
Alex mengajak Revan masuk ke lantai dua untuk berbincang-bincang soal pekerjaannya.
"Bagaimana perusahaan ayahmu yang diluar negri?" tanya Revan pada Alex.
"Baik-baik saja, aku ke sini untuk bekerja sama dengan perusahaanmu," Revan menganggukkan kepalanya.
Alex menatap Revan dengan seksama, ia ingin sekali bertanya tentang Hanna.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Revan. Alex langsung memalingkan wajahnya.
"Aku ingin bertanya padamu?"
"Silakan, kau ingin bertanya soal apa?" tanyanya.
"Soal Hanna, apa dia sudah tidak menjadi istrimu lagi? Atau kamu menikahi dua orang wanita?" tanya Alex dengan hati-hati.
"Aku sudah bercerai, aku terlalu bodoh membuang berlian demi tumpukan sampah."
"Apa maksudmu?" tanya Alex lagi, ia ingin tahu kehidupan rumah tangga Revan yang tiba-tiba menikahi Sarah.
"Aku berselingkuh dengan Sarah di belakangnya, Sarah sering menggodaku." Alex mengangguk mengerti.
"Jadi kau ketahuan selingkuh dengan adiknya? Lalu sekarang dia ada dimana?" tanya Alex penasaran.
"Aku tak tahu dia dimana? Aku sedang mencarinya,"
Revan menceritakan semua pada Alex. Tentang ia yang mengkhianati istrinya lalu ia bercerai, bahkan ia menceritakan dirinya sendiri yang sangat menyesal. Di sisi lain Alex tersenyum bahagia, ia merasa ada kesempatan untuk mendapatkan Hanna wanita yang selama ini ia cintai.
Sarah menangis di kamarnya, ia melempar semua barang yang ada di sana. Ia tak peduli pada barang berharga milik Alex. Sarah benar-benar sakit hati dengan kata-kata mantan suaminya.
'Revan!' ucapnya dalam hati dengan mengepalkan jari tangannya.
Tak lama kemudian Alex datang, ia melihat se isi ruangan itu berantakan. Kemudian ia menghampiri Sarah.
"Kau kenapa? Beraninya kau membuat barang-barangku pecah!" bentaknya.
"Maaf," ucap Sarah dengan pelan namun masih terdengar di telinga Alex.
"Lebih baik kau pergi saja dari sini! Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi." Sarah langsung menatap Alex.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Bukankah kau yang menyuruhku untuk tinggal di sini?"
"Kalau kau butuh pekerjaan, kau boleh tinggal di sini. Tapi bukan di ruangan ini," ujarnya. Alex tidak mau tidur dengan Sarah lagi setelah ia tahu bahwa Sarah mantan istri Revan.
"Kenapa kau harus mengusirku, aku sudah menyerahkan padamu?"
"Aku tidak butuh itu! Masih banyak wanita diluar sana yang ingin meyalaniku. Pergilah, nanti akan ada seseorang yang membawamu ke tempat tidurmu yang baru," ucapnya.
Tak lama kemudian seorang wanita datang, ia mengajak Sarah untuk pergi dari sana.
"Aku tidak mau, aku tetap ingin di sini," ujar Sarah menolak.
"Kau ingin ku usir, atau menuruti perintahku!" bentak Alex. Sarah terpaksa harus menuruti keinginan Alex, ia tak jika dirinya harus pergi dari sana. Ia tak mau hidup jadi gelandangan.
"Ikutlah bersamaku, kau akan banyak teman di sana," ucap wanita yang baru saja mengajaknya.
Sarah mengikuti langkah wanita itu, ia melihat banyak pasangan yang bermesraan di sana. Sarah merasa jijik melihatnya. Banyak wanita muda dengan pria tua yang berpasangan, Sarah langsung merinding.
"Siapa namamu?" tanya Sarah pada wanita itu.
"Panggil namaku Salsa,"
"Sebentar lagi sampai, di sana tempat tinggalnya," ucap salsa dengan menunjuk ke arah ruangan yang berada di pojokan.
Salsa membuka handle pintunya, ia menyuruh Sarah untuk masuk ke sana. Ruangan yang sempit untuk Sarah tinggal, ia merasa sesak melihatnya.
"Serius kau menyuruhku untuk tinggal di ruangan yang sempit ini?" tanya Sarah.
"Ya, lalu kau ingin tinggal dimana? Hanya ruangan itu yang tersisa untukmu. Kalau kau tak mau lebih baik pergi saja dari sini." Kemudian Salsa meninggalkan Sarah sendirian. Banyak pria tua yang menggodanya, namun Sarah menolak.
"Pergi kalian dari sini!" bentaknya. Mereka bahkan tidak pergi sama sekali, mereka semakin menggodanya. Hingga Sarah berteriak sekeras mungkin dan semua orang menatapnya dengan tatapan tajam.
*
Sudah dua hari Dafa pulang ke rumahnya, ia tak mau makan jika tidak ada Hanna. Dafa sering melamun sendirian bahkan ia selalu marah-marah.
"Dafa... Sarapan dulu, ya," bujuk bi Serly.
Pranggg...
__ADS_1
Dafa melempar piring yang berisi makanan, ia tak mau makan jika bukan Hanna yang membujuknya.
Bram yang sedang berada di ruang kerjanya, ia mendengar pecahan beling dari kamar Dafa. Bram segera menutup laptopnya lalu ia bergegas menuju kamar Dafa.
"Dafa! Apa yang kamu lakukan?" ucap Bram, lalu ia menghampiri Dafa.
"Bi, tolong segera bersihkan," titahnya pada bi Serly.
Bram langsung memeluk Dafa lalu ia mengecup keningnya.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa tidak mau makan, kasihan bi Serly sudah memasak yang enak untuk Dafa," bujuknya.
"Aku tidak mau makan, ayah! Aku ingin Tante cantik ada di sini,"
"Kan ayah sudah bilang, Tante cantik pulang kampung dulu. Nanti dia pasti ke sini lagi," ucap Bram mencoba memberi pengertian.
"Ayah bohong! Aku mendengar ayah menyuruh seseorang untuk menemukan Tante cantik. Apa ayah sudah mengusirnya?" tanya Dafa penuh selidik.
"Tidak sayang, ayah tidak mengusirnya. Ayah Hanna marah padanya karena melihat kamu terbaring terbaring lemah," mendengar kata-kata Bram, Dafa langsung menangis menyebut nama Tante cantik.
"Tante cantik tidak salah, ayah. Aku yang membeli es krim keluar. Tante cantik tidak tahu kalau aku membeli semua es krim itu. Kenapa ayah marah padanya? Tante cantik tidak salah," celoteh Dafa.
"Apa benar seperti itu?" tanyanya. Dafa mengangguk dengan menunduk.
"Kenapa kamu nakal sekali Dafa! ayah sudah bilang jangan pernah beli es krim," ucap Bram dengan nada sedikit meninggi. Ia tak menyangka anaknya sendiri yang telah berbuat salah.
Dafa merasa takut dengan bentakan ayahnya, ia langsung berlari pada bi Serly yang baru saja kembali ke kamarnya.
"Dafa ada apa?" tanya bi Serly. Bi Serly melihat Bram yang sedang marah. Ia langsung memeluk Dafa untuk menenangkannya.
Bram meninggalkan Dafa tanpa mempedulikannya. Ia benar-benar kesal pada anaknya sendiri.
Bram langsung menghubungi orang suruhannya untuk segera mencari Hanna.
'Hanna, dimana kamu?' ucapnya dalam hati. Bram merasa bodoh telah mengusir Hanna yang tidak bersalah.
"Argh..." teriak Bram.
...----------------...
__ADS_1