
Bram menikmati segelas minuman di tangannya, ia benar-benar kecewa dan frustasi pada Hanna wanita yang ia cintai. Bram sudah lama memendam perasaannya pada Hanna.
Di kursi paling ujung, ada seorang wanita yang sedang memandangnya. Siapa dia? Dia adalah Sarah.
Sarah tersenyum senang melihat Bram yang sedang menikmati minumannya, ia tahu Bram sedang ada masalah.
'Aku tahu kau sedang ada masalah, apa aku harus melakukan sesuatu?' ucap Sarah dalam hatinya.
Kemudian Sarah melangkah menghampiri Bram yang sedang menikmati minumannya.
"Selamat malam," Sarah menyapanya.
Bram mendengar suara wanita yang ada di hadapannya, ia langsung menatap wanita itu. Bram merasa pernah mengenalnya, namun ia lupa dimana?
"Boleh ku temani duduk?" tanya Sarah dengan sopan.
"Silakan,"
"Kau pacar kak Hanna, ya?" tanya Sarah. Nama Hanna yang diucapkan Sarah, seketika Bram kembali menatap Sarah.
"Kau siapa?" tanya Bram bingung pada Sarah yang mengenalnya.
"Waktu itu kau datang ke pernikahanku bersama kak Hanna. Apa kau ingat? Aku adiknya kak Hanna," ucap Sarah mengingatkan Bram.
"Ah iya aku ingat, kau istri Revan?" tanyanya.
"Ya, betul. Tapi sekarang bukan istrinya lagi," ucap Sarah. Membuat Bram bertanya-tanya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Revan mengkhianati aku, setelah dua hari menikah dengan Revan. Aku dibuang ke sini dan dijadikan pemuas nafsu." Sarah mulai melancarkan aksinya, ia memperlihatkan wajah sedihnya.
"Kak Hanna juga tega padaku, ia tidak pernah menolongku dari lubang neraka ini. Jujur aku ingin bebas dan pergi dari sini," Sarah mulai menatap Bram dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bisakah kau memberiku pekerjaan yang layak, aku tidak ingin tinggal di sini lagi. Aku tidak mau dijadikan pemuas nafsu oleh pria yang ada di club ini. Tolong aku kak Bram," lanjutnya lagi.
Bram menatap Sarah, ia merasa kasihan pada Sarah. Apalagi Sarah masih terlihat muda diantara wanita yang lain.
"Usiamu berapa?" tanyanya.
"Usiaku mau menginjak 19 tahun kak," jawabnya.
"Kenapa dulu kau menghancurkan rumah tangga kakakmu, kenapa kau menikahi Revan jika ia hanya memanfaatkanmu?" tegasnya.
"Aku tak pernah merebut suami kak Hanna. Tapi kak Hanna lah yang menyuruhku untuk menggoda suaminya, kak Hanna bilang padaku dia tidak pernah mencintai Revan. Dia memiliki kekasih diluar sana, dan aku terpaksa harus melakukan semua ini." Sarah mencoba membohongi pria yang ada dihadapannya, ia berharap akan berhasil dengan rencananya.
Bram mengepalkan jari tangannya, ia sangat marah pada Hanna setelah mendengarkan penjelasan dari Sarah. Bram jadi teringat pada Hanna yang akan menikah dengan pria bernama Alex.
'Hanna! Ternyata kau tak sesuai ekspektasiku, kau pura-pura polos didepanku. Rupanya kau wanita licik!' Bram berucap dalam hatinya.
Bram kembali menatap Sarah dengan rasa kasihan.
"Aku baru tahu sikap Hanna seperti itu, aku tidak tahu apa yang telah terjadi padamu. Hanna benar-benar keterlaluan, aku kira dia wanita baik-baik. Namun ternyata aku salah," ucap Bram.
"Tidak apa-apa, aku berterima kasih padamu telah memberitahu sikap Hanna yang sebenarnya. Hampir saja aku memberikan perasaanku pada wanita yang salah," ucapnya. Sarah tersenyum senang, akhirnya ia bisa menghasut pria yang ada dihadapannya.
"Kalau begitu, ikutlah bersamaku. Aku akan memberimu pekerjaan yang layak," lanjutnya.
Sarah langsung menggenggam tangan Bram tanpa izin.
"Terima kasih kak, terima kasih banyak sudah menyelamatkanku," ucapnya. Sarah mengeluarkan air matanya agar Bram merasa kasihan.
"Kemas semua baju-bajumu, aku akan membawamu pergi dari sini sekarang juga."
"Baik, kak. Aku permisi dulu," ucapnya, Sarah segera pergi meninggalkan Bram dan kembali ke kamarnya untuk mengemasi baju-bajunya.
Setelah kepergian Bram, Hanna kembali ke kamarnya dan menangis di sana.
__ADS_1
Hanna benar-benar terpaksa harus menjauhi Bram, walaupun sebenarnya ia sangat ingin kembali pada Bram. Ia juga sangat rindu pada anak asuhnya yang bernama Dafa. Akan tetapi karena janjinya pada diri sendiri, ia tidak akan pernah kembali pada pria yang pernah mengusirnya.
Alex membuka pintu kamar Hanna yang tidak dikunci, ia melihat Hanna yang sedang menangis. Alex jadi merasa bersalah pada Hanna.
'Apa kau mencintai pria itu, Hanna?' ucapnya dalam hati.
Kemudian Alex masuk kedalam, lalu ia menghampiri Hanna dan memeluknya.
"Kau kenapa? Jika kau mencintai pria itu, kenapa kau berbohong padanya. Kenapa kau tidak jujur bahwa kau mencintainya, Hanna. Aku tidak tega melihatmu menangis seperti ini," ucap Alex menenangkan Hanna.
Hanna semakin mengeratkan pelukannya, apa yang dikatakan Alex membuat hatinya semakin merasa sakit dan menyesal.
"Kalau kau benar mencintainya, aku akan mengantarmu ke sana. Kau tahu, memendam perasaan itu sangat sakit dan tersiksa. Aku juga sedang merasakannya," ucapnya lagi.
Hanna menatap mata Alex yang terlihat berkaca-kaca.
"Kau kenapa, Alex? Kenapa kau ikut bersedih," tanya Hanna.
"Aku tidak tega melihatmu seperti ini, Hanna. Kau mencintai pria itu? Maka kejarlah dia dan minta maaf padanya," kata Alex dengan tersenyum. Padahal Alex juga merasakan sakit di hatinya. Wanita yang selama ini ia cintai, ternyata mencintai pria lain. Sakit hati kedua kalinya yang Alex rasakan sekarang.
Hanna menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin kembali pada Bram. Walaupun hatinya sangat menginginkan itu.
"Tidak, aku tidak akan kembali padanya. Aku akan memendam perasaan ini sendirian, Alex. Semoga dia mendapatkan wanita yang lebih baik dariku," ucapnya.
Alex kembali memeluk Hanna.
"Kalau begitu, jangan menangis lagi. Aku tak tega melihatmu seperti ini, perlahan-lahan kau pasti bisa melupakannya, Hanna."
Hanna mengangguk mengiyakan ucapan Alex, lalu ia menghapus air matanya.
"Terima kasih sudah menjadi temanku, Alex. Aku sangat bahagia berteman denganmu," ucap Hanna. Lalu ia kembali memeluk Alex, ia sangat nyaman berada dipelukannya.
'Hanna, apa kau tahu? Aku juga merasakan sakit hati yang sama. Aku memendam perasaanku padamu, dan ini sangat menyiksa.' Alex memejamkan matanya, ia merasakan sakit yang amat dalam. Tak terasa kini air matanya menetes begitu saja, padahal ia tidak pernah sesakit ini oleh wanita. Alex kembali mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Sedangkan Hanna tidak menyadari itu.
...----------------...