Perjalanan Berandal Pujaan

Perjalanan Berandal Pujaan
Bab.4 Mountiles


__ADS_3

Hari sudah malam saat Ali tiba di stasiun Mountiles,kesadarannya belum pulih seutuhnya dari tidur karena baru saja dibangunkan oleh penumpang lain yang akan turun melalui pintu yang Ali tempati sedari berangkat tadi pagi.


Akhirnya Ali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar stasiun mengikuti penumpang penumpang lain karena memang Ali belum pernah sampai ke tempat ini.


"Mau kemana aku?"tanya batin Ali saat kakinya melangkah keluar dari peron stasiun Mountile


"Lebih baik mencari warung makan untuk mengisi perut dulu!"pikirnya kemudian.


Setelah berjalan beberapa saat akhirnya Ali menemukan sebuah warung makan sederhana,tampak bersih dan menu makanan yang ditampilkan terlihat sangat menggiurkan walaupun hanya menu khas pedesaan.


"Si..silahkan bang!"kata pelayan mempersilahkan masuk tampak agak sedikit ketakutan,mungkin karena penampilan Ali yang terlihat urakan.


Mata Ali berkeliling kedalam mencari meja kosong yang kurasa agak nyaman ditempati,akhirnya Ali memilih salah satu meja kosong yang sebelahnya telah ditempati seorang laki laki setengah baya.


Setelah Ali meletakan ranselnya,akhirnya Ali memilih menu sederhana disertai teh hangat agar tidak terlalu drop badannya diserang dinginnya malam.


Sambil menunggu makanan pesanan datang akhirnya Ali iseng bertanya pada lelaki dimeja sebelahnya.


"Maaf pak,bolehkah saya bertanya?"tanya Ali.


"Ada apa nak?apakah kau mau menipuku?" tanya lelaki itu menyelidik sedikit curiga.


"Ahh...tidak begitu pak...!penampilan memang saya akui sedikit buruk,tapi saya tidak bermaksud jelek..!"sergah Ali kemudian.


"Ok,baiklah ada apa?"tanyanya kemudian.


"Apakah bapak berasal dari kota ini?saya ingin bertanya dimana letak daerah yang dekat dengan lokasi industri dan dekat dengan kontrakan?"tanya Ali hati hati takut beliau curiga lagi.


"Mau apa kau kesana?"timpalnya masih agak sedikit curiga.


"Saya dari kampung pak,mau mencari kerja!"


"Ahh begitu rupanya,hahaha!"


Sebaiknya kau lepas dulu anting ditelingamu itu!"


"kau butuh banyak bantuan disini karena masih baru menginjakkan kaki dikota ini,dengan tampangmu itu maka akan lebih banyak orang yang tidak menganggapmu daripada membantumu."


"Kebetulan aku hanya mampir makan ditempat ini dan tempat tinggalku lumayan jauh tapi sesuai dengan apa yang kau cari saat ini,kau bisa ikut aku nanti kalau kau mau!"kata lelaki itu menerangkan membuat Ali tersenyum kecut sambil melepas tiga anting ditelinganya.


"Benarkah pak saya boleh ikut anda untuk sampai kesana?"tanya Ali kemudian.


"Tentu saja kalau kamu mau,aku tau kondisimu saat ini tak jauh beda denganku dulu.Aku juga seorang perantau sama sepertimu,sekarang aku menyopir angkutan kota disini dan kebetulan mampir makan diwarung ini!"


"Oya siapa namamu?"tanyanya kemudian.


"Ali pak,Ali Taye nama saya,biasa dipanggil ali atau yeye!"kata Ali menerangkan.


"Namaku Sean,jangan kau panggil pak,panggil saja bang atau paman.Kurang pantas rasanya aku kau panggil pak hahaha!"timpalnya sambil berseloroh.


"Baiklah,kalau saya panggil paman Sean bagaimana,karena umur paman kelihatannya sedikit lebih muda dari ayah saya."jawab Ali sambil memandang minta persetujuan.


"Hahaha bagus..bagus kedengaran lebih enak didengarnya!"


"Baiklah kau makanlah dulu pesananmu itu,nanti ikutlah aku pulang ke tempatku.tidak usah terburu buru,kita masih punya banyak waktu sebelum pulang!"perintah paman Sean kemudian.


"Baiklah paman!"jawab Ali seraya mulai melahap makanan pesanannya.


Sambil melahap makanannya Ali berpikir sungguh keberuntunganku kali ini,atau orang ini punya maksud jelek kepadaku karena aku seorang pendatang baru disini.


Rasa ragu mulai menyelimuti hatinya atas tawaran yang diberikan padanya tadi,tapi kalau kutolak mau kemana lagi nanti.


"Ahh biarlah kuikuti saja ajakan paman Sean ini,toh tidak ada salahnya juga mengikutinya.


Tidak baik berprasangka buruk pada niat baik seseorang"akhirnya batin Ali memutuskan.


"Sudah selesai li?"tanya paman Sean tiba tiba.


"Oh sudah paman!"jawab Ali.


"Baiklah,ayo kita pulang keburu malam!"ajak paman Sean kemudian.


Ali berjalan mendahului kemeja kasir,tetapi saat hendak membayar paman Sean mencegahnya.


"Ali..biar paman yang membayar semuanya,anggaplah ini sebagai perkenalan dariku.Gunakanlah saja uangmu untuk biaya hidupmu selama kau belum mendapat kerja.!"kata paman Sean sambil menepuk pundak Ali.


"Ba...baiklah paman,terima kasih!"jawab Ali terbata bata.


Selesai membayar makan mereka berdua paman Sean mengajak Ali ke bus kota milik paman Sean yang diparkir tak jauh dari warung makan.


"Duduklah didepan sini Al!"perintah paman Sean.


"Tidak paman,aku duduk dibelakang saja sambil menghirup udara malam yang segar ini!"jawab Ali kemudian.


"Baiklah kalau begitu tapi letakkan saja ranselmu itu di depan sini atau dibagasi supaya tidak mengganggu nanti kalau ada penumpang!"perintah paman Sean kemudian.


"Baiklah paman!" jawab Ali menyadari tas ranselnya memang lumayan besar dan bisa mengganggu penumpang lainnya nanti.


Tidak lama kemudian bus itu mulai beranjak dari tempat parkirnya.


Ali kembali menerawang jauh memandang langit gelap malam itu dari jendela bus kota,...


Kembali terlintas bayang raut wajah ibunya yang sendu saat menitikkan airmata...


"Ibu...maafkan aku...!"


"Entah apa jadinya aku nanti dikota ini,semoga dengan doamu aku senantiasa bisa menghadapi segala apa yang akan terjadi disini."


Bus terasa pelan sekali jalannya bagi Ali.


Lalu dia bertanya pada paman Sean.


"Kenapa jalannya pelan pelan paman?" tanya Ali.


"hahaha...kau tidak sabaran saja bocah!" jawabnya sambil tertawa


"Ini sambil cari penumpang tambahan li.lumayan kalau dapat bisa untuk sarapan besok pagi,kita harus pintar pintar dikota kalau mau hidup!"


"persaingan dikota sangat sengit!"tambah paman Sean menjelaskan.


"oh hahaha...iya ya...maafkan aku paman yang tidak tau!"jawab Ali sambil tertawa.


"tidak apa apa li,aku maklum karena kau baru saja tiba dikota,jadi harus banyak belajar..!nanti kau bisa ikut denganku dulu kalau belum mendapat kerja itupun kalau kau mau dan tidak malu!"


"kemana paman?"tanya Ali sedikit bodoh.


"kerja lah,jadi kernetku kalau kau mau.lumayan buat kau makan sehari hari!"paman Sean menjelaskan.


"oh baiklah paman,terima kasih sekali paman memberiku pekerjaan!"jawab Ali dengan gembira.

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti saat tiba tiba bus dihentikan dan beberapa penumpang naik.


Dua orang gadis belia dan seorang laki laki bertopi,kalau dilihat mereka tidak jauh umurnya dari Ali.


Dari perawakannya kedua gadis itu kakak beradik.


Bus kembali berjalan walau tidak sepelan tadi menyusuri pinggiran kota Mountiles.


Saat bus melalui tempat sepi yang kanan kirinya hanya terdapat pagar dari pabrik pabrik,bus pun melaju lumayan cepat.


Saat itu penumpang pria yang tadi naik menoleh kepada Ali dan tersenyum menyeringai,lalu tiba tiba dia mengeluarkan pisau army dan menodongkannya kepada kedua gadis tersebut sambil berteriak.


"jangan macam macam atau kubunuh!"


"serahkan dompetmu dan semua perhiasanmu!"kata pria tersebut kepada kedua gadis disampingnya.


"Astaga,penodongan" pikir Ali saat itu


"dia bawa pisau,bisa apa aku?"


"ah dimana nyali laki lakimu selama ini Ali?"


"Apa setelah memasuki kota jadi hilang nyalimu?" kembali batin Ali bergejolak tidak terima perlakuan pria didepannya kepada 2 gadis tersebut.


"hei apa apaan kau menodong orang di busku!" tiba tiba paman Sean berteriak kepada pria tersebut tanpa mengurangi laju busnya.


Disaat gadis itu hendak melepas kalung yang bergantung dilehernya,si pria bertopi kelihatan sedikit lengah.


Saat inilah Ali tiba tiba bergerak dengan gesit menangkap tangan kanan pria itu yang memegang pisau army dengan tangan kirinya lalu tangan kanannya mengayunkan tinju kedagu si pria didepannya


"bughh..."


"cletak...."


"aaggggrhhh...."


Tinju Ali mengenai dagu pria itu sampai beberapa giginya terlempar dari mulutnya,pria itu yang tidak menyadari gerakan Ali karena dari arah belakangnya tak ayal langsung terlempar ke lantai bus kota.


Tanpa memberi kesempatan pria itu bernafas Ali langsung menarik dan mengangkat kedua kaki pria tersebut memberi satu tendangan telak diperutnya.


"buugghhhh..."


"heeeggghh..."


Pria itu tidak bisa bernafas beberapa saat karena tendangan Ali diperutnya,saat itulah Ali langsung menelungkupkannya dan menarik kedua tangannya kebelakang layaknya polisi polisi di tv yang menangkap penjahat.


Paman Sean sedikit kaget melihat dari center mirror diatasnya apa yang Ali lakukan tanpa disadarinya..


"hebat kau li hahahha!"


"mantap...mantap!"teriaknya sambil tertawa


"mau kita apakan orang ini paman?"tanya Ali kepada Sean.


"kau tahan dulu cecunguk itu seperti itu dulu bisa? didepan ada kantor polisi nanti kita laporkan saja disana!"teriak paman Sean kemudian.


"baiklah paman,tenang saja!"


"Kalau masih macam macam tinjuku masih mampu sedikit merusak wajahnya ini!"kata Ali sambil memelototi pria itu yang menoleh kearahnya.


"kalian tidak apa apa nona?"


"kami tidak apa apa kak,hanya sedikit shock saja!" jawab keduanya hampir bersamaan.


"baiklah,tenang saja semua sudah terkendali!" timpal Ali menenangkan mereka berdua.


Sesampainya dikantor polisi paman Sean segera melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala polisi disana karena kebetulan beliau masih bertugas dan belum pulang.


Tanpa menunggu lama pria penodong tersebut langsung dimasukan kedalam sel tahanan oleh 2 orang polisi lainnya.


Setelah selesai memberikan keterangan sebagai bukti paman Sean,Ali dan kedua gadis tersebut berpamitan hendak melanjutkan perjalanan pulang.


Tapi tiba tiba Kepala Polisi yang tadi memintai keterangan kepada paman Sean berteriak.


"Tunggu sebentar!"teriaknya kepada 4 orang tersebut


Sambil setengah berlari dia mendekati Ali lalu bertanya,


"Apakah kita bertemu dik?"


"sepertinya wajahmu familiar untukku!" kata kepala polisi tersebut.


Sambil setengah terbengong Ali menatap komandan terse


"Saya baru datang dari kampung pak,mana mungkin kita pernah bertemu!" jawab Ali sambil mengerutkan wajahnya karena bingung.


"Tapi wajahmu sangat familiar bagiku,darimana asalmu?" lanjut komandan itu setengah tidak percaya.


"Saya dari daerah pak,sebuah desa bernama Canyon River!"


"apa bapak pernah kesana?" jawab Ali menerangkan.


Komandan itu terhenyak sesaat seperti tidak percaya karena dia merasa tidak mengenal daerah itu tapi wajah Ali terasa sangat familiar baginya.


"Ahh baiklah,mungkin aku salah lihat saja!"


"Kedepannya kalau perlu bantuanku bisa langsung cari saja aku,namaku Capt.Ronald!" kata capt.Ronald menjelaskan.


"Baiklah pak,terima kasih."


"kalau begitu kami pamit dulu!" kata Ali sambil beanjak pergi meninggalkan capt.Ronald yang masih sedikit tidak percaya dengan jawaban Ali barusan.


Sepeninggal Ali,sang komandan kembali ke dalam kantor.


Sambil berjalan dia garuk garuk kepala masih mencoba mengingat kembali siapa Ali ini.


"mungkinkah???" pikirnya sambil sedikit tersenyum.


****


Sambil berjalan kearah bus mereka berbincang menghilangkan kegugupan yamg telah dialami.


"Kalian mau pulang kemana dik?" tanya paman Sean kepada kedua gadis itu.


"kami pulang ke jln.Mawar no.23 paman!" jawab salah satu gadis itu.


"ohh tidak jauh lagi!"


"kalau begitu biar paman antar sampai depan rumah kalian,paman takut terjadi apa apa lagi dengan kalian karena sudah larut malam!" kata paman Sean menawarkan sedikit bantuan lagi pada mereka.

__ADS_1


"baiklah paman,terima kasih!" jawab gadis itu kembali


Ali hanya diam saja saat itu mengikuti dibelakang mereka,dia merasa sungkan untuk ikut mengobrol karena malu.


"Ali...mau kemana kau?" tiba tiba paman Sean berteriak disertai tawa cekikikan dari ke 2 gadis yang telah ditolongnya.


Ali yang merasa kaget segera menoleh kearah suara tersebut yang ternyata telah berdiri di pintu bus dibelakangnya,ternyata dia telah melewati bus yang mereka tuju tanpa disadarinya


Itu karena dia juga sama seperti komandan tadi,sambil berjalan terus memikirkan dimana pernah bertemu komandan tersebut kalau dia merasa kenal dengannya.


"hehehe...."


Ali tersenyum dan garuk garuk kepala menyadari kebodohannya sambil berjalan balik kearah bus dibelakangnya.


"dasar bocah,apa yang kau lamunkan sampai tidak sadar begitu?"


"apa kau melamunkan kedua gadis ini hahaha?"tanya paman Sean menggodanya.


"ahh paman ini ada ada saja,kenalpun tidak bagaimana memikirkannya?" jawab Ali sambil bersungut menaiki bus itu.


"hahaha...ayolah pulang!" akhirnya paman Sean menyudahi godaannya pada Ali.


Tak berapa lama kemudian kamipun sampai dijalan yang dituju kedua gadis itu.


"stop di depan paman,rumah yang berpagar hijau itu!" teriak salah satu gadis itu.


Karena kebetulan rumah mereka dipinggir jalan maka paman Sean menghentikan busnya di depan rumah pas.


"ini rumah kalian?"tanya paman Sean sambil melihat kearah kedua gadis itu.


"iya paman,apakah paman dan kakak mau mampir dulu?" tanya salah satu gadis.


"ahh tidak kelihatannya"


"hari sudah malam lagipula kasian Ali juga baru sampai dari kampung tentunya lelah apalagi habis baku hantam sama penodong tadi,mungkin lain kali saja ya!"jawab paman Ali terus terang.


"baiklah paman,terima kasih sudah menolong kami!"


Kemudian gadis itu berbalik pada Ali sambil berkata


"terimakasih kak sudah menolong kami berdua,kalau tidak ada kakak mungkin kami tidak selamat pulang kerumah!"


"o ya namaku anya dan ini kakakku mita"


"Kalau ada waktu mainlah kerumah,ini nomer hp ku!" katanya sambil menyerahkan secarik kertas kepada Ali.


Ali menerimanya sambil berkata


"namaku Ali.Ali Taye,biasa dipanggil Ali atau yeye!" terang Ali dengan kepolosan desanya.


Anya mendekat lalu membisikkan sesuatu ketelinga Ali


"telfon aku ya kak!" bisiknya lalu mencium pipi Ali.


Ali yang tidak menyangka akan kejadian tersebut hanya terdiam bengong seperti melihat hantu,darah mudanya terkesiap karena baru sekali ini dicium seorang gadis.


"hahahaha" tiba tiba tawa paman Sean meledak menyadarkan Ali dari linglungnya,sedangkan kedua gadis tersebut telah turun dari bus.


"pamaann,jangan menggodaku!"teriak Ali pada Sean.


Bus pun kembali berjalan,Ali kembali memandang Anya dan Mita yang masih berdiri didepan rumahnya memandangi mereka yang meninggalkannya sambil melambaikan tangan.


Ali hanya bisa membalas lambaian tangan mereka sambil tersenyum.


Melihat rumah mereka kembali Ali terbawa angannya mengingat ibunya dirumah.


"jangan bersedih lagi bu,yakinlah aku akan menjadi kebanggaanmu suatu saat kelak!" batin Ali kembali berucap


Sambil terus melihat pemandangan kota dimalam hari mereka menyusuri jalanan menuju ketempat paman Sean tinggal.


Paman Sean pun membiarkan Ali menikmati pemandangan itu karena dia menyadari Ali baru sekali ini menjejakkan kakinya dikota ditambah mungkin dia lelah karena perjalanannya dari kampung.


Tak terasa mereka sudah sampai ditempat tinggal paman Sean,sebuah kontrakan petak lumayan besar berukuran 3mx6m.


Suasana disana sangat sepi karena penghuni lainnya mungkin sudah tidur karena memang jam sudah menunjukkan jam 12malam.


Setelah mempersilahkan masuk paman Sean berkata "malam ini beristirahatlah kau disini,besok pagi kuperkenalkan dengan pemilik kontrakan dan penghuni kontrakan lainnya!" terang paman Sean pada Ali


"terima kasih paman sudah membantuku seperti ini!" jawab Ali sedikit sungkan.


"tenang saja,sesama perantau memang harus saling bantu,terlepas mereka siapa dan berasal darimana!"


"selama kita bisa tidak ada salahnya membantu yang perlu dibantu!"kata paman Sean sambil melepas pakaiannya.


"ternyata paman Sean benar benar seorang malaikat bagiku,aku telah berdosa berprasangka buruk padanya tadi saat diwarung makan"


"maafkan aku paman karena telah berprasangka buruk padamu!"


kembali batin Ali bergejolak merasa bersalah pada paman Sean.


Setelah berganti pakaian kamipun kembali bercakap cakap sebelum tidur.


"itu foto siapa paman?"tanya Ali sambil menunjuk foto 2 gadis cantik yang terpampang besar didinding kamar.


"oh itu foto anak anaku dikampung!"


"aku tidak mampu membiayai sekolah mereka dikota jadi kutitipkan neneknya dikampung untuk bersekolah,biayanya kukirimkan setiap bulan dari hasilku menyopir ini!" terang paman Sean menjelaskan.


"bersama ibunya juga mereka disana paman?" tanya Ali kembali.


"tidak,ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit parah dan tidak terlong lagi!" jawab paman Sean terlihat sedih.


"oh maafkan aku paman membuatmu sedih!"


"aku tidak tau!" mohon Ali merasa bersalah


"sudahlah,sekarang tidurlah!"


"kau tentu lelah seharian perjalanan dari kampungmu!"perintahnya kemudian.


"baik paman!" jawab Ali menurut sambil berusaha memejamkan matanya.


****


Keesokan paginya Ali dikenalkan kepada Pak Hendi dan Bu Hendi pemilik kontrakan tersebut oleh paman Sean,setelah memenuhi beberapa persyaratan untuk tinggal akhirnya Ali menempati salah satu kontrakan yang kebetulan masih kosong.


Penghuni kontrakan lainya juga ramah membuat Ali merasa betah disana.


Setelah selesai membersihkan kamarnya akhirnya Ali mengobrol dengan para penghuni lainnya sambil menanyakan apakah ada lowongan untuknya bekerja ditempat merek

__ADS_1


__ADS_2