
Setelah mengirim pesan pada Hanna, Revan tertawa bahagia. Dirinya yakin Hanna akan sakit hati melihat undangan yang ia kirim. Satu Minggu lagi Revan dan Sarah akan segera menikah, mereka berdua sudah memberitahu Bu Rohanah tentang pernikahannya yang akan dilaksanakan secepat mungkin.
Hari ini juga Sarah tidak melanjutkan kuliahnya lagi, ia sangat malu karena semua temannya tahu bahwa ia sedang hamil, termasuk Santi yang mengetahui semua itu.
"Kak, kamu serius mau ajak aku ke kantor?"
"Iya, aku ingin memperkenalkanmu pada rekan kerjaku,"
"Baik, kak. Aku akan ikut," ucapnya dengan manja.
Revan membawa Sarah ke kantornya, semua orang tertuju pada Sarah yang menggandeng tangan Revan dengan mesra. Semua orang menatap tak suka pada Sarah yang terlihat sombong.
"Bukankah tua Revan sudah memilki istri?" tanya seorang karyawan pada rekan kerjanya.
"Iya, dia kan sudah memiliki istri. Namanya Bu Hanna. Apa mereka sudah bercerai."
"Tapi sepertinya aku lebih menyukai Bu hanna yang terlihat natural dari pada wanita itu." Sarah yang mendengarnya langsung menatap dengan tatapan tajamnya pada karyawan yang sedang berbicara tentangnya.
"Aku, aku tak suka melihat mereka yang menatap ke arahku,"
"Sudah, biarkan saja. Sebentar lagi aku akan mengenalkanmu pada mereka semua." Sarah tersenyum senang mendengar kata-kata Revan. Revan menyuruh asistennya untuk segera mengadakan meeting di ruangannya.
Semua karyawan telah berkumpul di ruang Revan, mereka menatap pada Sarah yang baru dilihatnya.
Revan berbicara mengenai pekerjaan dulu, yang akhir-akhir ini banyak penurunan.
"Baiklah, sekarang saya akan mengenalkan wanita yang berada disamping saya," ujar Revan pada semua karyawan, sedangkan Sarah masih bergelayut pada tangan Revan.
"Dia adalah Sarah, dia calon istri saya. Saya akan mengundang kalian pada hari Minggu, saya harap kalian akan menghadiri pesta pernikahan saya dengan Sarah. Apa ada yang ingin kalian tanyakan?"
Tiba-tiba ada salah satu karyawan yang mengangkat jarinya.
"Maaf, pak. Bolehkah saya bertanya?"
"Silakan,"
"Maaf pertanyaan saya mungkin lancang, saya mau bertanya pada pak Revan. Bukankah pak Revan sudah memiliki istri bernama ibu Hanna, atau pak Revan memang akan menikahi calon istri kedua." Revan tersenyum dengan pertanyaannya
__ADS_1
"Saya sudah bercerai dengan istri saya, jadi saya akan menikah dengan Sarah calon istri saya. Mulai sekarang kalian jangan memanggil nama Hanna di depan saya, karena saya tidak ada hubungan lagi dengannya. Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?"
Semua karyawan menggelengkan kepalanya, mereka tidak ada pertanyaan lagi untuk Revan. Sebenarnya mereka heran pada Revan yang tiba-tiba mau menikah lagi, padahal mereka tahu bahwa Revan dan Hanna keluarga yang harmonis dan tak pernah memiliki masalah dalam rumah tangganya.
Setelah selesai meeting, semua kembali melakukan pekerjaannya.
"Kak, terima kasih sudah mengenalkan aku pada mereka. Sekarang aku tak perlu takut lagi untuk berada disamping kakak,"
"Iya sayang, aku melakukan ini demi kamu Agar mereka mengenalmu." Sarah tersenyum bahagia hari ini benar-benar dikejutkan dengan Revan, ia tak menyangka dirinya bisa dikenalkan pada karyawan yang ada di perusahaan Revan.
Sedangkan Revan tersenyum menyeringai, rencananya sedikit lagi akan segera berhasil.
"Kalau gitu mari kita pulang, aku akan mengantarmu pulang,"
"Baik, kak."
Revan dan Sarah kembali ke mobil untuk seger pulang ke rumahnya, Revan tidak bisa membiarkan Sarah berlama-lama di kantornya.
Di sepanjang jalan, Sarah tidak melepaskan genggamannya pada Revan, entah kenapa ia ingin selalu menempel pada calon suaminya.
Cup... Sarah mengecup bibir Revan dengan singkat, lalu ia memainkannya sehingga Revan merasa terganggu.
"Sarah berhenti, kau tak boleh melakukan ini. Aku sedang mengemudi,"
"Kenapa? Bukannya dulu kita sering melakukan ini saat masih ada kak Hanna."
"Iya, tapi jangan sekarang. Aku sedang fokus mengemudi," tegasnya. Revan merasa jijik dengan perlakuan Sarah padanya. Ia tidak menyukai wanita yang terlalu sering menggodanya.
Revan tak sengaja melihat Hanna di sebrang jalan dengan seorang anak kecil.
"Itu kan Hanna, dia sedang apa?" tanyanya dalam hati. Revan penasaran dengan Hanna yang berada di sana. Ia sengaja memelankan mobilnya.
Revan melihat Hanna sedang membeli es krim untuk anak kecil yang bersama dengannya. Revan ingat anak kecil itu pernah melihatnya di restoran pada saat ia melihat Hanna dengan Bram.
"Sebenarnya dia sedang apa? kenapa dia selalu bersama anak kecil." Beberapa pertanyaan dalam pikiran Revan.
Suara klakson membuatnya berisik, Revan baru menyadari bahwa dirinya terlalu lambat dalam mengemudi.
__ADS_1
"Kak, kenapa? Apa kakak ada sesuatu. Kenapa kakak melamun? Mobil di belakang sedang kesal pada kita,"
"Ah, iya maaf tiba-tiba aku ingat pekerjaan kantorku."
"Lain kali kalau sedang mengemudi harus fokus, kak. Jangan dulu memikirkan hal yang lain. Biar kita selamat,"
"Iya, maafkan aku,"
"Kakak, tak salah. Kakak tak perlu minta maaf. Aku hanya mengingatkan saja,"
Revan kembali fokus mengemudi, namun pikirannya tetap tertuju pada Hanna. Ia penasaran melihat Hanna yang bersama dengan anak kecil.
"Dafa, pulang yuk!"
"Oke, Tante."
"Gimana? Kamu suka gak es krimnya?"
"Suka Tante, ini manis sekali. Kalau sama ayah aku tak boleh beli es krim," Hanna mengerutkan keningnya.
"Maksudmu? Ayah tak mengizinkan kamu beli es krim?"
"Iya, Tante. Katanya nanti gigiku rusak, padahal aku mau es krim, tapi ayah selalu melarangku," celotehnya dengan bibir cemberut membuat Hanna gemas.
"Kalau sama Tante, kamu boleh makan es krim. Asal jangan bilang sama ayah, oke."
"Oke, Tante." kemudian Hanna menyuruh pak Aceng untuk segera melajukan mobilnya.
Bram yang sedang di fokus dengan laptopnya, ia dikirim foto Hanna dan juga Dafa yang sedang membeli es krim di pinggir jalan.
Seketika matanya langsung meletot, "Apa-apaan ini, kenapa dia berani sekali membelikan anakku es krim. Astaga aku lupa memberitahunya kalau aku sangat melarang dia untuk makan es krim," kesalnya dengan menepuk jidat.
Bram pria kata raya, ia hidup berkecukupan, bahkan ia memiliki perusahaan yang paling terbesar di Indonesia. Ia juga memiliki banyak perusahaan di luar negara milik orang tuanya. Namun, setelah orang tuanya meninggal, Bram memberikan kepercayaan pada pamannya untuk mengelola perusahaan di luar negara. Ia pria yang sangat berhati-hati, urusan makan pun ia tidak mau beli yang ada di pinggir jalan. Bram sangat shock melihat foto kiriman dari pak Aceng, ia melihat Dafa sedang membeli es krim di pinggir jalan. Rasanya ia ingin marah pada Hanna, namun ia pendam karena dirinya sendiri belum memberitahu Hanna.
Bram langsung menelpon Hanna sekarang juga, namun ponsel Hanna sedang tidak aktif. Ia tak pernah membawa ponselnya kemana pun selain di kamarnya.
...----------------...
__ADS_1