
Revan terkejut dengan berita yang disampaikan oleh bawahannya.
"Kau serius?" tanya Revan.
"Ya tuan, tuan Alex telah meresmikan malam ini," jawabnya.
"Tidak mungkin! Kenapa Alex tiba-tiba menutupnya? Padahal club itu perusahaannya paling besar bahkan terkenal," ucap Revan bertanya-tanya.
Revan penasaran, ia pun segera mengambil kunci mobilnya untuk menemui Alex.
Menurut Revan Alex tidak mungkin menutupnya, apalagi Revan tahu semua perlakuan Alex yang sering bermain dengan wanita dan itu sudah menjadi hobinya. Revan tidak tahu bahwa pria Casanova itu tidak seperti dulu lagi.
Setelah sampai di club, Revan melihat semua orang di sana masih berkumpul dan protes pada asisten Alex. Semua orang memandang revan dengan penuh permohonan, mereka berharap Revan bisa membantunya.
Revan tidak mempedulikan semua orang di sana. Ia langsung naik ke lantai atas untuk menemui Alex.
"Alex," panggil Revan pada Alex yang sedang menikmati secangkir kopi di ruang tamu.
"Ada apa? Tumben kau ke sini malam-malam," tanyanya.
"Aku ingin berbicara padamu,"
"Apa? Kau mau protes karena aku sudah menutup club ini. Keputusanku sudah bulat, Rev. Aku akan membuat perusahaan baru di sini," jawabnya.
"Kau tahu, mereka semua masih betah dengan pekerjaannya. Kenapa kau tiba-tiba menutup club ini," protes Revan.
"Justru itu aku ingin menutupnya agar mereka tidak bekerja seperti itu lagi, ternyata kau juga sudah betah tidur dengan banyak wanita. Aku juga ingin mengembalikan dirimu kembali ke asal," ucap Alex.
Revan menarik nafasnya secara kasar. Ia merasa ada yang aneh pada diri Alex.
"Kalau begitu aku akan membeli club ini," ucap Revan. Alex yang sedang menikmati kopinya tiba-tiba terkejut dengan ucapan Revan. Ia langsung menatap Revan dengan serius.
"Apa katamu?" tanyanya.
"Aku akan membeli club ini," jawabnya.
Alex tertawa dengan renyah menanggapi ucapan Revan.
"Hahaha, tidak mungkin kau membeli club ini. Kau pria yang paling benci dengan club, bahkan dulu kau hampir menonjokku karena tidak suka aku membuka club. Tapi sekarang kau malah ingin membelinya, lucu sekali dirimu ini," ucap Alex menertawainya.
"Aku serius, Alex," ucapnya membuat Alex diam dan kembali menatapnya.
__ADS_1
Alex menarik nafasnya secara kasar.
"Aku tidak akan menjual club ini, aku sudah bilang padamu akan menjadikan perusahaan. Jika kau ingin membuka club, buatlah sendiri. Tapi aku berharap tidak, semoga kau tidak melakukannya," ucap Alex.
"Baiklah aku akan membuka club sendiri dan membawa mereka," jawab Revan. Kemudian Revan berlalu dari hadapan Alex.
Setelah kepergian Revan, Alex menatap langit-langit kamarnya dan berbaring di atas tempat tidur. Ia membayangkan Revan si pria paling anti dengan club tapi sekarang ia akan membuka club sendiri.
"Aku tak menyangka padamu, Revan. Aku merasa bersalah padamu dan juga semua orang," ucap Alex. Lalu Alex menatap ponselnya ada pesan masuk untuk dirinya.
"Hanna," ucapnya. Ia langsung bangun dan membuka pesan itu.
"Alex terima kasih untuk semuanya, semoga malam ini tidurmu nyenyak,"
Alex mengucek matanya berkali-kali, baru kali ini ia melihat pesan masuk dari Hanna. Biasanya Alex yang selalu lebih dulu mengirim pesan pada Hanna.
Alex tersenyum melihat isi pesan itu. Lalu Alex membalas pesannya.
"Sama-sama istriku," dengan memberi emoticon love dan emoticon ketawa.
Hanna yang menerima balasan dari Alex merasa senang. Entah kenapa sekarang ia sangat menunggu pesan dari Alex.
*
Seperti biasa pagi hari Sarah selalu menyiapkan sarapan untuk Bram dan juga Dafa. Bi Serly sempat melarangnya, namun Sarah tetap melakukannya. Bi Serly tidak suka dengan Sarah yang terlihat seperti nyonya dirumah Bram.
"Kak, mau sarapan dengan apa?" tanya Sarah.
"Terserah saja," jawabnya, membuat Sarah kesal.
Sarah pun mengambilkan nasi dan lauk untuk Bram.
"Aku tidak mau sarapan ini, aku mau telur mata sapi," ucap Dafa.
"Kalau gitu Tante buatkan dulu, ya,"
"Tidak usah Tante, aku mau dibuatkan sama bi Serly saja." Dafa sangat tidak suka melihat Sarah yang sering perhatian pada ayahnya.
Bi Serly tersenyum, akhirnya ia bisa membuatkan sarapan untuk tuannya. Sudah lama ia tidak memasak, karena Sarah selalu melarangnya.
Setelah selesai sarapan, Bram kembali ke lantai atas. Hari ini ia libur ke kantor, jadi ia akan melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja.
__ADS_1
"Permisi tuan," ucap bi Serly.
"Ada apa bi?"
"Saya sudah menemukan seseorang untuk pengasuh Dafa," ujar bi Serly. Sebelumnya Bram pernah menyuruh bi Serly untuk mencari seorang wanita sebagai pengasuh Dafa karena Dafa tidak mau dengan Sarah.
"Bagus, kalau gitu bawa dia sekarang. Aku berharap anakku akan menyukainya,"
"Baik tuan, saya akan membawanya ke sini. Sepertinya dia sudah ada di depan gerbang karena saya yang menyuruh dia pagi-pagi ke sini," kata bi Serly.
"Bagus, aku suka dengan cara kerja bi Serly," ujarnya.
Kemudian bi Serly kembali ke lantai bawah, di sana sudah ada Sarah dan wanita pengasuh Dafa. Mereka berdua sedang mengobrol dan terlihat sangat akrab.
"Santi aku senang bisa bertemu denganmu lagi, jadi kau akan kerja di sini?" tanya Sarah pada temannya bernama Santi. Mereka berdua pernah kuliah bersama. Sampai saat ini Sarah belum tahu bahwa Santi lah yang pernah memberitahu perselingkuhannya pada Hanna (kakaknya).
"Iya, Sar. Aku sudah tidak punya biaya untuk kuliah, jadi aku mau bekerja di sini. Apalagi ibuku sedang sakit-sakitan," jawab Santi dengan menunduk. Ia sangat sedih harus berhenti kuliah karena kendala biaya, ia juga harus membiayai ibunya yang sedang mengidap penyakit.
"Kasihan sekali kamu, San. Semoga kamu betah di sini, ya. Aku senang bisa bekerja bersama kamu," kata Sarah. Santi pun mengangguk menanggapi ucapannya.
"Kau tahu tidak, pemilik rumah ini sangat tampan dan dia juga menyukaiku. Aku selalu diperlakukan dengan baik olehnya," bisik Sarah pada telinga Santi.
Santi hanya mengangguk menanggapinya, ia sudah tahu dengan sikap Sarah yang seperti itu.
Kemudian bi Serly menghampiri mereka dan mengajak Santi untuk bertemu dengan Bram.
"Santi, tunggu!" Sarah menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Sar?" tanyanya. Sarah kembali berbisik pada telinga Santi.
"Kau jangan terpesona, dia milikku. Ingat itu,"
"Mana mungkin? Aku belum pernah terpesona dengan pria manapun, bahkan sampai sekarang aku belum memiliki kekasih," bisiknya lagi pada Sarah.
"Aku percaya padamu, Santi. Silakan temui tuanku," ucapnya. Kemudian Santi kembali melangkah ke lantai atas dengan bi Serly.
Entah kenapa Sarah merasa takut Bram akan menyukai Santi. Karena Santi tak kalah cantik darinya. Apalagi Santi terlihat baik dan polos.
Namun Sarah percaya pada Santi, Santi teman yang baik. Ia tidak pernah merebut pria yang disukai Sarah, bahkan Santi belum pernah memiliki kekasih. Santi sangat takut menjalani hubungan dengan pria, karena dulu ayahnya sering berlaku kasar pada sang ibu hingga ia memiliki rasa trauma pada pria, dan Sarah mengetahui itu karena Santi sering bercerita.
...----------------...
__ADS_1