Perjalanan Cinta Hara

Perjalanan Cinta Hara
Orang Tercinta 1


__ADS_3

...Cinta adalah perasaan yang pasti dimiliki oleh semua orang. Perasaan cinta mampu memberikan kekuatan yang luar biasa, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang hingga berkeping-keping....


Demikianlah yang dirasakan oleh gadis yang berusia 21 tahun, berparas cantik, berkulit putih, dan punya banyak kelebihan. Ya, dia adalah Hara Diane, putri ke-2 dari pasangan Herdian Purnama dengan Rosita Anggraeni, dan kakaknya bernama Virginia Angie. Tidak hanya itu, Hara juga merupakan Mahasiswa yang sangat populer di antara teman angkatannya karena bakat yang ia miliki.


Berasal dari keluarga yang harmonis, otak yang cerdas dan berparas cantik, dan kekasih yang tampan dan mapan, membuat banyak temannya iri dengan kehidupan yang dijalani oleh Hara yang terlihat sempurna dan tak kekurangan suatu apapun. Karena itulah, ia menjadi gadis yang sangat ekspresif dan periang, terbuka dan ramah kepada semua orang.


...---...


...Sore ini di kafe dekat Kampus...


“Hara Diane. Seorang wanita yang memiliki paras yang cantik, bertubuh mungil, berkulit putih, dan pandai memainkan alat musik, dan masih berusia 21 tahun. Ups, ada yang kurang. Selama ini, Hara merupakan gadis yang tidak pernah kekurangan apapun dalam hidupnya. Ia lahir dan besar dalam keluarga yang memiliki kondisi keuangan yang baik, menerima cinta yang penuh dari ayah, ibu dan kakaknya, ia juga pandai dalam bidang akademik. Dan yang pasti, sejak usia 17 tahun Hara memiliki kekasih yang sangat mencintainya. Laki-laki yang saat ini berusia 25 tahun, kaya raya, dan yang pasti memiliki wajah yang tampan. Selain itu..”


“Cukup, cukup!” seketika Hara terbungkam mendengar ucapan sahabatnya yang mulai lelah mendengarkan kalimat demi kalimat yang mulai menggelikan keluar dari bibir mungil Hara.


“Ih, kan gue belum selesai cerita, Regis,” rengeknya kepada sahabatnya.


“Ra, lo itu cerita atau lagi menyombongkan diri sendiri si?” balas Regis dengan sengit. Melihat kedua sahabatnya berdebat tiada henti, Syera hanya tersenyum-senyum sendiri tanpa bisa menghentikan pertengkaran yang sudah dimulai berabad-abad lalu.


Sore ini, Hara, Regis, dan Syera berkumpul di salah satu kafe dekat kampus, sembari menikmati kopi dan beberapa camilan yang mereka pesan.


“Jadi, lo masih tetep kukuh mau nulis novel, Gis?” tanya Syera.


“Iya. Harus pokoknya. Lo kan tau, Syer, gue demen banget nulis sejak masih bayi,” ucap Regis mengundang tawa.


“Terus gimana cara lo mau mulai nulis novel buatan lo? Sedangkan dari tadi kalian berdua berantem nggak ada hentinya?” tanya Syera seketika membuat Regis dan Hara diam membeku.


“Maafkan aku, mama Syera. Aku hanya bermaksud membantu anakmu yang nggak tahu diri ini untuk menulis novelnya. Aku tidak menyangka bahwa anakmu tidak menerima kebaikan hatiku ini,” ucap Hara yang lagi-lagi mengundang gelak tawa di antara mereka bertiga.


Hara, Regis dan Syera sudah bersahabat sejak lama. Hara dan Syera mulai berteman dan bersahabat ketika SMP begitu pula dengan Regis. Sedangkan Hara dengan Regis merupakan teman sejak kecil, hidup di lingkungan yang sama, bahkan makan di piring yang sama. Mengingat lamanya hubungan mereka, tentu saja mereka sudah mengenal karakter masing-masing dengan baik.


Ketika mereka sedang menikmati waktu kebersamaan mereka, tiba-tiba seorang pria tampan bertubuh kekar dan tinggi itu memasuki kafe menghampiri wanita cantik yang sedang duduk bersama dengan teman-temannya. Ya. Dia adalah Mario Neron Alvino, kekasih dari Hara Diane.


“Kalian udah lama di sini?” tanya Mario yang langsung mengambil tempat di samping kekasihnya itu.

__ADS_1


“Lumayan kak,” sahut Syera.


“Kok kak lagi, Syer. Kan gue udah bilang panggil aja Mario, Regis pun panggil gue Mario kok. Lagian kan lo juga sahabat Hara.”


“Iya, Syer. Lo nggak usah terlalu kaku atau terlalu sopan sama Mario,” balas Regis.


“Tapi jangan Kayak anak yang satu itu ya, Syer. Jadi malah kebablasan,” balas Hera yang tak bisa diam melihat Regis yang mulai angkat bicara.


Ya. Syera dikenal dengan pembawaannya yang sedikit lebih kalem dan sopan dibandingkan Hara dan Regis, yang bisa dengan mudah mengungkapkan pendapatnya. Meski begitu, Syera sangat menyayangi kedua sahabatnya itu.


Percakapan mereka terus berlanjut hingga langit berubah menjadi gelap, yang mengharuskan mereka untuk pulang.


“Kalian pulang naik apa?” tanya Mario bermaksud menawarkan tumpangan kepada Syera dan Regis.


“Gue naik mobil,” ucap Regis dengan santai sembari berjalan menuju ke arah mobil berwarna putih yang sedang terparkir, dengan santai membuka pintu mobil yang rupanya masih terkunci. Melihat hal itu, Hara, Mario dan Syera tertawa lepas sembari menyusul Regis yang masih tetap menunggu di tempat parkir.


Tak lama kemudian, mobil itu sampai di halaman depan rumah Hara setelah selesai menghantar Regis dan Syera.


“Itukan udah tugasku, sayang,” ucap Mario sembari membelai lembut kepala gadisnya itu. Mendengar jawaban Mario, Hara tak bisa menyembunyikan senyuman kebahagiaannya. Dalam hati, Hara sangat bersyukur karna telah dipertemukan dengan sosok pria dewasa yang mampu membimbingnya selama 4 tahun pacaran, dan yang pasti sangat mencintainya.


“Mau mampir dulu?” Mario melihat jam tangan yang ia kenakan, waktu menunjukkan pukul 19.30.


“Kayaknya aku harus pulang, deh. Udah malam, nggak enak sama om dan tante. Sampaikan salam aja ke om dan tante ya, sayang.”


“Oh, gitu. Padahal aku pikir kamu bakal mampir, karna udah lama nggak datang. Yaudah deh, kamu juga buruan pulang terus istirahat.”


“Oh iya,” Mario mengambil sebuah bingkisan yang tersimpan di kursi belakang.


“Aku ada oleh-oleh buat om, tante sama Virgin. Dan yang terpisah ini buat kamu,” ucapnya sembari memberikan bingkisan yang ia beli sebagai oleh-oleh dari perjalanan bisnisnya ke Singapura.


“Eh, aku juga dapat?”


“Itu yang terutama malah,” ucapnya sembari tersenyum hangat.

__ADS_1


“Makasih, sayang. Yaudah, aku masuk ya.” Tak lama kemudian, mobil itupun meninggalkan halaman ruman Hara. Hara kemudian masuk ke dalam rumah dan disambut dengan hangat oleh kedua orang tuanya yang sedang menikmati makan malam di ruang makan.


“Malam ma, pa,” sapanya sembari memberikan ciuman hangat kepada dua orang yang sangat sia cintai itu.


“Malam sayang. Tadi kamu diantar Mario? Kenapa dia nggak mampir dulu?” tanya mama tak sabar.


“Tadi Hara juga tawarin buat mampir, tapi kayaknya dia masih capek deh, ma. Soalnya sore tadi baru pulang dari Bandara langsung samperin Hara waktu lagi kumpul sama Regis dan Syera. Oh, iya. Ini ada oleh-oleh dari Mario buat mama, papa, sama kak Virgin,” Hara meletakkan bingkisan di atas meja.


“Haduh, kok pakai repot-repot segala. Yaudah, ini kamu sekalian kasih ke kakakmu aja. Dia di kamar tuh dari tadi.” Hara pun berjalan menuju kamar kakaknya yang berada tepat di samping kamarnya.


...Tok…tok…tok…...


“Kak, ini Hara,” sembari membuka pintu. Terlihat sang kakak sedang duduk di meja kerjanya untuk menyelesaikan berkas-berkas untuk meeting esok hari.


“Baru pulang, Ra?” tanyanya dengan mata yang masih tertuju pada berkas tersebut.


“Iya, nih. Capek banget kak,” ucapnya sembari merebahkan badannya di ranjang sang kakak.


“Capek kenapa? Tugas yang kemarin belum kelar?”


“Iya itu juga. Terus urus acara di kampus juga. Jadi gini ya rasanya jadi orang sibuk,” gerutunya yang hanya disambut dengan senyuman sang kakak.


“Oh iya, sampai lupa. Ini ada oleh-oleh dari Mario buat kakak,” sembari memberikan bingkisan kepada sang kakak.


“Baru pulang dia?”


“Iya. Yaudah, Hara balik ke kamar dulu ya, kak. Jangan terlalu keras kerjanya, nanti kakak sakit lagi,” ucapnya sembari meninggalkan kamar sang kakak.


Ya, begitulah kehidupan Hara yang sedikit melelahkan, namun juga menyenangkan. Meski ia memiliki kakak perempuan yang sedikit berbeda darinya, namun Hara tahu bahwa di balik sikap cuek sang kakak, ia sangat menyayangi adiknya.


...Terima kasih Tuhan, karena Engkau menghadirkan orang-orang yang berharga dan sangat menyayangiku....


...***...

__ADS_1


__ADS_2