengan dia?"


Hanna mulai bangkit dari duduknya, ia tak ingin menangis terlalu lama. Untuk apa dirinya menangis jika semuanya sudah terjadi, cukup dijadikan pembelajaran untuk Hanna.


"Aku lupa harus menjemur baju, kenapa aku memikirkan Mas Revan dan Sarah. Seharusnya aku bahagia melihat adikku akan duduk di pelaminan walaupun calon suaminya mantan suamiku."


Hanna mulai bangkit dari duduknya, lalu ia berjalan ke pintu belakang untuk segera menjemur baju yang sudah ia cuci sebelumnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2