
Bu Rohanah menghampiri Sarah.
"Jangan gugurkan anak itu, dia tak berdosa. Kau sudah berbuat dosa dengan anakku, apa kau ingin menambah dosa lagi?" ujarnya, Sarah berpura-pura masang mimik wajah sedihnya agar Bu Rohanah merasa kasihan padanya.
"Baiklah, kau menikah saja dengan Revan jika Revan memang mencintaimu. Ibu bisa apa?"
Akhirnya keinginan Sarah kini terkabul, ia bisa mendapatkan hati ibunya Revan. Namun, Bu Rohanah terpaksa merestui Sarah untuk menikah dengan Revan. Ia tak ingin anaknya kembali berdosa dengan membunuh janin yang ada dikandungan Sarah.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk tetap bersama kak Revan. Aku janji akan merawat janin yang ada dikandunganku," Bu Rohanah mengangguk mengiyakan ucapan Sarah. Sebenarnya hatinya sangat marah dan kecewa, akan tetapi ia membuang ego sendiri demi keselamatan calon cucu.
Sarah merentangkan tangannya untuk memeluk Bu Rohanah, akan tetapi Bu Rohanah langsung menepiskan tangannya. Ia tak mau bersentuhan dengan wanita murahan seperti Sarah.
"Pergilah, kau bisa diskusikan pernikahanmu dengan Revan,"
"Baik, Bu. Kalau begitu aku permisi dulu," Sarah keluar dari rumah Bu Rohanah, lalu ia segera pergi dari sana dan mencari taxi untuk ditumpangi.
'Akhirnya, aku mendapat restu dari ibu Revan. Semoga Revan bahagia mendengar kabar ini,' ucapnya dalam hati. Tak lama kemudian Sarah menaiki taxi dan menuju pulang ke kediaman Revan.
Revan baru saja pulang dari restoran, ia marah dan kecewa pada Hanna. Revan tidak menyangka Hanna segampang itu jalan bersama pria yang ia kenal selama ini. Bram rekan kerjanya, walaupun mereka tidak dekat. Namun, mereka saling mengenal.
Revan menggebrak mejanya dengan penuh amarah, ingin sekali ia memaksa Hanna untuk kembali padanya.
"Hanna, kenapa kau lakukan ini padaku,"
Entah kenapa hati Revan sangat sakit melihat Hanna bersama pria lain. Padahal Hanna hanya duduk menikmati makanan. Bagaimana sebaliknya, Hanna yang melihat dirinya sedang melakukan hubungan terlarang dengan adik kandungnya sendiri? Pria memang egois, dia ingin memiliki dua wanita namun dia tidak terima jika wanitanya bersama pria lain.
Bram dan Hanna kembali pulang ke rumah setelah ada masalah dengan Revan.
"Sayang, kau masuk kamar dulu, ya," titah Bram pada Dafa.
"Iya, ayah."
__ADS_1
Bram menarik tangan Hanna dengan berani, dan membawanya ke sebuah taman yang berada di belakang rumahnya.
"Mas, mau kemana?"
"Ikuti saja," Hanna mengikuti Bram dari belakang, ia melihat sekeliling rumah Bram yang begitu besar.
"Duduklah di sini," titahnya.
"Terima kasih," Bram ikut duduk di samping Hanna, ia ingin tahu permasalahan Hanna dengan suaminya.
"Bolehkah aku bertanya?"
"Silakan, Mas. Apa yang ingin kau tanyakan padaku," Bram menarik nafasnya dengan kasar, lalu ia menatap Hanna.
"Sebenarnya, kau ada masalah apa dengan suamimu? Kau sudah bercerai atau belum? Kenapa dia marah melihatmu sedang bersamaku," Hanna mulai menceritakan permasalahan Revan yang berselingkuh dengan adiknya, ia diberi tahu oleh teman kuliah adiknya. Hingga pada akhirnya Hanna curiga dan membuktikan sendiri, ia melihat suami dan adiknya sedang melakukan hubungan terlarang.
Tak terasa air mata Hanna kembali menetes, ia kembali mengingat pada saat Revan sering perhatian padanya, ia tak pernah curiga pada suaminya. Bahkan ia mempercayakan Revan untuk menjaga sang adik. Hingga pada akhirnya ia melihat kenyataan bahwa orang yang ia sayang telah mengkhianatinya.
"Menangis lah, agar hatimu lebih baik," ujarnya dengan nada pelan, namun masih terdengar di telinga Hanna.
Setelah mendengar cerita dari Hanna, Bram ikut sakit hati. Ia tak menyangka suami Hanna berselingkuh dengan adiknya.
"Hatiku sakit, Mas. Mereka mengkhianati aku dibelakang,"
"Sudah, kau jangan menangis lagi. Aku tahu ini pasti sakit untukmu. Tapi semua itu lebih baik untukmu, Hanna. Karena Tuhan telah menunjukkan sikap suamimu, dan kau bisa tahu semuanya demi kebaikan dirimu sendiri."
"Mas, kau tak merasakan apa yang aku rasakan. Mungkin lebih baik jika suamiku berselingkuh dengan orang lain, tapi dia malah berselingkuh dengan adik kandungku sendiri, Mas. Bagaimana hati ini tak sakit hati? Mas dengan mudahnya berbicara seperti itu."
"Aku tidak menyepelekan permasalahanmu, tapi setelah kau tahu perbuatan suamimu, kau bisa hidup lebih baik dan lebih tenang,"
"Tidak, Mas. Hatiku masih sakit, bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang. Sedangkan bayang-bayang mereka masih tersimpan di memoryku."
__ADS_1
Bram menarik nafasnya kasar, ia tak tahu harus menyadarkan Hanna dari mana.
"Kau tahu, hidupku lebih sakit darimu. Aku ditinggalkan istriku saat dia melahirkan Dafa, kami berharap akan hidup bahagia bertiga. Namun saat istriku melahirkan Dafa, ia malah pergi meninggalkan aku dengan Dafa. Kau tahu, betapa sakitnya aku mengurus Dafa sendirian. Karena aku sudah tak punya orang tua." Hanna menatap wajah Bram, ia melihat Bram yang meneteskan air matanya.
"Mas," panggilnya.
Bram segera menghapus air matanya dengan kasar, ia tak mau Hanna melihatnya. Hanna sadar ternyata hidup Bram lebih menyedihkan, Hanna masih bisa melihat orang yang pernah ia sayangi, walaupun mereka telah mengkhianatinya. Namun, berbeda dengan Bram. Hanya ada kenangan sedih dalam ingatannya. Hanna hanya perlu memaafkan kesalahan suami dan adiknya, sedangkan Bram hanya bisa mengikhlaskan kepergiannya tanpa bisa bertemu kembali.
"Mas, maafkan aku," lirihnya.
"Kau tidak salah Hanna, kenapa meminta maaf padaku?"
"Aku baru sadar, Mas. Apa yang dikatakan kamu memang benar. Tuhan telah menunjukan sikap suamiku, dan aku bisa tahu semua itu. Terima kasih sudah mengingatkanku."
"Ya, kau harus bahagia. Karena kau sudah keluar dari pria yang seperti suamimu, kamu harus bersyukur. Jangan mengingat perlakuan mereka berdua, sekarang kau hiduplah dengan tenang dan cari pria yang bisa setia padamu." Hanna tersenyum mengangguk, entah kenapa hatinya sangat lega setelah ia bercerita dengan Bram yang sudah memberikan solusi terbaik untuknya.
"Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka kecewa dengan adikmu?" Hanna menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum pada Bram.
"Mereka tidak tahu, karena mereka sudah pergi meninggalkan aku berdua. Tapi aku bersyukur mereka tidak tahu kelakuan adikku,"
"Pergi? Maksudmu pergi kemana?" tanyanya.
"Orang tuaku sudah tiada, Mas. Karena itulah aku mengajak adikku untuk tinggal bersama, dan pada akhir mereka saling mencintai dan mengkhianati aku," ujarnya, Bram mengira Hanna masih memiliki orang tua. Namun ternyata mereka sama-sama sudah tidak memiliki orang tua. Tiba-tiba Bram memeluk Hanna dengan erat, ia merasakan kesedihan Hanna.
Hanna yang mendapatkan pelukan tiba-tiba, ia sempat terkejut. Namun semakin lama pelukan itu semakin nyaman.
"Maaf, aku sudah lancang," kata Bram, ia menjadi salah tingkah sendiri.
"Terima kasih, Mas. Sudah memberi kehangatan untukku. Itu membuatku lebih baik," balasnya.
...----------------...
__ADS_1