Perempuan Bermuka Dua

Perempuan Bermuka Dua
dianggap mati


__ADS_3

brugghhh, kesadaran ku mulai hilang.


dek..., mas Yudha langsung membawaku kekamar,


Yudha mengoleskan minyak kayu putih di hidungku, dan menggosok nggosok tanganku. agar aku cepat sadar, tapi sayang karena aku hanya pura pura pingsan. aku tidak mau mas Yudha memukuli adiku.


Nak Yudha, biar ibu saja yang jaga Eka, nak Yudha kedepan saja, acaranya sudah mau dimulai.ucap ibuku.


Lho, kan sudah ada bapak. bapak aja yang mewakili Yudha sama Eka, Yudha minta tolong. kasian Eka kalau di tinggal. jawab Yudha.


Bapak kan lagi pergi, katanya uda urusan sama temannya. lagian kan gak enak kalau acaranya mulai tapi tuan rumahnya gak ikut acaranya. jelas ibuku lagi, setengah memaksa agar Yudha pergi kedepan.


baik lah bu ,saya titip Eka sebentar ya bu.


Iyah, jawab ibu sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah mas Yudha melangkah pergi, ibu pun duduk di pinggir ranjang.


Bu, Yudi minum minum lagi. ucapku setengah berbisik pada ibu.


kamu pingsan bohongan, ibu tampak terkejut.


Ssstttt, ku letakan telunjuk ku didepan bibir. dan mengangguk.


Ibu kira kamu pingsan beneran, bikin ibu kewatir aja, ibu mengelus dadanya.

__ADS_1


Aku hanya nyengir mendengar omelan ibuku.


bu, tadi Eka liat Yudi mabuk, kayanya dia habis minum minuman. ku ulangi lagi ucapanku.


iyah ibu udah tau , ibu tadi lihat semuanya. tadi pas Yudha sedang sibuk ngurusi kamu yang pura-pura pingsan, Yudi lalu dibawa pergi oleh bapakmu. untung bapamu pulangnya diwaktu yang pas.


Aku mengerutkan keningku mendengar cerita ibu.


Dek, kamu udah siuman. gimana, apanya yang sakit, atau pusing. mas Yudha tampak kewatir dengan keadaanku.


Iyah mas, udah gak apa apa ko.


gimana tadi acara aqiqah putra kita, lancar.


Aku hanya mengangguk, walau rasanya ingin sekali menolak ajakannya.


* * * * *


tok tok tok tok. assalamu'alaikum


Waalaikumsalam, sebentar.


tak lama terdengar suara anak kunci diputar dan pintu pun terbuka.


ada apa Yud, tanya Giandra.

__ADS_1


Ibu ada mba. tanya suamiku pada kakanya.


belum sempat iparku menjawab, Tiba-tiba mertuaku datang dari arah dalam.


Mau apa kalian datang lagi ke sini. tanya mertuaku ketus.


mas Yudha mengambil Fadillah dari gendongan ku dan membawanya ke hadapan ibunya.


apa ibu tidak ingin melihat cucu ibu. ucap mas Yudha dengan suara serak menahan tangis.


Enggak, dia bukan cucuku. jawab mertuaku masih dalam mode ketusnya, sambil memalingkan wajahnya.


Mas Yudha, mendengar ucapan ibunya tak bisa lagi membendung air matanya.


Tapi anak ini anakku bu, dia darah dagingku.itu artinya cucu ibu. apa ibu sudah tidak menganggapku anak lagi.


Anakku laki-laki ku sudah mati, sejak dia menikahi perempuan yang tak ibu sukai.


Akhirnya kami pun memutuskan tuk meninggalkan rumah ibu.di dalam mobil mas Yudha terus meneteskan air matanya. aku berusaha menghiburnya.


Sudahlah mas, mungkin ibumu butuh waktu tuk bisa menerima pernikahan kita. beri dia waktu tuk memahami keadaannya. sekarang lebih baik kita jangan menemuinya dulu dalam waktu yang cukup lama. ujarku memberi pengertian.


Iyah dek. mas juga sudah bertekad tidak akan menemui ibuku tuk selamanya. bukankah dia sudah menganggapku mati.


Aku diam tidak menjawab, walau dalam hati aku merasa senang bukan main.

__ADS_1


__ADS_2