
Hari ini Revan menghubungi Alex untuk bertemu di club milik Alex. Ia ingin marah pada Alex melihatnya bersama Hanna.
Alex turun ke lantai bawah, di sana sudah ada Revan yang sedang berdiri menunggunya.
"Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Alex. Revan yang mendengar suara Alex, ia langsung berbalik badan dan menatap Alex dengan tatapan tajamnya.
Revan ingin melayangkan tangannya pada Alex, namun ia tahan. Karena Alex saudaranya dan ia juga tak berhak untuk melakukan itu.
Revan menarik nafas secara kasar lalu ia menatap serius pada Alex.
"Kau mau berkhianat padaku?" ucap Revan.
"Apa maksudmu?" tanya Alex bingung.
"Ck, pura-pura bodoh. Semalam aku melihatmu dengan Hanna. Apa yang kau lakukan padanya?" Revan kembali bertanya dengan mengeratkan jari tangannya. Ia tahu Alex seorang Casanova yang sering bermain dengan wanita manapun. Namun saat mantan istrinya bersama Alex, ia tidak rela Hanna dicicipi oleh saudaranya.
"Jadi semalam kau melihatku? Kenapa kau harus marah, bukankah dia mantan istrimu?" kata Alex dengan santainya.
"Ya, aku tahu. Hanna memang mantan istriku. Tapi jangan kau jadikan dia teman tidurmu. Aku tak mau jika Hanna kau embat juga." tegasnya.
Revan berpikir Alex telah tidur bersama Hanna, namun pada kenyataannya Alex tidak melakukan itu.
Alex tertawa menanggapinya. "Aku terlanjur menidurinya, Rev. Aku pikir boleh mencicipinya karena dia sudah jadi mantan istrimu," ucap Alex mencoba membohongi Revan.
"Sialan!" geramnya. Revan ingin melayangkan tangannya pada Alex, namun Alex menahannya.
"Kenapa? Apa aku salah, meniduri wanita yang sudah jadi mantan istrimu? Kenapa dulu kau mengabaikannya dan malah berselingkuh dengan adiknya yang bernama Sarah itu,"
"Diam kau! Jangan sok tahu tentang rumah tanggaku dulu," kesal Revan.
"Bukankah kenyataannya seperti itu? Ah sudahlah aku tidak mau berdebat soal mantan istrimu, lebih baik kita bersaing saja agar lebih bagus!" ucap Alex. Kemudian Alex pergi meninggalkan Revan yang masih berdiri di sana.
"Awas saja kau Alex!" geramnya.
Alex kembali masuk ke kamarnya. Ia mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Alex membayangi Hanna wanita yang selama ini ia cintai.
'Hanna, aku akan merubah kebiasaanku untukmu. Setelah aku bertemu denganmu, aku tak pernah bermain wanita lagi. Kau wanita ajaib yang bisa mengubah hidupku. Aku akan menutup club ini demi kamu, aku ingin hidup layaknya seperti orang-orang. Semoga kamu tidak akan mengetahui bejadnya aku. Aku ingin berubah demi kamu,' ucapnya dalam hati dengan menatap foto Hanna dari ponselnya.
__ADS_1
Alex sudah memikirkannya dari lama. Ia ingin menutup club miliknya. Alex berencana akan membuka cabang perusahaan di tempat bekas clubnya. Ia juga sudah memberitahukan pada asistennya.
*
Pagi hari ini Sarah bangun lebih awal, ia menyiapkan sarapan untuk Bram dan juga Dafa. Sarah akan mencari perhatiannya, agar Bram semakin menyukainya.
"Pagi," sapa Bram baru saja datang.
"Pagi, kak. Sarapan yuk," balas Sarah dengan tersenyum.
Pagi-pagi Sarah sudah berdandan cantik, bahkan ia terlihat segar. Sarah juga kembali seperti dulu lagi tanpa menggunakan make up. Ia ingin seperti Hanna yang natural namun terlihat cantik.
"Kamu cantik seperti ini, jangan menggunakan make up tebal lagi," pujinya.
Sarah tersenyum mengangguk. "Iya, kak. Aku ingin seperti dulu lagi,"
"Bagus, kau terlihat muda jika tanpa make up," ujarnya.
Sarah mengambilkan piring. Lalu ia mengisikan nasi dan lauk di atas piring itu.
"Ini kak sarapannya," ucap Sarah.
"Iya, kak. Aku ingin kakak mencicipi masakanku, aku juga sudah membuatkan telur mata sapi untuk Dafa. Kalau gitu aku keatas dulu," ucap Hanna.
Bram pun mengangguk sambil menikmati sarapannya.
"Lumayan enak, tapi aku rindu masakan Hanna," ucap Bram merenung. Ia merindukan Hanna di saat Hanna menyiapkan sarapan untuknya, melihat Hanna menyuapi Dafa. Bram merindukan semua kegiatan Hanna di rumahnya. Walaupun ia biasa-biasa saja di hadapan Sarah, namun hatinya tertuju pada Hanna.
Bram mulai mencoba melupakan Hanna perlahan, ia ingin membuang bayangan Hanna setiap ia mengingatnya. Bram akan mencoba menerima Sarah sebagai pengganti hatinya.
"Pagi, ayah," sapa Dafa yang baru saja turun bersama Sarah.
"Pagi juga, sayang. Anak ayah sudah tampan."
"Hu'um ayah, Tante Sarah yang mendandani aku," celotehnya.
"Ya sudah, kalau gitu Dafa sarapan dulu, ya. Tante sudah buatkan telur mata sapi untuk Dafa," ucap Sarah.
__ADS_1
"Terima kasih Tante,"
Mereka menikmati sarapan pagi bertiga. Sarah sangat senang bisa berkumpul dengan Bram dan juga Dafa.
"Gimana, enak gak sayang telur mata sapinya," tanya Sarah berharap Dafa akan menyukainya.
"Enak Tante, tapi... Lebih enak buatan Tante cantik," celoteh Dafa.
"Tante cantik, siapa dia?"
"Tante Hanna, dia juga sering buatkan aku telur ini. Tapi rasanya enak sekali," kata Dafa. Sarah menarik nafasnya secara kasar, ia mencoba untuk tidak marah pada anak sekecil Dafa. Ia akan menerima semua celoteh anak itu, Sarah mencoba untuk sabar menghadapinya demi menjadi wanita idaman Bram.
"Oh, Tante Hanna. Tante Hanna memang pintar memasak, maaf ya masakan Tante tidak sesuai dengan seleramu," ucap Sarah dengan menunjukan wajah sedihnya.
"Ya, Tante harus belajar lagi dong sama Tante Hanna. Kan Tante Hanna saudara Tante, sekalian ajak dia ke sini. Ayah juga pasti kangen sama Tante Hanna, iya kan ayah," ucap Dafa menatap ke arah Bram.
Seketika Bram gugup mendengar celotehnya. Apa yang dikatakan Dafa memang benar, tapi Bram mencoba biasa-biasa saja di depan Sarah.
"Apa benar, seperti itu kak?" tanya Sarah penasaran.
"Tidak seperti itu juga, untuk apa aku berharap pada Hanna lagi sedangkan dia mau menikah dengan pria lain," jawabnya. Ucapan Bram yang seperti itu membuat Sarah menyadari bahwa Bram masih berharap pada Hanna.
"Oh seperti itu," raut wajah Sarah berubah dari ceria menjadi kecewa. Ia sudah mati-matian mengubah sikapnya untuk mengambil hati Bram. Bahkan dari penampilan pun ia merubahnya, ia juga tak pernah menggoda Bram walaupun hatinya sangat ingin menggoda pria itu.
"Aku sudah selesai sarapannya, kalau gitu aku pamit dulu," ucap Bram berdiri dari duduknya dengan membawa tas Dafa.
"Ia, kak," Sarah pun ikut berdiri, lalu ia mengantarkan Bram dan juga Dafa ke mobilnya.
"Hati-hati di jalan, ya," ucap Sarah. Ia mengecup kening Dafa dan mengelus rambutnya dengan lembut untuk mencari perhatian Bram. Namun Bram biasa saja, hatinya tak tersentuh melihat perlakuan Sarah seperti itu. Berbeda jika Hanna yang melakukan itu, Bram selalu melihatnya dengan kagum pada Hanna.
Bram pun berlalu dari hadapan Sarah tanpa mengucapkan apapun.
Setelah kepergian Bram, Sarah kembali ke kamarnya. Ia berteriak sekeras mungkin di sana. Sarah sangat kesal pada Bram yang masih berharap pada kakaknya.
"Sial! Kenapa semua pria selalu tertuju pada kak Hanna. Aku sudah bahagia Bram mengakui aku sebagai calon istrinya, ternyata dia berbohong. Aku seperti dijadikan budak olehnya. Sial! Aku benar-benar marah, arghh!" teriak Sarah dari dalam kamar dengan mengacak-acak makeupnya yang sudah tertata rapih.
Bi Serly yang mendengar teriakan Sarah langsung mengusap dadanya, ia juga tak menyukai keberadaan Sarah di rumah Bram.
__ADS_1
...----------------...