
Disebuah gedung tua yang berada disalah saru sudut sebelah selatan Metrohills.
"tawanan kita lumayan kali ini bos! Apa sebaiknya kita cicipi dulu mereka? Hehehe..!" ucap salah seorang pada Erick yang sedang asik menikmati cerutunya.
"kalau kau tidak sayang nyawamu silahkan saja! Aku yang akan menghabisimu saat itu juga!" jawab Erick marah.
"ma...maafkan saya bos!" jawab anak buahnya tadi merasa bersalah.
"orang yang memesan mereka adalah seseorang yang tidak bisa kita sentuh! Sampai saat ini pun aku hanya bisa bertemu anak buahnya saja,jangan sampai kita membuat mereka marah kalau masih ingin hidup!" ucap Erick lagi sambil menatap keenam sandera yang ada diruangan itu.
Della bersama lima penumpang travel saat itu yang hendak menuju Metrohills sungguh tak menyangka akan menjadi korban penculikan gerombolan Erick,yang hingga saat ini belum tersadar karena telah dibius dengan obat yang sangat kuat.
"persiapkan mereka! Malam ini kita akan bertransaksi! Setelah itu mari kita berpesta,nanti kau bisa pilih wanita sesukamu,tapi jangan sandera kita itu!" perintah Erick pada anak buahnya.
Mereka yang berada diruangan itu tidak menyadari kehadiran ratusan orang yang telah mengepung tempat itu.
John bersama Pedro yang berhasil menemukan tempat persembunyian mereka segera menghubungi Joker dan Husen,serta beberapa rekannya yaitu Baron,Utada,Anton dan Sun hee.
Hari telah beranjak malam saat 200 anak buah Ali yang telah terlatih didukung 1000 orang dari JP grup telah mengepung tempat itu menunggu instruksi dari Ali.
"ada berapa mereka John?" tanya Ali berbisik pada John sambil mengamati situasi gedung tua itu yang terlihat agak gelap disisi luarnya.
"30 orang berjaga diluar ketua! Sisanya didalam kami perkirakan tidak mencapai 100 orang!" jawab John.
"kita harus bergerak cepat dan utamakan keselamatan sandera! siapa menurutmu yang cocok masuk pertama kali?" tanya Ali kemudian.
"aku saja ketua!" ucap SunHee menawarkan diri.
"ok...John,Husen,Anton bawa 100 orang kita langsung masuk setelah SunHee berhasil melumpuhkan penjaga pintu depan!"
"siap ketua!"
"Baron dan Utada bawa 100 orang sisanya lumpuhkan sisa penjaga yang ada diluar juga saat SunHee berhasil masuk!"
"siap ketua!"
"kau Pedro dan Joker amankan area luar! Tidak perlu masuk menunjukkan batang hidungmu,cukup awasi diluar saja jangan sampai ada yang melarikan diri!"
"siap kak Al!"
Setelah menempati posisi masing-masing akhirnya SunHee melenggang dijalan yang berada di depan gedung tua itu mencoba menarik perhatian 2 penjaga yang ada didepan pintu masuk.
"eh kawan,ada mangsa empuk!" ucap salah satu penjaga.
"ayo kita sikat!" jawab temannya
"hei nona! Apakah perlu kami antar?" tanya salah satu penjaga pada SunHee yang sedang lewat didepannya.
"Tuan saya sedang mencari alamat,apakah anda mengetahui alamat disekitar sini?" jawab SunHee sedikit menggoda.
"ah ini aku tau! Nanti akan kuantar kau!" ucap salah satu penjaga setelah melihat alamat yang ditunjukan oleh SunHee di selembar kertas walaupun sebenarnya tidak mengetahuinya.
"tapi alangkah baiknya kita minum teh dulu didalam! Aku akan mengantarmu setelah itu!"
"baiklah tuan..!" jawab SunHee genit.
"dapat rejeki nomplok kita!" bisik salah satu penjaga pada kawannya sambil berjalan kepintu diikuti oleh SunHee.
"hehehe...kita akan berpesta malam ini!" jawab kawannya sambil terkekeh pelan.
"bughh.."
"bughh.."
"bughh.."
__ADS_1
Saat mereka mendekati pintu sebuah pukulan ditengkuk salah satu penjaga serta dua pukulan ke perut dan tengkuk kawannya tiba-tiba mendarat membuat mereka pingsan seketika tanpa menyadari apa yang terjadi.
SunHee yang telah terlatih sebagai pasukan elite dengan mudah merobohkan mereka.
Saat itu juga John,Husen dan Anton beserta 100 orang anak buah mereka segera merangsek masuk mengikuti SunHee yang telah berhasil melumpuhkan dua penjaga didepan pintu,Utada dan Baron pun tak ketinggalan segera menyerang penjaga yang berada disekitar bangunan tua itu.
Dengan perbedaan jumlah yang sangat jauh sangat mudah bagi mereka untuk melumpuhkan anak buah Erick apalagi mereka adalah pasukan elite khusus yang terlatih.Tidak memerlukan waktu lama bagi anak buah Ali untuk menguasai gedung tersebut.
Erick beserta beberapa anak buahnya yang tidak menyadari bahwa markasnya telah diserang dengan santainya menikmati cerutu dan minuman diruangan tempat mereka menyekap Della dan lima sandera lainnya.
"bos...bosss...gawat...!" tiba-tiba salah seorang anak buahnya masuk keruangan sambil terengah-engah.
"ada apa..? Bikin kaget saja kau!" tanya Erick sambil berdiri terperanjat kaget karena anak buahnya masuk tanpa mengetuk pintu.
"marr...markas kita diserang bos!" jawab anak buahnya itu.
"siapa yang berani menyerang markasku?" tanya Erick lagi berang.
"kami tidak tau bos! Kami belum pernah menemui mereka!"
"braaakkkk...."
Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak dan terlihatlah John,Husen,Anton memasuki ruangan itu yang diikuti oleh Ali dan SunHee.
"siapa kalian...!" teriak Erick marah sambil menuding John.
"kami adalah malaikat maut untukmu!" jawab Ali yang langsung menyeruak ke depan John.
"kurang ajar! Serang mereka!" teriak Erick memberi perintah pada 6 anak buahnya yang berada diruangan itu.
Sebuah tendangan melingkar dari John langsung membuat tiga orang yang menyerang mereka tersungkur tanpa bisa berdiri lagi,tiga orang sisanya segera dibereskan Anton dan Husen dengan mudah.
Erick yang kaget melihat semua itu terjadi dalam hitungan detik segera berlutut didepan mereka.
"kamu telah menyentuh yang seharusnya tak kau sentuh!" jawab Ali
Sebuah tendangan dari Ali langsung mendarat di kepala Erick membuatnya mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
"am..ampun tu..tuan! Jangan bunuh sa...saya!" pinta Erick gemetar.
Sebuah tendangan dari Anton kembali mendarat di wajah Erick membuatnya langsung tersungkur pingsan tak bersuara lagi.
Ali segera memeriksa enam sandera yang berada diruangan itu,membuka satu persatu penutup kepala mereka.
Setelah memastikan bahwa yang terakhir itu adalah Della maka dia menghela nafas lega walau saat itu masih dalam keadaan pingsan.
"SunHee kau urus enam sandera ini! Setelah siuman segera antar ke rumah mereka! Untuk yang satu ini aku ingin kau jaga beberapa hari sampai kondisi benar- benar aman!" ucap Ali memberi perintah sambil menunjuk pada Della.
"siap ketua!"
"John bawa cecunguk ini keluar! Kumpulkan dengan lainnya!" perintah Ali lagi.
"siap ketua!"
Della yang saat itu mulai tersadar dari pingsannya sedikit mendengar apa yang diucapkan Ali walau matanya masih berat untuk dibuka.
"dimana aku? Apa yang terjadi?" batin Della yang mulai tersadar.
Tak berapa lama setelah Erick dan seluruh anak buahnya dikumpulkan di halaman gedung itu,Ali menatap mereka satu persatu dan yang terakhir matanya tertuju pada Erick yang masih tergeletak pingsan.
"ambilkan kursi dan seember air!" perintah Ali yang diikuti dengan gerak beberapa anak buahnya untuk melaksanakan perintah itu.
Tak lama setelah mereka kembali membawa sebuah kursi kayu dan seember air,Ali segera meletakkan kursi itu didekat Erick dan mengguyur muka Erick dengan air yang dibawa anak buahnya tadi.
"di...dimana ini?" tanya Erick gelagapan tersadar dari pingsannya karena diguyur air.
__ADS_1
Dua buah tamparan dari Ali sedikit lebih menyadarkannya bahwa dia di halaman gedung tua yang dijadikan markasnya.
"jawab pertanyaanku Erick! mungkin aku bisa memberi sedikit pengampunan padamu!" ucap Ali sedikit menindas.
"ba...baik tuan!" jawab Erick masih shock atas kejadian yang baru dialaminya.
"apa tujuanmu menculik wanita-wanita itu?" tanya Ali kemudian.
"saya tidak tau tuan! Saya hanya menerima pesanan melalui seseorang!"
"sungguh kah? Bagaimana kau bisa tidak tau dengan pemesan itu?" tanya Ali lagi.
"be...benar tuan! Sungguh saya tidak tau!" jawab Erick lebih gemetar saat itu.
"baiklah kalau itu maumu! John..Anton!" ucap Ali sembari menatap pada John dan Anton.
Seolah mengerti apa maksud tatapan itu John dan Anton segera maju.John segera mengangkat kursi,Anton memegang kedua tangan Erick yang sudah lemas tak berdaya dan meletakkannya pada tumpuan kedua kaki kursi tersebut yang langsung diduduki oleh Ali.
"aaaaaaarghh..."
Sebuah teriakan dari Erick terdengar tatkala dia merasakan tangannya menjadi tumpuan kursi yang diduduki Ali itu.
"bagaimana?" tanya Ali sambil tersenyum.
"sa...saya su...sungguh tidak tau tuan!" jawab Erick yang mulai menangis.
"Husen..!" panggil Ali sambil menatap Husen berbadan lebih besar lalu berdiri disamping kursi.
Husen yang ditatap Ali mengerti metode tersebut segera menghampiri lalu berdiri diatas kursi tersebut.
"aaaaaargh.."
Kembali teriakan Erick terdengar dan lebih keras merasakan tangannya lebih sakit dijepit kaki kursi daripada sewaktu diduduki Ali tadi.
"apa kau masih tidak mau mengaku?" tanya Ali lagi.
"sung...sungguh saya tidak tau tuan!" jawab Erick yang mulai menangis.
Mendengar jawaban itu Husen yang berada diatas kursi langsung sedikit meloncat diatasnya.
"aaaaaaargh.."
kembali suara teriakan Erick terdengar sambil terus menangis.
"bagaimana?" tanya Ali lagi.
"ba...baiklah tuan! Saya akan mengaku! Tapi jangan bunuh saya!" ucap Erick sambil terus menangis.
Mendengar ini Husen pun turun dari kursi tersebut,Ali menatapnya tersenyum sambil mengacungi jempol.
Tanpa mereka sadari saat itu tangis Erick pun terhenti.
Ali yang menyadari sesaat setelahnya sangat kaget melihat Erick masih bersujud terdiam dengan kepala bersimbah darah.
"sniper..!" teriak Ali saat itu sambil menunjuk ke suatu arah.
John,Husen,Anton,Baron dan Utada segera berlari kearah yang ditunjuk oleh Ali diikuti beberapa anak buah mereka berusaha mengejar sniper tersebut.
Ali menghela nafas menyadari gagal untuk mendapatkan informasi dari Erick sambil menatap mayatnya yang masih bersujud bersimbah darah.
"dia berhasil lolos ketua! Pergerakannya lebih cepat karena kita terlambat menyadarinya!" lapor John saat kembali setelah beberapa saat berusaha mengejarnya.
"rupanya benar ini merupakan pekerjaan gerakan bawah tanah itu! orang-orang ini tidak layak untuk dipenjara! percuma kita interogasi mereka karena kuncinya adalah Erick,segera kalian lenyapkan mereka jangan sampai meninggalkan bukti apapun!" ucap Ali memberi perintah sambil menatap lima anak buahnya itu.
"baik ketua!"
__ADS_1