
"Hanna," panggil Lily teman floristnya.
"Ada apa Li?" jawab Hanna.
"Kita belanja yuk, kemarin kan kita udah gajian. Sekali-kali kita jalan-jalan yuk," ajaknya.
"Sepertinya aku tidak bisa Li, kemarin aku sudah belanja dengan Alex. Upps," Hanna langsung menutup mulutnya, ia keceplosan pada temannya.
"Cie, aku tahu. Kau sedang dekat dengan pak Alex kan, lagian aku juga tahu," ucapnya.
"Tahu, tahu apa maksudmu?"
"Pak Alex menyukaimu, dari cara memperlakukanmu berbeda dengan aku dan yang lainnya," kata Lily.
"Tidak Lily, mungkin hanya penglihatanmu saja yang salah," Hanna mengelak.
"Ya sudah kalau gitu kamu harus ikut dengan aku, temani aku hari ini saja atau aku akan menyebarkan hubunganmu," ancam Lily.
Hanna terpaksa menemani Lily untuk berbelanja, ia tidak mau jika temannya menyebarkan hubungannya dengan Alex. Padahal mereka tidak ada hubungan apapun, Alex juga tidak menyatakan cinta pada Hanna. Hanna takut dirinya terlalu berharap.
"Terima kasih, ya. Sudah menemani aku hehe," ucap Lily.
"Iya Li, sekali-kali aku temani kamu," balas Hanna.
Mereka berdua naik taxi untuk menuju mall yang pernah Hanna dan Alex kunjungi.
"Kau mau ke mall yang ada di sana? harganya kan terlalu mahal bagi kita Li," tanya Hanna.
"Tenang saja Hanna, aku hanya mengunjunginya saja. Aku hanya ingin tahu isinya, walau tidak beli apapun," jawab Lily.
Hanna menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Lily.
"Ada-ada saja kamu, Li," ucap Hanna.
Hanna menatap ke arah jendela mobil saat mobil yang ditumpanginya berhenti, ia melihat orang berkerumun di luar rumah mewah. Namun ia melihat orang yang selama ini ia kenal.
Dia adalah Alex, Hanna melihat Alex sedang di gandeng mesra oleh wanita cantik. Entah kenapa hati Hanna merasakan nyeri.
'Kenapa aku harus berharap pada dia, dia memiliki wanita cantik. Tidak sepertiku yang seperti batu kerikil,' ucap Hanna dalam hatinya, yang lebih mengejutkan lagi Hanna melihat wanita itu mengecup Alex.
"Hanna," panggil Lily.
"Eh iya Li, kenapa?" tanya Hanna.
__ADS_1
"Kau tidak perlu cemburu melihat pak Alex seperti itu," ujarnya.
"Apa maksudmu?" tanya Hanna bingung.
"Pak Alex itu seorang Casanova, dia sering main dengan wanita manapun. Jadi kau tidak perlu cemburu pada pak Alex. Dia memang pria yang sering tidur dengan wanita manapun," ucap Lily.
Deg, hati Hanna bagai disambar petir mendengar ucapan temannya.
'Pria mana lagi yang harus ku percayai?' ucapnya dalam hati.
"Tapi apa kau tahu Hanna, pak Alex pria yang baik pada bawahannya, dan lebih mengejutkan lagi pak Alex menutup club itu." Lily menjelaskan pada Hanna.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Pak Alex pemilik club terbesar di negara ini, hari ini dia sudah menutup clubnya. Makannya banyak orang berkerumun di sana," ucapnya, Hanna hanya mengangguk menanggapi ucapan temannya. Ia kecewa dan sakit hati pada dirinya sendiri, ia terlalu cepat berharap pada seorang pria.
Mobil yang ditumpangi Hanna dan Lily mulai melaju kembali setelah lampu merah berganti dengan lampu hijau.
Brakkk... Alex mendorong wanita yang ada dihadapannya.
"Berani sekali kau menyentuhku, cuih," bentak Alex pada wanita itu.
"Kenapa kau berubah Alex, kenapa?" teriaknya.
Alex sangat kesal pada wanita yang menciumnya tanpa izin. Entah kenapa ia jadi merasakan jijik dan mual melihat wanita yang seperti itu. Padahal dulu ia sering tidur dengannya, bahkan ia biasa saja jika diperlakukan seperti itu.
"Bawa wanita itu keluar! Jangan sampai ia kembali lagi ke sini," titah Alex pada asistennya.
"Baik tuan,"
Wanita itu berteriak mengatai Alex dengan mulut kotornya, Alex pun tidak peduli dan tidak mendengarkan teriakan wanita itu. Ia tetap melangkahkan kakinya ke lantai atas.
Hari ini Alex akan merenovasi rumah mewahnya untuk dijadikan kantor perusahaan. Semua orang yang pernah bekerja di club Alex, kini mereka berpindah pada club Revan yang baru saja diresmikan.
Revan membuka club di rumahnya sendiri, ia tidak peduli pada Bu Rohanah yang marah padanya. Entah kenapa sejak ia bercerai dengan Hanna malah menjadi anak pembangkang.
*
Bram kembali ke lantai atas setelah melihat Sarah pergi berbelanja.
Bram melihat Santi yang sedang membersihkan guci miliknya. Tiba-tiba ia langsung menarik tangan Santi.
Santi terkejut apa yang dilakukan tuannya.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku, tuan. Apa yang kau lakukan!" bentaknya.
Bram terus menarik tangan Santi menuju kamarnya.
"Ssssttt, aku ingin berbicara denganmu," ucapnya.
"Kenapa kau membawaku kesini? Lepaskan tanganku tuan, aku tidak suka di sentuh!" bentak Santi. Bram baru menemukan wanita seperti Santi, ia merasa lucu melihat Santi yang ketakutan.
"Jangan berisik, aku hanya ingin bicara denganmu tentang apa yang Sarah lakukan dulu."
"Tapi tolong lepaskan tanganku, dan aku tidak mau berbicara di sini." Santi menatap ke sekeliling ruang kamar milik Bram. Ia bergidik ngeri membayangkannya.
"Aku hanya ingin berbicara saja, aku tidak mau Sarah mendengar. Sebentar lagi ia pasti pulang. Cepat ceritakan!" titahnya. Namun Santi merasa risih berbicara di kamar pria, ia langsung melangkahkan kakinya keluar dengan sedikit berlari.
Namun Bram menarik tangannya kembali, hingga Santi terjatuh dipelukannya.
"Apa yang kau lakukan tuan, jangan sentuh aku. Tolong..." teriak Santi.
Bram langsung membekap mulut Santi agar ia tidak berteriak.
"Santi, jangan berteriak! Aku hanya butuh penjelasanmu bukan untuk memperkosamu. Kau bodoh! Aku tak mungkin melakukan itu,"
"Tetap saja kau menyentuhku seperti ini berarti kau mau memperkosaku tuan, tolong..." Santi kembali berteriak.
Bi Serly yang sedang didapur langsung berlari ke lantai atas. Ia takut Santi kenapa-kenapa di sana.
"Tolong... Jangan perkosa aku tuan,"
"Argh sial!" Bram kembali membekap mulutnya, awalnya ia berniat untuk berbicara empat mata dengan Santi. Ia ingin tahu apa yang pernah dilakukan Sarah.
Bi Serly melihat Bram yang sedang membekap mulut Santi, sedang Santi memberontak untuk menjauh dari tuannya. Bi Serly malah tersenyum senang melihatnya.
'Aku kira kenapa?' ucap bi Serly dalam hati dengan menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian Bram melepaskan Santi, ia sangat lelah menyuruh Santi untuk diam. Namun Santi tetap berteriak. Santi yang merasa dilepaskan, ia langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu.
'Astaga, baru kali ini aku menemukan wanita seperti dia,' ucap Bram dengan kesal.
"Aku ternodai, sialan! Pria itu berani menyentuhku," Santi langsung masuk ke kamar mandi, ia membersihkan tubuhnya di sana.
Selama ini Santi belum pernah bersentuhan dengan pria manapun, walaupun itu bersentuhan dengan tangan pria. Jadi ia merasa badannya tidak enak setelah Bram menyentuh tangan dan mulutnya. Bahkan ia terjatuh di pelukan Bram.
Bram terpaksa menahan diri untuk tidak mencari tahu dulu.
__ADS_1
...----------------...