
3hari telah berlalu semenjak Ali menginap di apartement Ivonne,masalah perijinan karena mangkir hari senin itu juga telah diberesi oleh Ivonne.
"capek sekali aku bang...!" setengah mengeluh Ali berkata pada seniornya saat mereka beristirahat diruang kerja mereka.
"baru juga 2hari kau lembur Al,anak muda jangan gampang loyo! payah!"
"belum nanti kalau kau sudah berkeluarga sepertiku lembur tiap malam dirumah!" kata Johan seniornya sekenanya yang tak ayal membuat keduanya tertawa bersama.
"mungkin karena aku belum terbiasa bang,karena baru pertama kali ini aku kerja!"
"apa kamu memang belum pernah kerja sama sekali sebelumnya Al?"
"belum bang,aku baru lulus SMU tahun lalu,belum genap pula 1thn,!"
"kalau kerja ya paling disawah bantu ayahku!" terang Ali
"ohh...begitu..."
"kuat kuat saja kau lembur,permintaan produksi kali ini lumayan tinggi!"
"beberapa waktu lalu aku sempat sampai 3bulan lembur terus sampai malam karena permintaan produksi sangat tinggi ditambah kurangnya karyawan!"
"tapi hasilnya lumayan Al,perbulan ditambah insentif,uang makan dan bonus totalnya bisa mencapai seperti 3bulan gaji pokok!" cerita Johan bersemangat.
"wah mantap banget tuh bang!"
"iya lumayan buat nambah tabungan beli rumah Al!"
"tidak seperti kamu baru kerja sebulan saja sudah akan mewarisi pabrik ini,enak bener!" kata Johan lagi sambil tertawa.
"huuzzz....!"
"jangan keras keras!" kata Ali sambil meletakkan jarinya didepan bibir yang tak ayal juga membuat Johan menghentikan tawanya seketika.
"jangan bikin gosip bang!"
"musim kemarau ini,api gampang sekali membakar hutan!" lanjutnya pada Johan.
"alaahhh tidak perlu kau tutupi sama aku ini Al! aku sudah tau semuanya!" lanjut Johan setengah berbisik.
"memangnya apa yang kau tau bang?" tanya Ali lagi.
"hari minggu itu memangnya siapa yang digandeng mesra bu Ivonne di warung mie depan sana? bukan kau?" tanya Johan sambil cekikikan.
"eh abang liat?" akhirnya Ali tersenyum malu
"tut...tut...tut..."
"tut...tut...tut..."
Akhirnya percakapan mereka terhenti setelah telf yang menghubungkan kantor dengan ruangan mereka berbunyi.
"ya...halo!" sapa Johan begitu mengangkat telf.
"halo pak Johan,ini Desi asisten bu Ivonne!" suara diseberang telf menjawab.
"oh ya bu Desi,ada apa ya?"
"bang Ali nya ada pak?"
"iya ada ini sedang istirahat bersama saya!"
"tolong disampaikan nanti disuruh menghadap bu Ivonne setelah selesai istirahat!"
"baik bu Desi!" jawab Johan sopan.
"terima kasih pak!" jawab suara diseberang telfon menjawab sebelum akhirnya ditutup.
"panjang umur bener Al,baru juga diomongin!"
"tuh kamu dipanggil bu Ivonne setelah jam istirahat...!" kata Johan pada Ali sambil kembali cekikikan.
"baiklah bang,tapi urusan kerja ini pasti soalnya dikantor!" kata Ali sambil sengaja beranjak pergi sebelum dia di goda lagi oleh seniornya itu.
"ingat ya Al..!"
"apa itu bang?"
"naikkan gajiku setelah kau jadi manager...!" sahut Johan lagi sambil tertawa.
Ali pun hanya membalasnya dengan senyuman sebelum akhirnya menutup pintu ruangan.
"ada apa tumben aku dipanggil kekantor..?"
"apa aku disuruh mengantarnya lagi...?"
gumam Ali sambil berjalan ke kantor direksi.
__ADS_1
"bu Desi...bu Ivonne ada..?" tanya Ali begitu sampai didepan ruangan Ivonne.
"oh bang Ali,ada bang! sudah ditunggu daritadi,silahkan masuk saja!" perintah Desi terlihat sopan.
"tok...tok...tok"
"ya masuk saja....!" terdengar suara dari dalam ruangan Ivonne.
Melihat Ali yang masuk ke ruangannya,Ivonne bergegas berdiri berjalan ke pintu dan menguncinya,setelah itu berbalik menghadap Ali.
"plak..."
"plak..."
"plak..."
Tiga tamparan tiba tiba mendarat di pipi Ali tanpa tau apa kesalahannya.
"ad...ada apa ini Von? Apa salahku?" tanya Ali yang merasa benar benar tidak bersalah.
"kemana saja kamu 3hari ini Ye...?"
"apa kamu berusaha menghindariku..?" tanya Ivonne berteriak memasang muka galak hingga membuat Desi yang berada diluar ruangan mendengar suaranya walau tak jelas.
"aku ada kok...aku bekerja..!" jawab Ali singkat.
"kenapa hp mu dimatikan..?"
"setiap aku telf pasti tidak aktif...!"
"hp ku lowbat Von,charger ketinggalan di apartement,sedangkan tetangga kontrakanku mana ada yang punya charger untuk hp seperti itu!"
"hpku adalah keluaran terbaru,mungkin 1 pabrik inipun hanya aku yang punya!"
"kenapa tak berusaha mencariku...?"
"kurasa kurang etis kalau aku mencarimu disini Von!"
"aku tak mau image kamu tercemar hanya masalah sepele!"
"lagi pula beberapa hari ini aku selalu pulang malam,mau mencarimu ke apartement pun tak cukup waktuku untuk istirahat!"
"kenapa aku tak pernah bisa menemuimu setelah jam kerja...?"
"beberapa hari ini aku lembur sampai larut malam Von,kamu tau sendiri permintaan produksi kita meningkat bulan ini!"
Ivonne terhenyak menyadari kebodohannya segera memeluk Ali yang ada didepannya sambil menagis.
"maafkan aku Yeaku menjadi bodoh karena terlalu merindukanmu!"
"aku terlalu takut kehilanganmu!"
"3hari aku melaluinya tanpamu terasa begitu berat Ye!"
"sudahlah Von.,aku tetap ada sesuai janjiku padamu!"
"jangan menangis lagi nanti cantikmu hilang!"kata Ali sembari mengusap airmata dipipinya.
Sambil berusaha menghentikan tangisnya Ivonne mengajak Ali duduk disofa yang berada diruangannya.
Disana dia kembali memeluknya erat erat,menenggelamkan kepalanya kedada lelakinya itu seolah telah bertahun tahun tidak bertemu.
Ali hanya bisa membalas memeluk wanitanya itu dan sesekali mengecup keningnya berusaha memahami perasaanya.
"Yeee..."
"ya sayang...."
"sepertinya aku harus menaikkan jabatanmu menjadi asistenku agar aku harus selalu bersamamu!"
"jangan Von!"
"tapi aku sepertinya sudah tak sanggup berlama lama jauh darimu!"
"aku tak sanggup menahan rinduku padamu Ye!"
"aku tak sanggup lagi untuk marah padamu,terlalu berat kurasakan!"
"aku akan menyesal seumur hidupku tadi telah menamparmu 3x!"
"mau ya jadi asistenku Ye?"
"jangan Von!"
"bakal ada kecemburuan sosial kalau aku jadi asistenmu!"
"saat ada kecemburuan sosial maka perusahaan akan oleng karena sedikit banyak itu akan mempengaruhi hasil produksi dan kinerja karyawan!"
__ADS_1
"mau perusahaan kita hancur?" tutur Ali berusaha memberi pengertian.
"tapiii...."
"tidak ada tapi tapi untuk yang 1 ini!" bantah Ali menegaskan lagi.
"atau kamu pindah apartement saja Ye...atau aku yang pindah kontrakanmu!" akhirnya Ivonne berkata sambil tersenyum merasa menemukan solusi.
Ali hanya terdiam menanggapinya,masih berpikir bagaimana mencari celah menasehati Ivonne saat ini yang sedang bucin.
"tidak perlu kau pikirkan masalah harga diriku Ye!"
"aku sudah tidak peduli lagi tentang image ataupun harga diri sekalipun!"
"toh papa sudah mengetahui semuanya dan menyetujui segala keputusanku!" tambah Ivonne semakin bersemangat.
"dduuuuuaaarrrr..."
Seperti tersambar petir Ali mendengarnya,dia tidak menyangka papa Ivonne akan mengetahui secepat ini,dia belum siap untuk mempertanggungjawabkan semuanya.
"kapan papa mengetahuinya?" tanya Ali lemah.
"kemarin! karena aku terlalu memikirkanmu,aku tidak bisa fokus bekerja!"
"laporan yang kubuat selama 2hari hasilnya acak acakan,akhirnya dipanggillah aku kekantor papa!"
"tadinya aku tidak mau cerita,tetapi karena didesak terus oleh papa akhirnya kuceritakan saja semua!"
"papa merestui kita yang penting kita bertanggungjawab atas apa yang telah kita putuskan dan lakukan!" kata Ivonne menjelaskan.
"termasuk hal itu kau ceritakan?" tanya Ali sambil mengeryitkan keningnya.
"iya lah tentu saja!" jawab Ivonne sambil menjulurkan lidahnya pada Ali seperti biasanya.
"kalau tidak kuceritakan mana mungkin papa merestui kita Ye!"
Ali memeluk erat wanita disampingnya itu,berusaha mengurangi beban kerinduannya.
"maafkan aku sayang,telah membuatmu begitu menderita beberapa hari ini.." kata Ali sambil mencium kening Ivonne yang masih tak mau melepaskan pelukannya.
"salah apa bang Ali sampai bu Ivonne marah begitu hebat?"
"padahal kondisi di timnya baik baik saja,malah semakin membaik menurutku!"
gumam Desi didepan ruangan Ivonne karena mendengar suara kemarahan Ivonne yang tak jelas.
"kapan kau akan pindah ke apartement Ye?" tanya Ivonne akhirnya setelah dia merasa puas memeluk Ali.
"beri aku waktu beberapa hari ya sayang!"
"aku perlu menyetabilkan produksi di timku beberapa hari ini karena permintaan produksi yang tinggi dan perlu jam extra untuk mengcovernya!"
"kalau aku pulang ke apartement waktu istirahatku sangat sedikit karena lumayan memakan waktu untuk pulang pergi!" jawab Ali menjelaskan.
"baiklah tapi jangan kelamaan,3hari!" kata Ivonne sambil menunjukkan 3 jarinya pada Ali.
Ali hanya mengangguk mengiyakan saja permintaan Ivonne,dia tidak mau wanitanya menangis lagi.
"ditambah 1 lagi Ye!"
"apa itu...?"
"hari ini jangan lembur ya,pulang bersamaku!"
"aku rindu Ye,aku mau malam ini kau temani di apartement!" pinta Ivonne merengek manja
"baiklah!" kata Ali menyetujui.
"terima kasih lelaki hebatku!" ucap Ivonne.
"sudah waktunya pulang,ayo kita pulang sayang?" ajak Ivonne kemudian.
"bu...bu Ivonne,ba...bang Ali...!" sapa Desi tergagap melihat Ivonne keluar ruangan sambil memeluk tangan Ali.
"jangan kaget Des.,walau dia hanya supervisor tetapi dia adalah lelaki hebatku!" kata Ivonne sambil mengedipkan sebelah matanya pada Desi.
"ja....ja...jadi tadi..?" tanya Desi masih tergagap karena tidak percaya.
"hahaha...lelakiku terlalu hebat Des!"
"jadi aku tidak bisa menahan bucinku padanya!" jawab Ivonne sambil tertawa.
"bye Desi...aku pulang dulu!"
Ivonne pun berlalu bersama Ali menuju area parkir.
Sejak keluar ruangan Ivonne dengan setia tetap memeluk tangan lelakinya,dia sudah tidak memperdulikan lagi tiap pasang mata yang merasa iri melihat mereka berdua berjalan bersama.
__ADS_1
Ivonne telah mengesamping harga dirinya demi rindu dan cinta pada lelakinya yang lebih berharga.