
Setelah kepergian Hanna, Bram mengajak Dafa untuk kembali pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Bram sama sekali tidak bicara pada Dafa. Ia mengabaikan Dafa begitu saja.
"Ayah, kenapa Tante Hanna berbeda. Kenapa ayah berkelahi dengan om itu," tanya Dafa.
"Diam! Jangan pernah sebut nama Hanna didepan ayah." bentak Bram membuat Dafa menunduk ketakutan.
"Kenapa ayah marah padaku?" tanya Dafa dengan nada sedikit bergetar.
Ckiiiittt... Bram seketika menghentikan mobilnya. Lalu ia menatap Dafa.
"Jangan pernah berkata tentang Hanna lagi, ayah tidak suka. Mulai sekarang kau jangan berharap padanya lagi. Ngerti!" Dafa tidak menjawab ucapan ayahnya, ia masih ingin bertemu dengan Hanna.
"Apa kau mengerti?" tanya Bram. Dafa menggelengkan kepalanya. Anak kecil itu tidak peduli jika ayahnya kembali marah.
Bram menarik nafasnya secara kasar. Kemudian ia kembali melajukan mobilnya. Bram benar-benar kesal pada anaknya sendiri yang susah diberi tahu.
Setelah sampai rumah, Dafa langsung turun dari mobilnya dan berlari dengan diikuti Bram dibelakangnya.
"Dafa," panggil Bram. Ia sedikit berlari untuk mengejar anaknya. Ia merasa bersalah karena terlalu emosi pada anak kecil, seharusnya ia tidak berbicara seperti itu pada Dafa.
Di dalam sana sudah ada Sarah dan juga bi Serly yang sedang menyambut kedatangan tuannya. Tiba-tiba Dafa langsung memeluk Bu Serly dan menangis. Sarah yang melihat itu merasa aneh.
"Sayang, kau kenapa?" tanya bi Serly dengan suara lembutnya.
"Bibi, ayah jahat. Dafa dimarahi ayah," jawabnya.
"Kenapa, Apa kamu nakal? Ayah tidak akan marah jika kamu tidak nakal," Dafa langsung menggelengkan kepalanya, ia merasa tidak melakukan kesalahan pada ayahnya.
"Dafa hanya tanya tentang Tante Hanna, bi. Tapi ayah malah membentak aku, apa aku salah?" celotehnya.
Sarah yang mendengar ucapan anak kecil itu, ia langsung tersenyum.
'Sepertinya sedang ada masalah,' ucap Sarah dalam hati.
"Kamu tidak salah, sayang. Mungkin ayah sedang capek," ucap bi Serly memberi pengertian pada Dafa.
Bram yang baru saja masuk langsung menghampiri Dafa dan memeluknya.
"Maafkan ayah, ayah terlalu kasar padamu. Lain kali ayah tidak akan seperti itu lagi," kata Bram.
Dafa mendorong tubuh ayahnya secara kasar.
"Aku bosan dengan ayah. Ayah selalu mengatakan minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Tapi mana buktinya, ayah tetap seperti itu. Ayah egois! Aku lebih suka Tante Hanna dari pada ayah." Dafa mengeluarkan isi hatinya di depan Bram, anak itu sangat peka dengan sikap ayahnya. Kemudian Dafa berlari menuju kamarnya dengan diikuti bi Serly.
Sarah menghampiri Bram, lalu ia mengelus punggung Bram dengan lembut.
__ADS_1
"Maafkan Dafa ya, kak. Dia masih kecil belum mengerti apa-apa, suatu saat dia pasti akan mengerti," ucap Sarah.
"Ya, aku tahu," jawabnya. Kemudian Sarah mengambil tas kerja Bram dari tangannya.
"Biar aku bawakan, kak," ucap Sarah. Sarah mengikuti langkah Bram menuju kamarnya. Baru kali ini Sarah ikut masuk ke kamar Bram dan menaruh tasnya di atas meja.
"Tolong siapkan air hangatku," titahnya pada Sarah.
"Maaf jika aku menyuruhmu, aku benar-benar sedang capek," ujarnya.
"Baik, kak. Aku siapkan dulu," setelah selesai menyiapkan air hangatnya, Sarah kembali menemui Bram.
Seketika Sarah terkejut melihat Bram yang sudah bertelanjang dada dengan menggunakan handuk di pinggangnya. Bram memperlihatkan perut sixpacknya, membuat Sarah menelan ludahnya secara kasar.
"Air hangatnya sudah siap, kak," ucap Sarah.
"Terima kasih," kemudian Bram masuk kedalam kamar mandi tanpa mempedulikan Sarah.
'Astaga dia sangat tampan sekali, ah aku sangat menginginkannya,' ucap Sarah dalam hatinya dengan membayangkan ketampanan Bram.
*
Setelah mengantarkan Hanna ke rumahnya, Alex kembali pamit pada Hanna untuk segera pulang. Biasanya Alex sering tinggal lama di sana, namun kali ini Alex langsung pulang tanpa masuk ke dalam.
"Aku pamit pulang ya, hati-hati di rumah. Jika ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Alex.
Alex tersenyum menanggapi ucapannya.
"Apa kau masih merindukanku?" goda Alex.
Hanna langsung menjawabnya. "Tidak, aku hanya bertanya saja. Biasanya kau selalu berlama-lama di kediamanku,"
"Lain kali aku akan berlama-lama di sini, aku tahu kau sangat merindukanku. Aku akan tinggal bersamamu seumur hidup," ucap Alex membuat Hanna bingung dengan kata-katanya. Hanna menatap Alex, ia ingin mendengar penjelasan dari Alex.
"Jangan menatapku seperti itu, kau membuat aku menginginkan bibir manismu itu," ucapnya, seketika Hanna langsung mencubit lengan Alex.
"Ah," Alex meringis merasakan sakit pada lengannya.
"Rasakan, makanya jaga bicaramu," kata Hanna, kemudian ia segera membuka pintu mobilnya. Namun Alex malah menarik tangan Hanna.
Alex ingin sekali merasakan bibir milik Hanna yang membuatnya candu. Hanna yang menyadari itu, ia langsung mendorongnya dan segera berlalu dari hadapan Alex.
Alex tersenyum melihatnya. 'Kenapa aku bisa sebucin ini pada dia, dia wanita pertamaku yang membuat aku nyaman. Terima kasih Hanna sudah mengisi hatiku,' ucapnya dalam hati. Kemudian Alex kembali mengendarai mobilnya menuju club.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam, Alex sudah sampai di sana. Sebelumnya ia juga sudah menghubungi asistennya untuk memberitahu semua orang yang ada di club.
__ADS_1
"Tuan Alex sudah datang," kata asistennya kepada semua penghuni club.
Alex membenarkan darinya, lalu ia menarik nafas dan menatap kepada semua orang yang ada di depannya.
Alex merasa berdosa pada mereka yang sudah bekerja di clubnya. Alex menatap wanita yang masih muda dengan berpakaian sexy dan dipeluk oleh seorang pria. Ia merasa bersalah telah memberi pekerjaan haram pada wanita semuda dia.
"Sebelumnya saya mengucapkan minta maaf pada kalian semua. Saya minta maaf sudah memperkerjakan kalian di club ini, terutama wanita yang ada di sini. Saya minta maaf," ucap Alex pada penghuni club.
"Minta maaf untuk apa tuan Alex? justru kami berterima kasih pada anda. Telah memberi tempat tinggal di sini, bahkan kami di bebaskan di sini. Kami benar-benar berterima kasih pada anda," ucap seseorang yang ada di sana.
Alex menatap ke semua orang, lalu ia menarik nafasnya kembali.
"Saya minta maaf sebelumnya, saya akan menutup club ini. Malam ini juga saya akan meresmikannya," ucap Alex membuat semua orang saling pandang dan membicarakannya.
"Kenapa tuan Alex tiba-tiba menutup club ini, bagaimana dengan kami yang sedang mencari nafkah di sini. Saya seorang janda tuan, saya memiliki anak kecil di rumah dan juga ibu. Saya hanya memiliki mereka, dan mereka butuh makan. Tolong jangan tutup club ini," protes seorang wanita.
Alex memejamkan matanya, ia tahu mereka semua membutuhkan uang untuk biaya hidupnya.
"Kalian tenang saja, saya akan menjadikan club ini sebagai tempat kerja. Kalian semua akan tetap bekerja di sini dan saya akan menutup club ini agar kalian bekerja dengan layaknya. Kalian tak perlu khawatir dengan uang, saya akan membayarnya," ucap Alex menjelaskan.
Namun, semua orang yang ada di sana kebanyakan tidak setuju dengan keputusan Alex. Karena mereka sudah menikmati bekerja seperti itu.
"Kami tidak setuju tuan, kami nyaman seperti ini,"
Alex kembali menarik nafasnya.
"Maaf, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Mulai malam ini saya tutup, dan besok saya akan merenovasi club ini untuk dijadikan perusahaan. Saya tidak peduli kalian setuju atau tidak, saya hanya ingin memberi pekerjaan yang layak untuk kalian semua. Terima kasih sebelumnya, saya permisi." Alex pergi meninggalkan mereka semua. Alex sudah memantapkan hatinya untuk menutup club itu demi wanita yang dicintainya.
"Tunggu!" ucap seorang wanita yang menghentikan langkahnya. Wanita itu menghampiri Alex.
"Kenapa kau melakukan ini, Alex? Mereka semua sudah nyaman bekerja di sini, kenapa tiba-tiba kau menutupnya? Aku tahu kau sudah lama tidak bermain dengan wanita, apa karena itu kau menutup club ini. Kalau gitu ayo lakukan dengan aku tuan Alex, aku akan memberimu dengan gratis. Kau boleh melakukan sepuasnya," ucap seorang wanita yang pernah tidur dengan Alex.
"Maaf, keputusanku sudah bulat. Aku tetap akan menutup club ini," balasnya. Wanita itu menggenggam tangan Alex. Ia mencoba menggoda Alex. Lalu ia mencium bibir Alex tanpa izin.
Tiba-tiba Alex mendorong wanita itu secara kasar.
"Beraninya kau lakukan ini padaku. Brengsek!" bentaknya.
Plakkk... Alex menampar wanita itu.
"Jangan pernah menyentuhku!" tegasnya. Semua orang yang ada di sana kecewa dengan perlakuan Alex. Alex yang dikenal Casanova, Alex yang dikenal pria hebat yang sering meniduri banyak wanita. Kini Alex berubah menjadi pria tegas. Mereka semua kecewa padanya.
"Silakan kalian semua pergi dari sini, saya tidak peduli dengan kekecewaan kalian semua. Niat saya di sini baik untuk memberikan pekerjaan yang halal dan juga layak untuk kalian semua." setelah mengatakan itu, Alex kembali ke lantai atas dimana tempat ia tidur dan beristirahat.
...----------------...
__ADS_1
'