
Setelah tinggal bersama Ivonne otomatis Ali berangkat dan pulang kerja selalu bersama Ivonne,dan bukan suatu rahasia lagi di perusahaan mereka jika Ali adalah calon suami Ivonne.
Hal ini disebabkan karena Ivonne sudah tak takut lagi memperlihatkan kemesraannya dengan Ali didepan karyawan diperusahaanya.
Dia sudah tidak peduli lagi tentang image yang orang mau bilang apa,yang ada dihatinya saat ini adalah keinginan untuk bahagia toh itu adalah perusahaan papanya yang bakal menjadi miliknya bersama Ali.
Dengan statusnya sebagai calon suami Ivonne,Ali pun tidak langsung menyetujui ketika Ivonne menjadi salah satu manager disana.
Ali tidak ingin terjadi kecemburuan sosial walaupun sebenarnya itu adalah sesuatu yang wajar ditambah Ali tidak menginginkan hal lain nanti terjadi.
"Desi...tolong kamu telfon bapak katakan diminta keruanganku setelah istirahat!" perintah Ivonne pada sekretarisnya.
"bapak...? Maksud ibu bang Ali?" tanya Desi meyakinkan.
"iya...siapa lagi suamiku kalau bukan dia..!"
"ohh...tumben bu? apa sedang bucin lagi seperti waktu itu?" ucap Desi sambil tersenyum bermaksud menggoda nona mudanya itu.
"pengen tau saja kamu Desi!" balas Ivonne sambil tertawa ketika dia masuk kembali dan menutup pintu ruangannya.
Ali yang menerima panggilan tersebut melalui telfon diruangannya segera menuju ruangan Ivonne yang tak begitu jauh dari ruangannya.
"ada apa mendadak memanggilku?" tanyanya saat memasuki ruangan Ivonne.
"mamaku minta nanti kita kerumah pa!"
"diminta makan malam dirumah!" jawab Ivonne yang sudah tak memanggil nama lagi pada Ali.
"duh....ada apa ini? Tumben sampai dipanggil!" gumam Ali menghempaskan badannya ke sofa.
"mana aku tau pa!"
"lagipula secara resmi kita belum pernah bertemu papa dan mama bersama!" ucap Ivonne setelah duduk disebelahnya
"baiklah...siapa takut? itu saja ma..?" tanya Ali kemudian.
"iyyaa..."
"kenapa tidak telfon saja sayyaaang!" kata Ali sambil mencubit hidung wanita didepannya.
"aku rindu pa!" kata Ivonne yang tanpa ragu lagi langsung merangkulnya.
"sepertinya aku besok mau dapat,aku sungguh berhasrat ingin makan kamu pa!" lanjutnya berbisik ditelinga Ali.
"huzzz...ini dikantor! tidak boleh!" ucap Ali menghindar.
__ADS_1
"kerjaanmu bagaimana pa?"
"baik..lancar kok!"
"buktinya bisa sampai disini!" jawab Ali.
"kalau begitu kita pulang saja dulu!"
"aku mau melampiaskan hasratku padamu pa!" bisik Ivonne lagi ditelinga Ali sambil mengedipkan sebelah mata kirinya menggodanya.
Ali hanya mengangguk tersenyum melihat tingkah Ivonne.
Wanita itu 2bulan lalu ditemuinya saat inyerview masih seperti singa yang mampu menekankan aura kewibawaan yang tak dapat dilawannya kini telah berubah menjadi seperti bayi yang selalu membutuhkan cinta dan sosoknya setiap saat.
***
Memasuki villa kediaman Leon Cheung menjadikan Ali sedikit gemetar,selain bangunannya seperti istana yang berdiri dilahan seluas 10ribu hektar juga ada puluhan bahkan ratusan pengawal yang menjaga kediaman itu.
Leon Cheung adalah ayah Ivonne,salah satu pengusaha terkaya di kota bahkan negara itu.
Jadi maklum saja jika villanya ada banyak pengawal.
Sebagai pengusaha tentu akan menjaga keselamatannya maupun keluarganya karena dunia bisnis tidak hanya uang yang berbicara,tapi terkadang juga kekuatan perlu diperlihatkan.
"Selamat datang Tuan Muda!"
Ali yang dipeluk Ivonne di sebelahnya hanya terkesiap kaget mendapatkan penghormatan seperti itu hingga dia melewatinya tanpa membalas salam tersebut.
Malam itu Ali dan Ivonne disambut dengan sangat gembira oleh kedua orangtuanya.
Leon walau sebagai pengusaha yang sukses tetapi tetap menampilkan kesederhanaannya yang sangat bersahaja.
"bagaimana pekerjaanmu Al,apakah nyaman kamu kerja disana?" tanya mama Ivonne.
"pekerjaan baik tante,kebetulan juga saya merasa sangat nyaman bekerja disana!" jawabnya singkat.
"apakah karena ada Ivonne?" lanjut papanya
"tidak juga om! Memang sedari awal saya sudah merasa nyaman!"
"walaupun kamu belum menikah dengan anaku tapi dia telah menjadi milikmu dan akhirnya nanti kalian akan menjadi penerus perusahaan,baiknya kamu panggil papa dan mama saja seperti Ivonne jangan om!" perintah Leon.
"baiklah pa!" ucap Ali tanpa ragu lagi
"sebaiknya kamu menduduki salah satu kursi manager disana Al toh akhirnya nanti kamu akan menjadi pewarisku disana,bagaimana?" usul Leon berusaha meyakinkan Ali.
__ADS_1
"susah dia pa disuruh naik!" celetuk Ivonne
"saya hanya tamatan SMU pa,kurang pantas menduduki kursi manager!" jawab Ali polos berusaha menghindar.
"Al..walau kamu hanya tidak sekolah sekalipun perusahaan dan semua cabangnya itu tetap akan menjadi milikmu dan Ivonne yang otomatis semua karyawan sampai general manager pun adalah bawahanmu..!"
"Apalagi dengan posisi papa yang mempunyai 85% dari total saham,tidak akan ada yang berani menolak kamu,apalagi kulihat sebenarnya kamu mampu!"jelas Leon pada Ali.
"benar juga pa seperti itu!"
"tapi kita harus menghindari kecenderungan akan kecemburuan sosial yang akan mempengaruhi kinerja dan hasil produksi para karyawan didalam perusahaan."
"saya juga tidak mau terjadi berita atasan dibodohi bawahan karena hanya berpendidikan SMU,saya benar benar belum siap pa!"
"benar juga pemikiranmu!"
"tapi papa ingin kamu dan Ivonne segera mengambil alih perusahaan,papa ingin pensiun..!"
"Papa dan mama juga ingin kamu segera menikah dengan Ivonne!!!"
"pokoknya salah satu itu harus segera terealisasikan entah yang mana dulu!" kata Leon tegas.
"ja...jangan dulu pa kalau menikah!" ucap Ali gugup.
"kenapa Al? Bukannya itu bagus untuk kalian?" tanya mama Ivonne heran.
"bukannya tidak mau ma,tetapi saya juga belum mendapat restu dari orangtu.Ivonne pun belum saya perkenalkan! lagi pula masih banyak yang harus saya kejar ma!"
"tapi walau belum menikah saya tetap akan bertanggungjawab penuh pada Ivonne!" kata Ali kembali menerangkan dan masih berusaha menghindar.
"baiklah itu nanti kalian berdua atur saja bagaimana baiknya!"
"yang jelas jangan kalian lupakan permintaan papa dan mama kali ini,kalian harus merealisasikannya dalam waktu dekat!"
"2bulan lagi masa cutiku habis pa,aku mau segera menyelesaikan skripsiku dan sidang,bagaimana kalau Ali menggantikan posisiku dulu sementara aku menyelesaikan studyku karena pasti akan banyak vakum diperusahaan!" usul Ivonne tiba tiba
"bagaimana Al?" tanya Leon lagi.
Akhirnya Ali hanya bisa mengangguk menyetujuinya karena merasa tidak enak hati semua permintaan kedua orangtua Ivonne telah dia tolak dari awal.
"karena rekening perusahaan sudah kamu pegang Von,maka kamu harus berbagi bersama Ali.Beri dia 10% profit bulanan dan 10% profit tahunan sama sepertimu sisanya untuk pengembangan perusahaan!" perintah papanya lagi pada Ivonne.
"sudah pa! tetapi setiap aku cek rekening saldo rekening lelakiku ini bahkan tidak berkurang sepeserpun!"
"Entah aku tak tau kenapa kehidupannya seperti sufi yang tak memikirkan hal duniawi!"
__ADS_1
"Bahkan membeli cincin ini untukku pun dari semua gaji pertamanya!" kata Ivonne sambil menunjukkan satu satunya cincin ditangannya.
"baguslah kalau begitu! berarti dia benar benar menyayangimu dan bisa berhemat!" kata mama Ivonne tersenyum lega menyadari bahwa putri satu satunya tidak salah pilih suami.