Pengkhianatan Suami Dan Adikku.

Pengkhianatan Suami Dan Adikku.
Episode 18


__ADS_3

Sarah sedang menunggu kepulangan kakak iparnya, ia ingin segera bertemu dengan Revan untuk memberitahu kabar baik.


Tak lama kemudian mobil Revan sudah terparkir di halaman rumahnya, ia baru saja sampai.


Sarah sudah mempersiapkan dirinya, berdandan secantik mungkin untuk menyambut kepulangan Revan.


"Selamat malam, kak," ucap Hanna dengan suara lembutnya, seketika membuat Revan memandang padanya dengan tatapan yang tak biasa.


Revan akui malam ini Sarah memang sangat cantik, bahkan aroma wangi dari tubuh Sarah tercium olehnya.


"Malam," balasnya.


"Kak, aku sudah menyiapkan makan malam untukmu,"


"Terima kasih, aku mau ke atas sebentar untuk mandi,"


"Iya, kak." setelah kepergian Revan, Hanna tersenyum senang.


Menu makanan yang sudah ia siapkan dengan susah payah, ia berharap Revan menyukainya.


Tak lama kemudian Revan turun dari lantai atas untuk menuju meja makan, perutnya sudah keroncongan karena sedari tadi Revan sedang tidak berselera makan setelah bertemu dengan Hanna.


"Kau yang memasak semua ini, Sarah?"


"Iya, kak. Apa kakak menyukainya? Ini makanan kesukaan kakak semuanya."


"Terima kasih," balasnya, kemudian ia mencicipi semua makanan yang telah disediakan oleh Sarah. Rasanya lumayan enak menurut Revan, namun jika di bandingkan dengan masakan Hanna, mungkin lebih enak buatan Hanna.


"Gimana kak? Enak gak?"


"Ya, ini enak. Aku suka," ucapnya, membuat hati Sarah senang, tak sia-sia ia menyiapkan makan malam untuk Revan selama dua jam mengabiskan tenaganya. Walaupun lelah ia tetap melakukan semuanya sendiri. Akan tetapi Sarah jadi teringat pada Hanna yang setiap hari selalu menyiapkan sarapannya bahkan semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Hanna. Sarah baru merasakan sekarang, ternyata sangat melelahkan bagi dirinya.


"Kak, tadi aku ke rumah ibu," Revan yang mendengar Sarah berbicara, seketika ia langsung berhenti. Lalu ia menatap Sarah.


"Untuk apa kau menemui ibu?"

__ADS_1


"Aku meminta restu pada ibumu, dan aku sudah memberitahu ibu bahwa aku sedang mengandung anakmu." seketika selera makan Revan menjadi hilang setelah mendengar celoteh Sarah.


"Kenapa kau bicara pada ibuku? Aku sudah bilang padamu, aku tak menginginkan anak itu!" tegasnya.


"Maaf, kak. Tapi aku sudah terlanjur memberitahu Ibu, dan ibu menerima janin yang ada di kandunganku."


Brakkk... Revan menggebrak meja makan, lantaran ia kesal pada Sarah yang selalu mengambil keputusan sendiri. Seketika air mata Sarah menetes begitu saja, ia tak menyangka kakak iparnya bisa semarah itu padanya. Padahal ia hanya tahu bahwa Revan pria yang baik dan penyayang, selama Revan menikah dengan Hanna, Sarah tak pernah melihat Revan berkata kasar pada kakaknya.


"Aku sudah bilang, aku tak menginginkan janin itu. Kenapa kau nekad sekali menemui ibuku," bentaknya lagi.


"Maaf, kak. Aku tak bisa membunuh janin yang ada dikandunganku, dia tak bersalah. Tolong akui dia sebagai anakmu karena bagaimana pun, kau ayahnya." ucap Hanna dengan nada bergetar.


Brakkk... Revan kembali menggebrak meja makan.


"Berani sekali kau padaku, Sarah. Kau hanya wanita pemuas nafsuku, kau hanya wanita murahan bagiku! Jangan pernah berharap aku akan menikahimu!" Sarah berdiri dari duduknya lalu ia menghampiri Revan dan menunduk dihadapannya.


"Kak, aku bukan wanita murahan. Aku memberimu kesucianku itu karena aku mencintaimu, kak. Percayalah, aku tak pernah disentuh pria manapun, hiks hiks." ucap Hanna dengan nada bergetar.


Pranggg... Revan melempar semua piring yang ada di meja makan, membuat Sarah terkejut dengan sikap Revan.


"Tega sekali dirimu, kak," lirihnya. Malam yang ia harapkan kebahagiaan namun kini jadi kacau dengan kemarahan Revan.


Sarah berlari ke kamarnya, lalu ia mengunci pintu. Ia sedang ingin sendiri, merenungi nasibnya.


Revan kembali marah di kamarnya, ia menendang guci hingga pecah. Ia sangat kesal pada Sarah yang selalu membantah ucapannya. Revan kembali teringat Hanna yang pernah singgah di hatinya. Sejauh ini Hanna tetaplah wanita terbaik bagi dirinya, ia tak pernah ada masalah dalam rumah tangganya, bahkan ia sangat romantis.


Tiba-tiba Revan teringat kejadian siang tadi, ia melihat Hanna yang sedang makan siang dengan seorang pria yang dikenalnya, bahkan Hanna terlihat sangat akrab dengan anak kecil yang sedang bersamanya. Membuat hati Revan panas dan cemburu.


"Hanna! Aku ingin membalasmu, kau bersama dengan pria itu. Maka aku juga akan bersama dengan adikmu." ucapnya tersenyum menyeringai.


Revan kembali ke lantai bawah untuk menemui Sarah, ia sudah memikirkan caranya untuk membuat Hanna semakin menyesal.


"Sarah, buka pintunya."


"Untuk apa, kak?" teriaknya dari dalam.

__ADS_1


"Buka pintunya, aku ingin bicara padamu."


"Untuk apa kakak bicara lagi padaku, semuanya sudah jelas. Kakak tak mau menikahiku," Revan menarik nafasnya kasar, ia sudah memikirkan kembali kata-kata Sarah. Ia harus mengambil kesempatan ini untuk membuat Hanna cemburu padanya.


"Buka dulu pintunya, aku ingin berbicara sebentar saja." bujuknya agar Sarah keluar dari kamar.


"Tidak, kak. Urusan kita sudah selesai."


"Sarah, aku minta maaf atas sikapku tadi, aku sudah memikirkan. Aku akan menikahimu," kata Revan, membuat hati Sarah kembali bahagia. Ia langsung mengusap air matanya secara kasar. Lalu ia berdiri dari duduknya dan segera membuka pintu untuk Revan.


"Kak Revan serius?" Revan pun mengangguk atas pertanyaan Sarah.


"Ya, aku serius. Aku akan menikahimu," seketika Hanna langsung memeluknya dengan erat.


"Terima kasih, kak. Sudah menerimaku," ucapnya. Revan membalas pelukan Sarah, ia tersenyum menyeringai.


"Lihat saja aku akan membuat adikmu menderita, Hanna!" ucapnya dalam hati.


Sarah mengajak Revan untuk masuk ke dalam kamarnya, Revan sempat menolak tapi dirinya punya rencana. Jadi ia menuruti keinginan Sarah.


"Kak, bolehkah malam ini aku memintamu untuk tidur di sini?" Revan mengangguk mengiyakan keinginan Sarah.


"Ck, wanita murahan," ucapnya dalam hati, memandang tak suka pada Sarah. Namun Sarah tak menyadari tatapan Revan.


"Kak, aku merindukan pelukan hangatmy, kenapa setelah kak Hanna pergi, kakak tak pernah melakukannya lagi?"


"Maaf, karena aku sedang lelah dengan pekerjaan. Ditambah masalah Hanna, pikiranku jadi kacau."


"Maafkan aku ya, kak. Jadi kapan kita akan menikah?"


"Em, mungkin Minggu depan. Aku ingin secepatnya kita menikah." Sarah tersenyum bahagia, akhirnya sebentar lagi ia akan menjadi istri Revan satu-satunya.


"Kenapa Mas ingin cepat-cepat? Apa Mas udah gak sabar bermain denganku tiap hari?" ucapnya dengan tatapan genit pada Revan. Entah kenapa Revan melihatnya tak suka dengan kata-kata Sarah barusan. Ia merasa dirinya sudah tak ada rasa pada Sarah lagi.


"Tentu saja, sayang," balasnya. Revan tak ingin Sarah mencurigai rencananya, apapun yang Sarah inginkan, akan ia turuti.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2