
Pagi hari ini Sarah menyiapkan sarapannya untuk Revan, biasanya Hanna lah yang sering menyiapkan semuanya. Namun, kali ini sarah yang akan melayani Revan sebagai calon suaminya.
Revan turun dari tangga, ia melihat Sarah yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Entah kenapa tak seperti biasanya, di saat ada Hanna ia merasa jika Sarah wanita yang ia cintai. Tapi setelah Hanna tidak ada di sana, kini perasaan untuk Sarah terasa hilang.
"Kak, sarapan dulu,"
"Hem,"
Sarah segera mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Revan.
"Ini kak, aku memasak kesukaan kakak,"
"Terima kasih," balasnya.
Tidak ada suara di antara mereka, tidak ada tatapan dari Revan, bahkan tidak ada senyuman yang terlukis dari bibir Revan.
Sarah merasa dirinya diacuhkan, ia merasa banyak perubahan dalam diri Revan. Seketika Sarah merasakan mual di perutnya, Revan menatap aneh pada Sarah yang tiba-tiba berlari ke toilet.
"Sarah, cepetan! Kenapa kau lama sekali. Sedang apa kau di sana?"
"Sebentar, kak!" teriak Sarah dari dalam toilet.
Tak lama kemudian Sarah pun keluar dengan wajah pucatnya.
"Kau kenapa?" tanya Revan.
"Aku mual, kak."
"Kau mau kuliah atau tidak? Ini sudah siang, aku mau ke kantor."
"Mau, kak. Tunggu sebentar!" Sarah berlari ke kamarnya untuk mengambil tas.
Tak lama kemudian ia kembali, namun Revan sudah tidak ada di sana. Revan sudah lebih dulu menunggunya di mobil.
__ADS_1
"Maaf, kak. Aku lama, ya," Revan tak menjawabnya, ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tak seperti biasanya ia sering berlama-lama di jalan dengan Sarah, kali ini Revan tak menyentuh Sarah sedikit pun. Bahkan setiap hari ia selalu mengecupnya, tapi kali ini ia tak melakukan lagi.
"Kak,"
"Kenapa?"
"Kenapa kakak tak seperti biasanya?"
"Apa maksudmu?" Sarah mendekatkan bibirnya pada bibir Revan.
Cup... "Kenapa kakak tidak seperti ini lagi, aku rindu." Revan menarik nafasnya dengan kasar Tak ada desiran lagi di saat ia dekat dengan Sarah.
"Jangan pernah lakukan ini lagi padaku,"
"Kenapa?"
"Kita sudah tidak ada hubungan lagi," ucapnya dengan nada pelan, namun masih terdengar di telinga Sarah. Mata Sarah mulai berkaca-kaca, saat ini ia ingin nangis, marah, dan kecewa.
"Kenapa? Bukankah kakak berjanji akan menikahiku," tanya Sarah dengan menatap manik Revan.
"Sejak kapan kau punya pikiran seperti itu, Sarah. Kau sangat konyol sekali."
Kemudian Sarah menggenggam tangan Revan, ia menatapnya dengan tatapan serius.
"Tolong jangan begini, kak. Aku rindu sikap kakak yang kemarin. Kenapa setelah kak Hanna pergi, kakak berubah padaku, bukankah kita berjanji akan hidup bersama."
"Entahlah, Sarah. Aku tak tahu dengan hatiku, setelah kepergian kakakmu, aku merasa menyesal telah mengkhianatinya. Kita sudahi saja hubungan ini, kau boleh tetap tinggal di rumahku walaupun hubungan kita telah selesai." Sarah menggelengkan kepalanya, air matanya kembali tumpah mendengar penuturan Revan.
"Kenapa kakak ingkar, bukankah kakak juga ingin memilikiku. Kakak sudah merenggut kesucianku, bagaimana mungkin kakak mengabaikanku seperti ini?"
"Ck, kita berhubungan mau sama mau, bukan aku yang memaksamu. Terima saja konsekuensinya, dan aku memintamu untuk menggugurkan bayi yang ada di kandunganmu, aku tak ingin bayi itu lahir!" tegasnya.
Deg, hati Sarah begitu sakit mendengar apa yang dikatakan Revan. Ia benar-benar tak menyangka Revan bisa sejahat itu.
__ADS_1
"Kak ini anakmu," ucapnya dengan memegang perut. "Aku tak mungkin membunuhnya, dia anakmu, kak."
Revan merasa pusing dengan celotehan Sarah, bagaimana pun ia tak menginginkan bayi yang dikandung Sarah.
"Diam! cepat turun dari sini."
"Tidak, kak. Aku butuh tanggung jawab kakak!"
"Pergi, atau aku akan memaksamu keluar dari mobil ini?" Sarah menatap tak percaya, ia pun segera keluar dari mobil dengan perasaan kecewanya.
Setelah kepergian Revan, Sarah kembali menangis. Ia menyesal telah melakukan hubungan terlarang dengan kakak iparnya, sehingga ia harus mengandung benih dari Revan.
Santi melihat Sarah dari jauh, kemudian ia menghampiri Sarah.
"Sarah!" panggilnya.
"Ya, ada apa?"
"Kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa, San." Santi mengangguk mengerti, ia tahu bahwa Sarah sedang ada masalah. Ia juga sudah tahu bahwa Hanna pergi dari rumah. Waktu itu Hanna menghubungi Santi bahwa dirinya telah mengetahui perselingkuhan suami dan adiknya, Hanna sangat berterima kasih pada Santi karena sudah memberitahu pengkhianatan suami dan adiknya, hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan dan pergi meninggalkan Revan.
Di kantor, Revan tidak fokus dengan pekerjaannya. Ia memikir Hanna entah dimana ia berada. Revan sangat menyesal telah mengkhianati istrinya.
Asisten Revan masuk memberikan sebuah surat dari orang tak dikenal.
"Tuan, ini ada surat dari seseorang,"
"Surat apa?"
"Saya tidak tahu, tuan. Lebih baik anda buka saja,"
Kemudian Revan membuka surat itu dan membacanya. Seketika jantung Revan berdebar, ia mengepal kertas itu dengan penuh kekecewaannya. Ia tak menyangka Hanna akan mengambil tindakan secepat ini dengan memberinya surat perceraian.
__ADS_1
"Hanna, kenapa kau melakukan ini padaku. Aku harus berbuat apa agar kau bisa memaafkanmu," lirihnya, dengan penuh penyesalan terhadap Hanna.
...----------------...