
Bram menatap Santi yang baru saja di bawa oleh bi Serly. Ia terlihat menyukai Santi sebagai pengasuh anaknya, karena Santi terlihat berpenampilan biasa saja.
"Panggilkan Dafa, bi. Semoga saja Dafa mau di asuh dengan Santi," titahnya pada bi Serly.
"Baik tuan," kemudian bi Serly berlalu dari hadapannya. Santi merasa canggung ditinggal berdua di ruang kerja Bram. Sedangkan Bram biasa saja.
Tak lama kemudian bi Serly kembali bersama Dafa.
"Sayang, ini pengasuh baru untukmu. Ayah mencarikan pengasuh yang kamu inginkan," ucapnya pada Dafa.
Dafa menatap Santi, ia tersenyum pada Santi. Entah kenapa Dafa langsung menyukainya, mungkin Santi terlihat wanita baik di mata Dafa.
"Terima kasih ayah," ujar Dafa.
"Kamu menyukainya?" tanya Bram. Dafa pun mengangguk sebagai jawaban.
"Syukurlah kalau kau menyukainya, ayah tidak perlu mencari pengasuh untukmu lagi," ucap Bram dengan lega setelah beberapa kali ia mencari pengasuh untuk Dafa.
"Bi, bawa dia ke kamar yang dekat dengan Dafa ," titahnya.
"Baik tuan,"
Bi Serly membawa Santi ke ruangan yang akan di tempati Santi.
"Tante, namanya siapa?" tanya Dafa.
"Panggil saja Tante Santi, sayang," jawabnya dengan mengelus rambut Dafa.
"Tante cantik sekali, seperti Tante Hanna," celoteh Dafa.
Santi menghentikan langkahnya, ia merasa tidak asing dengan nama itu.
"Tante Hanna? Siapa dia," tanyanya.
"Tante Hanna itu pengasuh aku, aku sangat menyayangi Tante Hanna. Tapi sekarang Tante Hanna tidak ada di sini, karena Tante Hanna sudah menikah," celotehnya.
"Oh begitu," ucap Hanna menganggukkan kepalanya.
Bi Serly menunjukan ruang kamar untuk Santi.
"Santi ini tempat tidurmu, bibi sudah membersihkan semuanya."
"Loh, kok aku tinggal di sini bi? Kenapa tidak di bawah," tanyanya, Santi bingung kenapa dia harus tinggal di ruangan yang dekat dengan tuannya.
"Tuan Bram yang meminta, agar kamu dekat dengan Dafa. Temanmu juga tinggal di kamar sebelah," ujar bi Serly.
"Jadi Sarah juga di sini? Kalau gitu aku tidak perlu takut," ucapnya.
"Kenapa harus takut?" tanya bi Serly penasaran.
"Hehe tidak apa-apa,bi," jawabnya dengan menggaruk hidung yang tidak gatal.
"Hem, kalau gitu bibi permisi dulu. Bibi masih banyak pekerjaan," kata bi Serly, kemudian ia pergi meninggalkan Santi dan Dafa.
"Dafa sekarang mau main apa?" tanya Santi.
__ADS_1
Dafa menggelengkan kepalanya, lalu ia menatap Santi.
"Aku mau lihat Tante di sini saja, aku bosan harus main terus," celoteh Dafa.
"Baiklah, kalau gitu Tante mau selesaikan dulu ini," tunjuknya pada tas yang berisi baju-bajunya.
"Iya Tante,"
Setelah selesai membereskan baju-bajunya, Santi dan Dafa di panggil bi Serly untuk makan siang bersama.
"Ayo Tante, aku ingin makan ditemani Tante," ajak Dafa.
"Ayo sayang," mereka berdua turun menuju lantai bawah, di sana sudah ada Bram dan Sarah sedang menunggunya.
"Santi, ayo makan dulu," kata Sarah, Sarah sangat senang karena ada Santi di sana.
Santi mengangguk tersenyum, ia merasa canggung harus duduk berhadapan dengan tuannya.
"Kau mau ku ambilkan apa, San?" tanya Sarah.
"Tak perlu, Sar. Biar aku sendiri yang ambilkan," Lalu Santi mengambil piring dan mengisinya. Ia sangat lapar sejak tadi karena ia terpaksa berjalan kaki saat menuju rumah Bram. Ia tidak punya uang sepersen pun untuk mencari pekerjaan.
"Dafa mau disuapi sama Tante," celotehnya.
"Baik, sayang. Dafa mau Tante ambilkan apa?"
"Telur mata sapi, Tante," Biasanya Dafa tidak mau memakan telur buatan Sarah, ia selalu menyuruh bi Serly. Tapi kali ini ia mau memakannya setelah ada Santi.
"Kalian saling kenal?" tanya Bram pada Sarah dan juga Santi.
Santi yang sedang menyuapkan nasi kedalam mulutnya, seketika ia langsung berhenti dan menatap Sarah. Santi tidak mengerti apa maksud perkataan Sarah, yang dia tahu Hanna sangat menyayangi Sarah.
Bram menarik nafasnya secara kasar. "Jangan katakan nama itu didepanku, setelah apa yang dia lakukan padamu, aku jadi membencinya." Bram mengingat kembali saat Hanna mengakui Alex sebagai calon suaminya.
"Iya, kak. Aku minta maaf, aku juga tak menyangka kak Hanna seperti itu. Menyuruh aku untuk berhubungan dengan suaminya," ucap Sarah dengan wajah sendunya, ia ingin dikasihani oleh Bram.
Santi kembali menatap Sarah. "Loh, bukannya kamu yang berselingkuh dengan suami kakakmu?" ucap Santi menimpalinya. Santi terlihat pendiam, tapi ia sering berbicara yang sejujurnya.
Sarah yang mendengar ucapan Santi langsung menyelanya. "Apa katamu, Santi. Kau tidak tahu apa-apa tentang kehidupanku,"
"Loh, bukannya benar kamu yang berselingkuh dengan kakak iparmu? waktu itu aku melihatmu sedang melakukan kiss dengan suami kakakmu," ucap Santi dengan polosnya tanpa mempedulikan Bram yang menatapnya.
"Aw, ssshh," tiba-tiba Sarah menendang kaki Santi.
"Sarah kenapa kau menendang kakiku? Ini sakit, ah," Santi meringis kesakitan karena ulahnya Sarah.
Sarah ingin membungkam Santi saat itu juga, tapi ia tidak berani karena ada Bram.
"Apa benar seperti itu?" tanya Bram pada Santi.
"Iya benar, tuan," jawabnya, tanpa mempedulikan Sarah. Santi menjawab sejujurnya apa yang ia tahu. Ia tidak pernah berbohong pada siapapun.
Sarah mengeratkan tangannya, ia menatap Santi dengan tatapan tidak suka.
"Sarah kau kenapa menatapku seperti itu, apa yang aku katakan memang benar bukan? Kan kamu sendiri waktu itu yang bilang, katamu sedang dekat dengan kakak ipar," ucap Santi dengan wajah polosnya.
__ADS_1
'Dasar bodoh, kenapa dia harus berkata dihadapan Bram. Santi benar-benar bodoh, dia malah membongkar rahasiaku. Aku lupa belum memberitahunya,' ucap Sarah dalam hatinya. Ia sangat kesal pada Santi yang terlalu jujur.
"Haha, kau salah Santi. Waktu itu aku hanya bercanda. Aku tidak pernah berselingkuh dengan suami kakakku," ucap Sarah, ia langsung menarik tangan Santi dan membawanya ke lantai atas.
Melihat Sarah yang seperti itu, membuat Bram semakin curiga padanya.
"Ayah, jadi Tante Santi dan Tante Sarah berteman?" tanya Dafa.
"Iya, sayang."
"Kalau gitu, berarti Tante Santi pasti mengenal Tante Hanna," tanyanya lagi. Bram berpikir dan bertanya-tanya pada hatinya. Apa yang dikatakan anaknya pasti benar.
Kemudian Bram beranjak dari duduknya, ia meminta izin pada Dafa untuk ke kamarnya sebentar.
Bram melangkahkan kakinya ke lantai atas, ia ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan di sana.
Bram mendengar suara yang sedang mengobrol dari dalam kamar Sarah.
"Santi kenapa kau jujur di depan Bram," tanya Sarah.
"Loh, memangnya kenapa? Kan aku berkata jujur, apa salahku?" jawabnya tanpa rasa salah.
"Santi kenapa kau bodoh sekali sih!" Sarah mulai kesal pada Santi.
"Kau tahu, aku ini sedang mengambil hati tuanku. Kau jangan membicarakan masa laluku pada dia," tegasnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Santi.
"Ya ampun Santi, kau benar-benar bodoh. Aku baru ingat, kau memang temanku yang paling bodoh!" kesalnya.
"Kata ibuku, kita harus berkata jujur pada siapapun. Jangan pernah berbohong sekali pun, itu dosa Sarah."
"Ya aku tahu, Santi. Tapi bukan begitu juga, mending kamu jangan bekerja di sini. Rahasiaku jadi terbongkar olehmu," ujarnya.
Bram semakin merapatkan telinganya pada pintu. Ia semakin penasaran dengan kata-kata Sarah.
"Lalu aku harus kerja dimana? Kalau tidak kerja aku tidak bisa membiayai pengobatan ibuku,"
"Begini saja, San. Kamu pulang saja, bilang saja pada tuan Bram bahwa kamu tidak bisa bekerja di sini lagi karena ibumu tidak ada yang mengurus," ucap Sarah mulai mempengaruhi Santi.
"Mana bisa begitu, aku sudah membayar orang untuk mengurus ibuku selama 3 bulan," jawabnya.
Sarah mulai kesal pada Santi.
"Kau ngerti apa maksudku tidak!" bentaknya.
"Kenapa kau malah membentakku, aku akan tetap di sini mencari uang untuk pengobatan ibuku," ketusnya, ia tak mau kalah pada Sarah.
Bram yang mendengarnya menjadi marah pada Sarah, ia mengepalkan tangannya dengan erat.
'Jadi kau membohongiku,' ucapnya dalam hati. Kemudian Bram kembali ke lantai bawah. Ia cukup tahu apa yang telah dikatakan Sarah.
Cerita berfokus dulu pada kedatangan Santi ya, hehe...
...----------------...
__ADS_1