
"kepala naga tertangkap teleskop"
Ali kembali membaca pesan dari nomer tak dikenal beberapa hari lalu,mencoba mengartikannya.
Menurut beberapa anakbuah yang dihubungi gerakan bawah tanah yang mereka pantau masih biasa biasa saja tidak menampakkan aktifitas mencurigakan.
Ali masih mencoba menguraikan arti kalimat itu bingung ditambah nomer yang mengirim pesan tersebut tidak bisa dihubunginya.
Apa artinya keberadaannya di kota ini telah tercium oleh mereka yang berarti akan membahayakan Ivonne dan beberapa orang disekitarnya.
Kebingungan beberapa hari ini benar benar menghantui Ali.
"pa...kenapa beberapa hari ini kulihat kamu seperti tidak tenang? apa ada masalah?" tanya Ivonne malam itu sehabis makan malam bersama Ali.
"ah tidak! tidak ada masalah apa apa!" jawab Ali mencoba menghindar.
"aku istrimu pa,pagi siang sore malam selalu bersamamu! aku tau keseharianmu dan kebiasaanmu! aku tau kamu bohong,kalau memang ada masalah katakanlah,baik atau buruk itu adalah masalah kita!"
Ali menjadi bimbang,haruskah dia berterus terang pada Ivonne.
Semua hal ini menjadi sebuah dilema baginya,keselamatan Ivonne dan keluarganya kini menjadi tanggung jawabnya.
"ma...bagaimana nanti seandainya ada wanita sepertimu begitu saja hadir di kehidupan kita?" tanya Ali mencoba mencari cari masalah yang lain.
"apa kamu punya wanita lain pa?" tanya Ivonne balik sedikit terkejut dengan pertanyaan Ali.
"tidak!"
"lalu kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"hanya seandainya ma!" ucap Ali lirih sambil mencium kening wanitanya itu.
"tidak mungkin kamu bertanya seperti itu tanpa suatu alasan!" ucap Ivonne cemberut.
"kamu tau Mita dan Anya kan ma?" tanya Ali tiba tiba teringat kedua gadis itu.
"kamu kenal mereka pa? dimana?" berondong Ivonne penasaran.
"iya kenal,dulu sewaktu perjalananku ke Mountiles aku pernah menolong mereka! bahkan Anya berani menciumku saat pertama kali bertemu denganku!" terang Ali sambil menghela nafas panjang sedikit menyesal harus menceritakannya pada Ivonne.
"apaaa....? apa kamu pernah tidur dengannya juga?" tanya Ivonne masih dengan muka cemberut.
"belum!"
"beluuuummmm....? belum berarti akan begitu...?" kata Ivonne sambil mencubit pinggang lelakinya itu.
"eh...tidak!" jawab Ali menyadari kesalahannya berbicara.
"tidak apa apa kalau tidak tidur dengan mereka!"
"yang penting kamu sekarang milikku pa!" ucap Ivonne sambil membenamkan kepalanya ke dada lelakinya itu.
"tapi kamu tidak tau kegilaan seperti apa yang mereka miliki ma!"
"memang seperti apa?"
"tau ga ma, mereka bahkan secara lugas berani menyatakan cintanya padaku didepan orangtuanya!"
"benarkah?"
__ADS_1
"ya...membuatku seperti monyet terkena peluru karet waktu itu! Tidak hanya satu bahkan keduanya secara bersamaan! bahkan pakaian dan sepatu yang kugunakan untuk interview waktu itu mereka yang membelikan dan yang mengantar adalah orang tuanya!" imbuh Ali menjelaskan.
"itu tandanya lelakiku memang seseorang yang tampan dan patut dikagumi! aku bangga punya suami kamu pa!" ucap Ivonne lalu mencium bibir Ali penuh kemesraan.
" tapi aku takut ma!"
"takut kenapa?"
"aku takut jika suatu saat bertemu mereka dan mereka masih meneruskan kegilaannya itu! aku takut membuatmu kecewa dan sakit hati padaku!" ucap Ali sambil menatap kosong ke langit langit kamar itu.
"biarlah pa!kita jalani saja toh kita belum tentu bertemu mereka!"
"tapi aku pernah melihatmu bersama mereka di dojo waktu itu!" Ali masih menjelaskan alasan ketakutannya.
"asal kamu masih lelakiku yang selalu mencintaiku maka aku akan selalu bersamamu bagaimanapun keadaannya!"potong Ivonne sambil mempererat pelukannya pada lelaki yang sangat dicintainya itu.
Ali membalas pelukan Ivonne sambil membelai rambutnya dengan penuh kasih.
Sungguh berat dilema yang dia rasakan antara cinta dan tugas.
"paaa...." rajuk Ivonne tiba tiba
"ya sayang..."
"seandainya perkataanmu benar masih ada seribu wanita lagi untukmu apakah aku masih akan menjadi wanita tercantik bagimu?" tanya Ivonne sambil menatap Ali.
"tentu saja!tentu kamu tetap akan menjadi wanita tercantik yang paling kucintai sayangku!" kata Ali mencoba menyenangkan hati wanita tercintanya.
"kalau begitu aku akan menerima semua wanitamu asal tidak lebih dari seribu! pesonamu memang benar benar sulit ditolak bagi seorang wanita!" kembali Ivonne berkata sambil membenamkan wajahnya ke dada Ali.
"sebenarnya masih ada lagi yang membuatku resah ma!" kata Ali lirih.
"bukan...bukan seperti itu ma!"
Lalu Ali meraih hpnya yang ditaruh di meja sebelahnya dan menunjukkan sebuah pesan yang dari kemarin menghantuinya pada Ivvonne.
"apa artinya ini pa?" tanya Ivonne merasa bingung.
"mmm...."
"aku juga bingung mau menjelaskannya padamu ma!" jawab Ali.
"coba sini!" ajak Ali sambil menarik tangan Ivonne untuk berdiri.
Ali mengajaknya memasuki ruang ganti pakaian yang ada didepan kamar mandi diruangan itu.
Setelah berada didepan meja rias Ali memutar sebuah hiasan berbentuk bulat yang terletak diatas kaca meja rias.
Saat itu juga meja rias bergeser dan terlihatlah sebuah lorong yang kanan kirinya dipenuhi senjata api dari mulai Glock20 SF,Glock20 gen4,Desert Eagle,SIG Sauer,L115A3,Barret M82,SSG 69,M16,AK 103,FN dan masih banyak lagi.
Diujung lorong terlihat beberapa seragam militer lengkap dengan tanda pangkat dan baret.
"pa...ini...ini...?" Ivonne terkesiap melihat semua ini.
Sudah hampir 1th dia menempati apartement ini tapi tidak pernah menyadari keberadaan ruangan tersebut.
"ya ma,inilah aku yang sebenarnya!"
"bagaimana semua ini ada disini tanpa aku menyadarinya pa?"
__ADS_1
"aku menyuruh anak buahku membuatnya beberapa hari lalu saat kita dirumah papa ma!"jawab Ali sembari mengajak Ivonne berjalan keujung lorong.
"sebagai seorang anggota intelejen harusnya aku menyembunyikannya darimu ma!"
"tapi aku selalu was was dan mengkhawatirkan keselamatanmu!" kata Ali menerangkan lalu memeluk wanitanya itu erat erat.
"sekarang pakailah gaun terindahmu ma! aku tidak ingin melewatkan moment ini,ayo kita foto bersama!"
"baiklah!" jawab Ivonne dengan hati berbunga lalu bergegas kedalam kamar.
Didalam kamar Ivonne berdandan secantik mungkin,gaun merah yang sangat digemari Ali saat dipakainya segera dikenakannya.
Ali pun didalam ruang lain segera mengenakan pakaian militernya.
"Bidadariku sungguh mempesona!" ucap Ali menyambut Ivonne dalam pelukannya saat dia telah kembali ke ruangan itu.
"kamu juga sangat tampan pa dengan seragammu!" ucap Ivonne yang juga sangat terpesona oleh ketampanan lelakinya itu membuatnya tak kuasa menolak hasrat untuk menciumnya.
"melati 3 dipundak ini berarti pangkatmu apa pa?" tanya Ivonne menunjuk sesuatu yang tersemat dipundak Ali setelah mereka selesai berfoto dengan beberapa gaya mesra dan formal.
"Kolonel ma!" ucap Ali menjelaskan
"kamu benar benar lelakiku yang hebat pa!"
"andai papa dan mama tau pasti mereka akan sangat bahagia karena sebenarnya mereka sangat menginginkan menantu dari dunia militer bukan dari kalangan pengusaha!"
"jangan ma..jangan diberi tau! semakin sedikit yang mengetahui jati diriku maka akan semakin baik! karena aku tidak ingin mempertaruhkan keselamatan mereka! dengan membuka identitasku padamu pun sebenarnya sangat riskan!"
"tapi karena adanya seragam ini mungkin suatu saat akan membuatku berpisah denganmu dan aku tak mungkin meninggalkanmu tanpa alasan yang jelas! ini juga salah satu alasan mengapa aku menolak pernikahan kita dilakukan secepatnya ma,aku tidak mau dirimu terekspose dan mengapa aku beralasan masih banyak yang harus ku kejar karena memang banyak yang harus kukejar dalam arti yang sebenarnya!"
Ali menjelaskan panjang lebar mengenai semuanya dan menceritakan bagaimana awal mulanya dia direkrut di intelejen.
"beberapa hari lalu aku menerima pesan yang tadi kutunjukkan padamu ma! aku khawatir itu merupakan kode bahwa keberadaanku sudah diketahui oleh pihak seberang makanya aku bingung harus bagaimana menjelaskan padamu karena mungkin dalam waktu dekat aku harus menyingkir sementara dari Mountiles!" akhirnya Ali mengungkap tentang kegusarannya pada Ivonne.
"lalu kemana kamu akan pergi pa?" tanya Ivonne sedikit merajuk.
"kemungkinan besar MetroHills ma karena sementara baru Mountiles dan MetroHills yang harus kami amankan!"jawab Ali menerangkan.
"oh..tidak jauh,tidak masalah pa!"
"lalu kapan itu?" lanjut tanya Ivonne masih dengan muka cemberut.
"belum tau ma,menunggu kepastian berita dari orang orang yang kusebar!"
"tapi mama tidak usah khawatir, aku sudah menempatkan 4 orang untuk membayangi dan menjaga keselamatan mama selama 24jm dan aku juga sudah menyusupka 50 orang kedalam grup pengawal papa untuk menjaga keselamatan papa dan mama..!" ucap Ali kembali ingin membuat wanitanya itu tenang.
"lalu dimana 4 orang yang papa tugaskan untuk menjagaku?"
"mungkin berkeliaran dibawah..disekitar apartement ini!"
"kalau begitu aku harus memanfaatkan waktu yang ada!" ucap Ivonne sambil memeluk Ali.
"untuk apa?"
"untuk makan kamu sepuasnya sebelum kamu pergi pa!" bisiknya ditelinga Ali.
Malam itu sungguh melegakan bagi Ali karena bisa menyingkirkan kegusaran yang menghantuinya beberapa hari ini.
Dan Ivonne tak melewatkan waktu sedikitpun untuk merasakan hari hari bahagia bersama lelakinya itu sebelum dia meninggalkannya.
__ADS_1