
Pagi pun datang. Hara masih meringkuk di kasur yang selama beberapa hari ia rindukan. Perlahan ia membuka matanya, senyuman tipis terlihat dari sudut bibirnya.
‘Setidaknya, satu masalah gue selesai dengan baik. Walaupun masalah lainnya masih belum selesai, tapi gue yakin sedikit demi sedikit gue bisa selesaikan ini,’ ucapnya dalam hati pada diri sendiri, memberi semangat pada diri sendiri adalah hal yang baik.
Hara menatap ke arah kalender yang ada di atas bufet, meraihnya dan mulai melingkari dengan tinta warna merah pada tanggal 22 Oktober dan 29 November. Hara kembali memikirkan masalahnya dengan Mario, masalah perjodohannya dengan kakaknya.
“Sekarang udah tanggal 29 Oktober. Itu artinya gue cuma punya waktu kurang dari 1 bulan menjelang pernikahan kak Nia dan Mario,” ucapnya sembari memikirkan rencana apa yang sebaiknya ia buat. Ya, semenjak Hara mendengarkan pengumuman bahwa Nia dan Mario akan dijodohkan, Hara sudah sangat jarang mengabari Mario, bahkan hingga detik ini. Berbeda dengan Mario yang masih terus mencari kabar orang yang ia anggap masih sebagai kekasihnya itu.
Dddrrreeettt!!!!dddrrreeetttt!!!!
Sejak jam 5 pagi tadi, hp Hara yang ia letakkan di bufet samping ranjangnya selalu bergetar. Entah pesan dari siapa, berturut-turut sampai Hara sendiri malas membuka pesan itu.
“Sebenarnya siapa si yang dari subuh udah bangunin gue? Kurang kerjaan banget ini orang, deh,” gerutunya sembari meraih hpnya dan mulai membaca pesan yang sudah menumpuk sebanyak 50 pesan, namun untungnya dari orang yang berbeda-beda. Namun tetap saja, orang yang paling banyak mengganggunya hanya ada 1 orang Regis.
“Ck! Ngapain si anak ini? Untung aja ada pesan dari orang lain juga. Berbahagialah lo hari ini, Regis, karna lo masih bisa selamat dari pukulan maut gue,” ucap Hara sembari menekan tombol ‘panggil’ pada kontak Regis.
“Halo?” terdengar suara dari seberang telpon. Suara yang masih berat dan serak, seakan tak mampu menjawab panggilan pagi ini. Mendengar suara Regis, Hara sangat hafal kalau sahabatnya itu masih terlelap di alam mimpinya. Hara menarik nafas panjang dan siap mengoceh di pagi hari.
“Lo ngapain si, masih pagi juga ucah bomchat ke gue? Ganggu orang lagi tidur, tau nggak? Dan ini, lo malah enak-enakan tidur pas gue udah kebangun gara-gara chat lo yang ‘seambreg’ itu?” ucap Hara dengan nada sedikit meninggi, ia sengaja agar sahabatnya itu cepat bangun.
Benar saja, mendengar ocehan Hara bak burung yang berkicau di pagi hari, Regis yang hampir kembali terlelap setelah menerima panggilan Hara, segera melonjak dari tempat tidurnya.
“Apaan? Siapa yang tidur? Gue udah bangun kali dari subuh tadi. Lo aja yang dicari nggak bisa. Ngapain aja si lo? Di chat nggak di bales, di telpon nggak diangkat. Gue tau kok kalau lo sebenernya denger, tapi lo pura-pura, kan? Ngaku lo?” keadaan menjadi terbalik, kini malah Hara yang diomelin oleh Regis.
“Kok lo yang ngomel, sih? Sebenernya kenapa sih lo chat gue sepagi itu?” tanya Hara lagi.
“Mungkin lebih baik kita ketemu langsung aja deh, Ra. Mumpung nanti kita libur, gimana kalau kita langsung kumpul aja? Ada gue, Renata, sama Syera juga,” ucap Regis. Bukannya menjawab, Hara hanya diam. Dalam hati ia tau bahwa yang akan dibahas nanti ialah mengenai perjodohan antara Mario dengan Nia.
“Ra?”
“Hara?” panggil Regis dari seberang telpon yang seketika membangunkan lamunannya.
“Hm? Kenapa?” sahut Hara dengan nada suara lebih rendah dari biasanya. Dari seberang telpon sahabatnya sangat hapal dengan reaksi Hara.
“Ra, lo nggak perlu takut atau merasa sendiri. Ada kami, Ra. Ada gue, Syera, dan Renata. Kami gak akan membiarkan lo sendirian, ingat itu, Ra,” ucap Regis dengan nada suara serius, namun Hara malah merespon dengan tawanya yang sedikit lembut dari biasanya.
__ADS_1
“Gis, sebenernya lo itu mau tenangin gue apa mau ancam gue, sih?” ucap Hara masih dengan tawanya yang tak bisa hentikan.
“Yeh, serah lo deh mau artiinnya apaan, Ra. Intinya gue Cuma kasih tau aja kalo kami nggak akan pergi dalam situasi kayak gini,” ucap Regis. ‘Setidaknya, gue bisa buat lo ketawa, Ra. Walaupun lo masih ngerasa berat,’ ucapnya dalam hati. Di tengah-tengah obrolan Regis dan Hara, tiba-tiba ada suara wanita yang berteriak.
“Regis, cuci ini dal***n lo. Udah dibilangin berapa kali, sih? Gue nggak mau cuci dal***n lo” ucap Renata yang mengagetkan Hara, dan membuatnya semakin tertwa terbahak-bahak. Melihat kembarannya yang sembarangan berteriak, Regis pun merasa gugup sekaligus malu kepada Hara.
“Ta, paan si? Malu tau, jangan teriak-teriak gitu,” ucap Regis kepada saudara kembarnya. “Ra, gue tutup dulu ya. Nanti gue chat lagi, bye,” ucap Regis langsung mematikan sambungan telpon.
“Dih, nih orang nggak sopan. Kan gue yang telpon,” ucapnya kesal. Setelah mematikan sambungan telponnya dengan Regis, Hara melihat pesan dari El dan Mario. Pesan Mario yang ia tumpuk dari hari kemarin sebanyak 23 pesan. Apakah isi pesannya, Hara tak mau membukanya, karna itu akan semakin membuatnya sulit merelakan Mario dan juga semakin sulit bagi Hara menerima kenyataan pahit itu. Hara melihat ada 2 pesan dari El.
“Tumben anak ini chat gue?” ucap Hara dengan penasaran, Hara pun membuka isi pesan El
...Di sisi lain,...
...di kafe tempat kerja El...
“Ndra, lo bawa kan kamera gue?” tanya El kepada teman kerjanya sekaligus sahabatnya.
“Hah? Paan sih? Baru datang juga udah ditanyain kamera?” ucap Indra sembari berjalan ke ruang istirahat dan meletakkan tasnya.
“Kamera gue yang lo bawa minggu lalu. Kan gue tadi pagi udah chat lo, gimana si nih anak?” omel El.
“Terus gue chat ke siapa dong?”
“Kok tanya gue? Coba deh lo cek siapa yang lo chat,” saran Indra dan El pun hanya bisa menuruti perkataan Indra.
...Di sisi lain, di rumah Hara...
Sembari berjalan ke balkon, Hara membuka pesan dari El. Hara merasa bingung dengan isi pesan El.
...Roomchat:...
...El Barista...
5.30 am
__ADS_1
“Woy, Ndra!”
“Jangan lupa bawa kamera gue. Awas aja sampe lo nggak bawa lagi.”
Hara tersenyum membaca chat dari El.
“Kayaknya nih anak salah kirim, deh,” ucapnya sembari menikmati segelas coklat di pagi hari.
...Dddrrreeettt!!!!...
Tiba-tiba hp Hara bergetar, melihat pada layar hpnya ada seseorang yang menelponnya, dan Hara pun menjawab panggilan itu.
“Halo?” ucap Hara dengan nada lembut.
“Ra, pertama-tama gue minta maaf karna salah kirim. Dan kedua, gue nggak bermaksud mengumpat, ya. Oke?” jelas El langsung, yang membuat Hara kembali tertawa.
“Tenang kenapa, El. Gue tau kok. Kan gue nggak pernah pinjam kamera lo.”
“Ah, iya. Yaudah, gue kerja lagi deh,” ucap El. Entah kenapa, terasa sedikit kekecewaan dalam Hati El.
...---...
Setelah percakapannya lewat telpon dengan Regis, Hara terus memikirkan jalan keluar dari masalah perjodohan kakaknya dengan Mario.
...14.00...
Hara melihat Regis, Syera dan Renata yang telah menunggunya di sebuah kafe dekat rumah mereka. Mereka berbincang dan tertawa sembari menikmati kebersamaan mereka.
“Em, Ra. Sorry kalau gue tiba-tiba ungkit ini. Jadi gimana masalah perjodohan kak Nia dan Mario? Apa lo masih belum ada keputusan mau pertahankan hubungan lo sama Mario atau lo mau ikutin kemauan papa lo?” tanya Renata. Ya, Renata terkenal orang yang nggak suka basa-basi. Mendengar pertanyaan Renata, seketika Hara terdiam, hingga beberapa saat keheningan menyelimuti mereka. Tak ada satu orang pun yang berani melanjutkan pembicaraan sebelum Hara merespon pertanyaan Renata.
“Gue tau, kalian khawatir sama gue, tapi gue juga nggak tau apakah gue harus ikutin kemauan gue buat pertahanin Mario, atau gue mau ikuti kemauan papa gue,” ucap Hara.
“Gue tau ini berat buat lo, Ra. Tapi apapun itu keputusan lo, kami akan selalu mendukung lo, Ra,” ucap Syera.
“Makasih, ya. Kalian selalu ada buat gue. Gue sayang sama Mario, dan gue juga nggak mau kecewain orang tua gue. Selama ini papa gue nggak pernah minta sesuatu ke gue, dan kalau gue nggak mau ikuti kemauan papa, gue merasa gue terlalu egois. Tapi di sisi lain, gue masih nggak bisa lepasin Mario. Dan lagi, gue nggak bisa jamin apa Mario perlahan bisa mencintai kakak gue seperti dia mencintai gue.”
__ADS_1
Setelah sekian lama memikirkan masalah ini sendirian, akhirnya hari ini Hara mampu mengungkapkan kebimbangannya kepada sahabatnya. Perasaan bimbang yang terus menghantui dirinya setiap waktu, membuat Hara tak berani mengambil keputusan. Namun di sisi lain ia tau, semakin lama ia mengulur waktu, semakin berat pula ia melepas Mario.
...***...