Pengkhianatan Suami Dan Adikku.

Pengkhianatan Suami Dan Adikku.
Episode 39


__ADS_3

Dafa si anak kecil itu masih memeluk erat pada Hanna. Bram mengajak Dafa untuk pulang, namun Dafa menolaknya.


"Sayang ayo pulang dulu," ujar Bram. Dafa menggelengkan kepalanya, ia malah semakin mengeratkan tangannya pada Hanna.


"Aku mau pulang sama Tante cantik, ayah," rengek Dafa.


Bram tersenyum menyeringai pada Alex.


'Lihatlah anakku sangat menyukai Hanna,' ucap Bram dalam hatinya.


Alex mengetahui apa yang sedang Bram bicarakan pada hatinya. Rasanya ia ingin membuat anak itu menangis, Alex sangat kesal melihat Dafa yang manja pada Hanna.


"Maaf sayang, Tante tidak bisa ikut. Tante punya pekerjaan," ucap Hanna mencoba memberi pengertian. Namun Dafa malah menangis, ia semakin mengeratkan tangisannya.


"Hei anak kecil! Jangan menangis di sini, berisik! Kau tahu aku ini bosnya, dia tidak boleh ikut pulang denganmu," ucap Alex dengan tegas membuat Dafa takut. Alex sengaja berbicara seperti itu, karena ia tahu sikap anak kecil yang terlalu dimanja pasti akan melawan nantinya.


Bram langsung melotot pada Alex. Ia sangat geram sudah membuat Dafa ketakutan.


"Kenapa kau berbicara seperti itu, hah! Dia anak kecil, harusnya kau memperlakukan anak kecil dengan baik!" balas Bram dengan nada ketusnya.


"Ck, kau terlalu memanjakan anak itu, harusnya kau jangan terlalu lembut padanya. suatu saat bisa membuat dia melawanmu dan jadi anak pembangkang, seorang ayah harus tegas!" kata Alex. Bram mulai geram dengan kata-kata Alex. Tiba-tiba ia menarik kerah baju Alex.


"Beraninya kau berbicara seperti itu, Alex! Kau tidak berhak berkata seperti itu padaku." Hanna mulai panik melihat Bram dan Alex mulai memanas.

__ADS_1


"Kau tidak pantas menjadi seorang ayah dengan sikapmu seperti itu! Kau lebih pantas melayani banyak wanita di clubmu," lanjutnya lagi. Kemudian Bram melepaskan tangannya dari kerah baju Alex secara kasar.


Alex menarik nafasnya dengan perlahan, hampir saja ia akan memukul Bram. Namun ia tahan. Ia tidak mau Hanna akan kecewa padanya.


Apa yang dikatakan Bram memang benar adanya. Usia Alex yang sudah menginjak kepala tiga, seharusnya ia sudah menikah dan memiliki anak. Namun karena ia seorang Casanova, ia tidak berniat untuk menikah. Apalagi memiliki seorang anak, Alex belum berpikir ke sana. Alex memang pria tegas, ia tidak senang jika melihat anak kecil yang seperti Dafa, apalagi anak itu susah dikasih tau.


"Bram jaga ucapanmu! Jangan berbicara seperti itu pada Alex. Alex pria yang baik, ia hanya memperingati Dafa saja," ujar Hanna ia berbicara pada Bram. Hanna tidak suka dengan kata-kata Bram tadi.


"Ck, kau ini bodoh, Hanna. Kau tinggal bersamanya tapi kau tidak tahu dengan pekerjaan dia. Aku sangat kasihan padamu Hanna, kau mudah tertipu dengan rayuannya. Apa jangan-jangan kau sudah berkali-kali tidur dengannya?" ucap Bram membuat Hanna marah.


Plakkk... Hanna menamparnya, ia geram dengan kata-kata Bram yang diucapkan.


"Jaga mulutmu, Bram. Aku tak pernah melakukan itu dengan Alex! Dia pria baik yang pernah aku temui. Tidak sepertimu, mulutmu terlalu lemas dan tidak bisa dijaga!" tegas Hanna. Kemudian Hanna menarik tangan Alex untuk segera pergi dari hadapan Dafa. Ia tidak peduli pada Dafa yang memanggil namanya. Hanna benar-benar sakit hati dengan kata-kata Bram yang menyakiti hatinya. Ia tidak menyangka dengan sikap Bram yang seperti itu.


Alex yang melihat Hanna menangis, ia langsung memeluk kedalam pelukannya.


"Menangislah, aku tahu kau pasti sakit hati. Apa yang dikatakan Bram memang benar, aku bukan pria..." Hanna menyelanya.


"Cukup Alex, jangan berbicara seperti itu. Kau pria baik yang pernah aku temui," sela Hanna.


Alex ingin jujur saat itu juga, namun Hanna malah menyela ucapannya.


Kemudian Hanna melepaskan pelukannya, dan mengajak Alex untuk segera pulang meninggalkan mall itu. Hanna tidak mau melihat Bram lagi, ia juga tidak mau melihat Dafa yang akan membuat hatinya menangis dan tidak tega.

__ADS_1


"Baiklah, kita pulang," ujar Alex.


Hanna pun mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Alex.


"Maafkan ucapan Bram tadi, kau pasti sakit hati," ujarnya.


"Tidak apa-apa, Hanna. Aku sudah terbiasa dengan kata-kata itu," balasnya. Hanna tersenyum menatap Alex, ia terharu pada Alex yang tidak pernah melawan orang lain yang sudah menyakiti hatinya.


"Terima kasih, kau sudah menjadi pria yang baik. Pria yang tidak pernah emosi dan marah pada siapapun," ucapnya dengan menggenggam tangan Alex.


Alex mengangguk,ia merasa tersindir oleh ucapan Hanna. Selama ini ia tidak pernah mendengar kata-kata (pria baik) untuknya, karena Alex merasa dirinya bukan pria yang seperti itu. Alex terlalu banyak melayani wanita, bahkan ia sering membeli wanita yang masih gadis dan memperkerjakannya di sana setelah ia menikmatinya.


'Ya tuhan, aku sangat berdosa pada wanita ini. Susah sekali untuk jujur padanya. Aku benar-benar takut kehilangan wanita yang aku cintai. Hanna, maafkan aku. Jika kau tahu aku pria bejat, kau pasti akan meninggalkanku. Aku janji mulai saat ini akan berubah untukmu, semoga suatu saat kau bisa menerima masa laluku,' ucap Alex dalam hatinya.


Hari ini juga Alex akan meresmikan dan menutup club itu, setelah ia mengantarkan Hanna pulang kekediamannya.


Alex semakin mengeratkan tangannya pada tangan Hanna, lalu ia mencium punggung tangan itu.


'Maafkan aku Hanna,' ucapnya dalam hati.


Hanna menatap Alex bingung, ia merasa ada yang aneh pada diri Alex.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2