
Sudah 5 hari sejak kejadian di restoran itu, Hara masih tetap tinggal di rumah El untuk sementara.
“Pagi, mbok,” sapanya kepada mbok Parti yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk El dan Hara.
“Eh, non Hara. Kok sudah bangun? Padahal si mbok belum siapkan sarapannya,” ucap si mboh yang terkejut dengan kedatangan Hara ke dapur.
“Mbok, panggil aku Hara aja. Kan aku bukan majikannya mbok,” protesnya kepada si mbok yang masih saja menyebutnya dengan sebutan ‘non’.
“Aduh, non, si mbok nggak berani. Kan non Hara tamunya tuan El, jadi sama saja bagi saya, non.”
“Aduh, susah ya ngomong sama si mbok. Yaudah, kalau gitu panggil ‘nak Hara’ aja, ya mbok,” pintanya kembali. Si mbok hanya bisa menghela panjang nafasnya, dan akhirnya mengiakan permintaan Hara.
“Hemm.. Baiklah, nak Hara,” ucap si mbok menuruti, yang disambut dengan reaksi bahagia dari Hara.
“Mbok, pagi ini Hara mau bantu masak,” ucapnya. Melihat perdebatan singkatnya dengan Hara tadi, si mbok hanya mengiakan, karna tak mau bila Hara terus meminta.
“Oh iya mbok, Hara boleh tanya sesuatu?”
“Tanya apa, nak?”
“Udah 5 hari Hara numpang di rumah ini, tapi nggak ada orang lain yang Hara temui kecuali mbok dan El, paling tukang kebun yang sesekali datang. Kalau boleh tau, orang tua El ada di mana, mbok?”
“Oh, masalah itu. Nyonya dan tuan ada di Korea, nak.”
“Korea? Bisnis?”
“Orang tua tuan El memang tinggal di Korea, nak.”
“Tunggu. Jangan-jangan apa yang aku pikirkan tentang El benar? Apa El anak blasteran, mbok? Misalnya, mamanya orang Indonesia dan papanya orang Korea?”
“Betul sekali. Kok nak Hara bisa menebak si? Padahal kan muka tuan El lebih mirip ke muka orang Indonesia?”
“Karna Hara juga punya sahabat yang blasteran juga, mbok. Jadi, karna itu yang tinggal di rumah sebesar ini hanya si mbok dan El.” tanyanya yang merasa heran dengan laki-laki itu.
‘Jadi itu alasannya kenapa aku merasa aneh pada rumah ini. Walau rumah ini lebih mewah dari ekspetasiku, tapi di rumah ini juga terasa suasana dingin. Bagaimana bisa seorang pemuda hanya tinggal bersama si mbok yang mengasuhnya sejak balita?’ ucap Hara dalam hatinya setelah mengetahui kenyataan.
... 1 jam kemudian...
“Akhirnya sarapannya jadi juga,” ucap Hara yang baru saja selesai membantu si mbok menyiapkan makanan di meja makan. Terlihat dari arah tangga yang menuju lantai 2, sosok laki-laki yang selama 2 hari ini ia tumpangi, sedang berjalan menuju lantai 1 sembari membenarkan lengan kemejanya.
Melihat El yang sudah turun, Hara segera duduk di meja dan tak lupa disusul pula oleh si mbok yang baru selesai menyuapkan jus jeruk.
“Pagi, El,” sapa Hara kepada pemilik rumah.
“Eh, udah bangun kamu, Ra? Pagi juga,” ucapnya sembari menarik kursi untuk duduk.
“Bahkan sarapan pagi ini, si non yang siapkan, tuan,” ucap si mbok menimpali yang membuat El membelalakkan matanya.
“Wah, baru aja 2 hari kamu di sini, si mbok udah punya teman aja, ya.”
__ADS_1
“Apa si, mbok. Kan Hara Cuma bantu aja. Yaudah, ayo kita sarapan.” El menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh si mbok dan Hara. Ketiganya juga saling membagikan canda tawa mereka.
...7.30...
El sudah siap dengan membawa perlengkapan kerjanya dan berjalan menuju pintu utama. Dari arah belakang, Hara berlari membawakan kotak bekal yang tertinggal di meja.
“El, tunggu. Kamu sengaja nggak bawa bekalmu?”
“Oh, iya. Lupa, Ra.” El menatap Hara dengan tatapan curiga.
“Ra, sebenarnya kamu ada apa?” tanya El.
“Hm? Ada apa, apanya?” ucapnya pura-puta tak mengerti ucapan El.
“Ah, enggak. Lupakan aja. Kamu mau kuliah juga?” tanyanya.
“El, sebenarnya aku mau numpang sampai rumahku. Aku tau aku salah karna aku kabur dari masalah dan pergi menginap di rumah orang lain. Maka dari itu, sekarang aku mau mencoba memperbaiki masalahku sama orang tuaku.”
“Kamu udah yakin sama keputusanmu?” tanya El meyakinkan.
“Aku yakin. Ya, walaupun aku juga belum bisa memastikan apakah aku bisa bertahan atau enggak, setidaknya aku mau pulang dulu.”
“Baiklah, ayo kita jalan. Tapi kamu harus ingat satu hal, sesulit apapu masalahmu, kamu masih punya teman buat mencengarkan ceritamu, Ra. Dan kalau kamu mau kabur lagi, kamu boleh kok datang lagi.” El terlihat sangat mencemaskan Hara.
“Apa aku cuma boleh anggap tempat ini sebagai tempat buat kabur?” tanyanya.
“El, boleh minta tolong tunggu sebentar? Kayaknya aku masih belum terlalu siap, dan aku mau ambil perlengkapa kuliah aja dulu,” pintanya. El pun dengan senang hati menunggu Hara di dalam mobilnya.
Hara membuka pintu masuk rumahnya dan berjalan menuju kamarnya.
“Eh, non Hara?!” ucap bi Jumi, asisten rumah tangganya.
“Halo, bi. Apa kabar?”
“Non dari mana aja? Mau bibi siapkan sarapan?”
“Nggak usah, bi. Hara udah sarapan tadi. Hara mau kuliah dulu, bi.”
“Mau bibi buatkan bekal, non?”
“Kan Hara nggak pernah bawa bekal, bi,” ucap Hara sembari tersenyum.
“Oh, iya. Bibi lupa, non, saking senangnya lihat non,” ucap si bibi dengan malu.
“Yaudah, Hara ke atas dulu ya, bi,” ucapnya sembari meninggalkan bi Jumi di lantai 1.
Tanpa ia duga, Hara mendapati sosok yang tak asing baginya sedang berbaring meringkuk di ranjangnya sembari memeluk erat boneka kesayangan Hara. Mama. Seketika hatinya kembari terasa perih, air matanya kembali menitik di pipinya, namun ia segera menghapusnya.
Hara membulatkan tekadnya dan melangkah masuk kamarnya. Terlihat dengan jelas kantung mata yang menghitam dan mata yang terlihat bengkak.
__ADS_1
“Mama,” ucap Hara dengan lembut sembari menyentuh bahu sang mama dan memandang lekat wajah sang mama.
“Hara. Kamu pulang, sayang?” ucap mama ketika membuka mata dan langsung memeluk dengan hangat anak bungsunya.
“Hara, maafkan mama. Maafkan mama yang nggak bisa jadi mama yang baik buat kamu. Maafkan mama,” ucapnya sembari menangis dalam pelukan sang anak. Tak kuasa menahan butiran bening itu, Hara kembali menitikkan air matanya sembari membelai lembut punggung Hara.
“Ma, Hara nggak apa,” ucapnya berusaha meyakinkan mamanya.
“Mama jangan nangis, ya. Sekarang Hara harus kuliah, ma,” ucapnya sembari berdiri.
“Enggak. Sampai kapanpun mama nggak akan membiarkan kamu pergi dari rumah ini. Mama mohon, sayang,” ucap mamanya yang kembali menangis.
“Ma, kalau Hara nggak pergi gimana caranya Hara buat kuliah, ma? Bisa-bisa Hara beneran nggak lulus mata kuliah semester ini karna Hara banyak bolos, ma. Dan juga, Hara udah ditunggu teman Hara di depan.”
“Kamu mau kuliah? Tapi nanti kamu pulang ke rumah ini kan, sayang? Kamu nggak pergi lagi, kan?” ucap mamanya yang takut bahwa Hara akan kabur lagi. Hara menjawab pertanyaan mamanya dengan senyuman sembari menggeleng, tanda bahwa ia akan pula ke rumah itu. Akhirnya, mamanya melepaskan Hara untuk kuliah.
Tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa mamanya akan sangat kehilangan Hara ketika ia kabur. Di satu sisi, Hara merasa bersalah karna membuat mamanya juga ikut menderita. Namun di sisi lain, Hara masih tak berani menghadapi kenyataan itu, terlebih ketika ia harus bertemu kakaknya, reaksi seperti apa yang harus ia tunjukkan di depan sang kakak.
“Maaf lama,” ucapnya sembari menutup pintu mobil El.
“Enggak, kok,” ucapnya, dan lagi dengan senyuman yang hangat. El pun melajukan mobilnya menuju kampus dan tempat kerjanya.
Ya. Sekadar info bahwa sebenarnya El juga memiliki darah kebangsaan Korea, karena sang ayah merupakan orang Korea asli. Karena wajah blasterannya itu, membuat sisi unik dari El sendiri.
Tak lama kemudian, mobil itu sampai di halaman depan kampus.
“Tunggu, Ra. Jangan keluar dulu,” Hara yang sedang bersiap melepas seatbelt nya pun segera berhenti, dan tak mengerti apa yang akan dilakukan El.
“Silakan,” ucap El sembari membuka pintu untuk Hara. Tak percaya dengan kelakuan El, Hara hanya bisa tersenyum.
“Astaga, jadi kamu suruh aku jangan keluar karna mau bukain pintu?”
“Memang kamu pikir apaan?”
“Bukan apa-apa juga, sih. Makasih ya, om. Ini ongkosnya,” ucap Hara sembari memberikan uang sebesar rp 100.000.
“Wah, makasih loh. Ini sebagai ganti biaya bensin, ya,” ucapnya pada Hara yang disambut dengan senyuman Hara. Tanpa mereka sadari, sejak El keluar dari mobil, banyak mata yang memandang ke arahnya.
Benar saja, senyuman yang Hara pikir senyuman biasa, rupanya senyuman itu cukup mampu membunuh dan mengunci konsentrasi orang yang melihatnya.
Menyadari banyak orang yang melihatnya (terutama wanita), El pun melemparkan senyuman khasnya, yang membuat banyak wanita yang melihatnya menjadi salah tingkah.
Hara berdecak melihat kelakuan El.
“Udah, sana. Buruan pergi, keburu ramai kafemu,” ucapnya sembari berjalan meninggalkan El menuju kelasnya.
...‘Dalam situasi tertentu, terkadang bukan orang yang telah kamu kenal lama yang bisa menenangkan perasaanmu. Tapi dia, orang asing yang memberikan perasaan familiar, yang tiba-tiba hadir layaknya penolong’...
...***...
__ADS_1