Perjalanan Cinta Hara

Perjalanan Cinta Hara
Hujan


__ADS_3

Hujan malam itu turun sangat lebat, bahkan bila memperhatikan sekitar, tidak ada satupun orang yang berlalu lalang di bawah siraman hujan, kecuali Hara dan El. Seperti sedang menari di bawah derasnya hujan yang mengguyur kota, Hara tetap tak mempedulikan sekitarnya, karna masih sibuk menumpahkan luapan emosinya di bawah derasnya hujan.


...Di sisi lain, di dalam restoran...


"Ma, pa, om, tante, Nia. Sebelumnya saya minta maaf karna saya terlambat memberitahukan hubungan saya dan Hara. Tapi, om, pa, mohon dipertimbangkan lagi mengenai perjodohan ini. Kalau pun saya dan Nia dijodohkan, sampai kapan pun saya nggak akan bisa mencintai wanuta lain, selain Hara, " ucap Mario dan langsung meninggalkan restoran dan bermaksud menyusul Hara.


Semua orang yang ada dalam ruangan itu hanya bisa terdiam dengan situasi yang rumit ini.


"Pa, om. Jujur saya kecewa. Apakah om dan papa bisa menjamin kebahagiaan kami setelah menikah tanpa cinta? Hara itu adik Nia, bukan orang lain. Tapi keputusan yang Nia dengar malam ini seolah mengatakan bahwa Hara bukan siapa-siapa, sampai papa tega membuat Hara seperti itu. Nia kecewa" ucap Nia sembari menangis. Nia tak bisa berkata-kata lagi dan segera meninggalkan restoran itu.


...---...


Mario berlari sampai pintu masuk restoran, dan ia berniat mencari Hara. Namun, seketika hatinya ikut hancur melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Ia melihat Hara yang sedang menangis di tengah hujan. Dan yang lebih membuatnya kecewa dengan dirinya ialah orang yang menemani wanita yang paling ia cintai ketika dia hancur bukanlah dirinya, melainkan laki-laki lain yang entah datangnya dari mana.


Mario hanya bisa berdiri, menatap 2 sosok yang sedang terguyur hujan tak jauh dari restoran.


"Mar, Hara mana?" tanya Nia yang baru saja datang untuk menyusul Hara. Bukan menjawab, Mario hanya terdiam tanpa bisa mengatakan apapun, menghela nafas panjang dengan mata yang berkaca-kaca.


Melihat respon Mario, Nia tak berani bertanya lagi dan memilih mencari sendiri adiknya di tengah hujan. Nia berniat menerobos hujan untuk mencari Hara, namun...


"Lo mau kemana?" tanya Mario sembari menggenggam erat lengan Nia.


"Lepas, Mario! Gue mau cari adik gue," Nia berusaha memberontak dari cengkeraman tangan Mario. Tanpa berkata, Mario menunjuk 2 orang yang sedang berada di tengah hujan sembari menundukkan kepalanya.


"Biarkan Hara sendiri dulu. Mungkin saat ini bukan kita yang bisa menghibur dia, tapi laki-laki yang sedang memegang payung itu," ucap Mario dengan raut wajah yang sendu. Bingung tentang apa yang harus mereka lakukan, Nia pun hanya bisa terdiam dan menangis melihat adik yang sangat ia sayangi menjadi hancur seketika karena dirinya.


...Di sisi lain, Hara dan El...


El yang sedari tadi memegangi payung untuk Hara, ia pun ikut berjongkok mengimbangi Hara sembari berkata,


"Hara, ayo kita neduh. Gue kedinginan dan tangan gue mulai sakit," ucap El dengan suaranya yang lembut, yang perlahan mulai menggigil. Mendengar ucapan El, Hara menatap wajah El yang tepat berada di depan wajahnya.


"Gue nggak minta lo kasih payung ini buat gue," ucapnya dengan ketus tanpa mempedulikan perasaan El.


"Lo emang nggak minta gue buat kasih payung ini buat lo, tapi gue sendiri yang minta supaya lo jangan sakit."


"Memang lo siapa? Nggak usah sok peduli sama gue!" teriak Hara di tengah hujan yang semakin deras.

__ADS_1


"Gue El, dan gue adalah salah satu orang yang peduli sama diri lo," ucap El sedikit meninggikan nada bicaranya. Mendengar ucapan El, Hara tertegun, karna dirinya sendiri pun tak memikirkan kesehatannya. Perlahan, air mata Hara kembali jatuh. Payung yang sedari tadi memayungi tubuhnya, perlahan Hara kembali merasakan tetesan air hujan yang semakin lama semakin lebat.


Ya. Payung itu terjatuh. Tangan El yang kekar itu tak lagi mampu memegang payung, karna ia memilih menenangkan wanita yang kembali menangis tersedu-sedu dengan pelukannya yang hangat.


Hara tak lagi menghiraukan siapa yang tengah memeluknya. Yang Hara tau hanyalah bahwa El berusaha menenangkannya.


Dengan lembut, tangan yang sedikit kasar namun memiliki jari lentik itu membelai lembut kepala Hara, yang semakin memberikan ketenangan baginya.


"Ra, ayo kita pulang," pinta El yang akhirnya Hara mengiakan perkataannya. Dengan lembut, El membawa Hara ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari restoran.


"Rumah lo di mana, Ra? Biar gue antar," tanya El ketika mereka sudah berada di dalam mobil, sembari menyalakan penghangat yang ada di mobil.


"Bawa gue jauh dari rumah gue, El. Untuk malam ini aja, gue mau melarikan diri dari masalah ini," ucap Hara yang hanya memandang ke arah jendela. Tanpa kata, El melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Tak lama kemudian, El sampai di halaman depan rumahnya. Rumah yang besar dan mewah tampak jelas di depan mata Hara. Kemudian, El membukakan pintu mobil untuk Hara dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.


"Selamat malam, tuan. Mau saya siapkan air hang... eh!" ucap mbok Parti, yang adalah seorang asisten rumah tangga dan sekaligus orang yang telah merawat El sejak ia masih balita.


"Dia teman saya, mbok," ucap El sembari tersenyum, mengerti akan pikiran si mbok.


"Tapi, tuan. Kamar itu kan..." ucap mbok Parti tak berani melanjutkan kalimatnya di depan orang yang baru di bawa ke dalam rumah ini.


"Kamar itu milik saya, mbok. Jadi, siapa pun orangnya bisa saja menempati kamar itu, selagi saya mengizinkan."


Tanpa basa-basi, si mbok segera melaksanakan permintaan tuannya itu. Tanpa sadar, Hara masih berada dalam rangkulan lengan El yang kekar itu.


"Ra... Hara?!" ucap El membangunkan Hara dari lamunannya.


"Eh, kita udah sampai?" ucap Hara, yang rupanya ia masih tak sadar bahwa mereka sudah berada di rumah El. Mendengar ucapan Hara, El hanya bisa tertawa.


"Udah dari 15 menit yang lalu malah," ucap El sembari tersenyum.


"Ayo, ku antar ke kamarmu," ajak El. Pakaian yang basah dari atas sampai bawah, membuat keduanya merasakan hawa yang dingin, walau sudah berada di dalam rumah.


"Malam ini, kamu tidur di sini, Ra. Maaf karna persiapan yang mendadak ini," ucap El.


"Makasih banyak, El."

__ADS_1


"Sama-sama. Cepat kamu mandi dan bersihkan badanmu. Aku dan mbok tunggu di bawah untuk makan malam," ucap El yang tanpa disadari kalimat yang ia gunakan menunjukkan bahwa Hara orang yang sedikit spesial. Mereka pun segera membersihkan badan mereka dari sisa air hujan.


Tak lama kemudian, Hara turun ke ruang makan untuk menikmati jamuan makan malam pertamanya.


"Bajunya kebesaran, El," ucap Hara dengan raut wajah sedikit malu karna bajubyang disiapkan terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil.


"Tapi cocok kok. Ia kan, mbok?" ucap El sembari tersenyum hangat.


"Cocok kok, non. Ayo, kita makan malam." Mereka pun menikmati makan malam, yang sebenarnya sudah sangat lewat jam makan malam.


...---...


Hara tengah duduk di balkon, menikmati sejuknya udara sehabis hujan dan memandang pemandangan malam yang tampak jelas dari balkon lantai 2 rumah El.


"Mau coklat hangat? Katanya kalau lagi sedih, coklat panas bisa melegakan kesedihan, loh," ucap El sembari memberikan segelas coklat di tangan kanannya.


"Kata siapa coklat bisa melegakan kesedihan?" ucap Hara yang merasa aneh dengan perkataan El.


"Kataku dong," balasnya dengan nada bicara yang sangat amat percaya diri.


"Kamu kebanyakan nonton sinetron, ya? Atau malah drakor?" sindir Hara sembari menyeruput coklat yang dibawakan El.


"Enggak kok. Kan tokoh utama di drama itu ada di sini, di depan kamu, Ra," ucapnya yang masuh saja terus berusaha menghibur Hara. Menyadari usaha El, Hara pun tersenyum mendengar pernyataan El.


"Ngomong-ngomong, kok kita ngomongnya aku-kamu, sih? Padahal biasanya lo-gue," ucap Hara yang baru saja menyadari perubahan panggilan mereka.


"Eh, iya ya? Kok aku nggak sadar, sih? Sorry, deh udah lancang. Kelepasan soalnya." Hara hanya tersenyum mendengarkan penjelasan El yang tampak kebingungan.


"Nggak apa kali. Kayak apa aja. Kalau mau pangil aku-kamu, yaudah. Aku-kamu aja. Kalau mau panggil lo-gue, yaudah. Intinya senyaman lo aja."


"Jadi, nggak apa nih kalau aku pakai aku-kamu? Soalnya aku agak nggak terbiasa pakai aku-kamu," ucap El yang diiakan oleh Hara.


Malam ini, banyak sekali hal yang terjadi dalam kehidupan Hara, dan lagi, ia kembali mengukir kenangan bersama hujan.


...'Bagiku, hujan dan kenangan itu selalu berdekatan. Karna kenangan itu terjadi saat hujan tiba. Dan saat hujan esok hari tiba, kenangan itupun akan selalu terbawa bersama hujan, untuk kembali diingat dan dikenang'...


...***...

__ADS_1


__ADS_2