
Hanna menghampiri mereka berdua dengan amarah yang menggebu-gebu. Ia menarik selimut yang menutup tubuh adiknya.
Plakkk... Hanna langsung menampar sang adik.
"Keterlaluan kamu, Sarah! Kau adikku yang sudah ku didik dengan baik, kenapa kau melakukan ini di belakangku? Apa kau tak kasihan pada orang tuamu yang sudah tiada!" bentak Hanna dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Kamu juga Mas, kenapa kau melakukan semua ini pada adikku! Aku rela jika kau selingkuh, tapi jangan sama adikku, Mas. Hiks, hiks, kau tahu dia masih muda. Masa depannya masih panjang, kenapa kau merusak dia," teriaknya, Hanna sudah tak kuat menopang tubuhnya. Ia terkulai lemas di lantai.
"Kalian jahat!"
Sarah yang mendengar kemarahan kakaknya, ia hanya bisa menunduk tanpa penyesalan. Begitu juga dengan Revan, ia biasa saja tanpa merasa bersalah.
"Aku minta maaf soal ini, jujur aku mencintai adikmu, Hanna. Maafkan aku," Revan menyelimuti tubuh Sarah, lalu ia membawa Sarah ke toilet untuk memakai kembali pakaiannya.
Revan menghampiri Hanna, ia menarik tangannya untuk keluar dari kamar Sarah.
"Lepaskan tangan kotormu itu, Mas! Jangan sentuh aku!" bentaknya.
"Aku ingin bicara denganmu, aku akan menjelaskan semuanya padamu."
__ADS_1
"Kau mau menjelaskan apa, Mas. Jelas-kelas kalian sudah keterlaluan, Kalian jahat!"
Revan tetap menarik paksa tangan Hanna, ia membawanya pergi keluar.
"Lepaskan aku, Mas! Beraninya kau menyentuh dengan tangan kotormu itu!"
"Diam! Sekarang kau sudah tahu bahwa aku selingkuh dengan adikmu, jadi apa maumu?"
Hanna menatap bola mata Revan, ia tak menyangka kenapa Revan yang balik bertanya pada Hanna. Seharusnya Hanna lah yang bertanya padanya.
"Kau tanya apa mauku, Mas?"
"Aku mau kau menjauhi adikku, aku mau kau jangan pernah menyentuh adikku. Kau sudah merusak masa depannya, kau egois Revan. Kau boleh berhubungan dengan siapapun, tapi jangan kau rusak adikku!"
Revan menarik nafasnya kasar, lalu ia menatap Hanna dengan serius.
"Aku tidak merusak adikmu, aku akan menikahinya agar dia menjadi milikku!"
"Apa maksudmu, Mas?"
__ADS_1
"Jujur aku lebih mencintai Sarah dari pada kamu, Sarah bisa memuaskan hasratku, dia lebih baik dari pada kamu, Hanna!" Hanna menggelengkan kepalanya dengan air mata yang semakin deras. Pengakuan suaminya membuat hati Hanna semakin hancur.
"Tega sekali kamu, Mas! Kurang apa aku untukmu?"
"Kau berbeda dengan Sarah,"
"Baiklah, kalau kau memang memilih adikku, silakan nikahi dia. Mari kita bercerai, mari kita sudahi hubungan ini."
"Namun jika suatu saat kau kembali padaku, aku tak akan pernah memaafkanmu. Kau pria yang tak cukup dengan satu wanita, kau tidak pantas untukku yang setia. Mari kita sudahi hubungan ini, jangan harap kau akan bahagia!" Hanna pergi meninggalkan Revan yang masih mematung menatap kepergiannya. Ada rasa sesak di hati Revan, namun ia segera menepisnya.
"Kak Revan!" panggil Sarah.
"Ada apa, Sarah?"
"Bagaimana dengan kak Hanna, kak. Kak Hanna sudah mengetahui hubungan kita, bagaimana ini?" ujar Sarah dengan wajah paniknya.
"Sarah, kau tenang saja. Aku sudah memantapkan hatiku untuk memilih kamu. Jadi, mari kita hidup bersama tanpa ada yang mengganggu dan menghalangi kita." Sarah langsung memeluk tubuh Revan, ia tak menyangka Revan telah memilih dirinya untuk dijadikan wanita satu-satunya.
"Terima kasih sudah memilihku, kak. Aku mencintaimu."
__ADS_1
...----------------...