
Disisi lain suatu sore
"yah...ini ada surat dari sekolah!" kata Anya memberikan sebuah amplop pada ayahnya.
"apa kamu melanggar aturan sekolah Anya?" tanya pak Hendra menyelidik.
"tidak mungkin yah!" jawabnya singkat
"lalu kenapa mukamu masam begitu waktu memberikan surat ini?"
"aku takut yah,..itu surat undangan untuk pengumuman kelulusan besok!"
"aku takut mengecewakan kak Al!" jawab Anya sambil menatap keluar jendela sedih entah apa yang dipikirkannya.
"tiga bulan sudah aku tidak bertemu dengan kak Al! menelepon pun tidak padahal sudah kuberikan nomor telfonku padanya!"
"apa kau benar benar tak menyukaiku kak?"
"apa aku kurang menarik bagimu...?"
"andai kau mau menerimaku aku akan membuat diriku secantik mungkin untukmu...!"
berbagai pertanyaan terlontar dibenak Anya saat ini saat masih menatap kosong kehalaman rumahnya.
"Anya besok kakakmu Della pulang karena libur kuliah,apa kamu mau ikut ibu menengoknya?" bu Hendra bertanya ketika meletakkan secangkir kopi untuk suaminya
"Anya...!"
"Anya...!"
"Anyaaa...!" panggil bu Hendra karena ternyata Anya tidak mendengarkan pertanyaannya disebabkan sedang asyik melamun.
"eh...ya bu...!" jawab Anya ketika menyadari ibunya memanggil.
"besok kakakmu Della pulang karena libur kuliah,apa kamu mau ikut ibu menengoknya?" tanya bu Hendra mengulangi pertanyaannya sambil menggelengkan kepalanya melihat anaknya itu.
"benarkah?"
"tentu saja aku ikut!"
"aku mau ketemu kak Al!"
"aku rindu padanya!" jawab Anya kegirangan.
Ternyata bukan Della yang menyebabkan Anya begitu gembira,tetapi keinginan bertemu dengan Ali.
"aku juga ikut bu!"tiba tiba suara Mita yang keluar dari kamar menyela pembicaraan mereka.
"ya...ya...besok kita berangkat bersama!" akhirnya pak Hendra menengahi sebelum terjadi kekacauan karena dia tau benar bagaimana kedua anaknya ini.
***
Minggu pagi dikontrakan pak Hendi seorang gadis cantik mengetuk pintu kamar yang dulu ditempati Ali.
Kulit kuning langsa,tinggi 170cm,rambut hitam sebahu menggunakan gaun merah yang sangat kontras dengan kulitnya menambah keanggunan yang disandangnya.
Ya...itulah Anya yang tak sabar ingin menunjukkan nilai kelulusannya pada Ali.
"tok...tok...tok..."
"kak...kak Al...!"
"tok...tok...tok...
walau tidak ada yang menyahut Anya masih tetap mengetuk pintu itu sehingga yang berada dikamar sebelahnya terpaksa keluar karena mendengarnya.
"orangnya sudah pindah dek!" kata paman Sean tak menyadari bahwa itu Anya karena dia pada saat itu berdiri membelakangi paman Sean.
__ADS_1
"Paman Sean?" tanya Anya begitu dia berbalik dan menyadari siapa yang berkata padanya tadi.
"Anya?" tanya paman Sean juga merasa kaget.
"iya paman,kak Al kemana paman?" tanya Anya memberondong.
"Al..Al...Ali sudah pindah 2bulan lalu!" kata paman Sean masih sedikit kaget dengan kehadiran Anya disana.
"pindah kemana paman?"
"aduh paman sendiri kurang tau,coba kau tanyakan pak Hendi mungkin dia tau!" kata paman Sean mencoba menghindar.
"baiklah paman!"
"paman ayo ikut ke depan,kebetulan aku bersama orangtuaku!" ajak Anya
"baiklah nanti aku menyusul!"
Paman Sean terlihat ikut merasa sedih melihat Anya berlalu dengan mata merah siap menangis.
Justru yang memiliki alamat tempat tinggal Ali adalah paman Sean,tetapi dia dilarang memberitahukannya pada Anya dan Mita.
Tak berapa lama kemudian paman Sean menyusul Anya untuk menemui orangtuanya.
"paman Hendi apa benar tidak mempunyai alamat tempat tinggal kak Al saat ini?" tanya Anya meyakinkan pada pak Hendi.
"paman pun tak sempat menemuinya saat berpamitan karena sedang pergi dengan bibimu!" jawab pak Hendi menjelaskan.
"apa kamu benar mencintainya Anya?" tanya bu Hendi menambahkan.
"ya bibi...aku bahkan sangat mencintainya!"jawab Anya pelan karena masih bersedih mengetahui Ali telah pindah dari kontrakan pamannya
"aku juga!" Mita ikut menjawab lirih,mukanya terlihat sedih kecewa tak bisa bertemu Ali.
"tapi kita belum tau secara pasti siapa dia dan latar belakangnya!" timpal pak Hendi mencoba ikut memberi pengertian pula.
"Anya tidak peduli siapakah dia paman,bahkan dengan tampangnya yang berandalan saat itu aku bisa benar benar merindukannya!"
"aku juga tak peduli kak Della,walau menjadi istri ke 12 pun aku rela asal menjadi istrinya!" jawab Anya sedikit ketus.
"seandainya dalam 1 tahun dia hanya punya 1hari untukku pun aku sudah sangat bahagia asal menjadi istrinya!" Mita menambahkan.
"apa kalian sudah tidur dengannya hingga menjadi seperti ini?" tanya Della heran dengan kedua sepupunya ini.
"kak Al bukan orang seperti itu kak Della! jangan menghinanya! aku tidak terima!"
"tapi andai kak Al menginginkan itu sebagai syarat bisa menerimaku pasti akan kulakukan!" giliran Mita yang menjawab sedikit ketus.
Semua yang ada disana terkesiap kaget mendengar semua jawaban kedua gadis itu,sebegitu mencintai Ali hingga bisa memberikan jawaban dan keputusan yang tidak disangka.
Terutama pak Hendra sebagai ayah keduanya sangat mengetahui bahwa sebelum bertemu Ali keduanya tidak pernah sekalipun dekat dengan pria.
Entah kenapa setelah bertemu Ali keduanya menjadi gadis yang sangat berbeda dan bahkan dibilang agresif.
"seperti apa sih orangnya?" bisa membuat kalian seperti orang gila begitu?" tanya Della penasaran.
Mita lalu menunjukkan sebuah foto yang menjadi wallpaper dilayar hp nya,foto Ali yang sempat dia ambil saat berkunjung kerumahnya waktu itu.
Foto Ali disaat dia masih berpenampilan berandalan.
"bukan...bukan seperti itu dia sekarang!" kata pak Hendi setelah melihat foto yang ditunjukkan oleh Mita.
"ini foto sewaktu pertama kali mau interview!"kata pak Hendi memberikan hp nya pada Della.
Mita yang ada disebelah Della buru buru mengambil hp pak Hendi sebelum diterima Della.
"ini...ini...kak Al?" kata Mita lalu menoleh pada Anya disebelahnya.
__ADS_1
kembali mereka berdua menatap layar hp itu yang menampilkan sosok tampan yang kurang familiar,tetapi mereka berdua mengenali Ali yang berada dalam foto dari pakaian dan sepatu yang dikenakannya,kemeja yang dibelikan Mita dan sepatu yang dibelikan Anya.
Walaupun sebenarnya mereka belum 100% yakin bahwa itu Ali karena tampilannya yang sangat tampan dan jauh berbeda dari Ali yang mereka kenal,tetapi akhirnya mereka tersenyum bahagia menatap foto tampan itu.
Entah apa yang ada dibenak mereka saat itu,tapi pastinya itu adalah sesuatu yang membahagiakan.
Setelah mengcopy foto tersebut ke hp mereka Mita menyerahkan hp pak Hendi pada Della.
Della mengamatinya sesaat lalu mengeryitkan keningnya
"apa dia seorang *seonbae?" tanya Della
"bukan...dia baru datang dari kampung sekitar 4bulan lalu kak!" jawab Mita
"tapi sepertinya aku pernah melihatnya didepan dojo!" tambah Della
"yakin kamu kak?" tanya Anya
"sepertinya yakin! bulan lalu sewaktu pulang aku pernah mampir ke dojo,kulihat dia didepan dojo kita!" katanya meyakinkan
"benarkah?" tanya Mita dan Anya serentak
"aku sangat yakin dialah orangnya!" jawab Della antusias.
Anya yang duduk disebelah Mita hanya terdiam memandangi foto Ali dilayar hp nya,dia tidak tertarik sama sekali pada obrolan mereka saat ini.
"kak Al..."
"kau sungguh tampan sekarang..."
"masih sanggupkah aku bersaing dengan wanita lain untuk menjadi wanitamu..?"
"sungguh tidak adil bagiku..!"
"aku sudah siap menjadi wanitamu kak.."
"aku sudah lulus sekarang bahkan menyandang predikat pertama disekolahku.."
"aku menagih janjimu padaku kala itu..!"
"dimanakah kau sekarang kak...?
tak terasa bulir airmata telah menetes mengiringi tatapannya pada foto Ali.
Anya yang dikenal periang dan sedikit tomboy hari itu berubah drastis menjadi sosok yang pendiam,hatinya pilu merasakan kegagalan menemukan pujaan hati yang sangat dirindukannya.
Pak Hendra dan istrinya ikut terdiam menyaksikan bagaimana kedua putrinya bertingkah hari ini.
"sebegitu besarkah cinta mereka pada Ali?"
Terlepas kesan mereka pada Ali adalah sosok yang baik,tetapi mereka tidak tau apa yang membuat kedua putrinya menjadi sangat menginginkannya.
"sebaiknya besok kita tanyakan saja pada security pengelola disana apakah mereka mengenal orang ini!" kata Della akhirnya memberikan solusi.
Della yang saat itu masih memegang hp pak Hendi tak habis pikir apa yang membuat kedua sepupunya begitu mencintai lelaki tersebut.
Terlepas dari tampan yang memang diakuinya tetapi Della tidak menemukan sesuatu yang istimewa pada dirinya yang bahkan adalah pendatang dari kampung.
"maafkan pamanmu ini nak..!"
"paman sangat sedih melihat kalian berdua bersedih seperti itu..!"
"tetapi pujaan kalian itu telah mewanti wantiku untuk tidak mengatakan keberadaannya pada kalian..,!"
"dia tidak ingin kalian kecewa dengan keadaan karena sebenarnya dia juga menyayangi kalian walau dia sendiri tidak tau itu sebagai apa..."
"jika memang berjodoh kelak kalian pasti akan menemukannya..!"
__ADS_1
paman Sean hanya bergumam dalam hatinya menatap kedua gadis cantik didepannya itu.
Kedua gadis yang ditolongnya bersama Ali beberapa bulan lalu itu ternyata benar benar mencintai Ali seperti dugaannya tetapi besarnya cinta mereka sungguh diluar apa yang dia pikirkan.