Pengkhianatan Suami Dan Adikku.

Pengkhianatan Suami Dan Adikku.
Episode 44


__ADS_3

Alex membelikan sesuatu untuk Hanna, ia akan berkunjung ke tempat yang ditinggali Hanna.


"Semoga kau menyukainya Hanna," ucap Bram dengan menatap cincin berlian yang akan diberikan pada Hanna.


Setelah sampai sana, Alex langsung masuk ke dalam ruangan yang ditinggali Hanna, Hanna tidak pernah menguncinya kecuali ruang kamar yang ia tiduri.


"Hanna," panggil Alex.


Hanna yang merasa di panggil, ia diam saja tanpa menjawabnya. Entah kenapa hatinya sangat sakit mendengar suara Alex yang memanggil namanya.


"Rupanya kau di sini, Hanna," tanya Alex. Alex tersenyum melihat Hanna yang sedang membaca buku novel.


Namun, Hanna tak melirik sedikitpun ke arah Alex. Ia pura-pura fokus pada bukunya.


Cup...


Alex langsung mengecup pipi mulus Hanna, lalu ia duduk disampingnya.


"Jangan mendekat!" tegasnya.


"Kenapa?" tanya Alex.


"Kalau kau sudah memilki kekasih, jangan mendekat padaku. Kau tidak menghargai perasaan kekasihmu," ujarnya. Akan tetapi Alex malah tertawa mendengar ucapan Hanna.


"Hahaha, kau lucu sekali Hanna. Siapa yang memiliki kekasih? Aku pernah bilang padamu, aku tak punya kekasih," balasnya.


"Kau jangan bohong padaku, Alex. Aku mengetahui semuanya," ucap Hanna. Seketika Alex langsung diam.


Alex membalikkan badan Hanna untuk menghadap padanya, lalu ia menangkup wajah Hanna.


"Kau sudah mengetahui semuanya? Apa yang kau ketahui dariku, apa kau marah setelah tahu kebenaran tentangku?" tanya Alex.


Hanna menganggukkan kepalanya, tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Entah kenapa hatinya sangat sakit setelah tahu tentang Alex.


"Kenapa kau menangis? Apa kau membenciku," tanyanya lagi.


"Kenapa kau perhatian padaku, jika kamu memiliki seorang wanita, Alex." Hanna berkata tegas pada Alex.


"Aku tidak memiliki seorang wanita, Hanna. Siapa yang kamu maksud?"


"Tadi aku pergi ke mall dengan Lily, aku melihatmu dengan wanita. Bahkan wanita itu sangat mesra denganmu," Alex mengerutkan keningnya, ia mengingat tadi siang ada wanita yang memeluknya, bahkan mengecupnya.

__ADS_1


"Dia bukan wanitaku, Hanna. Kali ini aku akan jujur padamu, aku harap kau bisa memaafkan masa laluku," ucapnya. Alex menarik nafas secara kasar lalu ia menatap Hanna.


"Aku pria yang pernah tidur dengan wanita manapun, bahkan itu sudah menjadi kebiasaanku sehari-hari. Aku sering melakukannya, dan aku sangat menyesal. Setelah bertemu denganmu, aku sadar dengan apa yang dilakukan olehku itu salah. Bahkan aku memperkerjakan mereka di clubku. Aku minta maaf Hanna, mulai hari ini aku sudah menutup club itu. Aku akan memberikan pekerjaan yang layak untuk mereka, dan aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun setelah bertemu denganmu Hanna." alex menjelaskannya pada Hanna, walaupun hatinya sangat takut Hanna akan meninggalkannya.


"Untuk apa kau minta maaf padaku, Alex. Aku tidak peduli dengan semua itu, aku bukan siapa-siapa kamu."


Alex mulai menggenggam tangan Hanna, ia mengelusnya dengan lembut. Alex kembali menatap Hanna.


"Aku tahu kau pasti marah, aku minta maaf Hanna. Jika boleh jujur, aku mencintaimu sejak lama. Saat kau memiliki hubungan dengan Revan, aku sangat cemburu. Aku diam-diam mencintaimu, Hanna."


Jantung Hanna berdebar semakin kencang, ia tak menyangka dengan penjelasan Alex.


"Apa maksudmu, Alex?" tanya Hanna.


"Aku mencintaimu sejak lama," jawabnya.


Hanna langsung melepaskan tangan Alex secara kasar. Ia sangat bahagia dengan pengakuan Alex yang menyatakan cintanya. Namun Hanna mengingat kembali bahwa Alex pria yang sering tidur dengan wanita manapun.


"Hanna, aku mencintaimu. Apa kau mau menikah denganku," ucap Alex membuat jantung Hanna semakin berdebar.


"A-apa katamu?"


"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin menikah denganmu, Alex. Apalagi kau pernah tidur dengan banyak wanita."


Alex memejamkan matanya, ia tahu Hanna pasti tidak akan menerimanya. Hatinya sungguh sakit mendengar jawaban Hanna.


"Aku tidak memaksamu, Hanna. Aku tahu kau bukan wanita yang pantas untukku," kata Alex.


"Pergilah dari sini, Alex. Kita tidak mungkin hidup bersama," ucap Hanna.


"Aku akan pergi sekarang, aku akan tetap menunggumu sampai kau menerima cintaku dan mau menikah denganku. Aku akan menunggumu Hanna," ucapnya.


"Aku akan tetap menunggumu sampai kau mencintaiku," lanjutnya lagi.


Alex pergi meninggalkan Hanna yang masih berdiri menatap kepergiannya. Ia mengerti pada Hanna yang kecewa padanya. Ia akan memberi waktu untuk hanna.


'Maafkan aku Alex,' lirihnya. Air matanya kini tak terbendung lagi. Hati dan ucapan Hanna berbeda dengan kenyataannya. Ia mencintai Alex dari hatinya, namun ucapannya berkata tidak. Hanna masih kecewa setelah mengetahui semuanya.


*


Bram melihat Santi dan Sarah sedang memasak didapur bersama. Bram menatap Santi diam-diam. Entah kenapa ia sangat tertarik pada Santi, wanita yang susah untuk ditaklukkan.

__ADS_1


Sedangkan Sarah tersenyum malu, ia merasa Bram menatapnya.


"Santi," ucapnya.


"Ada apa, Sar?"


"Lihatlah kesamping, tuan Bram sedang memperhatikan aku," bisik Sarah pada telinga Santi. Lalu Santi menatap ke arah Bram.


Matanya bertemu dengan Bram, ia merasa takut melihat Bram yang menatapnya dengan tersenyum. Bram memberi senyum pada Santi, tanpa sepengetahuan Sarah.


Santi langsung mengalihkan pandangannya, ia tidak membalas senyuman Bram.


"Benarkan, dia menatapku," tanya Sarah.


"I-iya SAR, sepertinya begitu," ucapnya. Santi menjadi gugup setelah ia saling tatap dengan Bram.


Tak lama kemudian mereka menyiapkan makan malam. Seperti biasa, Sarah selalu mengambilkan makanannya untuk Bram. Sedangkan Santi menyuapi Dafa dengan telaten.


'Kenapa dia selalu menatapku seperti itu, aku jadi takut!' ucap Santi dalam hatinya. Santi menunduki kepalanya, ia tidak mau melihat Bram yang masih menatapnya.


Setelah selesai makan malam, Santi langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan Dafa sedang bermain dengan bi Serly.


"Kak, aku tidur duluan ya. Kepalaku sangat sakit, tadi pagi aku kecapekan," ucap Sarah.


"Apa kau sudah minum obat?" tanya Bram datar.


"Be-belum, kak," Sarah mulai mencari perhatian Bram.


"Mintalah obat pada bi Serly," titahnya.


"Iya, kak. Nanti aku akan minta pada bi Serly," ucap Sarah.


"Kalau gitu, pergilah ke kamarmu. Ini sudah malam,"


"Baik kak," Sarah masih diam di sana. Entah kenapa ia sangat susah untuk melangkah. Sarah sangat menginginkan Bram, ia mencari cara agar Bram bisa menjadi pria satu-satunya.


'Aku harus memberinya sesuatu, agar ia tidur denganku,' ucap Sarah dalam hatinya. Malam ini ia akan melancarkan aksinya. Sudah lama Sarah merencanakan itu semua.


...----------------...


Terima kasih yang sudah baca cerita author, 2 bab lagi akan segera author tamatkan.

__ADS_1


__ADS_2